Cetak 

Bedah Buku "Muslim Tionghoa" Karya Yunus Yahya oleh Slamet Sutrisno

 

 Djamaludin Ancok

Sebelum diskusi kita mulai, marilah kita panjatkan syukur sebesar-besar ke hadirat Allah SWT. karena pada malam hari ini, tidak seperti yang saya duga, yang hadir banyak sekali. Tadi bayangan saya, karena  kita mengupas suatu buku, tentu yang hadir tidak akan banyak. Namun syukur Alhamdulillah malam ini  sangat banyak. Mudah-mudahan ini adalah permulaan yang sangat baik bagi kita untuk hal-hal berikutnya.

Walaupun saya diminta menjadi moderator, terus terang saya sampaikan kepada ibu-ibu dan bapak-bapak, bahwa saya belum membaca secara mendalam buku “ Muslim Tionghoa” yang kita kaji ini. Namun demikian, saya merasa senang untuk melakukannya, oleh karena saya sudah cukup bergaul dengan Bapak Junus Jahja dan rekan-rekan lain, terutama dari kelompok Tionghoa. Saya minta barang tiga empat menit untuk mengantarkan masalah ini.
Di dalam  program integrasi nasional saya sudah sering kali diundang, baik oleh pemerintah maupun oleh Bakom-PKB, untuk berbicara tentang pembauran. Ini adalah suatu haI yang amat penting bagi kita, oleh karena sifat masyarakat kita yang sangat majemuk.  Oleh karenanya, masing-masing pihak dituntut untuk berpartisipasi di dalam meningkatkan integrasi nasional. Kebetulan, salah satu cara yang dipakai oleh saudara-saudara kita dari kalangan Tionghoa ialah pembauran melalui agama ini, dan saya rasa hal  ini cukup beralasan. Pembauran melalui agama ini, jika ditinjau dari teori-teori psikologi sosial dan teori integrasi mempunyai keuntungan yang paling besar, oleh karena dengan pendekatan ini terjadi proses pembauran yang total sifatnya.
Kita lihat, apabila ada pembauran maka ada kesamaan kelompok minoritas dengan kelompok mayoritas. Makin banyak kesamaan yang ada, maka makin senang orang yang satu dengan yang lain. Sedangkan kalau kita lihat kesamaan yang paling besar, yang paling menyentuh hati, adalah kesamaan di dalam  iman. Apabila kita sama dalan keimanan, kita tidak boleh Iagi merasakan dia sebagai orang lain kecuali saudara kita. Oleh karena itulah, mungkin di Thailand, tidak ada permasalahan minoritas mayoritas. Walaupun di sana kelompok etnik Tionghoa tergolong minoritas, tapi tidak ada masalah dengan orang-orang asli Thailand karena mereka memiliki kesamaan agama yaitu agama Budha. Demikian pula di dalam  agama Islam, kita dituntut untuk tidak membeda-bedakan tiap muslim, dan tentunya dengan memiliki kesamaan agama ini, Insya AIlah, pembauran betul-betul akan total, akan sama,tidak ada faktor pembeda yang menyolok.
Untuk mempersingkat waktu, sebelum saya kami persilahkan Bapak Slamet Sutrisno mengemukakan pembahasannya, kepada Bapak Junus Jahja saya. Persilahkan   untuk menyampaikan sesuatu yang dipandang perlu atau yang berkaitan dengan latar belakang penulisan buku Muslim  Tionghoa, sebagai suatu  pengantar singkat.

