SEBUAH FAKTA PERSAUDARAAN SEJATI

 

Ketika kita mendengar kata "cina" atau "Tionghoa",  otomatis imajinasi kita akan tertuju ke sekelompok orang atau etnis yang menganut agama Konghucu dan Budhisme. Imajinasi  tersebut sepertinya sedemikian kuat berakar dalam kesadaran kita sehingga setiap upaya yang berbeda dari imajinasi itu nyaris ditolak. Atau dengan kata lain, setiap usaha yang hendak menunjukkan sebuah realitas lain yang mengatakan bahwa orang Cina atau Tionghoa itu bukan saja menganut agama Konghucu dan Budhisme , melainkan juga terdapat (bahkan banyak) yang menganut agama Islam, segeralah pemikran itu dikatakan “ngawur”!

Padahal, jika kita menelusuri jejak-jejak masuknya  Islam ke Nusantara, lebih-lebih ke Jawa, maka kita akan  menemukan sejumtah bukti bahwa orang-orang Tionghoa itu juga punya peranan besar daram proses islamisasi di Jawa.

Bukti-bukti itu setidaknya bisa kita lihat pada sejumlah peninggalan kepurbakalaan Islam di Jawa yang  mengisyaratkan adanya pengaruh Tionghoa yang cukup kuat sehingga menimbulkan dugaan bahwa pada bentangan abad 15/16 M telah terjalin apa yang disebut "kebudayaan Jawa-Islam-Tionghoa''. Ukiran Padas di masjid Mantingan Jepara, menara masjid di Pecinan Banten, konstruksi pintu makam Sunan Giri di Gresik, arsitektur keraton Cirebon  beserta taman Sunyaragi, konstrruksi masjid Demak terutama soko  tatal penyangga masjid beserta lambang kura-kura, konstruksi masjid Sekayu di Semarang dan sebagainya, semua itu menunjukkan keterpengaruhan budaya Tionghoa.

Bukan  itu saja, bahkan jika kita menengok jauh ke sejarah masuknya Islam di bumi Tiongkok sendiri, maka kita juga akan menemukan bukti-bukti sejarah yang menunjukkan sudah sejak lama Agama Islam ini masuk wilayah Tiongkok. Bahkan  ada yang berpendapat, bahwa Tionghoa sebenarnya telah mengenal Islam sejak masa-masa paling awal dari perkembangan agama ini, yakni abad ke 7 M. Chinese Annals (sebuah naskah kuno) dari dinasti Tang (618-960) mencatat adanya pemukiman umat Islam di Kanton, Zhang-zhou, Quanzhou dan pesisir Tiongkok selatan lain.

Bukti sejarah yang tidak terelakkan tentang eksistensi kaum muslim di kawasan ini adalah adanya dua buah masjid kuno di Kanton, yaitu masjid Kwang Tah Se "masjid bermenara' dan Che Ling Se "masjid bertanduk satu” yang menurut beberapa  sejarahwan merupakan masjid kedua tertua di dunia setelah masjid Nabawi yang dibangun Nabi Muhammad di kota Madinah.

Sementara  itu, peninggalan kesejarahan yang tak terelakkan dari masyarakat  Tionghoa muslim di Jawa ialah dua masjid kuno yang berdiri megah di Jakarta, yakni masjid Kali Angke yang dihubungkan dengan Houw Tjay dan masjid Kebun Jeruk yang didirikan Tamien Dosol Seeng dan nyonya Cai. Bukti-buktl keseJarahan ini belum termasuk klenteng-klenteng kontroversial yang diduga kuat oleh sementara sejarawan sebagai bekas masjid yang dibangun masyarakat Tionghoa pada abad 15/16 M. Klenteng-klenteng yang dimaksud ialah klenteng Ancol di Jakarta, Klenteng Talang di Cirebon, klenteng gedung batu (Sampotoalang/ Sampokong) di Simongan Semarang, klenteng sampokong di Tuban dan klenteng Mbah Ratu di Surabaya.

