Agama Islam dan Orang Tionghoa di Indonesia

Drs. Arif Wibsono Adi, MM1

Bab  I.  Iustrasi

Sejak jaman penjajahan Belanda, di Indonesia  terdapat orang-orang Keturunan Tionghoa yang kebanyakan berdiam di daerah-daerah kota.

Menurut G. William Skinner dalam “The Chinese Minority”, batasan yang memadai tentang orang Keturunan Tionghoa  ini tidaklah didasarkan pada kriteria ras, hukum ataupun budaya, tapi pada identifikasi sosial.

Di Indonesia seorang Keturunan Tionghoa disebut orang Tionghoa, jika ia bertindak sebagal anggota dari dan mengidentifikasikan dirinya dengan masyarakat Tionghoa.

Karena perkembangan sejarah selama jaman penjajahan, mereka banyak terkonsentrasi di bidang perdagangan dan memegang peranan penting dalam sektor ekonomi sampai jaman merdeka sekarang ini. .Kita lihat hidup mereka sering bersifat eksklusif  kurang bisa berintegrasi apalagi assimilasi dengan penduduk pribumi setempat. Mereka merupakan suatu minoritas yang dulu digunakan oleh kekuatan-kekuatan asing, terutama oleh penjajah Belanda  untuk menjadi  perantara atau golongan tengah (middenstand atau bumper) dalam menekan atau menjajah mayoritas rakyat pribumi, sehingga sering timbul peIedakan-peledakan yang membuat mereka jadi korbannya.

Dari luar  hidup mereka kelihatan senang dan makmur, tapi sebenarnya mereka selalu merasa cemas, khawatir dan gelisah tentang status dan hari depan mereka.

Kalau pada masa-masa yang lalu mereka pernah beroorientasi ke negara-negara barat (Belanda, Amerika Serikat, Jerman dan lain-lain ) atau berorientasi ke Tiongkok atau  negara-negara dengan penduduk mayoritas tionghoa (RRT, Taiwan, Hongkong, Singapura), maka sekarang ini kebanyakan dari mereka sudah berorientasi ke Indonesia.

Jadi sebetulnya mereka kepingin sekali, bisa betul-betul berintegrasi dengan golongan mayoritas dan berdiam selamanya turun temurun di bumi Indonesia yang sesugguhnya mereka cintai ini dengan tenang dan tenteram.

Tapi mereka sering kehilangan akal dan tidak tahu ap a yang harus diperbuatnya karena mereka masilh sering terombang-ambing dan terhambat oleh prasangka-prasangka jelek yang sudah lama secara sistematis ditanamkan oleh kekuatan-kekuatan Asing pada Jiwa mereka terhadap mayoritas rakyat pribumi, baik mengenai kebangsaan/kesukuannya maupun, mengenai agamanya (yang mayoritas Islam).

Agama Islam dan Orang Tionghoa di Indonesia

Drs. Arif Wibsono Adi, MM1

Bab  I.  Iustrasi

Sejak jaman penjajahan Belanda, di Indonesia  terdapat orang-orang Keturunan Tionghoa yang kebanyakan berdiam di daerah-daerah kota.

Menurut G. William Skinner dalam “The Chinese Minority”, batasan yang memadai tentang orang Keturunan Tionghoa  ini tidaklah didasarkan pada kriteria ras, hukum ataupun budaya, tapi pada identifikasi sosial.

Di Indonesia seorang Keturunan Tionghoa disebut orang Tionghoa, jika ia bertindak sebagal anggota dari dan mengidentifikasikan dirinya dengan masyarakat Tionghoa.

Karena perkembangan sejarah selama jaman penjajahan, mereka banyak terkonsentrasi di bidang perdagangan dan memegang peranan penting dalam sektor ekonomi sampai jaman merdeka sekarang ini. .Kita lihat hidup mereka sering bersifat eksklusif  kurang bisa berintegrasi apalagi assimilasi dengan penduduk pribumi setempat. Mereka merupakan suatu minoritas yang dulu digunakan oleh kekuatan-kekuatan asing, terutama oleh penjajah Belanda  untuk menjadi  perantara atau golongan tengah (middenstand atau bumper) dalam menekan atau menjajah mayoritas rakyat pribumi, sehingga sering timbul peIedakan-peledakan yang membuat mereka jadi korbannya.

