Kalau Sudah Menikahi Gadis Tionghoa Akan Hilang Kesan-kesan Negatifnya

Dr Djamaluddin Ancok

BUKAN karena istrinya keturunan Tionghoa, jika Dr Djamaluddin Ancok, lelaki kelahiran-Bangka 18 Mei 1946 ini banyak melakukan penelitian dan membahas masalah-masalah pembauran dalam berbagai seminar dan forum ilmiah. Salah satunya dokror psikologi sosial di  Yogyakarta lulusan Indiana University USA ini, memang tertarik pada masalah-masalah psikologi sosial.

"Dulunya, saya tertarik dengan psikologi-industri. Setelah mempelajarinya, ternyata banyak masalah psikologi yang menarik untuk dipelajari, terutama psikologi sosial”, kata alumnus UGM yang lulus sarjana psikologi Agustus 1974 ini. "Kemudan saya mendapat kesempatan untuk memperdalam ilmu psikologi sosial Indiana University”, lanjutnya.

Keliru

Dengan keahliannya itu, Dr Djamaluddin sering keliling Indonesia untuk mengadakan penelitian dan berceramah di sana sini tentang Psikologi sosial dan pembauran. Kebetulan  sekali istrinya, Lie Siok Tjie (lndrawati), keturunan Tionghoa: sehingga Staf DPK UGM ini dapat merasakan langsung bagaimana suka dukanya berbaur dengan suku bangsa lain.

“Kita banyak punya padangan yang keliru terhadap orang-orang Tionghoa. Kita merasa, loyalitas mereka terhadap sesama Tionghoa luar biasa besar, sedangkan terhadap pribumi tidak ada sama sekali. Generalisasi semacam ini jelas keliru. Mereka toh, manusia biasa seperti halnya suku lain. Ada yang jelek ada yang baik, ada yang kikir ada yang pemurah. Ada yang licik, tapi tak kurang jujur, tutur Djamaluddin.

Mengenai asumsinya itu Dr. Djamaluddin punya beberapa bukti pengalaman yang menarik. Antara lain, pengalamannya ketika ia naik bus bersama seorang Tionghoa: "Waktu itu seorang ibu tak bisa membayar bus, karena uangnya kurang. Kondektur bus itu nampaknya tetap bersikeras, bahwa setiap penumpang harus bayar. Kondektur itu marah dan menyuruh wanita tua itu turun.Tetapi tanpa diduga, seorang Tionghoa  yang ada di sebelah saya bersedia membayar ongkos ibu itu. Bahkan ketika wanita itu turun, disangoni Tionghoa itu!" cerita dosen Fak Psikologi UGM itu, di kantornya.

“Setelah saya kawin dengan gadis Tionghoa, saya jadi merasakan betapa beratnya jadi Tionghoa di lndonesia. Di satu sisi, Tionghoa di Indonesia terlanjur dianggap kaya. Sementara disisi lain ada semacam perasaan terkucil dan tertolak pada diri mereka. Misalnya, kalau mereka ditolak atau tak diterima di sekolah Negeri, mereka cenderung menyalahkan ke- Tionghoa-annya. Bukan karena ia memang tidak lulus tes. Sehingga mereka cenderung menyalahkan diri sendiri. Ini menimbulkan perasaan terkucil dari pribumi. Padahal sebenarnya sekolah tersebut tak membedakan suka apa pendaftarnya. Buktinya, siswa-siswa pribumi pun sangat banyak yang tak diterima karena  gagal tes”, lanjut ahli psikologi sosial itu.

Kalau Sudah Menikahi Gadis Tionghoa Akan Hilang Kesan-kesan Negatifnya

Dr Djamaluddin Ancok

BUKAN karena istrinya keturunan Tionghoa, jika Dr Djamaluddin Ancok, lelaki kelahiran-Bangka 18 Mei 1946 ini banyak melakukan penelitian dan membahas masalah-masalah pembauran dalam berbagai seminar dan forum ilmiah. Salah satunya dokror psikologi sosial di  Yogyakarta lulusan Indiana University USA ini, memang tertarik pada masalah-masalah psikologi sosial.

