PSIKOLOGI TRANSPERSONAL: KASUS SHALAT
OLEH: ARIF WIBISONO ADI

 

 Transpersonal psychology is the integration of the wisdom of the world's spiritual tradition and the learning of modern psychology. Shalat stimulates someone's soul (the ephemeral self -the microcosmos) to meet the Divine Spirit (the eternal SELF-the macrocosmos) directly. It developes a peak experience or a deeper level of consciousness. As we approach this condition, the various powers of the soul begin to manifest: peace, Iight, Iove, joy, strength the infusion of these soul qualities into our life brings the solution to our confusions and pain. Growth and transformation would be raised.

 ...setiap kali aku shalat, setiap kali aku berzikir,
terasa bergetar nadi tubuhku, terasa ribuan watt setrum
mengalirkain kenikmatan yang hakiki. Kenikmatan yang
sulit kutuliskan kembali lewat sajak, susah kugambarkan
dengan renungan kecuali kukembalikan
dengan salat dan zikir.
(Sutardji Chalzoum Bachri)

I. PENDAHULUAN

Psikologi Transpersonal  muncul menjelang milenium ke 3. Ia  merupakan kekuatan yang terus meningkat menyentuh semua bidang kebudayaan, pemikiran dan masyarakat. Namun, ia dimulai dengan Psikoterapi, dan disinilah dampaknya paling besar. Ia melahirkan pendekatan-pendekatan baru kepada pengobatan dan pertumbuhan, dan menyorot dengan pandangan baru atas banyak isu-isu klinis (Cortright, 1997).

Sebagai kekuatan keempat dalam aliran psikologi setelah psikoanalisa, Behaviorisme dan Psikologi Humanistik, Psikologi Transpersonal  bersibuk diri mengkaji masalah-masalah spiritual yang dilupakan oleh aliran-aliran terdahulu. Dalam makalah ini mula-mula akan diuraikan selintas apakah itu Psikologi Transpersonal, bagaimana kerangka teoretis atau asumsi-asumsi dasarnya dan bagaimana prakrek psikoterapi dengan tehnik-tehniknya.

Kemudian kita soroti kasus shalat, suatu aktivitas yang paling penting dalam lslam, suatu proses dalam perjalanan spiritual yang penuh makna, seorang manusia menemui Pencipta dan Tuhan Semesta Alam, yang menjernihkan hati dan mengangkat peshalat mencapai taraf kesadaran HSC (altered states ef consciousness) dan pengalaman puncak (Peak Experience).

Karena Psikologi Transpersonal  bersifat longgar dan menerima masukan tentang masalah-masalah spiritual baik dari Hinduisme, Budhisme dan Taoism maupun dari agama Yahudi, Kristen dan lslam maka Psikologi Islami yang sedang berkembang dapat saling memberikan sumbangan dengan Psikologi Transpersonal  ini.

PSIKOLOGI TRANSPERSONAL: KASUS SHALAT
OLEH: ARIF WIBISONO ADI

 

 Transpersonal psychology is the integration of the wisdom of the world's spiritual tradition and the learning of modern psychology. Shalat stimulates someone's soul (the ephemeral self -the microcosmos) to meet the Divine Spirit (the eternal SELF-the macrocosmos) directly. It developes a peak experience or a deeper level of consciousness. As we approach this condition, the various powers of the soul begin to manifest: peace, Iight, Iove, joy, strength the infusion of these soul qualities into our life brings the solution to our confusions and pain. Growth and transformation would be raised.

