HIKMAH SHALAT TAHAJJUD BAGI KESEHATAN

OLEH: ARIF WIBISONO ADI

 

Disampaikan dalam Seminar Ramadhan ”Tahajjud dan Immunitas Tubuh” pada tanggal 17 Oktober 2005 Di Rumah Sakit Islam YARSIS Surakarta


PENDAHULUAN

Prinsip “lebih baik mencegah dari pada mengobati” dalam bidang kesehatan sangatlah ditekankan saat ini. Upaya pencegahan terutama ditekankan kondisi tubuh seseorang dalam  arti memupuk kekebalan tubuhnya.

Kewajiban-kewajiban dan gaya hidup Islami apabila betul-betul diajalankan, tentulah dapat menunjang kondisi imunitas seseorang dalam menghadapi sakit penyakit.

Di samping shalat fardhu shalat tahajjud merupakan shalat sunnah yang sangat penting untuk dilaksanakan, bahkan setelah diperintahkarn Rasulullah saw hampir setiap malam tidak pernah dilewatkannya tanpa mendirikan shalat malam tersebut.

Dalam makalah ini akan diuraikan pertama-tama hikmah shalat ditinjau secara psikologik, kemudian hikmah shalat tahajjud ditinjau secara psikoneuroimunologik, dan terakhir akan diuraikan hikmah shalat tahajjud ditinjau secara psikologi Transpersonal, yang menekankan pentingnya aspek spiritual.

Sesungguhnya masalah kesehatan manusia perlu dikaji secara holistik dalam rangka integrasi ilmu.

HIKMAH SHALAT DIITINJAU SECARA PSIKOLOGIK 

Adi (1985) mengadakan penelitian yang menemukan  ada korelasi negatif antara keteraturan menjalankan shalat dengan kecemasan. Ini berarti makin teratur shalatnya makin rendah tingkat kecemasannya. Di dalam shalat terdapat 5 aspek yang terbukti dapat  mengurangi kecemasan:

  1. aspek olah raga atau senam relaksasi otot,
  2. aspek meditasi atau doa,
  3. aspet auto-sugesti atau hetero-sugesti dalam bacaan shalat
  4. aspek kebersamaan atau semacam group therapy,
  5. aspek hydro therapy dalam wudhu, atau mandi junub.

Disamping itu Nizami (dalam Adi, 1985) mengatakan bahwa shalat atau dalam bahasa India disebut namas adalah lebih banyak hikmahnya dari pada sekedar latihan senam, karena shalat berpengaruh pada empat bidang, yaitu badan, jiwa, intelek dan ruh, dan juga membantu otak serta susunan syaraf untuk berfungsi secara efisien. Yang paling menonjol ialah bahwa di dalam shalat atau namas seperti juga di dalam yoga, dihasilkan bentuk baru dari energi yang dikenal sebagai bio-energy di negeri-negeri Barat, sehingga menimbulkan rasa gembira, suka cita dan rasa bebas setelah melaksanakan shalat tersebut.

Jadi faktor yang penting bagi kesehatan dalam pandangan psikologi  adalah ketenangan hati atau ketenteraman, yaitu terhindar dari kecemasan atau kegelisahan yang sekarang diperluas istilahnya menjadi stress. Bahkan Paul Tillich (dalam Adi, 1985) menyebut abad XX sebagai Abad Kecemasan (The Age of Anxiety). Dikatakan bahwa dalam abad ini, terutama di kota-kota besar di Barat, banyak sekali muncul penyakit badan maupun jiwa, juga kecenderungan untuk bunuh diri, yang diakibatkan oleh kecemasan yang berlebih-lebihan. Pada hakekatnya menurut Tillich ada tiga macam kecemasan:

  1. The Anxiety of Fate and Death,
  2. The Anxciety of Guilt and Condemnation,
  3. The Anxiety of Emptiness and Meaninglessness.