Junus Jahja

Mungkin sebagai pengantar singkat dapat saya sampaikan tentang motivasi, yaitu mestinya anda ingin mengetahui mengapa saya menulis buku "Muslim  Tionghoa" ini. Sebelum buku ini, saya telah menulis "Zaman Harapan Bagi Keturunan Tionghoa" yang menggambarkan suatu rekaman peristiwa sejak 1929 hingga tahun 1984/1985 mengenai perkembangan da'wah di kalangan masyarakat Tionghoa. Mungkin anda mengetahui bahwa baru lima tahun terakhir ini mulai terdengar banyak keturunan Tionghoa mulai memeluk agama Islam. Sehingga pada waktu itu saya merasa bahwa rekaman irri perlu kita bukukan. Sebab, biasanya kelemahan kita dibandingkan dengan bangsa lain, ialah kemaIasan kita untuk nrengadakan dokumentasi.  Hingga nanti kalau mau bikin skripsi atau mungkin disertasi baru giat mencari bahan-bahan yang ternyata berserakan.
Mengenai buku 'Muslium Tionghoa. ini, saya susun untuk memudahkan para mahasiswa maupun para sarjana, para cendekiawan danjuga mungkin para politisi di Indonesia ini yang menaruh perhatian terhadap gejala masuk Islamnya keturunan Tionghoa di Indonesia. Mungkin  ada baiknya saya membantu kawan-kawan kita ini, kemudian saya dokumentasikan apa yang sudah terjadi selama kurun waktu lima tahun itu. Sehingga 'kliping-kliping di surat kabar, majalah dan sebagainya itu saya kumpulkan, mulai Maret 1979 sampai 1985.
Tahun 1979 kalau, tidak salah, klipingnya masih tipis. Tahun 1980 lebih tebal, 1981 menjadi tiga kali lebih tebal dari 1979, 1984 lebih tebal, dan 1985 ternyata lebih tebal lagi sehingga akhirnya mencapai ketebalan 380 halaman. Dari kegiatan tersebut pembaca bisa mengambil kesimpulan bahwa ada perkembangan yang positif mengenai Islan di kalangan keturunan Tionghoa.
Akan tetapi, biasanya kita ini apapun yang dikerjakan selalu ada saja kritik. misalnya kritik pada saya, buku ini terlalu tebal susah dibaca. Jadi bagaimana ini, kalau terlalu tebal apakah saya harus membuat yang lebih tipis ? Tapi saya khawatir  kalau tipis, nanti ada kritik: ini terlalu tipis pak Junus. Dengan demikian, memang, terutama para cendekiawan dan pengamat-pengamat di manapun, tidak ada yang puas 100%, selalu masih ada saja yang diingini. Sehingga saya mengambil kesimpulan biarlah buku yang tebal ini intisarinya saya intisarikan lagi. Tapi dengan suatu sistematik yang kiranya mungkin dapat menarik perhatian, dan muncullah, buku "Muslim  Tionghoa" ini. Masalah masuk Islamnya orang Tionghoa ini, banyak orang yang menaruh perhatian.
Pertama, katakan secara kasarnya misalnya, orang yang ingin mengetahui mengapa Junus Jahja dan kawan-kawannya itu masuk Islam ? Dan perkembangan apa yang ada pada mereka setelah masuk islam itu ? Mereka ingin mengetahui perkembangannya. Kedua, bagaimana pandangan masyarakat umum, terutama tokoh-tokoh politik, tokoh-tokoh agama, khususnya dari kalangan pribumi. Orang ingin mengetahui apakah ada sambutan baik, apakah tidak baik,kritiknya bagaimana. Ini terutama ingin diketahui oleh keturunan Tionghoa yang belum IsIam.
Jadi dua hal di atas yang pada hemat saya mungkin ingin diketahui oleh masyarakat, maka buku yang baru ini yang sebenarnya intisari buku yang lama saya bagi dalam semacam tiga bagian. Bagian pertama adalah rangkaian 'epilog' saja, kemudian ada lagi bagian mengenai 'aneka pandangan' saya setelah masuk Islam, ketiga 'pandangan para cendekiawan Muslim  dan lain-Iain’ mengenai keturunan Tionghoa yang masuk Islam.


 

DAKWAH ISLAM DAN PEMBAURAN

Slamet Sutrisno

Pertama-tama kepada Jamaah Muslim Tionghoa Koordinasi Daerah Istimewa Yogyakarta saya ingin mengucapkan banyak terima kasih atas kepercayaan yang diberikan pada saya untuk mengutarakan pengkajian resensi buku "Muslim  Tionghoa,'. Kemudian, apa yang saya kemukakan di bawah ini, sebetulnya hanyalah merupakan perluasan dari resensi yang kebetulan saya tulis di panji Masyarakat (lihat bagian empat, Feny), terdiri dari ulasan terhadap buku "Muslim  Tionghoa”, kemudian saya mencoba mencari pokok-pokok isi dan yang kedua saya ingin mengajak kita untuk meluaskan perspektif dari apa yang dilontarkan oleh bapak Junus Jahja. Kesempatan ini merupakan kehormatan yang baik bagi saya, mudah-mudahan makalah yang sederhana ini mampu mengajak kita memasuki diskusi buku yang kita harapkan.