 ...setiap kali aku shalat, setiap kali aku berzikir,
terasa bergetar nadi tubuhku, terasa ribuan watt setrum
mengalirkain kenikmatan yang hakiki. Kenikmatan yang
sulit kutuliskan kembali lewat sajak, susah kugambarkan
dengan renungan kecuali kukembalikan
dengan salat dan zikir.
(Sutardji Chalzoum Bachri)

I. PENDAHULUAN

Psikologi Transpersonal  muncul menjelang milenium ke 3. Ia  merupakan kekuatan yang terus meningkat menyentuh semua bidang kebudayaan, pemikiran dan masyarakat. Namun, ia dimulai dengan Psikoterapi, dan disinilah dampaknya paling besar. Ia melahirkan pendekatan-pendekatan baru kepada pengobatan dan pertumbuhan, dan menyorot dengan pandangan baru atas banyak isu-isu klinis (Cortright, 1997).

Sebagai kekuatan keempat dalam aliran psikologi setelah psikoanalisa, Behaviorisme dan Psikologi Humanistik, Psikologi Transpersonal  bersibuk diri mengkaji masalah-masalah spiritual yang dilupakan oleh aliran-aliran terdahulu. Dalam makalah ini mula-mula akan diuraikan selintas apakah itu Psikologi Transpersonal, bagaimana kerangka teoretis atau asumsi-asumsi dasarnya dan bagaimana prakrek psikoterapi dengan tehnik-tehniknya.

Kemudian kita soroti kasus shalat, suatu aktivitas yang paling penting dalam lslam, suatu proses dalam perjalanan spiritual yang penuh makna, seorang manusia menemui Pencipta dan Tuhan Semesta Alam, yang menjernihkan hati dan mengangkat peshalat mencapai taraf kesadaran HSC (altered states ef consciousness) dan pengalaman puncak (Peak Experience).

Karena Psikologi Transpersonal  bersifat longgar dan menerima masukan tentang masalah-masalah spiritual baik dari Hinduisme, Budhisme dan Taoism maupun dari agama Yahudi, Kristen dan lslam maka Psikologi Islami yang sedang berkembang dapat saling memberikan sumbangan dengan Psikologi Transpersonal  ini.

Halaman 2

II. PSIKOLOGI TRANSPERSONAL 

Psikologi  Transpersonal dapat dipahami sebagai penggabungan antara tradisi kebijaksanaan dunia spiritual dengan pelajaran psikologi modern. Keduanya ingin mencari jawab akan pertanyaan manusia yang fundamental: "siapakah aku ?

Tradisi dunia spiritual menatap kedalaman dan menjawab: “Suatu keberadaan spiritual, suatu ruh (soul) , dan praktek-praktek agama lebih dalam ingin menghubungkan diri manusia  dengan identitas yang lebih dalam di dalam dirinya. Sedangkan  psikologi modern menjawab: "Suatu keakuan Ego, eksistensi psikologis (seIf) dan psikoterapi berusaha untuk menelusuri ke arah perbaikan, kesehatan dan pertumbuhan dari keakuan ini.
Psikologi Transpersonal  ingin menciptakan sintesis dari kedua jawaban diatas (Cortright, 1997, h. 8).

lstilah Transpersonal dapat berarti "beyond" the personal di atas atau mengatasi yang personal. Atau dapat berarti pula "across" the personal, lintas atau melintasi yang personal. lntinya Transpersonal mempunyai kerangka yang jauh lebih luas daripada yang personal.
Psikologi Transpersonal  mempelajari bagaimana yang spiritual diekspresikan di dalam dan melalui yang  personal atau transendensi dari keakuan.

Di bidang Teori Psikologi Transpersonal  tidak mengacu kepada seorang tokoh khusus,   juga tidak didasarkan pada psikologi Buddha atau Kristen atau lslam atau yang lainnya, walaupun  pandangan-pandangan di kalangan mereka sering diambil. Juga tidak didefinisikan dari suatu pokok bahasan khusus seperti meditasi atau altered states of consciousness, walau hal itu merupakan topik-topik yang sering dibahas. Teori Psikologi Transpersonal  melampaui titik pandang spesifik seperti itu dalam mengartikulasikan pandangan psikospiritual dari kehidupan dan penyingkapannya. Teorinya tidaklah tunggal dengan batas-batas yang ketat, ia seperti juga semua teori lainnya, hanyatah suatu jalan untuk mengorganisasikan pengalaman kita akan realitas dan bukan realitas itu sendiri.