 

HIKMAH SHALAT TAHAJJUD BAGI KESEHATAN

OLEH: ARIF WIBISONO ADI

 

Disampaikan dalam Seminar Ramadhan ”Tahajjud dan Immunitas Tubuh” pada tanggal 17 Oktober 2005 Di Rumah Sakit Islam YARSIS Surakarta


PENDAHULUAN

Prinsip “lebih baik mencegah dari pada mengobati” dalam bidang kesehatan sangatlah ditekankan saat ini. Upaya pencegahan terutama ditekankan kondisi tubuh seseorang dalam  arti memupuk kekebalan tubuhnya.

Kewajiban-kewajiban dan gaya hidup Islami apabila betul-betul diajalankan, tentulah dapat menunjang kondisi imunitas seseorang dalam menghadapi sakit penyakit.

Di samping shalat fardhu shalat tahajjud merupakan shalat sunnah yang sangat penting untuk dilaksanakan, bahkan setelah diperintahkarn Rasulullah saw hampir setiap malam tidak pernah dilewatkannya tanpa mendirikan shalat malam tersebut.

Dalam makalah ini akan diuraikan pertama-tama hikmah shalat ditinjau secara psikologik, kemudian hikmah shalat tahajjud ditinjau secara psikoneuroimunologik, dan terakhir akan diuraikan hikmah shalat tahajjud ditinjau secara psikologi Transpersonal, yang menekankan pentingnya aspek spiritual.

Sesungguhnya masalah kesehatan manusia perlu dikaji secara holistik dalam rangka integrasi ilmu.

HIKMAH SHALAT DIITINJAU SECARA PSIKOLOGIK 

Adi (1985) mengadakan penelitian yang menemukan  ada korelasi negatif antara keteraturan menjalankan shalat dengan kecemasan. Ini berarti makin teratur shalatnya makin rendah tingkat kecemasannya. Di dalam shalat terdapat 5 aspek yang terbukti dapat  mengurangi kecemasan:

  1. aspek olah raga atau senam relaksasi otot,
  2. aspek meditasi atau doa,
  3. aspet auto-sugesti atau hetero-sugesti dalam bacaan shalat
  4. aspek kebersamaan atau semacam group therapy,
  5. aspek hydro therapy dalam wudhu, atau mandi junub.

Disamping itu Nizami (dalam Adi, 1985) mengatakan bahwa shalat atau dalam bahasa India disebut namas adalah lebih banyak hikmahnya dari pada sekedar latihan senam, karena shalat berpengaruh pada empat bidang, yaitu badan, jiwa, intelek dan ruh, dan juga membantu otak serta susunan syaraf untuk berfungsi secara efisien. Yang paling menonjol ialah bahwa di dalam shalat atau namas seperti juga di dalam yoga, dihasilkan bentuk baru dari energi yang dikenal sebagai bio-energy di negeri-negeri Barat, sehingga menimbulkan rasa gembira, suka cita dan rasa bebas setelah melaksanakan shalat tersebut.

Jadi faktor yang penting bagi kesehatan dalam pandangan psikologi  adalah ketenangan hati atau ketenteraman, yaitu terhindar dari kecemasan atau kegelisahan yang sekarang diperluas istilahnya menjadi stress. Bahkan Paul Tillich (dalam Adi, 1985) menyebut abad XX sebagai Abad Kecemasan (The Age of Anxiety). Dikatakan bahwa dalam abad ini, terutama di kota-kota besar di Barat, banyak sekali muncul penyakit badan maupun jiwa, juga kecenderungan untuk bunuh diri, yang diakibatkan oleh kecemasan yang berlebih-lebihan. Pada hakekatnya menurut Tillich ada tiga macam kecemasan:

  1. The Anxiety of Fate and Death,
  2. The Anxciety of Guilt and Condemnation,
  3. The Anxiety of Emptiness and Meaninglessness.

 

Halaman 2

Ketekunan dan kesabaran menjalankan shalat, apalagi shalat malam, ketika orang-orang lain tidur pulas, di hawa yang dingin, merupakan indikasi keimanan yang kuat.

lman yang teguh dapat mengatasi Kecemasan akan Nasib dan Kematian. Ia tidak akan takut mati karena keyakinan bahwa kematian justru akan  menghantarkannya ke haribaan Atlah SWT dan bahwa kematian hanyalah transisi menuju kehidupan akhirat yang lebih kekal. Juga ia tidak akan takut menghadapi musibah dan bencana karena semua itu adalah ujian dari Allah SWT dan ia yakin bahwa Allah SWT yang akan menentukan segala sesuatu.