SISTEMATIKA

Sistematika yang menyediakan kerangka penglihatan bagi kita dalam memasuki buku ini, sudah sangat menolong dan memberikan kemudahan untuk menelusuri pokok-pokok pikiran pengarang. Buku ini terdiri atas 3 bab seperti berikut: bab I "Serangkaian Epilog", bab II "Aneka Karangan Junus Jahja", bab III "pandangan Ulama, Cendekiawan, dan Tokoh Islam". Sebenarnya antara bab I dan bab II  dapat dikatakan identik, akan tetapi rupa-rupanya. pengarang memandang penting untuk pemisahannya, yang saya kira terdorong oleh motivasi internal berupa pertanggung jawaban pribadi.
Dalam serangkaian epilog yang mengisi bab I, pengarang memberitahukan kepada pembaca apa yang telah dirasakan sesudah ia. menjadi seorang muslim dari tahun ke tahun. Di situlah pembaca akan dapat menyimak semacam 'tutup buku' yang di dalamnya berisi neraca pribadi dalan posturnya sebagai Muslim . Terbukti misalnya, setelah setahun usianya sebagai Muslim itu sudah ditegaskannya bahwa:
"Dalam tindak tanduk dan pemikiran sehari-hari kini saya mempunyai pegangan yang kongkrit. Konsep insan kamil atau the perfect man itu. menuntut dari kita suatu sikap hidup yang jelas tanpa ragu-ragu" (halaman 1).
Pernyataan seperti ini saya kira cukup impresif, Iebih-Iebih apabila kita bersedia untuk lebih jujur menyidik diri. Jangankan baru setahun, pengakuan seorang muslim yang sudah lama pun kadang-kadang lamban dalam menempatkan Islam sebagai sentrum pikiran perilaku. Untuk itulah disinggung pula oleh pengarang lewat pertanyaan sederhana yang rasanya seperti melecut:
“Dan berapa banyak sesama muslim bahkan haji yang ternyata terlalu cepat naik darah, dan lupa akan istilah 'shobirin’ alias orang sabar itu? Dan bagaimana anjuran untuk mengejar ilmu bahkan sampai ke negeri Cina sekalipun?" (halaman 4).
Dalam bab II yang juga berisi 6 tulisan, pengarang meneruskan pemikirannya dengan sudah tidak tebih berpusat pada pengalaman diri, akan tetapi melebar pada persoalan umat pada umumnya. Di sana sini terlontar keterus-terangan yang berguna, dan dalam "dialog internal"nya itu kadang-kadang menggugah, sambil agak menggugat umat, agar jangan  terlena dalam statika yang kurang menguntungkan citra agama umumnya, dan perkembangan muslim Indonesia khususnya.
Sesuai dengan semacam bakat kultural, diajukan dalam karangan berjudul "Kontak Bisnis" yang menawarkan gagasan untuk mendayagunakan masjid sebagai tempat untuk ikut penggalang potensi ekonomi di antara para jamaah. Kemudian ada judul "Beberapa Catatan” dikemukakan pikiran-pikiran yang cukup penting bagaimana agar dakwah Islan di kaIangan masyarakat Tionghoa dapat berjalan dengan lebih efektif.
Bila dapat agak dilepaskan dari bab III yang berisi pandangan, komentar dan penilaian kaum ulama dan cendekrawan, maka dapat disimpulkan pokok-pokok isi buku yang sedang kita bicarakan ini sekurang-kurangnya mengandung dua hal penting, pertama persoalan da'wah Islam  di kalangan masyarakat Tionghoa, dan ke dua masalah pembauran ke dalam  masyarakat kebangsaan Indonesia.

