Ragam Islam di Tiongkok

Hikmatul Akbar

Negeri Tiongkok pada saat ini terkenal dengan kemajuan ekonomi dan peran politik yang kuat di dunia internasional. Hanya Amerika Serikat yang bisa menandingi kebesaran dan kemajuan Tiongkok. Dengan jumlah penduduk mencapai 1,368 milyar jiwa di tahun 2015 ini, Tiongkok tentu mempunyai sumber daya manusia yang luar biasa, yang bila diatur dengan baik akan mempercepat pertumbuhan ekonomi negara itu.

Mayoritas penduduk Tiongkok berasal dari Suku Han yang mencapai 91,51% (sensus 2010) dari total penduduk, sementara sisanya berasal dari berbagai macam suku yang lain.

Karena besarnya negara Tiongkok dan juga jumlah penduduk yang sedemikian tinggi, angka sekitar 8,49%  sisanya tetap bisa dikatakan sebagai jumlah yang besar jika dibandingkan dengan berbagai negara lain di dunia. Secara hitungan kasar, terdapat 116 juta orang yang bukan Suku Han di Tiongkok, padahal jika melihat komposisi jumlah penduduk di negara-negara di dunia, hanya terdapat 12 negara (dari total sekitar 200 negara di dunia) yang penduduknya  melebihi angka 100 juta. Karenanya, suku-suku bukan Han tentu tetap mendapat tempat tersendiri di Tiongkok.

Pemerintah Tiongkok mengakui adanya 55 suku minoritas dan 10 di antara suku minoritas itu beragama Islam. Suku Hui tercatat berjumlah 9,8 juta orang. Kemudian terdapat suku Uighur 8,4 juta orang, Suku Kazakh 1,25 juta orang, Suku Dongxiang 514 ribu orang, Suku Kirgiz 114 ribu orang, Suku Uzbek 125 ribu orang, Suku Salar 105 ribu orang, Suku Tajik 41 ribu orang, Suku Bonan 17 ribu orang dan Suku Tatar yang berjumlah sekira 5 ribu orang. Selain tersebar di kota-kota besar di Tiongkok, suku-suku ini umumnya tinggal di wilayah Xinjiang, Ningxia, Gansu dan Qinghai. Wilayah bagian barat Tiongkok ini dikenal dengan sebutan “Qur’an Belt”.

Dalam pencatatan penduduk, pemerintah Tiongkok tidak  mengikut sertakan agama sebagai dasar perhitungan, sehingga banyak juga penduduk yang beragama Islam yang berasal dari Suku Han, Mancu, Mongol, atau Tibet tidak disertakan. Akibatnya, pemerintah Tiongkok menyebutkan angka 20 hingga 23 juta penduduk Tiongkok yang beragama Islam, sementara organisasi Islam di Tiongkok dan para pakar Sinologi dari luar negeri menyebutkan angka kurang lebih 10% penduduk Tiongkok beragama Islam. Itu artinya terdapat sekitar 136 juta penduduk yang beragama Islam. Angka 136 juta orang ini jauh lebih besar dari Negara Islam Iran yang mempunyai 78 juta penduduk, Turki dengan 77 juta penduduk atau Mesir dengan 88 juta penduduk.

Hanya Indonesia (dengan 204 juta penduduk Muslim), Pakistan (189 juta), India (177 juta) , dan Bangladesh (146 juta) yang memiliki jumlah penduduk Muslim lebih banyak dari Tiongkok. Sementara Saudi Arabia sebagai negara pusat ibadah umat Islam hanya memiliki 25 juta penduduk dan tetangga Indonesia yang mengaku sebagai Negara Islam yaitu Malaysia hanya memiliki 17 juta penduduk Muslim. Karenanya, Tiongkok tentu saja memainkan peranan penting dalam penyebaran agama Islam itu sendiri, dan ini tentunya ditambah lagi dengan peran dari banyaknya orang Tionghoa perantauan yang beragama Islam.

Sayangnya dalam pengambilan kebijakan terhadap Islam, Pemerintah Tiongkok terlihat membedakan suku-suku Islam di negara itu. Suku Hui terlihat mendapat kebebasan dalam menjalankan agama Islam, sementara Suku Uighur yang merupakan suku kedua terbesar yang beragam Islam terlihat banyak mendapat pengekangan. Suku Uighur memang memiliki bahasa dan tampilan fisik yang berbeda dengan suku Han. Bahasa Uighur lebih mirip dengan Bahasa Turki dari pada Bahasa Tiongkok. Orang Uighur juga secara fisik lebih tinggi dari pada Orang Han dan lebih mirip orang-orang Asia Tengah. Di tambah dengan banyaknya kasus percobaan pemberontakan dan kasus teror yang dilakukan oleh orang Uighur, maka pemerintah Tiongkok memang melakukan banyak tekanan, pembatasan, dan pelarangan terhadap berbagai kegiatan Suku Uighur ini.

