Isteriku Dra. Iswani Gitawati (Tan Swan Hong) Almarhumah

Foto dibawah diambil sekitar tahun 1975 bila tidak salah, saat aku dan Iswani Gitawati (Tan Swan Hong) bersama teman-teman kantor rekreasi disalah satu obyek wisata. Tan Swan Hong adalah adik kelasku di Fakultas Ilmu Pasti Alam Universitas Gadjah Mada, dia mengambil jurusan ilmu Kimia angkatan 1969 sedang aku mengambil jurusan Fisika. Tidak ada yang istimewa pertemanan-ku dengan Tan Swan Hong paling-paling saat itu sedang pdkt. Yang kukenal dari Tan Swan Hong bahwa dia cantik dan pintar. Kalau ada pengumuman ujian namanya selalu tercantum dengan nilai lumayan bagus.

 

Alhamdullillah pada awal tahun 1973 berkat doa dan tirakat orang tua aku dapat lulus dalam waktu relatif singkat. Suatu kebahagian dan kebanggan tersendiri bagiku dan orang tua karena secara langsung maupun tidak langsung aku menjadi  contoh bagi adik-adikku dan juga memberi harapan besar untuk bisa membantu orang tua.

Kehidupan orang tua sangat sederhana dan selalu pas-pasan, dari hari kehari kesibukannya mencari uang, cukup untuk membuat dapur mengeluarkan asap. Uang yang dicari dalam satu hari cukup untuk kebutuhan makan dihari itu juga bahkan kadang/sering tidak mendapatkan uang yang cukup untuk makan dihari itu, bila seperti itu kejadiannya ya terpaksa orang tua harus berhutang pada teman/sahabat guna pinjam uang atau ngebon beras yang bisa dipakai untuk menanak nasi.

Bangga rasanya, saat teman “dekatku” mungkin dapat disebut sebagai teman spesial memberi ucapan “Selamat” karena aku dapat lulus dalam waktu diluar sangkaannya. Kenyataan sesungguhnya adalah adanya keberuntungan dan berkah Rachmat Allah Swt berada padaku, bersyukurlah aku pada Allah Swt. Walau dalam hati aku sedikit dapat tertawa karena dapat mengunggulinya atau mendahului lulus sarjana, suatu keadaan yang dulu pernah aku ungkapkan padanya.

Di tahun itu pula aku diterima menjadi pegawai negeri dan berkantor di Yogyakarta pula, sehingga tidak memerlukan tempat baru, suasana baru. Aku masih bisa berkumpul dengan orang tua bersama adik-adik.

Tahun 1975 berkat bantuan saudara ayah yang saat itu adalah sosok Saudagar Batik di Yogyakarta aku mendapat kesempatan beli motor Honda CB secara kredit. Dasar anak muda punya motor baru perilaku dan gayanya menjadi sangat beda dibanding saat masih menggunakan sepeda “onthel”. Jarak tempuh untuk keluyuran menjadi lebih jauh.

Kejadian yang istimewa pada tahun 1976 (kalau tidak salah) saat pulang kantor aku bersama Tan Swan Hong mengalami kecelakaan, salah satu kaki Swan tersangkut becak. Kurang lebih 3 (tiga) bulan lamanya dia sakit dan tidak masuk kantor, kaki luka dan harus di-“gips”. Pertemanan-ku dengan Tan Swan Hong menjadi sangat beda, ada rasa sayang, cinta, iba, dan lain-lain campur aduk.

Aku berada dalam kebingungan besar, dari mana dua hati dapat dihubungkan, hubunganku dengan Swan Hong sulit menjadi tersambung karena corak warna, gaya, kebiasaan antara aku dan dia banyak beda. Ada jurang yang sangat dalam bila dilalui, saat itu diandaikan jalan masih panjang, berliku dan terjal untuk sampai ketujuan yang sama. Mau melakukan “pembauran” kata kerennya istilah kini dengan Tan Swan Hong belum ada salurannya, jalan masih sangat gelap.

Berkat dorongan Ayah, aku disuruh menikahi Tan Swan Hong; ya kira-kira diburu waktu karena saat itu Tan Swan Hong memberi tahu Ayah kalau dia dipanggil untuk mengikuti “training” keluar negeri dalam waktu cukup lama. Itulah keadaanku dan Swan, tanpa bulan madu. Saat aku nikah, temanku memberi ungkapan selamat dengan kalimat “Selamat ya, perbaikan keturunan”.

Tan Swan Hong memberi buah hati padaku anak sepasang yaitu anak perempuan dan laki-laki. Yang aku kagumi adalah perhatiannya dengan rumah sangat besar walau dia tidak terbiasa berada didapur. Di rumah boleh dikata jarang membawa pekerjaan kantor walau Swan harus rajin mengumpulkan angka kredit karena Swan mengikuti jalur fungsional Peneliti, waktu di rumah dicurahkan untuk keluarga terutama mendidik anak-anak secara tekun dan keras. Karier Swan tidaklah jelek amat, Swan menjadi pionir dalam bidang kimia analitik dan pada masa akhir pangkat Swan sampai ke pangkat paling tinggi dalam kepangkatan pegawai negeri.

Kedua buah hati saya mempunyai prestasi akademik yang tidak jelek-jelek amat paling tidak keduannya dapat lulus S1. Dipanggilnya guru “mengaji” untuk memberi pengetahuan agama pada anak-anak, anak-anak dimasukkan Taman kanak-kanak Syuhada.

Kini kedua anak-anak relatif mapan dan dapat berdiri sendiri. Aku melihat sampai kini kedua anakku tidak memberi masalah pada bapaknya. Bahkan hidupku boleh dikata telah “bermutu” artinya mempunyai putu/cucu.

Tan Swan Hong meninggal pada usia relatif masih muda, bagi kebanyakan orang usia tersebut belumlah tua-tua amat. Swan meninggal tiga hari menjelang ulang tahun yang  ke 59 karena sakit. Dia meninggalkan 2 (dua) buah hati, yang kubanggakan. Dia juga ikut membantu aku mengarahkan adik-adikku sehingga taraf hidupn adik-adikku ada pningkatan, boleh dikata nasib adik-adik tidaklah jelek keadaannya. Dengan meninggalnya Tan Swan Hong tersebut keluarga terutama suami dan anak-anak sangat kehilangan.

Beberapa saat sebelum meninggal keluarga menuntunya dengan kalimat Tauhid, dan Tan Swan Hong dapat mengikutinya. Selamat jalan Tan Swan Hong sebagai isteri dan ibu anak-anak. Sehabis sholat dari lubuk hati yang paling dalam aku selalu berdoa agar Allah Swt selalu memberi pengampunan kepadamu. Aku juga minta anak-anak untuk selalu mendoakan Swan, ibunya agar dosa-dosa Swan diampuni Allah Swt.

Saat peringatan 1000 hari meninggalnya Swan, anak-anak menyempatkan datang walau dari jauh untuk berkumpul di Yogyakarta guna memberi hormat, mendoakan bagi ibunya. Banyak jasa yang keluarga rasakan, meninggalmu adalah meninggal secara Khusnul Khotimah. Amien.