PERSOALAN DAWAH DI KALANGAN MASYARAKAT TIONGHOA

Untuk masalah pertama ini Pengarang  tampak menekankan adanya dua sasaran, ialah da'wah di kalangan muslim Indonesia, dan da’wah Islam di kalangan masyarakat Tionghoa pada umumnya. Untuk itu diberikannya sekedar pengetahuan yang bersangkutan dengan 'apa siapa'-nya masyarakat Tionghoa, yang tentunya akan sangat berguna bagi para juru da'wah. Sebagai contoh misalnya: adanya heterogenitas dalam masyarakat Tionghoa sendiri, suatu kenyataan yang akan meluruskan pandangan stereotip sebagaim ana terkesan selama ini.  Demikian juga kepercayaan-kepercayaan agamis yang ada, terutama di kalangan Tionghoa generasi yang lebih tua, yang  pada umumnya menganut Konghucu, Budha dan Taoisme. Dengan menguasai pengetahuan, meskipun elementer  tentang berbagai kepercayaan itu maka kita lebih enak ‘masuk’  ke dalam lubuk hati para pendengar da’wah. Disebut contoh misalnya kecakapan  almarhum Buya HAMKA, yang melukiskan unsur-unsur paralel di antara Islam dengan Konghucu dalam kewajiban memuliakan leluhur,. Islam dengan Tao yang artinya jalan lurus identik dengan Tauhid.
Kecuali imbauannya untuk menyesuaikan da'wah terhadap situasi kepercayaan masyarakat Tionghoa itu, ajakannya yang juga menarik adalah bahwa da'wah tersebut bukan saja menjadi tugas keturunan Tionghoa yang muslim, tetapi justru harus selekasnya dijadikanprogran nasional kaum muslimin Indonesia (halaman 13). Lain dari itu, Junus tampak memprihatinkan bahwa kecenderungan da’wah itu di kalangan muslim Tionghoa. Menurut pendapatnya, justru terhadap masyarakat Tionghoa pada unumnyalah da'wah Islam amat dibutuhkan.
"Ada kesalahpahaman lain yang perlu diperbaiki pula. Kepada saya dan kawan-kawan sering disampaikan uluran-uluran tangan untuk membina yang masuk Islam. Dengan latar belakang pemikiran bahwa di situlah yang paling diperlukan bantuan dan partisipasi umat. Sedangkan partisipasi dan dukungan kongkrit yang mendesak bukan di situ, tapi justru di taraf sebelunnya. yaitu bagainana, mengadakan pendekatan-pendekatan pertama dannenberikan penerangan-penerangan mengenai agama kita kepada mereka yang belum  masuk Islam" (halaman 39).

PERSOALAN PEMBAURAN

Sisi  ke dua dari buah pikiran pengarang adalah bersangkutan dengan masalah pembauran, khususnya dari unsur keturunan Tionghoa ke dalam masyarakat kebangsaan. Pendapatnya cukup eksplisit, bahwa pembauran tersebut akan banyak memperoleh hasil manakala ditempuh cara lewat agama, dalam hal ini Islam karena merupakan mayoritas.
“ Setelah masuk Islam, kini tidak menjadi masalah lagi apakah saya non-pri Cina dan sebagainya. Baik bagi saya sendiri maupun bagi masyarakat Indonesia yang umumnya memeluk agama Islam, soalnya pada dasarnya selesai” ( halaman 25).
Sejumlah pandangan yang mengisi bab III ini, pada umumnya sejalan dengan apa yang dikatakan Junus Jahja. Sedangkan salah satu diantaranya yang agaknya lebih kritis ditulis oleh Ayub Sani Ibrahim, yang melacak lebih jauh bahwa perasaan sayang yang diperoleh seorang muslim Tionghoa membawa perasaan ‘aman’ pada dirinya. Ayub lebih jauh menulis bahwa :
“ Agama adalah terlalu suci dan azasi untuk sekedar dijadikan ‘alat’ berbaur …. Agama bukan alat, dan hendaknya agama juga jangan diperalat …. Rasa sayang inilah sebenarnya masalah terpokok. Maka jalan apa pun yang akan ditempuh, resep rasa sayang ini harus diterima sebagai kenyataan. Nah, kalau mereka memang ingin membaur kenapa bukan rasa sayang ini yang harus dikembangkan terlebih dahulu dan baru kemudian yang lain” (halaman 26).
Bila di sini saya boleh mengusulkan catatan untuk Ayub, maka pertama-tama adalah bahwa lewat statusnya sebagai muslimah maka rasa sayang umat terbukti bisa diperoleh. Sedemikian rupa, sehingga peringatan bahwa agama terlalu suci untuk dijadikan alat pembauran, tak lagi terlalu relevan. Apa yang dirasakan oleh keturunan Tionghoa, sebagai muslim, merupakan fakta implikatif, sebuah realitas baru yang notabene belum dikenyam lewat jalan-jalan pembauran lain yang pernah ditempuh.