Beberapa Asumsi Dasar Psikologi Transpersonal  dapat disebutkan sebagai berikut (Cortright, 1997, h. 16-21 ) :

  • Hakekat keberadaan manusia itu spiritual.
  • Kesadaran bersifat multidimensional. Kesadaran yang normal dan  biasa pada kebanyakan orang itu hanyalah bagian paling luar dari kesadaran. Masih ada tingkat-tingkat kesadaran yang lebih dalam lainnya.
  • Manusia mempunyai dorongan yang wajar ke arah perjuangan spiritual yang diekspresikan sebagai pencarian akan, 'wholeness,' melalui kesadaran individual, sosial dan transendental.
  • Bersentuhan dengan sumber yang lebih dalam dari Kebijaksanaan dan Tuntunan di dalam diri manusia memungkinkan dan membantu ke arah pertumbuhannya.
  • Menyatukan kehendak kesadaran seseorang dengan aspirasi dorongan spiritual merupakan superordinat dari nilai kesehatan.
  • ASC (altered states of consciousness) merupakan suatu cara untuk mengakses pengalaman transpersonal dan dapat menjadi suatu bantuan untuk penyembuhan dan pertumbuhan.
  • Kehidupan dan perbuatan manusia sarat dengan  makna. Membuka psyche manusia ke arah transformasi merupakan landasan spirituai bagi pengobatan.
  • Konteks transpersonal menentukan bagaimana klien itu dipandang. Pendekatan transpersonal (sesuai dengan kaum humanis) memandang klien, seperti juga terapisnya, sebagai seseorang yang selalu tumbuh berkembang dan selalu mencari kawan. Hubungan klien dengan terapis menjadi lebih berpusat pada hati (heart-centered) dalam praktek psikoterapinya.

Praktek psikoterapi transpersonal terutama bertujuan untuk memperluas kesadaran dan memperkaya pengalaman manusia. Oleh karena itu tehnik-tehnik psikoterapinya tidak terbatas. Tehnik-tehnik merupakan cara untuk mengakses keakuan dan kedalamannya.

Secara umum, semua bidang kehidupan di mana terapis berasimilasi dan yang dapat mengembangkan kesadaran dapat digunakan. Setiap  orang dapat masuk ke dunia dalam lebih mudah dengan jalan tertentu dibanding orang lainnya, maka tehnik-tehnik itu dapat dipilih sesuai dengan preferensinya. Terapis akan selalu belajar supaya tumbuh keahlian di berbagai bidang.

Beberapa tehnik yang sering digunakan dalam psikoterapi transpersonal antara lain: Yoga, Tai chi, Aikido, Biofeedback, Breathwork, Meditative Practices, Altered State Work (Hypnosis, Psychedelics, Holotropic Breathwork, Shamanic Journeying) dan ... Islamic Prayer atau Shalat !

Kalau pada tahun 1985 penulis telah mengkaji Shalat sebagai tehnik mengurangi kecemasan karena terdapai lima unsur dalam shalat: meditasi atau doa yang teratur, minimal lima kali sehari, relaksasi gerakan-gerakan shalat; hetero atau auto-sugesti dalam bacaan shalat; kebersamaan atau group-therapy dalam Shalat jama'ah, atau bahkan dalam shalat individual pun minimal ada aku dan Allah: hydro therapy dalam mandi junub atau wudhu' sebelum Shalat. Maka untuk kali ini akan dibahas shalat ditinjau menurut konsep-konsep Psikologi Transpersonal.

Halaman 3

III.  SHALAT: PERTEMUAN AKU FANA DENGAN AKU KEKAL

Dalam Shalat sebagaimana juga pandangan Psikologi Transpersonal, seseorang berusaha untuk menapaki jalan spiritual untuk mempertemukan diri atau aku yang fana (the ephemeral self) dengan Kekuatan Ilahiah (Divine Power) atau AKU yang kekal (the eternal SELF).