Juga seorang mukmin akan mampu mengatasi Kecemasan akan Rasa Berdosa dan Mendapat Kutukan atau kegelisahan yang timbul dari sensasi bawah sadar akibat perbuatan dosa yang dialami kebanyakan orang yang mengalami gangguan kejiwaan karena Islam memberi kesempatan seluas-luasnya kepada seseorang untuk bertaubat dan Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya sementara seorang mukmin yang taat akan selalu berusaha mengendalikan diri untuk tidak berbuat dosa.

Seorang muslim yang imannya kuat akan terhindar dari Kecemasan akan Rasa Kosong dan Tidak Mempunyai Makna Hidup, karena Islam menyadarkan dirinya tentang hakekat kehidupan, dari mana ia berasal (min aina), ke mana ia akan menuju (ilaa aina), dan untuk apa ia hidup (li madza). Ini  memberinya makna yang dapat menimbulkan kegairahan hidup dan tekad untuk ikut berjuang demi Allah SWT.

Ketika orang-orang lain tidur, orang yang shalat tahajjud akan selalu ingat atau dzikir kepada Allah SWT, sehingga terasa lapanglah pikirannya; akan terasa tenanglah hatinya; akan terasa bahagialah jiwanya; dan akan senanglah perasaannya, karena dzikir kepada Allah SWT mengandung pengertian tawakkal kepadaNya, percaya kepadaNya, dan menanti kemudahan dariNya. Dia Maha Dekat apabila diseru, Maha Mendengar apabila dipanggil, dan Maha Memperkenankan apabila diminta. 

 

Halaman 3

HIKMAH SHALAT TAHAJJUD DITINJAU SECARA PSIKONEURO IMUNOLOGIK

Sholeh (2002) menyatakan: hasil penelitian kedokteran membuktikan bahwa shalat tahajjud yang  dilakukan dengan ikhlas, khusuk, tepat gerakannya, dapat menghindarkan timbulnya berbagai penyakit termasuk penyakit kanker. Hal ini disebabkan oleh adanya homeostasis aktivitas jalur hipotalamus-pituitary-adrenal, sehingga sekresi kadar kortisol menjadi tetap normal. Normalnya hormon kortisol meningkatkan daya tahan tubuh seperti makrofag, eosinofil, basofil, neutofil, limfosit T dan B, sel NK, IgM, IgG, dan IgA, sehingga terjadinya penyakit serangan jantung stroke, asma, kanker, dan infeksi dapat terhindarkan.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Sholeh (2005) memberikan saran untuk  pemanfaatan penelitian lanjutan sebagai berikut:

  1. Shalat tahajjud dapat digunakan sebagai alternatif untuk memperbaiki respons emosional positif dan mengefektifkan coping.
  2. Shalat tahajjud dapat digunakan sebagai alternatif meningkatkan dan memperbaiki, daya tahan tubuh imunologik dan menghilangkan nyeri pasien penyakit kanker.
  3. Shalat tahajjud dapat dimanfaatkan, khususnya bagi pasien yang beragama Islam, untuk menegakkan diagnosis dan bagian dari prosedur tetap persiapan anestesis sebagai preemptive cognitive analgesia
  4. Konsep psikoneuroimunologi dapat dipertimbangkan pada penelitian imunologi yang berkaitan dengan perilaku keagamaan.
  5. Hormon kortisol dapat digunakan sebagai indikator ikhlas.
  6. Diperlukan penelitian lanjutan untuk mengkaji pengaruh shalat tahajjud terhadap peningkatan respons ketahanan tubuh imunologik, dengan memperbanyak jumlah variabel dan memperbesar sampel.

Yang perlu digarisbawahi dalam penelitian ini adalah yang paling berperan dalam- tumbuhnya ketahanan tubuh imunologik adalah terjadinya keseimbangan sekresi kortisol akibat shalat tahajjud  yang dijalankan secara ikhlas, sedangkan shalat tahajjud  yang dilakukan tanpa keikhlasan, tentunya tidak mengakibatkan hasil yang sama. Jadi keikhlasan seolah dijadikan faktor x yang mengakibatkan sesuai atau tidak sesuainya hasil seperti yang diharapkan.