"Dulunya, saya tertarik dengan psikologi-industri. Setelah mempelajarinya, ternyata banyak masalah psikologi yang menarik untuk dipelajari, terutama psikologi sosial”, kata alumnus UGM yang lulus sarjana psikologi Agustus 1974 ini. "Kemudan saya mendapat kesempatan untuk memperdalam ilmu psikologi sosial Indiana University”, lanjutnya.

Keliru

Dengan keahliannya itu, Dr Djamaluddin sering keliling Indonesia untuk mengadakan penelitian dan berceramah di sana sini tentang Psikologi sosial dan pembauran. Kebetulan  sekali istrinya, Lie Siok Tjie (lndrawati), keturunan Tionghoa: sehingga Staf DPK UGM ini dapat merasakan langsung bagaimana suka dukanya berbaur dengan suku bangsa lain.

“Kita banyak punya padangan yang keliru terhadap orang-orang Tionghoa. Kita merasa, loyalitas mereka terhadap sesama Tionghoa luar biasa besar, sedangkan terhadap pribumi tidak ada sama sekali. Generalisasi semacam ini jelas keliru. Mereka toh, manusia biasa seperti halnya suku lain. Ada yang jelek ada yang baik, ada yang kikir ada yang pemurah. Ada yang licik, tapi tak kurang jujur, tutur Djamaluddin.

Mengenai asumsinya itu Dr. Djamaluddin punya beberapa bukti pengalaman yang menarik. Antara lain, pengalamannya ketika ia naik bus bersama seorang Tionghoa: "Waktu itu seorang ibu tak bisa membayar bus, karena uangnya kurang. Kondektur bus itu nampaknya tetap bersikeras, bahwa setiap penumpang harus bayar. Kondektur itu marah dan menyuruh wanita tua itu turun.Tetapi tanpa diduga, seorang Tionghoa  yang ada di sebelah saya bersedia membayar ongkos ibu itu. Bahkan ketika wanita itu turun, disangoni Tionghoa itu!" cerita dosen Fak Psikologi UGM itu, di kantornya.

“Setelah saya kawin dengan gadis Tionghoa, saya jadi merasakan betapa beratnya jadi Tionghoa di lndonesia. Di satu sisi, Tionghoa di Indonesia terlanjur dianggap kaya. Sementara disisi lain ada semacam perasaan terkucil dan tertolak pada diri mereka. Misalnya, kalau mereka ditolak atau tak diterima di sekolah Negeri, mereka cenderung menyalahkan ke- Tionghoa-annya. Bukan karena ia memang tidak lulus tes. Sehingga mereka cenderung menyalahkan diri sendiri. Ini menimbulkan perasaan terkucil dari pribumi. Padahal sebenarnya sekolah tersebut tak membedakan suka apa pendaftarnya. Buktinya, siswa-siswa pribumi pun sangat banyak yang tak diterima karena  gagal tes”, lanjut ahli psikologi sosial itu.

Halaman 2

 

Kelompok

Perasaan terkucil itu menurut Dr Djamaluddin, membuat mereka dalam bergaul dengan pribumi menjadi canggung. Mereka sering membentuk kelompok-kelompok etnis sendiri.  Bahkan tak jarang mendirikan sekolah-sekolah khusus Tionghoa. "Hal ini cukup menghambat pembauran antara Tionghoa dan pribumi. Bisa melebarkan cap antara keduanya. Sehingga pemerintah merasa perlu untuk menggalakkan pembauran, Tapi saya menganggap kurang efektif kalau pembauran dilembagakan atau diinstruksikan dari atas. Lebih baik pembauran berproses secara alamiah. Antara lain bisa lewat perkawinan!"