Shalat adalah satu-satunya ibadah untuk melakukan hubungan langsung antara hamba dengan Tuhannya. Ketika shalat, ruhani bergerak menuju Dzat Yang Maha Mutlak, daya pikiran terlepas dari keadaan-keadaan riil, dan panca indra melepaskan diri dari segala macam peristiwa di sekitarnya, termasuk alam-alam yang tergelar dalam setiap dimensi ruhaniah (mikrokosmos maupun makro kosmos).... Segala apa yang ada pada diri ini, shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanya untuk Allah semata. Keadaan inilah yang disebut dalam Alqur'an sebagai orang berserah diri (mukhlasin). Dan pada keadaan ini setan dan nafsu tidak mampu menembus alam keikhlasan orang mukmin. (Sangkan, 2001, h. 1)

Apalagi sebelum shalat  kita melakukan wudhu' atau mandi junub, yang merupakan prosesi pembersihan jiwa terlebih dulu, sehingga aktivitas shalat merupakan sesuatu yang serius dan istimewa.

Kerangka Spiritual dalam Psikologi Transpersonal  sering mengacu pada Filsafat Perennial dari Huston Smith (Cortright, 1997, h. 28) yang menyebutkan

Empat  level atau dimensi identitas:

  1. Body
  2. Mind
  3. Soul (the "final locus of individuality")
  4. Spirit (the atman that is Brahman/Buddha-nature)

Pada Filsafat Timur puncak spiritual itu bersifat Impersonal/Nondual, sedangkan dalam agama Yahudi, Kristen dan Islam  puncak spiritualnya bersifat Personal/Theistic.
Dalam Islam makrokosmos terdiri dari lima level hierarki realitas (Triyuwono, 1998):

  1. Material.
  2. Psyche
  3. Spirit.
  4. Asma' Sifatiyyah
  5. The Ultimate & Absolute Reality.

Sedangkan hierarki realitas mikrokosmos berkorelasi dengan makrokosmos:

  1. Badan.
  2. Jiwa.
  3. Ruh.

Dalam Islam dikenal beberapa konsep jiwa:

  1. An Nafsu.
  2. Al Qalbu.
  3. Al 'Aqlu.
  4. Ar Ruhu

Di samping itu dikenal pula Metakosmos sebagai identitas llahiah:

  1. Alam Nasut.
  2. Alam Malakut
  3. Alam Jabarut.
  4. AIam Lahut AIlm Hahut (berasal dari  Huwa yang berarti Dia).

    (Bakar. 1994, h. 31-33)

Halaman 4

Dalam Shalat  yang dijalankan dengan sungguh-sungguh dan penuh kesadaran, dengan khusyu' dan hadir hati, mikrokosmos akan bertemu dan seolah menyatu dengan makrokosmos, sehingga timbul transformasi perasaan dan kesadaran baru, seolah seperti orang yang baru saja mengalami konversi sejati, yang menurut William James akan timbul "kesalehan" atau Saintliness yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut (Byrnes, 1984, h. 31-32) :

  • Timbul suatu perasaan akan adanya kehidupan yang lebih luas daripada dunia material, dengan keyakinan bahwa Ideal (Divine) Power memang eksis. Manifestasi luar dari keadaan ini memunculkan sikap Zuhud atau Asceticism.
  • Timbul suatu perasaan akan adanya kontinuitas antara Kekuatan tadi dengan kehidupannya sendiri dan keinginan untuk penyerahan diri (SeIf Surrender) kepadaNya. Manifestasi luar dari keadaan ini memunculkan Kekuatan Jiwa (Strength of Soul)
  • Timbul suatu perasaan bahagia dan rasa bebas ketika egoismenya luluh. Manifestasi luar dari keadaan ini memunculkan sikap Kemurnian (Purity).
  • Timbul suatu dorongan untuk mengarahkan pusat emosionalnya ke affeksi yang sangat positif, penuh cinta kasih dan harmonis. Manifestasi luar dari kondisi ini memunculkan sikap Kedermawanan (Charity).