Selain bukti-bukti kepurbakalaan itu, juga terdapat bukti-bukti sejarah baik lisan maupun tulisan yang memperkuat adanya peranan Tionghoa dalam proses islamisasi Jawa. Bukti-bukti sejarah itu setidaknya ditunjukkan oleh cerita-cerita lisan yang berkembang di sekitar pesisir utara Jawa maupun dari naskah-naskah lokal semacam Babad Tanah Jawi, Serat Kandaning Ringgit Purwa, Carita (Sadjarah) Lasem, Babad Cirebon, Hikayat Hasanuddin, dan lain-lain. Dalam naskah lokal itu, dan ini yang menarik, disebutkan bahwa Raden Fatah, seorang penguasa pertama kerajaan Islam Demak adalah termasuk seorang Tionghoa muslim. Jika Raden Fatah adalah seorang Tionghoa muslim, maka Demak dengan sendirinya merupakan rezim Tionghoa (muslim) pertama di Jawa.

Sementara cerita lisan yang berkembang di diberbagai daerah pesisir Jawa juga menyebutkan adanya tokoh-tokoh Tionghoa  Islam yang berperan cukup besar dalam proses islamisasi di kawasan ini. Seperti kisah kiai Telingsing (Tan Ling Sing) yang merupakan patner dakwah Sunan Kudus, atau Jakfar Shodiq di Kudus, kemudian Gwie-wan, tangan kanan Sultan Hadlirin sekaligus peletak dasar tradisi seni ukir di Jepara yang populer dengan sebutan   Sungging Badar Duwung karena  keahliannya di bidang   seni ukir.

Tradisi masyarakat Salatiga khusunya daerah kali bening mengaitkan  sejarah islamisasinya dengan tokoh Lie Beng Ing, sementara tradisi masyarakat Cirebon menyebutkan tokoh  Tan Eng Hoat, Tan Sam Cai alias Muhammad Syaf I’i, Kung Sam Pak atau Muhammad Murjani kemudian Tan Hong Tilen Nio (terkenal dengan sebutan Putri Ong Tien) yang menjadi istri Sunan Gunung Jati, pelopor dan penggerak Islam di Cirebon dan wilayah Jawa Barat dan masih banyak lagi.

Berdasarkan fakta-fakta sejarah tersebut, maka umat Islam sebenarnya juga "berhutang budi" pada orang orang Tionghoa ini, selain, tentunya, kepada  orang-orang yang menyebarkan Islam dari negeri-negeri yang lain. Dan karenanya, tidak sepantasnya kita memandang mereka sebagai pihak atau kelompok yang patut didiskriminasikan. Istilah mayoritas selanjutnya tidak boleh lagi menjadi "alasan pembenar" untuk melakukan diskriminasi terhadap sebuah kelompok yang dianggap minoritas seperti orang-orang Tionghoa atau penganut Konghucu ini. Selain itu mereka juga ternyata punya peran dalam proses islamisasi di nusantara ini. Islam sendiri juga tidak membenarkan adanya diskriminasi oleh mayoritas terhadap minoritas. Bahkan Islam mengajarkan yang mayoritas harus melindungi yang minoritas. Bukankah yang utama di sisi Tuhan adalah orang-orang yang bertaqwa, bukan orang-orang yang mayoritas. Jadi, melalui momentum tahun baru Imlek yang kebetulan disusul dengan tahun baru Hijriyah yang jatuh pada tanggal 9 & 10 Februari 2005 ini, mari kita jadikan momentum tersebut sebagai media perenunganbagi hubungan yang lebih baik, toleran, egaliter dan damai antar kelompok, etnis dan pemeluk agama yang ada di bumi Nusantara ini.

(Disarikan oleh A. Shidqi dari buku "Arus Cina-Muslim-Jawa Jawa'' karya Sumanto al-Qurtudy)
Al Ikhtilaf Edisi 244 / 24 Dzulhijjah 1435 H. / Februari 2005 M.