Cetak 

Muslim Hui di Negeri Tiongkok

Hikmatul Akbar1

 

 

Tiongkok adalah negara yang dikenal sejak lama sebagai negara besar dengan kebudayaan tinggi. Kebanyakan orang Indonesia mengenal Tiongkok sebagai negeri para penyembah dewa dan arwah leluhur. Dewa Langit, Dewi Kwan Im, Sun Go Kong, dan Kaisar Kuning adalah tokoh-tokoh yang mewakili kepercayaan etnorelijius masyarakat Tiongkok.

Ditambah dengan ajaran dari Budha, Kong Hu Cu dan Lao Tse, lengkaplah ajaran Tridharma (San Jiao/Sam Kauw) seperti yang diyakini oleh masyarakat Tionghoa yang ada di Indonesia. Secara resmi, kebanyakan warga Tionghoa di Indonesia menganut Agama Budha, Konghucu, Katholik, atau Kristen, meski kemudian kepercayaan yang terkait dengan etno relijius tadi tidak pernah dihilangkan. Bagi masyarakat Indonesia secara keseluruhan, negeri Tiongkok dan Masyarakat Tionghoa hanya terkait dengan agama Budha dan Konghucu (karena agama Tao belum dikenal dan diakui di Indonesia), tidak pernah berpikir bahwa agama Islam juga sempat memberikan pengaruh yang besar bagi masyarakat dan kebudayaan Tiongkok.

Sisa-sisa dari kejayaan Islam di Tiongkok adalah Etnis Muslim Hui (Hwei), atau Suku Hui. Mereka dikabarkan berasal dari keturunan Muslim Arab, Persia dan Turki, yang ikut ke Tiongkok setelah invasi Jengish Khan ke Baghdad. Mereka yang ikut ke Tiongkok kemudian menikah dengan masyarakat lokal dan kemudian beranak pinak dan menghasilkan kelompok yang dikenal sebagai Suku Hui. Pada dasarnya, tidak terdapat perbedaan yang mendasar antara suku Hui dan suku Han secara umum, kecuali bahwa mereka beragama Islam. Akibat lanjutannya tentunya mereka tidak makan babi, bersunat dan juga belajar mengaji. Ciri-ciri fisik dan tradisi Suku Hui yang lain tetap dilakukan sebagaimana Suku Han melakukannya.

Kejayaan Suku Hui dan Islam di Tiongkok terlihat pada akhir Dinasti Yuan (Mongol) dan awal Dinasti Ming. Khusus untuk Dinasti Ming, banyak sekali peneliti dan Sinolog yang berpendapat Dinasti ini dapat dikatakan sebagai Dinasti Islam di Tiongkok. Dinasti Ming memang didirikan dari peran besar Suku Hui. Tidak kurang dari 6 orang Jenderal utama yang menyertai Chu Yuan Chang (pendiri Dinasti Ming) adalah Suku Hui. Dua di antaranya, Chang Yu Chun dan Lan Yu sangat terkenal di Tiongkok sehingga selalu dimunculkan dalam berbagai kisah novel dan film yang terkait dengan berdirinya Dinasti Ming. Salah satunya yang terkenal adalah film To Liong To  atau Ie Tian To Liong, atau dalam bahasa Inggris terkenal dengan Judul Heaven Sword and Dragon Saber. Chu Yuang Chang sendiri kemudian menikahi perempuan Muslim Hui , yang kemudiaan dikenal sebagai permaisuri Ma. Ma adalah marga yang biasa digunakan oleh suku Hui, yang sebenarnya merupakan huruf singkatan dari kata Muhammad. Permaisuri Ma juga merupakan ibu dari Kaisar Yung Lo, yang terkenal karena berhasil memajukan negeri Tiongkok pada masa pemerintahannya. Pada masa Kaisar Yung Lo ini juga terlaksana penjelajahan samudera pertama di dunia, yang dilakukan oleh orang Tiongkok Muslim yaitu Laksamana Cheng Ho dan dibantu Ma Huan.

Meski kemudian terjadi pergantian Dinasti tahun 1644, dari Dinasti Ming ke Dinasti Ching, peran Muslim Hui tidak menghilang begitu saja. Dalam catatan sejarah Tiongkok, pasukan Kan Chun adalah pasukan Elit Istana pada masa akhir Dinasti Ching. Pasukan ini dikenal karena kegagahannya dalam pertempuran dan berhasil memenangkan banyak perang. Pasukan Kan Chun adalah pasukan yang khusus berasal dari Suku Muslim Hui. Pasukan ini sangat dikenal dalam Perang Boxer, terutama ketika berhadapan dengan Aliansi 8 negara Barat (dan Jepang) yang berperang melawan Istana. Oleh orang barat pasukan ini disebut Kansu Braves, karena keberaniannya dalam berperang. Kansu Braves dipimpin Oleh Jenderal Tung Fu Hsiang, yang juga berjasa menyelamatkan keluarga Istana mengungsi ke Hsi An ketika kota raja dikuasai oleh pasukan asing.

Suku Hui kembali memainkan peranan politik yang besar ketika masa Chung Hua Min Kuo, atau Masa Pemerintah Republik Nasionalis di Tiongkok. Pembentukan Republik ini didasari atas kesatuan dari lima suku besar di Tiongkok yaitu Han, Manchu, Mongol, Tibet, dan Hui (Islam). Hal ini terlihat dari simbol bendera lima warna yang digunakan pada saat itu. Terdapat 10 Jenderal yang sangat terkenal pada masa itu, yaitu : Ma Chung Ying, Ma Hung Kuei, Ma Shao Wu, Ma Chan Tsang, Ma Pu Fang, Ma Pu Ching, Pai Chung Hsi, Ma Chi Yuan, Ma Hu Shan, Ma Fu Hsiang. Mereka adalah Jenderal yang menolak separatisme, dan juga menolak bila Islam hanya menjadi milik suku tertentu, karena menurut mereka Islam tidak mengenal suku, dan merupakan rahmatan lil alamin,  agama bagi seluruh bangsa.