Hal ini sejalan dengan apa yang diuraikan oleh Sayyid Sabiq bahwa amal ibadah dalam lslam apabila didasari oleh iman yang kuat, akan menimbulkan buah-buah keimanan tauhid:

  1. Kemerdekaan jiwa dan kekuasaan orang lain (hanya menyerahkan diri kepada Allah yang Maha Kuasa)
  2. Menimbulkan jiwa keberanian dan ingin terus maju karena membela kebenaran (yang kuasa memberi umur itu tidak ada selain Allah)
  3. Timbul jiwa qona’ah, ridho terhadap rizqi yang telah diberikan tapi tetap berjuang untuk yang belum diberikan (karena  hanya Allah jualah yang Maha Kuasa memberikan rizqi).
  4. Ketenangan hati dan ketenteraman jiwa atau thuma’ninah (karena keyakinan bahwa pertolongan Allah pasti akan diulurkan pada dirinya, walau pertolongan itu mungkin diberikan secara langsung atau secara tidak langsung/diganti, atau ditunda untuk masa depan di dunia atau ditunda nanti di akhirat).
  5. Tinggi tingkat kedudukannya dengan sifat dari Dzat Yang Maha Tinggi  dan  dapat mengendalikan diri dari kesyahwatan atau kelezatan duniawi (karena Allah itu sumber kebaikan dan kebajikan serta pokok dari segala kesempurnaan)
  6. Kehidupan yang baik di dunia sebelum menginjak alam akhirat nanti  (karena yakin akan janji Allah Yang Maha Kuasa).
    (Sabiq, 1978, h 133-139)

Kesadaran yang lebih  dalam ini akan menimbulkan pertumbuhan dan tranformasi diri, dan menjadikan dirinya lebih kuat, lebih tenang dan lebih bahagia.

Menurut Psikologi Transpersonal, sesungguhnya diri manusia (soul) sangat rindu untuk mengadakan pertemuan atau penyatuan Spiritual atau Divine Power. Dengan pendekatan yang dapat dengan mempertemukan atau menyatukan tersebut, maka berbagai kekuatan yang ada pada diri manusia (soul) mulai bermanifes: rasa damai; gembira; penuh cinta kasih; bahagia yang sangat dan merasa kuat. Masuknya kualitas-kualitas ''soul" semacam ini dalam kehidupan akan membawa solusi bagi kebingungan dan rasa sakit yang diderita manusia (Cortright, 1997, h. 30).

Jadi aktivitas shalat yang dijalankan dengan sungguh-sungguh dan benar, akan membawa diri kita kepada realitas spiritual yang lebih dalam, sehingga terjadi proses penjernihan hati (purification), serta makin jelas kesadaran atau ma’rifat kita kepada Allah Yang Maha Kuasa (deeper or higher Ievel of consciousness), yang menimbulkan rasa kedamaian dan kebebasan, rasa cinta kasih dan bahagia. Inilah nilai terapeutik yang amat tinggi.

Menurut Romoena (tt, h. 5 & h 45-46) shalat yang "benar'' adalah shalat yang dapat menggetarkan ke 5 unsur daya-potensi ketenagaan dalam diri yang   terdiri dari : unsur ketenagaan ruh, unsur ketenagaan rasa,  unsur ketenagaan hati, unsur ketenagaan aqal dan unsur ketenagaan nafsu. Untuk mendapatkan hal tersebut shalat harus dengan kesadaran karena Allah dan bukan karena nafsu.