Dari luar  hidup mereka kelihatan senang dan makmur, tapi sebenarnya mereka selalu merasa cemas, khawatir dan gelisah tentang status dan hari depan mereka.

Kalau pada masa-masa yang lalu mereka pernah beroorientasi ke negara-negara barat (Belanda, Amerika Serikat, Jerman dan lain-lain ) atau berorientasi ke Tiongkok atau  negara-negara dengan penduduk mayoritas tionghoa (RRT, Taiwan, Hongkong, Singapura), maka sekarang ini kebanyakan dari mereka sudah berorientasi ke Indonesia.

Jadi sebetulnya mereka kepingin sekali, bisa betul-betul berintegrasi dengan golongan mayoritas dan berdiam selamanya turun temurun di bumi Indonesia yang sesugguhnya mereka cintai ini dengan tenang dan tenteram.

Tapi mereka sering kehilangan akal dan tidak tahu ap a yang harus diperbuatnya karena mereka masilh sering terombang-ambing dan terhambat oleh prasangka-prasangka jelek yang sudah lama secara sistematis ditanamkan oleh kekuatan-kekuatan Asing pada Jiwa mereka terhadap mayoritas rakyat pribumi, baik mengenai kebangsaan/kesukuannya maupun, mengenai agamanya (yang mayoritas Islam).

Halaman 2

 

Setelah Kemerdekaan, dari jaman Bung Karno sampai jaman Pak Harto sekarang ini, keadaan mereka belum jauh berbeda walau menurut Hukum mereka sudah terbagi-bagi menjadi WNI, WNA, Stateless dan banyak yang sudah ganti nama dengan nama-nama Indonesia. Mereka masih tetap kelihatan eksklusif menyolok dan kurang bisa memahami aspirasi- aspirasi  mayoritas rakyat pribumi sehingga tindakan-tindakan mereka sering menyakiti dan menyinggun  perasaan. Juga mereka secara tidak sadar masih sering digunakan oleh Kekuatan-kekuatan Asing sebagal perantara atau malahan kadang-kadang basis untuk  menindas mayoritas rakyat baik di bidang ekonomi, kebudayaan maupun agama, dan kemungkinan di bidang politik masih selalu ada.

Juga sering sebagian dari mereka digunakan sebagai basis kemaksiatan-kemaksiatan yang bisa meruntuhkan moral masyarakat, seperti misalnya buntut, hwa-hwee, kasino, mah yong, bandar-bandar suap, penyelundupan-penyelundupan, perzinaan-perzinaan  tingkat tinggi dan lain-Iain.

Sebab nila setitik bisa merusak susu sebelanga dan tindakan-tindakan sebagian dari mereka waIaupun memberikan kenikmatan kepada segelintir orang, tapi bisa membahayakan orang-orang Keturunan Tionghoa secara keseluruhan dikemudian hari, kalau tidak diatasi dan disadari sejak sekarang.

Dalam  bidang agama selain agama leluhur, mereka berbondong-bondong memasuki agama Katolik dan Kristen Protestan dengan macam-macam sektenya yang minoritas di Indonesia ini seperti tidak ada hambatan-hambatan apapun, bahkan banyak yang menganut aliran kebatinan atau percaya kepada Dukun atau Mistik. Tapi untuk memasuki agama Islam yang mayoritas mereka masih merasa segan dan berat seperti ada Sekat Besar yang menghambat dan menghalangi -halangi mereka dengan agama Islam ini .

