ISLAM DI TIONGKOK

Pada saat Nabi Muhammad Saw masih hidup agama Islam sudah sampai ke Tiongkok yaitu saat Dinasti Tang (618-907) berlanjut pada Dinasti Sung (907-960) lalu sampai masa Dinasti Yuan/Mongol (1279-1368) kemudian saat Dinasti Ming (1368-1644) dakwah Islam sudah mencapai puncak keberhasilan.

Pada masa Dinasti Yuan (1279-1368) yang berkuasa adalah bangsa Mongol hingga Dinasti itu disebut juga Dinasti Mongol. Pada Dinasti Mongol inilah 2 tokoh terkenal mendatangi Tiongkok yaitu Marco Polo yang datang diawal Dinasti berkuasa dan Ibnu Batutah datang ke Tiongkok saat Dinasti akan berakhir.

Tentang banyak hal yang mereka saksikan di Tiongkok telah ditulis ke dalam buku yaitu The Travel of Marco Polo karya Milton Fugoff dan Rihlah Ibnu Batutah. Dan dua tokoh  tersebut, menyampaikan tentang Islam sebagai berikut :

Nama :
Marco Polo
Lahir :
1254 di Venesia Italia
Meninggal :
2 Januari 1324
Tempat Peristirahatan :
Gereja San Lorenzo
Orang tua :
Nico Polo

Marco Polo (1254-1324) yang cerdas ketika masih pemuda dengan cepat mendapat simpati/kepercayaan dari Kaisar Ku Bilai Khan. Dijelaskan :

“Marco Polo adalah seorang pemuda yang cerdas dengan cepat ia menguasai bahasa Mongol dan bahasa China Han. Terkesan oleh kemajuannya yang cepat Kaisar Shi Zu segera mengirim Marco Polo ke Yunnan dalam sebuah tugas resmi” 1)

Marco Polo menyaksikan Kubilai Khan sangat mempercayai orang yang beragama Islam dari Asia Tengah dan orang Tionghoa terpaksa menyesuaikan diri “Orang Tionghoa asli dengan hati yang melawan, menyesuaikan diri dalam pemerintahan orang-orang Mongol itu. Oleh karena itu maka jabatan-jabatan penting diberikan oleh Kubilai Khan kepada orang Tatar, orang Kristen, tetapi terutama kepada orang-orang Islam. Dapatlah ia mempercayaai kesetiaan mereka itu” 2)

Memang kaisar Kubilai Khan hanya mementingkan kepatuhan termasuk dalam membayar pajak dan tidak terlalu memperhatikan agama “Bangsa-bangsa harus taat dan setia kepada Khan, rakyat harus membayar pajaknya dan harus memperhatikan hukum keadilan. Kalau hal yang disebut itu beres, maka orang Yahudi, orang yang  menyembah berhala, orang Islam dan Kristen, dapatlah berbuat sekehendaknya dengan Tuhannya”. 3)

Pada masa Yuan/Mongol uang kertas sudah berhasil dijalankan dengan baik, waktu itu pejabat keuangannya adalah orang yang beragama Islam. Marco Polo tercengang, sebab di negerinya masih memakai logam. “sewaktu Said Syamsudin Omar (Say Dian Chih) dan Ahmad al Fanaquti tengah menjabat kepala keuangan di ibukota. Ia tercengang menyaksikan potongan kertas sedemikian kecil diterima oleh setiap orang untuk harga barang-barang dagangannya baik pun oleh saudagar setempat maupun oleh kafilah dagang. Ia tercengang karena di Venesia begitupun di wilayah barat yang dijelajahinya orang menggunakan uang emas dan uang perak untuk alat hitung, alat tukar dan alat bayar” 4)

Marco Polo di Yunnan (yang Gubernurnya selalu yang beragama Islam-red) sewaktu akan pulang ke Italia ia pun menjumpai  kenyataan Jendral Nasruddin sebagai Gubernur menggantikan Say Dian Chih yang sudah meninggal. Bahkan Marco Polo menceritakan bagaimana Raja Birma dan Benggala yang ingin merebut Yunnan dengan kekuatan besar yaitu 60.000 pasukan lengkap dengan tentara gajah. Dan bagaimana  Jendral Nasruddin dengan pasukan hanya 12.000 dapat bertahan bahkan akhirnya memenangkan peperangan dan raja Birma sendiri tewas. 5)

Nama:
Ibnu Batutah
Lahir:
25 Februari 1304
di Tangier Maroko

Meninggal:
1377 Maroko
Orang tua:
Fatomah


Ibnu Batutah (1304-1377 M) Musafir Muslim yang lahir di Tangier Afrika Barat yang mengelilingi dunia Islam selama 31 tahun dan sampai di Tiongkok sebagai utusan Sultan Muhammad Tugluk (1325-1351) yang berkedudukan di Delhi. Ibnu Batutah berangkat dari India menuju Tiongkok pada tahun 1342. Khusus tentang agama Islam (yang diringkas-red) disampaikannya sebagai berikut. 6)

Ibnu Batutah menyaksikan di tiap kota di Tiongkok umat Islam mempunyai qodli yaitu tokoh yang memecahkan masalah hukum yang terjadi diantara umat Islam, ada juga syaikhul Islam yaitu tokoh yang mempunyai ilmu Islam yang luas. Ada juga Zawiyah yaitu tempat penampungan fakir miskin, anak yaitu, orang jompo dan musafir.

