DA’WAH DI KALANGAN WNI KETURUNAN TIONGHOA1

Oleh : Arif Wibisono Adi; Ang Mo Joen2

PENDAHULUAN

Dibandingkan dengan masa-masa yang lalu, pada masa orde baru ini da’wah di kalangan WNI keturunan Tionghoa sudah mulai menunjukkan adanya titik-titik terang, walaupun belum selancar sebagaimana yang diharapkan. Masih perlu disusun strategi dan metdoe da’wah yang lebih efektif supaya hasilnya dapat tampak lebih nyata.

Untuk itu terlebih dulu perlu dicari latar belakangnya mengapa orang-orang keturunan Tionghoa masih berat untuk memeluk agama Islam disbanding memeluk agama-agama yang lain, padahal agama ini dianut oleh mayoritas rakyat Indonesia.
Makalah ini dimaksudkan untuk memberikan pembahasan dan sedikit tambahan pada apa yang disampaikan oleh Bapak DR. H. Bambang Pranowo.

HAMBATAN-HAMBATAN DALAM DA’WAH KE KALANGAN TIONGHOA

Salah satu hambatan yang paling menonjol mengapa orang keturunan Tionghoa masih sulit untuk masuk agama Islam ialah masih tebalnya citra yang negative tentang Islam di kalangan mereka. Di kalangan umat Islam pribumi pun  masih tebal pula citra negatifnya terhadap WNI keturunan Tionghoa. Rupanya politik “devide et impera” dari kolonis Belanda masih memebkas secara mendalam dan belum juga hilang-hilang sampai sekarang.

Kalau ada keturunan Tionghoa masuk Islam, rekan-rekan atau saudaranya akan bersikap sinis dan kurang simpatik terhadap mereka. Biasanya putera putrid keturunan Tionghoa yang sudah masuk Islam setelah remaja di saat membutuhkan pergaulan yang erat dengan kalangannya, sering kurang menghadapi sikap negative dari golongannya dan sulit untuk mempertahankan keislamannya, lagipula mereka sudah kurang dapat mengayati motivasi orang tuanya dulu untuk masuk  Islam. Jadi regenerasi di kalangan  Tionghoa Muslim sungguh-sungguh sulit.

Sesungguhnya sikap pribumi terhadap keturunan Tionghoa tidak pernah netral atau wajar, yaitu kalau tidak terlalu antipasti, maka justru terlalu simpati. Terhadap yang baru saja masuk Islam pun kadang kadang berlebihan pula sikapnya, yaitu terlalu antusias sehingga kadang-kadang malah menimbulkan kekecewaan kalau ternyata kurang seperti yang diharapkan.

Menurut Bapak DR. H. Bambang Pranowo (Jahja, 1995 …) prasangka atau sikap negative timbale balik itu timbul sebagai produk sejarah. Hal itu diuraikannya secara panjang lebardalam makalahnya yang sudah cukup jelas.

Ditinjau secara psikologi sosial, prasangka dan stereotype semacam diatas dilatarbelakangni oleh hal-hal sebagai berikut (Baron & Byrne, 1984):

  1. Konflik antar kelompok secara langsung. Kompetisi sebagai dasar fanatisme golongan. Contoh : persaingan dibidang perdagangan
  2. Kami lawan kamu : kategorisasi social sebagai dasar prasangka. Contoh : “Kategorisasi timur asing Tionghoa” dan “Bumi Putera” sebelum kemerdekaan dan “WNI non pribumi/keturunan Tionghoa non Islam” setelah kemerdekaan (Penyebutan dalam UUD 45 bahwa Presiden RI harus orang Indonesia asli kemungkinan suatu saat dapat menimbulkan kategorisasi social semacam ini, maka pada waktunya yang tepat perlu diadakan panafsiran baru atas hal tersebut.
  3. Suasana otoriter : kepribadian sebagai dasar prasangka. Contoh suasana otoritas sering menimbulkan agresivitas dan pertentangan pada anggotanya, biasanya kalau mengalami frustasi akan cepat mencari kambing hitam sebagai sasaran, terjadilah ledakan rasialisme.
  4. Pengalaman masa lampau sebagai dasar prasangka: Peranan proses belajar social (bahasa Inggris sengaja dihilangkan). Contoh : orang tua mengalami pengalaman pahit dari satu golongan, diteruskan kemudian kepada anak-anaknya secara turun temurun. Jadilah prasangka atau citra negative yang diwariskan.

