SUNAN AMPEL DIYAKINI DARI TIONGKOK1)

Gus Dur: Buku-buku yang Saya Baca Membenarkan

Surabaya, JP.

Sebagian besar pembicara dalam seminar nasional Sunan Ampel yang berlangsung di Hotel Grand Kalimas kemarin meyakini asal usul  salah seorang Wali Songo itu dari Tiongkok (di wilayah Kambodia kini). Termasuk yang yakin adalah KH . Abdurrahman Wahid, Ketua Umum PBNU, yang dalam seminar itu menjadi salah satu pembicara.

 

Gur Dur yang tampil paling akhir menyatakan keyakinannya bahwa    Sunan Ampel  itu berasal dari Tiongkok berdasarkan buku-buku yang dibacanya. Hampir semua membenarkan bahwa Sunan Ampel  yang pada masa mudanya dikenal dengan sebutan Raden Rahmat itu memiliki  darah keturunan raja-raja di Tiongkok,” katanya.

Namun pendapat Gur Dur itu tidak diterima dengan bulat. Seorang peserta dari Tuban menyatakan keyakinannya bahwa Sunin Ampel itu berasal dari Arab bahkan beliau (maksudnya Sunan Ampel, red) masih ada keturunan dari Rasulullah Muhammad SAW, kata pembicara tadi.

Sejarawan dari IKIP Malang, Drs. HM Habib Moestopo, sempat menyakini bahwa ada kemungkinan Sunan Ampel itu “ asli “ Jawa. Ini berkaitan dengan gelar raden yang disandangnya waktu muda Sunan Ampel dikenal dengan nama raden yang menunjukkan statusnya dari lingkungan kerajaan di Jawa.

Selain itu, raden menurut Habib menunjukkan si pemakai gelar itu keturunan bangsawan daerah (raden). “Raden itu tidak lain adalah ucapan yang berubah dari aden” .

Secara keseluruhan, ada delapan pembicara yang tampil dalam seminar yang diselenggarakan dalam rangkaian  peringatan haul agung Sunan Ampel itu. Selain Gus Dus dan Habib Moestopo, pembicara lainnya antara lain Prof. Dr. Taufik Abdullah dari LIPI, Dr. Ir. H. Ariono Abdul Kadir dari Jakarta, serta Prof. Dr. Hasan Muari Ambari dari Universitas Indonesia Jakarta.

Menurut ketua panitia HA Hafidz Madjid, sedianya ada satu pakar Belanda yang juga akan tampil sebagai pembicara. Yakni Dr. Martin Bruinessen, pengajar di Utrecht University, Belanda.

“Dia itu seorang muslim yang termasuk pakar dan ahli sejarah pengembangan Islam di Jawa, “ kata Hafidz. Namun, pakar Belanda itu terpaksa membatalkan rencana kehadirannya karena saat bersamaan harus menguji mahasiswanya.

“Padahal, sebelum ini dia sudah konfirmasi dan bersedia tampil” katanya. Bahkan pakar Belanda itu juga sudah menyampaikan judul makalahnya, yakni Perkembangan Tarikat pada masa Sunan Ampel dan pengaruhnya dalam Dakwah Islamiyah.

Hafidz menambahkan hasil seminar yang diilhami sukses penyelenggaraan Festival Istiqlal II di Jakarta baru-baru ini, akan dibuktikan.

Sementara itu dengan Judul Sunan Ampel  berdarah Tionghoa? Majalah Insani Oktober 2004 menjelaskan:
Baru-baru ini, seorang peneliti dosen fakultas Ushuluddin lAlN  Sunan Ampel Surabaya, Drs. H. Syamsudduha yang telah melakukan penelitian sejak 1971 menyimpulkan, Sunan Ampel  merupakan keturunan Tionghoa, karena  ibunya berasal dari Campa, wilayah Indocina.

Penemuan peneliti dari lAlN  Sunan Ampel Surabaya ini dipublikasikan dalam buku Sunan Ampel Guru Para Wali di Jawa dan Perintis Pembangunan Kota Surabaya. Buku ini ditulis sejak 1971 dalam bentuk skripsi dan akhirnya diterbitkan sebagai buku dalam rangka Festival Internasional Ampel 2004, 27 Juni-27 Juli 2004.

Sunan Ampel  diperkirakan wafat pada tahun 1484 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Mesjid Ampel, Surabaya.
Selanjut menurut Drs. H. Syamsudduha, di daerah Ampel  atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya Sunan Ampel  dihadiahi tanah yang berawa-rawa oleh Raja Majapahit. Bersama beberapa muridnya, ia membangun dan mengembangkan pondok pesantren. Mula-mula  ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan Abad 15, pesantren tersebut menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura.

Menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel  masuk ke Pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik. Dilanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya.

1) Campa waktu itu menjadi wilayah kekuasaan Tiongkok