Di Zaitun atau Canton atau yang sekarang Guang Zhou, Ibnu Batutah bertemu dengan syaikhul Islam Kamaludin, dengan qodli Tajudin AR, dengan ulama terhormat yang mempunyai zawiyah yaitu Burhanudin al Kazruni. Dan bertemu dengan saudagar-saudagar Islam yang berada di Canton. Setelah beberapa hari di sana dan akan melanjutkan perjalanan dengan kendaraan air. Ibnu Batutah dibekali dengan cukup melimpah oleh kaum muslimin di Zaitun.

Dan ketika sampai di Chang’an atau Min Kalan atau Sian, yaitu suatu kota tempat bertemunya sungai Wei dan sungai Hwang Ho adalah bekas ibukota imperium Tiongkok. Disana perkampungan Islam berada di pinggi tembok Yakjud Makjud (Gread wall-red) yang disebelah tembok itu tinggal kelompok suku yang buas yang memakan daging manusia. Di Kota Chang’an ada masjid raya yang sangat megah dan juag bangunan Zhawiyah. Ibnu Batutah menginap di kediaman Wahduddin as Sinjari tokoh Islam terkemuka yang kaya raya. Di situ Ibnu Batutah tiap hari tidak henti-hentinya tokoh-tokoh berkunjung dan selalu ada undangan jamuan. Ibnu Batutah di Chang’an bertemu dengan Qowamuddin as Sibthi yang sekarang menjadi ulama besar dan sudah kaya raya di Tiongkok. Mereka berjabat tangan, berpelukan saling tangis karena teman sekampung (sama-sama dari Maroko-red) berjumpa di ujung dunia lain.

Di Changsa suatu kota yang dilintasi tiga anak sungai diantaranya ada cabang dari sungai besar yang dapat dilayari perahu-perahu termasuk perahu pesiar menuju kota Changsa. Ibnu Batutah disambut qodli dan syaikhul Islam berserta tokoh-tokoh dengan membawa panji-panji warna putih disertai tambur dan alat bunyi-bunyian. Kota kediaman orang Islam diatur bersih, di dalamnya dijumpai banyak masjid yang megah. Ketika masuk kota pas muadzin tengah adzan dhuhur.  Ibnu Batutah tinggal di gedung kepunyaam Usman bin Affan Al Misri tokoh yang membangun masjid raya terbesar di Changsa lengkap dengan zawiyahnya. Jumlah umat Islam di kota itu sangat banyak, saat disitu tiap hari ada undangan dan jamuan seperti pesta besar.

Di hari keempat Ibnu Batutah diajak menemui Pangeran Qurtai dengan dibantu mentri, Ibnu Batutah memasuki istana. Ibnu Batutah dijamu istimewa dengan nyanyian-nyanyian dan atraksi-atraksi ajaib. Dan yang paling menarik Pangeran Qurtai yang pejabat tertinggi di sana sengaja menyuapi makanan ke mulut kami dan memotomg-motong daging dengan tangannya sendiri. Saat Ibnu Batutah akan pulang Pangeran Qurtai menyiapkan kendaraan air lengkap dengan perbekalan untuk kami menuju kota selanjutnya.

Di Kanbaluk atau Peking, Syaikh Burhanudin As Shogriji seorang ulama besar yang pernah di undang oleh Sultan Muhammad Tugluk untuk menetap di Delhi menyambut kami. Selanjutnya disampaikan waktu itu di Kanbaluk sedang terjadi perang besar antara Kakhan Basai Khan (pemimpin tertinggi bangsa Mongol) dengan keponakannya Pangeran Pirus yang masing-masing mengerahkan kekuatan besar di wilayah Karakorum. Beberapa hari kami di Kanbaluk datang berita Kakhan  Basai Khan telah mangkat. Syaikh Burhanudin memberi nasehat supaya kami sebaiknya segera balik kembali sebelum bangkit dan pecah kerusuhan, kekacauan. Karena itu kami mempersiapkan segalanya untuk pulang meninggalkan Tiongkok.

Dari data yang disampaikan oleh Marco Polo yang berlatar Eropa dan beragama Katolik maupun yang disampaikan oleh Ibnu Batutah yang berlatar Afrika dan beragama Islam yaitu tentang apa yang mereka saksikan khususnya tentang agama Islam di Tiongkok, dapat disimpulkan bahwa agama Islam pada masa Dinasti Yuan / Mongol sudah nyata keberadaannya dan telah mendapat tempat / peran yang penting khususnya di kalangan penguasa.

1)    Lin Handa dan Cao Yuzhang “Kisah 5 Ribu tahun Sejarah China, jilid 2 Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, edisi 1, hal 291.
2)    Hj. Van den Berg, Dr. H. Kroeskamp, IP. Simanjuntak, “ Dari Panggung Sejarah Dunia” jilid 1, Jakarta 1951 hal : 237
3)    Ibid, hal. 243
4)    H. Ibrahim Tin Ying Ma, “ Perkembangan Islam di Tiongkok” Bulan Bintang Jakarta, alih bahasa Yoesoef Soe’eb, hal. 80
5)    William L. Langer, “Ensiclopedy of World History”   edisi 1956, hal. 347
6)    Rihlah Ibnu Batutah, Mathbaat, Azzakiroh Khairo, jilid 2, hal. 158-172, edisi 1924. loc cit H. Ibrahim Tin Ying Ma, op. cit hal 60.

Disusun PITI Yogyakarta