Kalau keadaan-keadaan yang menimbulkan prasangka tersebut sampai sekarang masih tetap ada dan tidak ada usaha-usaha untuk mengatasinya, tak dapat disangsikan lagi keturunan Tionghoa akan sulit masuk Islam karena masih tebal sikap-sikap negatifnya terhadap pribumi yang mayoritas beragama Islam dan terhadap Islam itu sendiri. Demikian pun sebaliknya, pribumi terhadap Islam akan kurang bermotivasi atau kurang bersungguh hati dalam berda’wah ke kalangan WNI keturunan Tionghoa karena masih penuh prasangka. Memang hidayah dari Allah SWT, tapi seseorang akan lebih mudah untuk menerima hidayah kalau hatinya sudah lapang atau simpati kepada Islam (baca Qur’an  surat Al An’am ayat 125). Padahal kalau keturunan Tionghoa banyak yang masuk Islam, keadaan tentu akan banyak berubah.

SARAN-SARAN UNTUK MENGATASINYA

Untuk mengatasi prasangka tersebut, Baron & Byrne (1984) menyatakan usaha-usaha sebagai berikut:

  1. Menghancurkan rantai fanatisme golongan belajar untuk tidak membenci
  2. Memperbesar kontak antar kelompok: efek positif dari saling kenal mengenal

Djamaludin Ancok (Pratiknya, 1986) mengatakan pembauran melalui agama, jika ditinjau dari teori-teori psikologi social dan integrasi mempunyai keuntungan yang paling besar. Oleh karena  dengan pendekatan ini terjadi proses pembauran letal sifatnya. Kita lihat, apabila ada pembauran maka ada kesamaan kelompok minoritas dengan kelompok mayoritas. Makin banyak kesamaan yang ada, maka makin senang orang yang satu dengan yang lain. Sedangkan kalau kita lihat kesamaan yang paling besar yang paling menyentuh hati, adalah kesamaan dalam iman. Apabila kita sama keimanan, kita tidak boleh lagi merasakan dia sebagai orang lain kecuali saudara kita.

Ajaran Islam universal dan anti rasialisme (baca surat Saba’ ayat 28 dan Al Hujurat ayat 13). Islam dapat merupakan katalisator untuk lancarnya proses pembauran dan timbulah persaudaraan yang lebih erat bagi kedua pihak.
Islam bukan agama baru, Nabi Muhammad saw sebagai Nabi Penutup meneruskan menggarisbawahi dan melengkapi ajaran-ajarn nabi-nabi terdahulu. Islam menghormati semua nabi, baik yang tercantum  namanya di dalam Al Quran maupun tidak. Lao Tsu, Kong Hu Cu dan Sidharta Gautama (Budha) ajaran-ajarannya menolaknya cukup bagus untuk terus dipelajari dan jangan apriori menolaknya sama sekali. Mungkin mereka pun Nabi Islam pula seperti Nabi Musa dan Nabi Isa, siapa tahu.
Kalau disampaikan secara “bil hikmah” (baca Al Quran surat An Nahl ayat 125) seperti Wali songo dulu berda’wah ke tanah Jawa, insya Allah keturunan Tionghoa tentu banyak yang simpati dan lapang hati kepada Islam, sehingga mudah bagi mereka untuk menerima hidayah dari Allah SWT untuk menerima ajaran Tauhid Islam yang universal dan menjadi rahmat bagi sekalian alam semesta ini. Dengan demikian diharapkan konflik antara pri dan non pri pun akan reda pula, asalkan unsur-unsur social, ekonomi dan politik pun diperhatikan pula.

Secara umum metode da’wah ke kalangan Tionghoa sama dengan metode da’wah ke kalangan manusia pada umumnya. Tapi secara khusus perlu pula mengenal kebudayaan Tionghoa supaya da’wah  lebih mengena. Agar lebih efektif lagi, dalam da’wah perlu disesuaikan per kasus secara individual. Tiap orang berbeda persoalannya, yang dibutuhkan di dalam berislam tentu berbeda pula. Terapi seyogyanya perlu disesuaikan dengan diagnose. Di kalangan keturunan Tionghoa sendiri sesungguhnya banyak variasinya dan jangan terlalu cepat menggeneralisasi.

Dalam era informasi sekarang ini, media massa sangat diharapkan bantuannya untuk ikut berpartisipasi mensukseskan da’wah ke kalangan Tionghoa. Para peneliti dan ilmuwan pun diharapkan untuk memberikan masukan-masukannya dan pemerintah pun hendaknya ikut serta memahami permasalahan ini kemudian bersedia membantunya pula.

PENUTUP

Intinya da’wah perlu lebih bijaksana lagi untuk mencapai sasaran yang diharapkan. Tembok-tembok yang menghalangi antara Tionghoa dan Islam perlu diruntuhkan lebih dulu.  Dengan berislam yang dianut oleh mayoritas rakyat Indonesia, yang ajaran-ajarannya universal, anti rasialisme dan menekankan persaudaraan, diharapkan keturunan Tionghoa dapat lebih akrab dengan pribumi dan akan terjadilah proses pembauran yang alamiah. Pemerintah dan masyarakat perlu bekerjasama untuk mensukseskan program ini. Media massa pun diharapkan bantuannya.

1 Disampaikan pada Seminar dan Nasional PITI Yogyakarta
2 Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta