SYAWALAN PITI DENGAN KEMBANG API

Tanggal 2-8-2015 bertepatan 17 Syawal 1436 H pukul 16.000 di kediaman Bapak Budi Setyagraha, Yogyakarta. Sudah hadir warga PITI sekitar 50 orang memakai baju koko serta berjilbab yang membuat pemakainya tambah anggun, berwibawa dan nampak bercita-cita.

Seperti rumah orang Tionghoa lain, sejak masuk ruang tamu sampai ruang utama sudah  terasa suasana Chinese: ada beberapa guci keramik besar tinggi, tulisan-tulisan Mandarin ada di beberapa tempat misalnya di sarung bantal kursi dan taplak meja disamping ada lukisan-lukisan pemandangan-pemandangan  bernuansa Tiongkok. Di ruang tamu ada 3 bingkai kaligrafi khot Arab yang indah: Dua Kalimah Syahadat, Ayatul Kursi dan Do’a QS Al. Baqoroh 286, sebagai pertanda rumah orang muslim.

 

Dari ruang utama tempat kita mengaji nampak di luar ada taman kebun luas dengan rerumputan dan pohon-pohon rindang, di tengah ada kolam dengan ikan-ikan bersliweran sepertinya mereka ikut bergembira, dengan cucuran air mancur dari dinding tinggi yang dipoles berbelok-belok sehingga seperti air turun dari gunung. Semuanya, ikut menjadikan pengajian PITI di sore hari itu terasa spesifik dan sejuk membuat kerasan.

Foto bersama di ruang utama             

Master of Ceremony Mizan yang keturunan Tionghoa yang nyantri dan bahkan sekarang sudah  menjadi Asisten Kyai di Pondok Pesantren Nurul Haq Yogyakarta, dengan fasih dan makhroj yang baik membuka pengajian syawalan sekaligus memimpin pembacaan surat-surat pendek yang dibaca secara bersama-sama.

Hj. Lie Sioe Fen, sebagai tuan rumah sekaligus Ketua Korwil PITI DIY menyambut dengan senang hati kehadiran tamu-tamu. Dijelaskan pengajian bulanan PITI ini Alhamdulillah senantiasa berlangsung tiap bulan, tidak pernah absen sudah  sekitar 30 tahunan dan dilaksanakan secara bergiliran. Marilah kita sempatkan menghadirinya, kita ajak teman-teman kita !, insyaallah bermanfaat dunia akhirat. Terakhir, di bulan Agustus ini, mari kita sebagai warga PITI dan warga Negara Indonesia mengambil bagian dalam memperingati, merayakananya di tempat wilayah kita masing-masing ! “Cinta Tanah Air adalah sebagian dari Iman” kata ibu Hajjah sebagai penutup sambutannya.

Ustadz Supriyanto Pasir, M.Ag (Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. ) yang keturunan Tionghoa dari Kaltim sudah lama di Yogyakarta, sebagai Dosen Pendidikan Agama Islam di Fakultas Ilmu Agama Islam UII menjelaskan bahwa agama Islam sangat mengutamakan sikap sabar, sekaligus diberikan contoh-contoh yang menarik.

Ustadz Supriyanto Pasir juga menyampaikan pengalamannya, beberapa saat yang lalu berkunjung ke Tiongkok khususnya Xian di Tiongkok Tengah. Xian atau Chang an adalah ibukota kekaisaran Tiongkok kuno. Disitu terdapat masjid yang didirikan sahabat Nabi yang sampai sekarang masih terpelihara baik. Ustadz Supriyanto Pasir sempat berbicara lama dengan tokoh-tokoh muslim Xian, tidak ada kesulitan bahasa, mereka banyak yang bisa bahasa Arab, sebab banyak yang lulusan Al Azhar Kairo. Xian adalah kawasan yang persentasi penduduk muslimnya cukup tinggi. Selanjutnya Ustadz Pasir menceritakan bagaimana dr. Jhoni masuk Islam. Jhoni adalah keturunan Tionghoa non muslim lahir di Kalbar, waktu itu mahasiswa semester akhir Fakultas Kedokteran UII. Setelah berdiskusi beberapa kali akhirnya Jhoni minta disyahadatkan. Tetapi orang tuanya tidak setuju sehingga Jhoni pun terpaksa tidak mengikuti kuliah beberapa saat. Syukurlah persoalannya dapat diatasi dan Jhoni pun dapat memperoleh dokternya dan dia tetap beragama Islam. Diceritakan panjang lebar pahit getirnya supaya menjadi bahan renungan bagi Bapak Eko  -keturunan Tionghoa yang hadir dan memperkenalkan diri serta ingin masuk Islam.

Tidak terasa sudah maghrib acara diskors, adzan, mengambil air wudhu, tempat pengajian segera siap menjadi tempat sholah setelah sajadah-sajadah panjang digelar, iqomah dan sholat maghrib. Setelah sholat, Fui   Abdurahman yang dari Singkawang dan sudah bersyahadat 14 tahun yang lalu, berkomentar: “Subhanallah bacaan al Fatihah dan surah-surah ustadz Pasir yang tartil membuat hatinya tersentuh, sejuk dan damai”. Acara dilanjutkan menikmati hidangan yang sudah disiapkan dan diteruskan bersalam-salaman. Menurut asisten Kyai yang menjadi penata acara, “ supaya syawalannya lebih sempurna”.

 

SYAWALAN PITI DENGAN KEMBANG API

Tanggal 2-8-2015 bertepatan 17 Syawal 1436 H pukul 16.000 di kediaman Bapak Budi Setyagraha, Yogyakarta. Sudah hadir warga PITI sekitar 50 orang memakai baju koko serta berjilbab yang membuat pemakainya tambah anggun, berwibawa dan nampak bercita-cita.

Seperti rumah orang Tionghoa lain, sejak masuk ruang tamu sampai ruang utama sudah  terasa suasana Chinese: ada beberapa guci keramik besar tinggi, tulisan-tulisan Mandarin ada di beberapa tempat misalnya di sarung bantal kursi dan taplak meja disamping ada lukisan-lukisan pemandangan-pemandangan  bernuansa Tiongkok. Di ruang tamu ada 3 bingkai kaligrafi khot Arab yang indah: Dua Kalimah Syahadat, Ayatul Kursi dan Do’a QS Al. Baqoroh 286, sebagai pertanda rumah orang muslim.

 

Dari ruang utama tempat kita mengaji nampak di luar ada taman kebun luas dengan rerumputan dan pohon-pohon rindang, di tengah ada kolam dengan ikan-ikan bersliweran sepertinya mereka ikut bergembira, dengan cucuran air mancur dari dinding tinggi yang dipoles berbelok-belok sehingga seperti air turun dari gunung. Semuanya, ikut menjadikan pengajian PITI di sore hari itu terasa spesifik dan sejuk membuat kerasan.

Foto bersama di ruang utama             

Master of Ceremony Mizan yang keturunan Tionghoa yang nyantri dan bahkan sekarang sudah  menjadi Asisten Kyai di Pondok Pesantren Nurul Haq Yogyakarta, dengan fasih dan makhroj yang baik membuka pengajian syawalan sekaligus memimpin pembacaan surat-surat pendek yang dibaca secara bersama-sama.

Hj. Lie Sioe Fen, sebagai tuan rumah sekaligus Ketua Korwil PITI DIY menyambut dengan senang hati kehadiran tamu-tamu. Dijelaskan pengajian bulanan PITI ini Alhamdulillah senantiasa berlangsung tiap bulan, tidak pernah absen sudah  sekitar 30 tahunan dan dilaksanakan secara bergiliran. Marilah kita sempatkan menghadirinya, kita ajak teman-teman kita !, insyaallah bermanfaat dunia akhirat. Terakhir, di bulan Agustus ini, mari kita sebagai warga PITI dan warga Negara Indonesia mengambil bagian dalam memperingati, merayakananya di tempat wilayah kita masing-masing ! “Cinta Tanah Air adalah sebagian dari Iman” kata ibu Hajjah sebagai penutup sambutannya.

Ustadz Supriyanto Pasir, M.Ag (Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. ) yang keturunan Tionghoa dari Kaltim sudah lama di Yogyakarta, sebagai Dosen Pendidikan Agama Islam di Fakultas Ilmu Agama Islam UII menjelaskan bahwa agama Islam sangat mengutamakan sikap sabar, sekaligus diberikan contoh-contoh yang menarik.

Ustadz Supriyanto Pasir juga menyampaikan pengalamannya, beberapa saat yang lalu berkunjung ke Tiongkok khususnya Xian di Tiongkok Tengah. Xian atau Chang an adalah ibukota kekaisaran Tiongkok kuno. Disitu terdapat masjid yang didirikan sahabat Nabi yang sampai sekarang masih terpelihara baik. Ustadz Supriyanto Pasir sempat berbicara lama dengan tokoh-tokoh muslim Xian, tidak ada kesulitan bahasa, mereka banyak yang bisa bahasa Arab, sebab banyak yang lulusan Al Azhar Kairo. Xian adalah kawasan yang persentasi penduduk muslimnya cukup tinggi. Selanjutnya Ustadz Pasir menceritakan bagaimana dr. Jhoni masuk Islam. Jhoni adalah keturunan Tionghoa non muslim lahir di Kalbar, waktu itu mahasiswa semester akhir Fakultas Kedokteran UII. Setelah berdiskusi beberapa kali akhirnya Jhoni minta disyahadatkan. Tetapi orang tuanya tidak setuju sehingga Jhoni pun terpaksa tidak mengikuti kuliah beberapa saat. Syukurlah persoalannya dapat diatasi dan Jhoni pun dapat memperoleh dokternya dan dia tetap beragama Islam. Diceritakan panjang lebar pahit getirnya supaya menjadi bahan renungan bagi Bapak Eko  -keturunan Tionghoa yang hadir dan memperkenalkan diri serta ingin masuk Islam.

Tidak terasa sudah maghrib acara diskors, adzan, mengambil air wudhu, tempat pengajian segera siap menjadi tempat sholah setelah sajadah-sajadah panjang digelar, iqomah dan sholat maghrib. Setelah sholat, Fui   Abdurahman yang dari Singkawang dan sudah bersyahadat 14 tahun yang lalu, berkomentar: “Subhanallah bacaan al Fatihah dan surah-surah ustadz Pasir yang tartil membuat hatinya tersentuh, sejuk dan damai”. Acara dilanjutkan menikmati hidangan yang sudah disiapkan dan diteruskan bersalam-salaman. Menurut asisten Kyai yang menjadi penata acara, “ supaya syawalannya lebih sempurna”.

 

Halaman 2

Acara terakhir Pesta Kembang Api, semua sudah di taman, kembang api sudah disiapkan bahkan beberapa sudah diikatkan di meja panjang siap meluncur. Segera pemuda maju disusul yang tua-tua, bersama-sama, korek menyala dan juuus, melesat bunga api dan gedebuuum. Yang kecil, yang tanggung, yang besar menyala dan taaar, door melesat bunga api menerangi alam sekitar yang sudah mulai gelap. Sekitar lima  sampai sepuluh menit bertepuk tangan, sorak sorai, bahkan tua muda melonjak-lonjak. Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Wa lillah ilhamd.

Pesta Kembang Api di taman

Begitulah PITI Yogyakarta bersyawalan mengungkapkan kesukariaan dan kesyukuran. Allahummaj’alna minal aidin wal faidizin wal makbulin (Ya Allah jadikanlah kami termasuk orang/golongan yang berhasil kembali ke Fitroh, yang berhasil menang dan berhasil diterima permohonan ampunanNya!).

Tidak lama, warga pun berangsur pamit pulang tapi beberapa orang nampak masih asyik berbincang-bincang dengan Bapak Budi Setyagraha-entah apa yang mereka bincangkan, antara lain terlihat Bapak Hikmatul Akbar, Ketua Studi Tiongkok di Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPN) Yogyakarta.

Siap-siap pulang, Bambang Bergen yang aktifis PITI DIY, “Ciamik, bagus sambil mengacungkan jempol, besok lebaran muka kita begini lagi ya”. Demikianlah harapannya.  Insya Allah, mari  kita doakan.