 

PEMBAHASAN UMUM

Sebelum saya akan mencoba menempatkan buku ini dalam perspektif yang diperluas, mungkin sedikit catatan dan pertanyaan dapat diajukan sebagai awal kajian.
Apa yang dipikirkan oleh pengarang agar justru kepada  masyarakat Tionghoa non-nuslim lebih banyak diberikan perhatian, perlu dirumuskan ke dalam suatu konsepsi yang lebih operasional. Pada epilognya yang ke-4, Junus Jahja menaksir bahwa muslim Tionghoa di Indonesia baru kurang lebih 0,5 % dari sekitar 4 juta keturunan yang ada. Dengan demikian 'lahan' yang tersedia masih lantang. Namun  demikian suatu kebijaksanaan sangat diperlukan agar pelaksanaan dari konsepsi yang dimaksud tak jatuh ke dalam kesan-kesan subjektif dan sepihak.
Di lain pihak apabila sekarang kita berpijak pada data yang riil, bahwa umat Islam di kalangan Tionghoa masih terhitung kecil, saya kira dibutuhkan sebuah konsepsi berikutnya agar muslim Tionghoa, berapa pun jumlahnya, mampu terus memasyarakatkan semangat pembauran yang lebih intensif bersama keturunan Tionghoa non-Muslim. Misalnya lewat otoritas kekerabatan, jalinan profesi yang kolegial, dan saluran-saluran lain yang mungkin. Pada tugas inilah kualitas seorang muslim Tionghoa akan diuji, dan keberhasilannya akan membawanya kepada ciri keindonesiaan  yang menempatkan Pancasila sepagai azas kemasyarakatan dan kenegaraan. Tampaknya untuk  sektor yang diajukan ini, belum ditemukan gagasan pengarang dalam  buku ini.
Perasaan aman dan disayang umat sebagaimana banyak ditekankan, mungkin bergantung juga kepada lingkungan sosial di mana masyarakat Tionghoa berdiam. Dalam haI mereka berada di tengah masyarakat Islam yang kurang tangguh, katakanlah Islam elementer atau yang  justru substansinya 'abangan' maka keuntungan psikologis dari masuknya Tionghoa menjadi muslim perlu dipenuhi dari sumber lain di luar sumber lingkungan tersebut. Catatan ini kalau dikembangkan dengan menunjuk kepada misalnya ciri sinkretis hidup keagamaan orang  Jawa pada umumnya seperti termuat dalam penyelidikan para ahli.
"Inti dari manifestasi keislaman. …. Sama di semua / di seluruh kepulauan Indonesia. Namun manifestasi budaya secara keseluruhan agama ini mungkin sangat berbeda jika dibandingkan misalnya antara budaya Islam yang di Jawa dengan yang di Sumatera Barat, Aceh, Sulawesi Selatan atau beberapa tenpat lainnya. Hali ni disebabkan perasukan unsur-unsur budaya etnik dari daerah ini di mana manifestasi budaya Islam tertentu diketemukan" (Harsya W. Bachtiar, 1985).
Mengenai dampaknya terhadap masalah pembauran nasional, dapat disepakati bahwa lewat aqama Islam  maka persoalannya akan banyak dapat diatasi. Dengan menjadi Muslim , keturunan Tionghoa ibarat ikan yang segera mencebur ke dalam air kehidupan yang meluaskan wawasan. Inilah  yang dalam Taoisme dianjurkan adanya kesediaan orang untuk meluluhkan diri ke dalam. Tao secara kodrati.
"Manusia berpedoman pada langit,
Langit berpedonan pada jalan,
Jalan berpedoman pada kodrat alam”
(Lao-Tse, Tao-te-Tjing, artikel 25, 1962, 63).
Dalam pada itu keyakinan bahwa dengan Islam maka persoalan pernbauran pada dasarnya selesai, harus diletakkan pada aksen optimis me yang sangat berguna di dalan mengarahkan proses pembauran yang akan terus berlangsung.
Pembauran bukanlah “kata  benda”, melainkan sebuah kata kerja yang mengajak semua pihak untuk berperan serta di dalamnya.
Lama diterima di kalangan kita umumnya bahwa nasalah pernbauran ini tidak terlepaskan dari soal mayoritas dan minoritas, etnis. Jika dilihat dari dimensi pemeluk agama Islam yang merupakan mayoritas, kemudian keturunan Tionghoa menjadi Muslim, soal  rmayoritas minoriras, etnis akan bisa lebih cepat mencair. Mungkin lewat agama Islam inilah  masyarakat Tionghoa mendapatkan ‘jalan tol’ menuju persatuan dan kesatuan bangsa yang dicita-citakan bersama. Namun demikian tetap penting dicatat, bahwa dalam pada itu  dibutuhkan konsensus-konsensus kultural yang kreatif yang dapat mengakomodasikan variabel nilai budaya etnik dalarn komunitasumat yang religius Islami.