Keikhlasan yang bersifat non-inderawi akhirnya diberikan indikatornya yang inderawi yaitu kortisol tadi. Hal ini berkaitan dengan epistemologi Barat yang terpengaruh oleh positivisme sehingga hanya menghargai fenomena fisik atau material yang inderawi saja.
Dalam epistemologi Islam keilmuan lebih bersifat holistik.

Halaman 4


HIKMAH SHALAT TAHAJJUD DITINJAU SECARA PSIKOLOGI TRANSPERSONAL

Psikologi Transpenonal merupakan aliran terbaru dalam psikologi yang beranggapan bahwa hakekat manusia adalah spiritual dan mengkaji kesadaran diri manusia yang bertingkat tingkat sampai ke level yang sangat tinggt. Psikologi Transpersonal dapat dipahami sebagai penggabungan antara tradisi kebijaksanaan dunia spiritual dengan kajian psikologi modern (Cortrigbt, 1997).

Untuk mendorong berkembangnya kesehatan mental dan psikoterapi, dikembangkannya tehnik-tehnik yang dapat mengakses kesadaran diri ke tingkatan yang sangat tinggi, yaitu menyadari dan menghayati keberadaan Diri yang tidak terikat dengan ruang dan waktu, Diri yang Kekal atau Tuhan Sang Pencipta sendiri.

Menurut Psikologi Transpersonal shalat apalag shalat tahajjud yang dilakukan pada waktu malam hari yang hening, dapat menumbuhkan kesadaran dan penghayatan serta pertemuan antara diri yang fana dengan Diri yang Kekal (Adi, 2002). Keterserapan pada Diri yang Kekal akan menimbulkan kebebasan dari diri, dan kondisi ini akan menumbuhkan perasaan cinta bahagia dan kedamaian dan hilangnya rasa takut dan sakit. Abraham Maslow mengistilahkan kondisi seperti ini sebagai Peak Experience. Hal ini merupakan salah satu fenomena dalam berkembangnya kepribadian super sehat yang diistilahkan oleh Maslow sebagai Self Actualized Person.

Sangkan (2002) mengatakan: Pada saat shalat, seluruh syaraf indra tidak menghantarkan impuls getaran dari panca indra sebab jiwa perlahan bergerak meninggalkan keterikatannya dengan badan (syahwat). Keadaan ini disebut berpikir abstrak. Elektron-elekroon pikiran berhenti berputar hingga menjadi aether kembali, lalu dilepaskan oleh rohani itu dan menjelma sebagai cahaya yang  disebut nur fuad, cahaya batin, yang langsung kembali ke pangkalnya yaitu Allah, lalu menjelmakan getaran antara cahaya batin dengan Nurullah. Yang terjadi adalah keadaan jiwa yang berserah dan lepas bebas dari pengaruh alam-alam, suara-suara ghaib, bisikan jin dan lain-lainnya.

Shafii (2004) arti pokok dari kebebasan dari diri dan keterserapan kepada Diri yang Kekal-Universal adalah suatu perubahan dari sikap dan sifat seseorang dalam arti hilangnya sifat-sifat kepribadian egosentris, dan digantikan oleh sifat-sifat yang menuju integrasi dan perkembangan pribadi yang lebih matang; mencapai keadaan yang universal, sehingga terjalin keharmonisan dengan orang lain, dengan alam dan dengan Tuhan. Inilah keriangan yang menyeluruh dan kegembiraan yang besar dalam menemui Yang Dicintai, seperti seorang anak yang lama terpisah dengan ibunya yang dicintainya kemudian bersatu kembali sehingga mengalami keriangan dan kegembiraan yang sangat besar.

Transformasi, Pertumbuhan dan Kesehatan akan tercipta dalam dirinya.

Hal ini menunjukkan bahwa orang yang mendirikan shalat yang dapat membangkitkan rasa perjumpaan dan persatuan dengan Diri yang Kekal itu dapat mengubah, menumbuhkan dan menimbulkan pada diri orang tersebut kesehatan tubuh dan jiwa yang lebih baik.