Padahal sebelum Belanda masuk Indonesiar gelombang-gelombang pendatang dari Tiongkok yang mencari tempat meneduh di kepulauan Nusantara ini, secara spontan dan wajar terbaur dalam masyarakat setempat. Hingga tidak ada apa yang dinamakan problem minoritas, masalah Keturunan Tionghoa; masalah pribumi dan Non-pribumi, dan sebagainya. Karena mereka bisa menyesuaikan diri dengan adat istiadat penduduk setempat serta berasimilasl melalui agama yang dianut penduduk tersebut yang umumnya beragama Islam, yang betul-betul sudah berakar di masyarakat dan berprinsip universal tidak membeda-bedakan ras maupun kesukuan. Timbul  pada jaman dulu tokoh-tokoh Islam yang berdarah Tionghoa tapi yang betul-betul bisa berbaur dan bahu membahu dengan penduduk setempat, dan dianggap sebagai sesama rakyat.

Bahkan ada yang menganggap bahwa Raden patah, pendiri. Kerajaan Demak,  kerajaan Islam pertama di Jawa, adalah juga seorang keturunan Tionghoa. Juga kita mengenal Laksamana Cheng Ho atau Sam Poo seorang muslim yang sholeh.

Halaman 3

 

Bab II.  Urgensinya Dakwah Islamyah bagi orang-orang Keturunan Tionghoa.

1. Dipandang dari sudut orang-orang Keturunan Tionghoa

Di kalangan orang-orang Keturunan Tionghoa sekarang ini, yang sering marasa  cemas akan status dan hari depannya di Indonesia ini yang sering merupakan minoritas eksklusif yang jadi korban peristiwa-peristiwa eksplosif, yang sering secara tidak sadar dijadikan basis Kekuatan-kekuatan Asing anti mayoritas, yang sebagiannya dijadikan basis kemaksiatan-kemaksiatan sudah betul-betul tiba saatnya membutuhkan suatu pedoman hidup yang bisa mengatasi semuanya itu secara menyeluruh.
Orang-orang Keturunan Tionghoa pernah tertarik idea-idea :

  • dari Komunisme karena kolektivismenya (tapi sayang tanpa ketuhanan dan mendasarkan pertentangan kelas)
  • dari Sosial-Demokrasi (PSI) karena demokrasi dan hak-hak asasnya (tapi sayang cuma dekat pada golongan-golongan intelektuil berpendidikan Barat tapi kurang dekat pada massa rakyat yang luas),
  • dari Kristen Protestan dan Katolik karena  akhlak dan Ketuhanannya (tapi sayang minoritas eksklusif dan terlalu condong ke rokhani).

Mereka kurang puas dengan ketiganya itu karena masih ada kekurangannya-kekurangannya dan kurang bisa menyelesaikan kesulitan-kesulitan mereka secara tuntas, kalau tidak malah menimbulkan kesulitan-kesulitan baru.
Maka mereka masih terus mencari....

Sesungguhnya Pedoman Hidup yang mengandung ketiga unsur tadi tanpa embel-embel kekurangannya sudah ada di lndonesia ini.

Hanya sayang di kalangan publik opini orang-orang Keturunan Tionghoa “Pedoman Hidup yang dicari-cari tersebut sudah diputar balikkan, disaIah pahami, dipandang rendah, dijelek-jelekkan, dijauhi dan jarang dikalangan mereka yang mau  mengenal dan mempelajarinya secara obyektif tanpa dicampuri prasangk-prasangka jelek.
Sehingga  akibatnya orang-orang Keturunan Tionghoa masih terus gelisah dan selalu merasa asing di bumi lndonesia tercinta ini.
Pedoman Hidup ini ialah... agama Islam yang merupakan Pedoman atau Wahyu yang diturunkan oleh Kholiq (pencipta) bagi makhluq (barang ciptaannya). Jadi sesungguhnya termasuk juga bagi orang-orang Keturunan Tionghoa sendiri sebagai sebagian umat manusia ciptaan Kholiq/Allah.