PERMASALAHAN KEBUDAYAAN

Yang tersebut  dalam dua kalimat awal bagian prakata,  merupakan tema yang menarik perhatian untuk dikaji. Dikatakan di sana:
“ Baru beberapa bulan masuk IsIam, saya menghadapi bermacan-macam reaksi dan perrtanyaan. Antara lain mengenai identitas atau ciri kepribadian saya selanjutnya' (halaman I ).
Suatu pertanyaan tentang identitas kultural, dalam hubungannya dengan masalah agama yang per definisi bagi pemeluk-pemeluknya, agaknya  perlu mendapatkan pembahasan secara khusus di luar kesempatan kita yang pendek ini. Secara umum kita umpamanya dapat bertanya, apakah muslim Tionghoa selalu secepat mungkin meninggalkan segala nilai budaya yang tidak persis Islami, pada hal mungkin sudah lama terangkum dalam adat dan tradisinya. Demikian pula sejauh manakah kemungkinan adanya semacam bahaya “sinkretisme’ yang mungkin akan ditemui ?
Pertanyaan pertama itu mengandung  problematic juga, apabila kita sependapat bahwa justru apa yang disebut kebudayaan Islam itu sendiri masih memerlukan presisi dalam pertumbuhannya di kalangan masyarakat kita.
Dalam seminar “ Da’wah islam dan Perubahan Sosial” di Yogyakarta, 1982, diakui adanya kesenjangan antara kebudayaan riil yang ada dengan idealisasi budaya Islam yang dicita-citakan. Emha Ainun Nadjib menyatakan bahwa dalam hubungannya dengan transformasi budaya, da’wah Islam menjadi hal yang urgent, dengan asumsi bahwa lingkungan yang belum ada Islam, da’wah yang baik bukan hanya lewat ceramah-ceramah saja, tetapi melalui teladan-teladan yang diproyeksikan pada modus-modus budaya. Sementara Achmad Syafie Mohammad melihat bahwa kebudayaan yang ada masih belum sesuai dengan nilai-nilai Islam. Sedangkan Muhtar Efendi Harahap menunjukkan  adanya pemikiran bahwa umat Islam “tidak dapat maju” karena masalah budayanya yang tidak mendukung  kemajuan. Pertanyaan Muhtar Efendi Harahap, sejauh mana Islam sebagai suatu system nilai  mampu mengangkat harkat pembebasan bangsa  atau individu ? (lihat Amrullah Achmad Ed.  Da'wah Islam dan Perubahan Sosial, 1983).
Dalam pada itu, pertanyaan Junus Jahja mengenai identitas kultural muslim Tionghoa,  sebaiknya perlu dijawab dalan kerangka penglihatan yang lebih luas, ialah dalam konteks identitas cultural umat Islam di Indonesia. HaL ini adalah penting, sebab pertanyaan itu mirip sebuah item yang tentunya perlu dimasukkan ke dalam skema besar, dan skema ini  adalah kultur rnuslim yang akan terus dibangun bersama.
'Vitalitas ajaran yang ditanamkan Muhammad dalam jiwa para pengikutnya, tulis  Gibb, terlihat pada dorongan kultur yang  diberikannya." (Mochtar Prabottinggi, dalam Prisma, 12, 1977 , 59).