Halaman 5

 

PENUTUP

Demikianlah hikmah shalat baik shalat fardhu maupun shalat sunnah terutama shalat tahajjud bagi kesehatan ditinjau secara psikologik, psikoneuroimunologik dan psikologi transpersonal.

Sesungguhnya untuk memahami ilmu Allah,  kita dapat mendekatinya lewat indera, lewat akal dan Iewat hati, dengan metode-metode dalam sains, dalam filsafat dan dalam agama.

Ilmu Allah sangatlah luas, dan tidak akan habis-habisnya untuk dikaji.

-ooo-

DAFTAR PUSTAKA

Adi, Arif Wibisono. 1985, “Hubungan Antara Keteraturan Menjalankan Shalat dengan Kecemasan Para Siswa Kelss III SMA Muhammadiyah Magelang." Yogyakarta: Skripsi Fakultas Psikologi UGM

_______. 2002. 'Psikalogi Tranpersonal: Kasus Shalat  (dalam  “Indigenous”, volume 6 nomor 1: Mei 2002, h. 13-19).  Surakarta: Jurnal Fakultas Psikologi UMS.

Al-Jauziyyah, Al-Hambali, & Al.Ghazali. 2001. Tazkiah An-Nafs –Konsep Penyucian Jiwa Menurut Para Sholat. Surakarta: Pustaka Arafah

Al Qarni, Aidh bin Abdullah. 2004. “Laa Tahzaan - Jangan Bersedih”. Terj.: Bahrun AIZ. Bandung: Penerbit Irsyad Baitus Salam

Ammar, Hasan Abu. 2002. Rasionalisme dan Alam Pikiran Filsafat dalam Islam”. Jakarta Selatan: Yayasan Mulla Shadra.

Byrnes, Joseph F. 1984.  “The Psychology oaf Religion”. New York The Free Press, A Division of MacMillan, Inc.

Golshani, Mehdi. 2004. “Melacak Jejak Tuhan dalam Sains”. Bandung Mizan, dan Yogyakarta: CRCS.

Haryanto, Sentot. 2002. “Psikologi Sholat”. Yogakarta: Penerbit Mitra Pustaka

Kartanegara, Mulyadhi . 2003. “Pengantar Epistemologi Islam” Bandung : Mizan.

______.2005. “Integrasi Ilmu : Sebuah Rekonstruksi Holistik” Bandung Mizan Media Utama

Mubarok, Ahmad. 2003. Sunnatullah dalam Jiwa Manusia – Sebuah Pendekatan Psikologi Islam” Jakarta IIIT Indonesia

Najati, Muhammad Utsman. 2005. Psikologi dalam Al Qur’an- Terapi Qur’ani dalam penyembuhan Gangguan Kejiwaan”. Terj.: M. Zaka AI Farisi. Bandung Penerbit CV Pustaka Seyia.

_____,. 2003. Psikologi dalam Tinjauan Hadits Nabi“. Terj.:   Wawan Djunaedi Soffandi. Jakarta Selatan Mustaqiim.

Neher Andrew. 1990. “The Psychology of Transcendence. New York” Dover Publications, Inc.

Paloutzian, Raymond F. 1996. Invitation to the Psikologi of Religion”. Boston: Allyn and Bacon.

Sangkan, Abu (salim Vachreisy). 2002. Metode Mencapai Transendensi dalam Shalat. Surakarta : Makalah Seminar Fakultas Psikologi UMS.

______. 2002.  Allah Menyambut sholatku. Jakarta: Panamarta.

______. 2003.  Berguru kepada Allah – Menghidupkan Kecerdasan Emosi dan Spiritual”. Bekasi Yayasan Bukit Thursina.

Shafii. Mohammad. 2002, “Piskoanalisis dan Sufisme”.  Terj.: Subandi dkk. Yogyakarta: Penerbit Campuss Press

Sholeh, Muhammad “Mengapa Shalat Tahajjud Menyehatkan” Surakarta: Makalah Seminar Fakultas Psikologi UMS

Zohar, Danah & Marshal, Ian. 2001. “SQ-Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam Berpikir Interalistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan”. Terj.: Rahmani Astuti dkk. Bandung: Mizan