Pemerintah Tiongkok beralasan bahwa tidak ada pembatasan praktik keagamaan atau menjalankan ibadah sesuai tuntunan Agama Islam, tetapi memang ada pengawasan terhadap Suku Uighur  terkait dengan pergolakan politik di Xinjiang tahun 2009, atau lebih khusus lagi terkait dengan serangan teroris seperti yang terjadi pada bulan Juli 2014. Tahun 2014 memang terdapat beberapa kejadian yang bisa dihubungkan sebagai pembatasan kegiatan keagamaan, seperti kasus orang Uighur yang dilarang naik bis karena mengenakan pakaian dengan simbol bulan bintang, laki-laki berjenggot panjang, atau bagi perempuan yang menggunakan cadar. Kasus-kasus itu terjadi di kota Karamay, Provinsi Xinjiang. Di kota yang lain, Kashgar, pemerintah kota mempromosikan lepasnya jilbab bagi perempuan. Terdapat banyak  iklan “Biarkan rambutmu terurai indah diterpa angin, dan biarkan kecantikan wajahmu terjamah sinar matahari.” Ada juga kasus pelarang puasa di salah satu universitas, khusus bagi mahasiswa Uighur. Pemerintah memastikan mereka makan di siang hari, dengan alasan bahwa mereka harus menjaga kesehatan untuk bisa mengikuti kuliah dengan baik. Sayangnya, kebijakan serupa tidak diterapkan untuk mahasiswa yang berasal dari Suku Hui.

Pemerintah Tiongkok merasa aman dengan umat Islam dari Suku Hui. Mereka dengan bebas dapat menjalankan ibadah haji. Jumlah jamaah haji yang berangkat dari tahun ke tahun terus meningkat. Masjid mendapat kebebasan dalam menjalankan ibadah. Sholat Jum’at, sholat Idul Fitri, Pemotongan hewan kurban, kegiatan pengajian, akad nikah, semuanya bisa dijalankan dengan baik. Bahkan berbagai lembaga pendidikan dan kursus bahasa Arab bermunculan di seluruh wilayah Tiongkok. Jumlah perempuan Suku Hui yang menggunakan jilbab juga meningkat pesat, dan sama sekali tidak ada larangan dari pemerintah untuk hal itu.

Secara umum Pemerintah Tiongkok memang menggunakan Suku Hui sebagai contoh bagaimana masyarakat harus menjalankan agama Islam. Pemerintah juga menggunakan hal ini sebagai kampanye ke dunia internasional tentang bagaimana kerukunan hidup umat beragama terjadi di Tiongkok. Ini juga sekaligus menggambarkan bagaimana karakter yang terjadi antara suku minoritas dan mayoritas di Tiongkok.

Pada sisi yang lain, karakter suku yang berbeda dengan suku Han juga melekat pada Suku Kazakh, Suku Kirgiz, Suku Uzbek, Suku Tajik, dan juga Suku Tatar. Mereka mirip dengan Suku Uighur yang mempunyai kekerabatan dengan suku-suku di Asia Tengah, Persia, Turki dan juga Mongol. Mereka juga tinggal di Provinsi Xinjiang, dan masing-masing suku mempunyai kota atau kecamatan otonom. Masing-masing suku yang sejenis di seberang perbatasan Cina bahkan sudah menjadi negara sendiri setelah melepaskan diri dari Uni Soviet akhir abad yang lalu. Mereka  mendirikan negara Kazakhstan, Kirgiztan, Uzbekistan, dan Tajikistan. Sementara Tatarstan sekarang menjadi negara bagian di negara Rusia. Pola kebudayaan yang mereka jalankan tidak selalu sama dengan suku sejenis di seberang perbatasan, mengingat pengalaman politik yang berbeda selama diperintah oleh rezim komunis Uni Soviet, dan rezim RRT. Secara Umum ke lima suku tersebut (di Tiongkok) bisa menjalankan kebudayaannya secara bebas, demikian pula dalam menjalankan kewajiban agamanya. Pola pernikahan, perayaan Idul Fitri, atau pakaian memang tidak sama dengan masyarakat Tiongkok, tetapi kebebasan agama tetap mereka dapatkan. Berbeda dengan Suku Uighur, mereka tidak berusaha melakukan pemberontakan atau menjalankan terorisme.

Di sisi yang sebaliknya, terdapat suku Dongxiang, Salar dan Bonan. Mereka merupakan keturunan dari berbagai suku di Tiongkok yang pada akhirnya muncul sebagai suku sendiri. Dalam menjalani hubungan dengan pemerintah Tiongkok, suku-suku ini mirip dengan Suku Hui. Mereka memiliki beberapa kesamaan dengan Suku Han, dan tentu saja bisa menjalankan ibadahnya dengan baik. Mereka juga mendapatkan daerah otonom sendiri, bisa berupa kota, atau berupa kecamatan. Biasanya mereka tinggal di Provinsi Gansu dan Qinghai.

Meski terdiri dari banyak suku, umat Islam menjalankan ibadah yang sama, dengan mengikuti Islam Sunni, Mazhab Hanafi. Secara garis besar, mereka juga mengakui pemerintah Tiongkok, sejalan dengan meningkatnya kebebasan beragama yang mereka dapatkan. Mereka boleh memiliki pemakaman tersendiri terpisah dari agama lain. Mereka boleh mendirikan restoran halal. Mereka mendapatkan hari libur pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Mereka bisa menikah dengan cara Islam. Mereka juga diizinkan menunaikan ibadah haji ke Mekah. Selanjutnya, mereka tidak perlu menghapus ciri-ciri kesukuan mereka, dan juga tidak perlu mengurangi ciri-ciri keislaman mereka. Itulah ragam umat Islam di Tiongkok, mereka hidup dalam abad modern, di Negeri Tiongkok modern, dimana kebebasan beragama tetap dihargai dan perbedaan merupakan rahmat yang didapat dari Allah SWT.