Abraham Maslow (Muhammad, 2002, h. 13-14) psikolog humanistik yang ikut merangsang lahirnya Psikologi Transpersonal  pun menggambarkan orang yang mencapai taraf kesadaran yang lebih dalam (kalau Tuhan itu dipandang imanen dalam diri) atau lebih tinggi (kalau Tuhan itu dipandang transenden) sebagai mengalami pengalaman puncak (Peak Experience). Yang dimaksud dengan pengalaman puncak adalah saat seseorang sedang mengalami ekstase, perasaan bersatunya diri seseorang selaku mikrokosmos dengan alam raya (makrokosmos) -dalam terminologi tasawuf merupakan tujuan akhir dari pencarian kebenaran, yaitu, penyatuan antara tiga realitas kosmos (mikrokosmos, makrokosmos, dan metakosmos) yang diistilahkan dengan tauhid. Dalam pengalaman puncak tersebut, sebagaimana telah dikatakan oleh Abraham Maslow, seseorang menjadi lebih daripada dirinya sendiri, lebih mewujudkan kemampuan dengan sempurna, lebih dekat dengan inti keberadaannya, dan lebih penuh sebagai manusia. Dalam pengalaman puncak itu tidak hanya dunia tampak jadi lebih bagus dan hidup menjadi lebih berarti, tetapi kejahatan sendiri menjadi lebih dapat dipahami dan diterima pada tempatnya, sebagai satu bagian yang tak terelakkan, perlu dan oleh karenanya menjadi lebih wajar.

Kalau dulu tehnik-tehnik semacam Meditasi digunakan psikoterapi untuk menimbulkan konsentrasi pikiran pada satu titik saja sambil mengatur napas, yang berarti kesadaran dipersempit atau dibatasi, yang pengaruhnya dapat menimbulkan relaksasi fisiologis dan perhatian terutama ditujukan pada masalah "heart-rate" (denyut jantung), maka sekarang psikoterapi transpersonal menggunakan teknik meditasi (contohnya: Transcendental Meditation & Zen Meditation) -mungkin pula Shalat- justru untuk memperluas kesadaran sampai ke tingkat yang terdalam. Pengaruhnya dianggap dapat menimbulkan "altered states of consciousness" dan yang diperhatikan bukan lagi "heart-rate" tapi "heart-opening" (terbukanya hati) atau dalam Islam dikenal dengan "kasyful hijab" (tersingkapnya tabir), ma'rifat atau tajalli. Dampak terapeutiknya akan lebih besar daripada sekedar relaksasi fisiologis.

Halaman 5

Dengan makin berkembangnya Psikologi Transpersonal, maka spiritualisme baik dari Filsafat Timur maupun dari agama Monoteisme (terutama Islam) mulai ramai dipelajari kembali. Buku-buku Jalaluddin Rumi menjadi "best-seller'' dan sangat terkenal di Barat dan Jepang.

Menurut Mawlana Rumi, manusia mengalami tiga jenjang perkembangan spiritual :

1. Mereka yang hidup untuk selain Allah.
Mereka hanya melihat "waktu kini" dan tetap terikat pada benda di dunia ini seperti uang, kekuasaan, dan membiarkan diri terpedaya oleh nafsu. Mereka memandang Allah sebagai "Dia" yang jauh.

2. Mereka yang hidup untuk Allah.
Untuk mendapatkan ganjaran surgawi, mereka menolak benda-benda duniawi dan melihat pada "waktu akhir zaman". Mereka memandang Allah sebagai "Engkau" : "Engkau Tuhan, dan aku memuja-Mu".

3. Mereka yang hidup di dalam Allah.
Mereka merasakan kehadiran Allah di "waktu kapan pun". Mereka memandang Allah sebagai "AKU" yang kekal dan selalu berusaha untuk mempertemukan aku yang fana ini dengan AKU atau DIRI yang kekal tersebut, menyesuaikan aspirasi pribadinya dengan kehendak Allah. Hadits Qudsi terkenal mengatakan bagi orang seperti itu Allah menjadi mata yang melaluinya dia melihat, telinga yang melaluinya dia mendengar, lengan yang melaluinya dia memegang. (Rumi, 2000, h. 24-25).