Menurut pengalaman doktor psikologi sosial itu, sering terjadi kejutan budaya dalam proses pembauran.Tidak terkecuali pembauran lewat perkawinan, ketika salah satu anggota pasangan memasuki budaya atau tradisi pasangannya. Ini pernah dialami Dr Djamaluddin: “Bagaimana perasaan kita yang beragama Islam, misalnya, ketika datang ke acara mereka, tiba-tiba daging babi yang begitu besar terhidang didepan kita. Tentu merasa kaget. Bahkan ada yang jijik dan kapok," ungkap Djamaluddin. "Shock budaya semacam itu bisa saja terjadi pada Tionghoa ketika memasuki tradisi kita. Saya bisa membayangkan," lanjutnya.

"Bagi saya sendiri" kata Diamaluddin, "perkawinan antara Tionghoa dan suku pribumi lndonesia merupakan hal biasa. Saya orang Bangka. Di Bangka perkawinan Tionghoa dan pribumi sudah umum. Dan yang jelas, saya tak punya prasangka yang buruk terhadap orang Tionghoa. Bahkan setelah nikah. Keluarga istri saya bukan main baik dan sayangnya pada saya. Saya tak dianggap berbeda dengan mereka!”

“Saya kira, orang lain yang kawin dengan Tionghoa, juga akan mengalami hal yang sama seperti saya. Setelah kawindan campur, hilanglah kesan negatif terhadap mereka" lanjut dosen UGM itu. "Setelah nikah dengan saya, istri saya pun tak merasa Tionghoa lagi!"

Guru AS

Selain menjadi dosen psikologi juga menjabat Ketua Umum lkatan Sarjana Psikologi Indonesia Cabang Yogyakarta. Dan menjadi Koordinator Biro Konsultasi Psikologi "Parahita" yang beralamat Jalan Kaliurang Km 6.

Pengalaman-pengalaman Dr Djamaluddin lainnya yang menarik, antara lain: pernah menjadi Pemrasaran dalam Seminar Kependudukan di PBB USA. Beberapa kali diundang pemerintah Thailand sebagai Pemrasaran dalam seminar Psikologi-Sosial. Dan ketika di Indiana Unversity menjadi asisten dosen (teaching Assistence) dengan honor 400 dollar AS per bulan. "Wah, lucu juga. Saya waktu itu mengajar orong-orang Amerika!" katanya.

Berbicara soal pembauran dengan Dr Djamaluddin Ancok memang menarik. la banyak mengemukakan konsep-konsep yang perlu dicoba aplikasinya: "Bisa juga pembauran dicoba dengan teori 'similarity'. Semakin banyak dua suku bangsa memiliki kesamaan-kesamaan, semakin mudah untuk berbaur. Karena daya tarik-menarik antara dua kelompok masyarakat itu. Dan rasa solidaritas semakin tinggi".

"Karena itu", lanjut ayah dua anak itu, "pembauran bisa saja ditempuh melalui kesamaan agama. Tentu saja dalam hal ini yang paling efektif adalah melalui agama yang dianut mayoriras, yakni Islam. Orang-orang Tionghoa sebagai minoritas akan lebih cenderung dapat membaur dengan pribumi yang mayoritas Isam, jika orang-orang Tionghoa masuk Islam. Apa-lagi Islam tak mengenal perbedaan-perbedaan suku, kulit maupun kelas sosial. Semuanya dianggap sama dan saudara".

Djamaluddin Ancok mengambil contoh organisasi PITI (Pembina lman Tauhid lslam). Dalam organisasi ini, antara pribumi dan Tionghoa bergaul begitu akrab dan serasi. Seolah tak ada perbedaan apapun.  Karena inilah yang memang diajarkan Islam: kerukunan dalani persaudaraan, tanpa mengenal perbedaan.

"Oh ya, maaf, sudah sore. Saya mau sembahyang Ashar dulu" kata Djamaluddin menghentikan pembicaraan untuk sementara. Walaupun sudah doktor, terkenal dan pintar. la tak pernah lupa sembahyang!.(Ahmadun YHl)

*Kedaulatan Rakyat, 19 November 1984