Maka amat rugilah kalau orang-orang keturunan Tionghoa masih selalu mengunci hati dan pendengaran mereka dan menutup penglihatan mereka dari agama Allah ini,

  • di mana Ukhuwah Islamiyahnya yang universal tanpa membedakan suku bagsa, ras, kedudukan sosial,  dan kolektvismenya melebihi golongan Komunis.
  • di mana musyawarahnya yang menghargai hak azasi manusia serta demokrasinya melebihi PSI.
  • di mana dalam mementingkan Amal-Perbuatan disamping Iman, dan dalam Tauhidnya, di bidang  Akhlak dan Ketuhanan sewajarnyalah melebihi Golongan Kristen Protestan maupun Katolik.

Dalam segi ajaran Islam memang lebih komplit.  Hanya dalam soal umatmya karena baru saja bangkit dari tidurnya baru bangkit dari alam penjajahan selama berabad-abad, maka kita harus bisa memahami kalau masih banyak kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan, kurang bisa sesuai dengan ajaran-ajarannya .
Maka orang-orang Keturunan Tionghoa yang sadar hendaklah ikut berpartisipasi, bersamg-sama babu membahu dengan mayoritas rakyat berjuang melaksanakan ajaran-ajaran agama Islam yang murni.

Di kalangan orang-orang Keturunan Tionghoa harus muncul orang-orang yang berani mendobrak opini publik yang salah dikalangan kaumnnya sendiri serta bersatu padu dengan mayoritas rakyat Indonesia berjuang untuk menegakkan keadilan dan kebenaran demi tercapainya negara Indonesia yang adil dan makmur yang diridhoi oleh Alloh SWT. Tuhan Allah pasti akan menolong, membantu dan memberkati pejuang.pejuang yang berani itu. Dan kaumnya pun akan tertolong juga.

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka  sendiri

(QS Ar Ra’d : 11)


Dan hendaklah ada di antara kamu satu golongan yang mengajak (manusia) kepada kebajikan, dan menyuruh (mereka ) berbuat kebaikan, dan melarang (mereka) dari kejahatan; dan mereka itu adalah orang-orang yang beruntung.

(QS Ali Imran : 104 )

Halaman 4

 

2. Dipandang dari sudut mayoritas rakyat pribumi

Orang-orang Keturunan Tionghoa merupakan suatu Masyarakat Kota (urban society) dan punya potensl di bidang perekonomian. selama mereka masih bersifat eksklusif, dan masih belum bisa integrasi dengan mayoritas, maka selama itu mereka masih sering digunakan sebagai perantara atau basis dari Kekuatan-kekuatan Asing untuk anti mayoritas, juga sebagian masih sering jadi basis kemaksiatan-kemaksiatan. Ini berarti mereka merupakan suatu kantong yang merugikan dan berbahaya bagi golongan mayoritas, baik secara politis, ekonomis, kebudayaan maupun agama.

Kalau mereka bisa diajak kerjasama dan bisa ikut berjuang bahu membahu bersama mayoritas baik dalam soal politik, ekonomi, kebudayaan maupun agama, tentu ini merupakan suatu keuntungan besar bagi mayoritas, sebab kekuatan-kekuatan asing sudah kehilangan basisnya.
Dan justru golongan Tonghoa bisa merupakan basis penolong atau penyangga bagi golongan mayoritas dalam menghadapi gangguan atau serangan dari Kekuatan-kekuatan Asing.
Kalau orang-orang Keturunan Tionghoa bisa banyak yang masuk ke agama Islam tentu Dakwah Islamiyah akan lebih maju pesat dan usaha-usaha atau rencana-rencana de-Islamisasl terhadap bangsa Indonesia bisa diigagalkan dan dibuyarkan sama sekali.
Orang-orag IsIam Abangan dan Islam Kota yang sudah agak kendor penghayatan agamanya bisa ikut dikuatkan kembali dan tidak gampang tergoda untuk meninggalkan agamanya memasuki agama yang lain yang sering menggunakan orang-orang keturunan Tionghoa sebagai basisnya.

Adanya ukhuwah Islamiyah antara orang keturunan Tionghoa dan mayoritas rakyat pribumi tentu akan menguntungkan kedua belah pihak. Mereka bisa saling tolong. menolong, saling belajar dan saling memberl, sehingga IsLam Indonesia akan lebih maju lagi dan bersinar keseluruh dunia.