KEBUDAYAAN TIONGHOA

Pengkaji buku ini merasa tidak banyak tahu mengenai pemikiran-pemikiran Tiongkok,  sementara jika kita akan mendekatinya dari  sudut sejarah filsafat Cina (inilah memang  nama yang banyak mengisi lektur), maka dialog antar pemikiran yang ada tak kalah tuanya  dari usia filsafat Yunani. Sejak Confucius  (551-478 sebelum masehi) sampai Fung Yu Lan (abad XIX) tercatat tidak kurang dari 40 orang pemikir yang bisa diangkat dalam pembicaraan.
Sedikit di antaranya misalnya Mo Ti dan Mencius pada abad-abad sebelum masehi,  atau Sun Yat Sen dan Hu Shih pada kurun waktu lain yang sudah menjadi modem. Dalam rangka tema umum yang kita perbincangkan secara  singkat ini, kita mungkin hanya bisa berkata  tentang ciri-ciri kasar dari pemikiran Cina  yang membentuk kebudayaan. Tionghoa, meski kita perlu kritis masih berapa  besarkah pelaksanaan nilai budaya yang dimaksudkan itu di negeri kita sekarang.
Salah satu di antara nllai budaya tersebut adalah sikap pragmatis, dengan atau tanpa kaitannya pada pragmatisme yang biasanya dianggap berkembang di Amerika. Adalah menarik bahwa dalam buku ini pun, yaitu pada bab III, terdapat tulisan Ridwan Saidi berjudul  "Langkah-'langkah Junus Jahja,'. Dalan tulisan antara lain disebutkan bahwa:
"Junus selalu efisien dalam  bercakap cakap, pembicaraannya selalu langsung  kepada masalah. Nampaknya dia lebih  gemar bekerja kongkrit dari pada omong- omong ke sana ke mari...' (halaman 69).
Apabila itu benar, maka sikap pragmatls merupakan sebuah ciri pada kepribadian Pak Junus Jahja, tampak umpananya pada kecenderungannya  untuk bekerja kongkrit. Sementara  ajaran-ajaran filsafat Cina yang lebih bersifat ‘membumi’ menunjukkan adanya garis pragmatik yang cukup kuat.
Dihubungkan dengan kebersamaan umat dalam tugas membangun kultur muslim yang kurang Iebih 'tahan bantingan' , muslim Tionghoa dengan ciri kebudayaan asal tentu dapat' memberikan kontribusinya yang riil. Misalnya dalam sikap rasional empiris di dalam menjawab kebutuhan hidup sehari-hari bukan eskapistik- fatalistik sebagaimana terkesan dalam jawaban kultur Jawa yang sudah terbias.
“ Islam itu adalah bagian dari cara berpikir semit …. Cara pemandangan semit yang rasional dan zakelijk dunia, dikembangkan pula oleh  pertemuan agama Islam yang rapat dengan cara berpikir bangsa Yunani…” ( JWM Bakker, S.J. 1984, 128)
    Muslim Tionghoa senantiasa dapat mengambil bagian secara aktif dalam konteks kehidupan umat, para tokohnya misalnya bisa melibatkan pemikiran dalam keperluan interpretasi ayat-ayat suci yang sering memerlukan peranan akal. Di lain pihak dengan menjadi Muslim, perhatian masyarakat Tionghoa terhadap nilai-nilai transeden dapat diperkaya dalam penghayatan yang lebih eksplisit, sehingga prasangka yang melekat pada orang Tionghoa dalam citranya sebagai pengejar nilai-nilai kebendaan akan dapat lebih mencair.
“ Keturunan Tionghoa yang lebih memikirkan perkara duniawi, akan tampak sebagai pengumpul kekayaan yang tekun. Mereka ini yang kebanyakan bergerak di bidang perdagangan dan usaha sering dianggap tidak memperhitungkan nilai-nilai etis atau moral oleh orang Indonesia asli yang pada umumnya sangat mementingkan moral” (Iwan P, Hutajulu, dalam Analisa, 1984, 9, 684)

PENUTUP

Akhirnya, optimisme yang mewarnai buku yang sedang dikaji ini sangat penting untuk kita garisbawahi dan kita teruskan bersama. Mungkin akan terdapat beberapa hambatan, akan tetapi, seperti diketahui salah satu nilai yang membuat kita merasa bahagia di dalam hidup ini, ialah keberanian dan kemenangan kita di dalam mengatasi tantangan-tantangan. Saya tetap percaya dan menjadi harapan kita, bahwa dari sudut pengembangan kebudayaan, yakni kebudayaan bangsa pada umumnya maupun kebudayaan muslim Indonesia yang pantas mencirikan kebudayaan bangsa itu, keturunan Tionghoa mempunyai peluang yang cukup untuk mengajukan partisipasinya. Suatu survei  tentang orientasi nilai budaya pada orang-orang Tionghoa, menyatakan bahwa pada umumnya generasi tua dan generasi mudanya berorientasi pada nilai budaya yang lebih mementingkan karya dan menguasai alam. Mereka juga berorientasi pada nilai budaya yang mementingkan individu serta mengangap disiplin diri dan tanggung jawab diri sendiri sangat penting (Sukanto, dalam Analisa, 1984-9, 735)