Ketika Tiongkok kemudian dikuasai oleh kelompok Komunis, dan terbentuk Republik Rakyat Tiongkok, para Jenderal Hui kemudian menyingkir ke Taiwan. Sebagian elit Hui juga meneruskan berimigrasi ke Amerika Serikat dan Kanada. Tetapi ini tidak berarti peran Suku Hui di Tiongkok menjadi hilang begitu saja. Mereka tetap mempunyai perang penting dalam kehidupan sosial masyarakat Tiongkok. Jabatan penting dalam dunia kemiliteran memang sudah hilang, tetapi memasuki abad ke 21, seiring dengan keterbukaan negeri Tiongkok, suku Hui kembali mengambil peran yang penting. Dunia persilatan atau Kung Fu masih mereka kuasai. Wang  Tzu Ping dan Ma Hsien Ta adalah ahli Kung Fu yang menjadi guru bagi banyak pendekar masa kini di Tiongkok. Profesor Ma Chien mengajar bahasa dan sejarah di Universitas Beijing dan sering menemani tokoh-tokoh politik Tiongkok dalam kunjungan ke Timur Tengah. Mi Kuang Chiang (atau Haji Nurdin) menjadi peneliti di Akademi Sains Ho Nan, dan sangat ahli dalam bidang kaligrafi Arab. Komedian terkenal Ma San Li adalah orang Hui, demikian juga adalah aktris terkenal Tiongkok pada saat ini Liu Shih Shi. Perempuan lain dari suku Hui adalah  sementara Liu Hui yang menjabat Gubernur di Provinsi Ning Hsia. Tokoh Hui lain yang masuk ke bidang Politik adalah Hui Liang Yu, yang menjabat wakil perdana menteri Tiongkok untuk bidang pertanian, dari tahun 2003 sampai 2013.

Selain banyaknya tokoh suku Hui yang berpartisipasi dalam perkembangan sosial, politik dan budaya Tiongkok, tentu kita harus memahami pemikiran dari suku Hui itu sendiri. Para pemikir Hui selalu mempelajari Tradisi Islam dan juga Tradisi Tionghoa. Ketika berbicara tentang Rukun Islam, mereka mencari kesamaan dengan filsafat dan kepercayaan Tionghoa. Meskipun mereka sangat meyakini bahwa ajaran Islam berbeda dengan ajaran tradisi dan kepercayaan Tionghoa, tetapi mereka tidak membenci atau menyalahkan ajaran itu. Dengan tidak menabrakkan ajaran Islam dan kepercayaan tradisional Tionghoa, maka mereka bisa beradaptasi dengan cepat, dan bahkan menjelaskan kepada masyarakat Tionghoa bahwa kedua ajaran itu saling melengkapi.

Kebanyakan Suku Hui pada masa sekarang ini mengakui bahwa mereka 100% Tionghoa. Meskipun mereka sering menggunakan baju putih dan juga surban. Mereka menegaskan bahwa bahasa, budaya dan tradisi mereka tetap sama dengan orang Tionghoa lainnya. Asosiasi suku Hui di Tiongkok bahkan menjadi pelopor dalam berbagai pekan budaya yang sering diadakan di sana. Mereka memperkenalkan berbagai macam budaya dan suku yang ada di Tiongkok, tanpa harus merasa saling bermusuhan satu sama lain. Kebanyakan orang Hui juga belajar Bahasa Arab, dan mulai berpikir untuk mengembangkan dakwah di kalangan masyarakat Tionghoa.

Penerapan Agama Islam oleh Suku Hui di Tiongkok sebenarnya juga kurang lebih sama seperti di Indonesia. Di kota-kota seperti Yin Chuan, Luo Yang, Beijing, Hsi An, dan Lin Hsia, banyak terdapat orang Hui. Dan karenanya kita akan cukup sering mendengar suara azan, dan juga cukup mudah menemukan Masjid. Demikian pula ketika mencari restoran halal, maka akan mudah menemukannya. Pemandangan orang berjilbab mulai menjadi hal yang biasa, meskipun untuk kota besar seperti Beijing, sebagian suku Hui tidak ter lalu terbuka dalam menyatakan keislamannya. Tetapi pada kota-kota yang didominasi oleh suku lain, yang tidak muslim, Suku Hui memang tidak terlalu nampak. Mereka lebih terlihat sebagai suku Han, suku yang merupakan mayoritas di Tiongkok.

Dengan adanya kebebasan beragama di Tiongkok, terutama setelah reformasi yang dijalankan oleh Deng Xiaoping (Teng Hsiao Ping), dan dilanjutkan oleh Jiang Zemin, Hu Jintao dan Xi Jinping, suku Hui mulai  mendapatkan posisinya kembali di negeri Tiongkok. Mereka selalu menjalankan peran yang penting  dalam perkembangan peradaban dan kebudayaan Tiongkok. Dan seperti masa-masa sebelumnya, mereka selalu menjalankan agama Islam, dengan kesadaran bahwa Islam adalah pemersatu dan Islam adalah agama segala bangsa. 
   

1Dosen Jurusan Hubungan Internasional UPN "Veteran" Yogyakarta. Pengajar dan Peneliti Kajian Tiongkok.  Mantan Wakil Dekan 1 FISIP