Halaman 5

 

3. Dipandang dari sudut Pemerintah Indonesia

Sampai sekarang pemerintah Indonesia masih ragu-ragu untuk menormalkan hubungan diplomatiknya dengan RRT. Alasannya  dikatakan adalah karena  di Indonesia masih hidup orang-orang Keturunan Tionghoa yang masih eksklusif dan ditakuti dan masih bisa digunakan oleh RRT  sebagai basis subversinya, sedangkan pemerintah Indonesia masih meragukan ketahanan nasional dan kesatuan bangsanya dalam  menghadapi Kekuatan-kekuatan dari luar, untuk  mengatasi hal  ini pemerintah sering melakukan pendaftaran ulang terhadap WNI-WNI K.eturunan Tionghoanya sampai berkali-kali yang justru memberi kesan negatif  pada warganegara-warganegaranya. Biaya-biayanya cukup banyak tapi manfaatnya masih diragukan.
Dan kalau terus menerus tiap generasi sampai ke anak cucu, keturunan Tionghoa ini harus selalu mengulangi pendaftaran diri dan harus terus meminta dan bisa menunjukkan bukti kewarga negaraannya, maka seorang keturunan Tionghoa secara turun temurun tetap diperlakukan seakan-akan “Sekali keturunan Tionghoa, tetap keturunan Tionghoa”. Dan pembedaan atau pemecah belahan bangsa Indonesia menjadi pribumi dan Non pribumi akan lebih menyulitkan bahkan akan menghambat proses integrasi maupun assimilasi , dan justru memperkuat ekseklusitvisme.

Dan selain oleh RRT, kalau orang-orang Tionghoa masih tetap eksklusif dan kurang terintegrasi dengan mayoritas, tentunya mereka bisa pula dijadikan basis subvesi oleh negara-negara dan Kekuatan-kekuatan Asing lainnya .
Inilah yang sering menimbulkan goncangan-goncangan eksplosif yang merugikan pembangunan, menimbulkan kekacauan ekonomi, dan kestabilan serta keamanan negara bisa terancam.
Tapi sebaliknya kalau orang-orang Tionghoa bias banyak yang masuk Islam dan berintegrasi dengan mayoritas rakyat pribumi maka tentunya kekompakan dan kesatuan bangsa lebih mantap, ketahanan nasional bisa lebih terbina dan bangsa serta negara Indonesia tentu lebih bertambah kuat, tidak takut lagi pada Kekuatan Asing yang akan mengganggu negara dan rakyat Indonesia.

Dan zakat yang dikumpulkan, diurus, dikelola serta dihitung sendiri diantara mereka secara sukarela, tanpa paksaan, gertakan ataupun tekanan dengan menghindari adanya pungli atau korupsi, akan merupakan suatu dana sosial yang hebat dan bisa membantu pemerintah dalam usahanya untuk nengurangi jurang antara kaya dan miskin, dan juga bisa dipergunakan untuk mengatasi berbagai problem soslal.
 
Di dalan zakat maka yang kurang mampu di antara golongan Tionghoa itu tidaklah ada kewajiban untuk memberi tapi malah justru menerima bantuan. Disinilah letak keadilaan Islam yang didalam masalah ekonomi tidak membagi golongan pribumi dan non pribumi tapi golongan ekonomi lemah dan golongan ekonomi kuat. Dan mushola-musholla atau mesjid-mesjid yang dibangun di dalam toko-toko (department store) atau industri-industri mereka, dengan ulama-ulama yang mengajarkan pemahaman Al Qur’an dan pemberantasan buta huruf Al Qur’an (maupun latin), akan bisa membantu pemerintah di bidang pendidikan dan juga bisa memberi sumbangan untuk mempertebal ketaqwaan dan mempertinggi moral karyawan-karyawan khususnya, masyarakat pada umumnya.

1 Dosen Fak. Psikologi UMS