Perbedaan Jenjang kedua dengan jenjang ketiga di atas menurut pandangan Psikologi Transpersonal  terletak pada perbedaan makna karena berbeda meletakkan mana figure dan mana ground seperti dalam "ambigious figure" atau "figure-ground relationship" pada Psikologi Gestalt. Pada "hidup untuk Allah", figure ada pada diri sendiri, sedangkan latarbelakang (groundnya adalah Allah sedangkan "'hidup di dalam Allah", yang menjadi figure adalah Allah, sedangkan diri sendiri mejjadi latarbelakang (ground).

Akhirulkalam, kita perlu memperhatikan peringatan dari Aliya 'Ali lzetbegovics: "Kehidupan seperti halnya Islam, bersifat dwi kutub (bipolar) dan setiap daya apapun untuk mendongkel kedwikutuban ini karenanya akan membawa kepada keadaan eksistensi yang goyah. Kehidupan manusia hanya bisa lengkap, jika ia mencakup baik hasrat fisik maupun spiritual manusia. Semua kegagalan manusia disebabkan entah karena pengingkaran religius atas kebutuhan-kebutuhan biologis manusia, ataupun pengingkaran materialistis terhadap hasrat-hasrat spiritual manusia..... Shalat adalah contoh paling sempurna tentang apa yang kita sebut "kesatuan dwikutub" Islam. Shalat tidak bisa dianggap sah tanpa kebersihan dan tak ada upaya spiritual tanpa disertai dengan upaya fisik dan sosial" (Izetbegovics, 1993, h. v, xvii, 229).

IV. PENUTUP

Demikian uraian Shalat, ditinjau dari konsep Psikologi Transpersonal. Sesungguhnya kajian mengenai shalat dan ilmu Allah lainnya, yang dapat kita tangkap barulah seperti setetes air dari lautan luas. Maka kajian mengenai Shalat tidak akan ada habis-habisnya.  Semoga yang kita dapatkan walau sedikit dapat dimanfaatkan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Bakar, O. 1994 Terj.: Yuliani Liputo. "Tauhid & Sains -Esai-esai  tentang Sejarah dan  Filsafat Sains Islam". Jakarta: Pustaka Hidayah.
  2. Byrnes, J.F, 1984.  "The Psychologi of Religion". New York : The Free Press.
  3. Cortright, B. 1997. "Psychotherapy and Spirit -Theory and Practice in Transpersonal Psychotherapy". New York: State University a of NewYork Press.
  4. Izetbegovics, A.A. 1993. "Islam antara Timar dan Barat". Bandung: Penerbit Pustaka.
  5. Kosasih, E. 2001. "Mukjizat Shalat dan Doa". Bandung: Pustaka Hidayah.
  6. Muhammad H. 2002. ”Dialog antara Tasawuf dan Psikologi – Telaah Kritis Pemikiran Psikologi Humanistik Abraham Maslow". Yogyakarta: Walisongo Press dengan Pustaka Pelajar.
  7. Romoena, D. (tt) "Pengembangan Daya Bakat Kemampuan Manusia". Yayasan Badiyo.
  8. Rumi, J. 2000 Terj.: Anwar Holid. "Yang Mengenal Dirinya yang Mengenal  Tuhannya" Bandung: Pustaka Hidayah.
  9. Sabiq, S. 1978. Terj.: Moh. Abdai Rathomy. "Aqidah Islam -Ilmu Tauhid". Bandung: C.V. Diponegoro.
  10. Sangkan, A. 2001 . “Allah Menyambut Shalatku". Bekasi:  Yayasan  Bukit Thursina.
  11. Triyuwono, I. 1998. "Prinsip-Prinsip Paradigma Syari'ah dalam Penelitian Perilaku Manusia". Surakarta: Makalah Simposium Nasional Psikologi Islami, Fakultas Psikologi UMS.