MUSLIM TIONGHOA BERIMLEK

Pada November 2002 pengajian bulanan PITI dilaksanakan di kediaman Prof. Dr. HA. Mukti Ali. Sekitar 60 orang warga PITI hadir termasuk beliau KH. Atabik Ali.
Pada saat sarasehan disepakati PITI akan mengadakan pengajian Imlek di Masjid Syuhada dengan ketentuan pengurus supaya konsultasi dulu dengan MUI DIY.

Adapun yang menjadi latar belakang rencana itu adalah : Wali Songo mengislamkan Wayang dan arsitektur Candi Menara Kudus.
Dan langkah-langkah seperti itu ternyata membuat dakwah Wali Songo berhasil.
Begitu juga suku-suku yang terkenal kuat agamanya di Nusantara bisa melestarikan budaya mereka misalnya : Aceh dengan tari Sedatinya.
Lalu apakah tidak mungkin budaya Tionghoa pun ada yang bisa di Islamkan. Dengan kata lain PITI ingin meningkatkan kegiatannya dengan berdakwah kultural.

Dalam pertemuan di kantor MUI Alun-alun Utara yang dihadiri 4 orang dari PITI, 2 orang dari komunitas Tionghoa, dan 2 orang dari MUI DIY.
PITI dan komunitas Tionghoa memberikan informasi panjang lebar tentang imlek bahwa imlek adalah sekedar budaya dan tidak ada hubungan dengan sesuatu agama apapun. dan dikesempatan itu PITI dan komunitas Tionghoa menyerahkan buku literatur kepada MUI DIY.

Sesudah mendapat informasi seperti itu MUI memberikan keterangan bahwa kalau memang imlek itu adalah sekedar budaya dan tidak ada hubungan dengan agama tertentu maka orang Tionghoa muslim boleh saja memperingati tahun baru Imlek di Masjid Syuhada, kemudian dikatakan bahwa secara kebetulan MUI pusat sedang Raker di Kaliurang,maka masalah Imlek ini akan ikut dibicarakan pada raker itu. Setelah Rencana pengajian Imlek di Syuhada ini diberitakan media, soal ini benar-benar menjadi berita besar bahkan koran, TV Jakarta lebih-lebih lagi setelah satu ormas Islam menyatakan mereka tidak setuju rencana itu dilaksanakan di masjid Syuhada.

Sebaliknya satu ormas Islam lain membela rencana ini bahkan mereka siap ketempatan, kalau dirasakan itu kurang aman di Masjid Syuhada.

Akhirnya Pengajian Imlek tersebut tetap terlaksana dimulai pukul 16.30 dan berlangsung khidmat, aman dan sederhana dengan acara :

  1. Tinjauan budaya oleh Prof. Safri Sairin dari UGM.
  2. Tinjauan Islam sesudah sholat Magrib dari Ketua MUI DIY yang disampaikan K.H. Toha Abdul Rahman.
  3. Sholat Isya, sholat Hajat, dan sujud syukur
  4. Pensyahadatan 7 orang warga Tionghoa
  5. Penyerahan Al Qur’an bahasa Tiong Hoa  kepada PITI DIY

  

Harapan dan keinginan PITI untuk mendapat pegangan yang lebih kuat maka tahun 2003 kerjasama dengan KMIB UGM melaksanakan seminar nasional tentang Imlek di UC UGM, yang diikuti ulama intelektual dari :

  1. MUI DIY,
  2. DPP PITI Jakarta,
  3. Wakil-wakil dari perguruan tinggi di DIY dan
  4. Wakil-wakil 16 ormas/lembaga Islam (waktu itu ormas lembaga Islam yang terdaftar di Kanwil Depag hanya 16).

 

Seminar itu menghasilkan keputusan “Mubah/boleh bagi orang Tionghoa muslim memperingati tahun baru Imlek di masjid”. Terasa majelis seminar agar tegang, penat sehabis mengikuti dalil, logika-logika hukum, disaat akan penutupan Hj. Putri Wong Kam Fu maju ke mimbar menawarkan diri menyumbang lagu. Hadirin spontan setuju dan bertepuk tangan. Dangdut rianya boleh juga. Akrab ria terasa pulih lagi. Lebih daripada itu dengan gayanya Putri Wong yang masuk Islam tahun 1985 ini kesan dan suasana seminar menjadi terasa jamak. (Makalah seminar dapat dibaca di www.pitiyogyakarta.com).

Sesudah seminar tugas PITI berikutnya adalah mensosialisasikan hasil-hasil seminar maka tiap tahun PITI DIY dengan kerjasama dengan perguruan tinggi dan masjid mengadakan pengajian Imlek dengan acara yang bervariasi.
Bahwa ada seorang ulama yang menyampaikan pendapatnya (Ijtihad Fardi) di internet dengan dalil serta argumentasinya bahwa orang Tionghoa yang sudah muslim adalah haram ikut-ikutan berimlek. Sikap PITI :

  1. Sejak awal kita menyadari soal Imlek ini tidak sederhana maka kita berhati-hati dengan antara lain : mengadakan seminar.
  2. Di dalam masyarakat Islam terjadi berbeda pendapat seperti itu dapat dipahami dan memang sering terjadi, sebab dalam sejarah Islam pun misalnya imam-imam mazhab seperti Imam Syafii selalu menjelaskan bahwa “itu” adalah hasil ijtihadnya tapi di dalam hal ada hasil ijtihad yang lebih kuat silahkan kita ikuti yang lebih kuat”.

Sekarang orang Tionghoa Islam (yang masih harus belajar banyak) begitu juga masyarakat Islam secara umum di persilahkan memilih mana yang lebih kuat dan dipersilahkan mengikuti, mengamalkannya sesuai yang diyakini., yang jelas : seminar itu diikuti, diputuskan oleh tidak hanya satu orang ulama tapi puluhan ulama dan intelektual (ijtihad jamai) yang masing-masing mewakili lembaga ormas Islamnya. Mereka juga kompeten dan tentunya mempunyai dalil-dalil yang kuat juga.

Disusun sebagai kelengkapan informasi saat Pengajian Imlek tanggal 31 Januri 2016 di Masjid Besar Kauman Yogyakarta.