MUSLIM DI CINA PART 1    

 

 


Bersama. Pada hari raya yang dihormati Ummat Islam sedunia (Idul Fitri, Idul Adha, dst-Red) Ummat Islam Tiongkok juga lazim mengadakan sholat bersama. Sehabis acara sembahyang, mereka mengadakan pentas seni. Misalnya mengadakan tari dan nyanyi. Dari nyanyian tradisional ; tarian rakyat sampai tari-tarian ritual keagamaan yang dinamakan “Sa’ Ma” atau Hadrah sebagaimana di Indonesia.
Allahu Akbar! Allahu Akbar ! – Tampak Pak Adin (Abidin) sedang beradzan pada saat menjelang sholat Jum’at di masjid kota Qimou



Saling Mengenal dalam Persaudaraan Muslim

Umat Islam seluruh dunia pada hakekatnya adalah manusia-manusia yang cinta damai, menghargai persahabatan dan bersifat pemaaf. Jiwa besar ajaran Islam tersebut selalu tercermin.
Khusus menghadapi Hari Raya Idul Fitri 1405 Hijriah ini, Liberty berusaha menyuguhkan artikel yang berhubungan dengan Dunia Islam.
Bagi kita ummat Islam di Indonesia, Bangsa Tiongkok lebih banyak dikenal sebagai bangsa yang non Islam. Sebenarnya tidak sepenuhnya betul. Ternyata di Negeri Tiongkok yang sekitar enam kali luas daratan wilayah kita ini, mempunyai wilayah-wilayah besar yang penduduknya boleh dikata hampir seluruhnya beragama Islam.
Wilayah-wilayah tersebut adalah : Xinjiang, sebagian Gansu dan sebagainya. Ummat Islam di Negeri Tiongkok tersebut ternyata terdiri dari berbagai suku bangsa minoritas yang masing-masing berlainan kebudayaan.
Artikel tentang "Muslim di Tiongkok" ini, ternyata sangat menarik untuk kita simak bersama.
Bukan hanya itu, kalangan penduduk Tiongkok di daerah pesisir dan tengah saja, merasakan sebagai suatu hal yang menarik kalau memperbincangkan kehidupan Kaum Muslim Tiongkok ini.
Untuk penduduk lndonesia yang Muslim atau bukan, tidakt ada jeleknya kalau dapat mengetahui kehidupan, kebudayaan dan agama negara lain yang sudah menjadi khasanah dunia.
Sikap demikian, merupakan sikap toleransi bangsa kita yang sudah dikenal seluruh dunia.
Pada kesempatan Idul Fitri sekarang adalah tentang dunia Islam di Tiongkok, mungkin pada kesempatan lain akan kami sajikan keadaan Muslim di negeri-negeri lain.
Kita sudah tahu, Islam yang menjadi agama mayoritas pendudukan suatu Negara seperti Indonesia ini. Namun kita tidak boleh melupakan sesama Kaum Muslim di negara-negara lain yang masih merupakan agama minoritas. Justru kehidupan mereka yang perlu kita ketahui, kita perhatikan dan kita kaji.
Segi negatif kita buang, segi positif kita ambil dan segi persamaan adalah sebagai “Tali Pemersatu” sesama muslim. Sebab kita percaya: AJARAN ISLAM ADALAH MULIA, di mana ummat manusia banyak bergantung padaNya.


Redaksi


SAMBUTAN
KETUA LEMBAGA PENERANGAN & LABOBATORIUM ISLAM
" SUNAN AMPEL"

Adalah takdir ilahi bahwa negara kita terdiri dari untaian kepulauan lebih dari tiga belas ribu, puluhan suku bangsa, ras, agama dan kepercayan. Untuk mempersatukan wawasan Nusantara ini bukanlah persoalan yang mudah. Tak dapat dipungkiri bersama bahwa, lslam sehagai agama yang dianut oleh mayoritas bangsa ini mempunyai peranan pengikat yang luar biasa bagi terbentuknya negara kesatuan.
Di dalam bejana wawasan Nusantara yang besar ini, masih ada kristal-kristal yang belum mampu larut secara keseluruhan sehigga dapat menghilangkan warna kesukuan yang menyebabkan tidak sempurnanya persatuan bangsa. Problem tersebut adalah masalah keturunan Tiongkok dan pembauran. Dr. charles A. Coppel, dalam bukunya: INDONESIAN CHINESE CRISIS," mengambil pandangan empat tokoh keturunan Tiongkok untuk penyelesaian krisis tersebut.


1. Siauw Giok Tjhan, Ketua Umum Baperki: "Bentuklah masyarakat sosialis lndonesia".
2. K. Sindhunatha, SH, Ketua Bakom PKB Pusat: "Berbaurlah dan WNI keturunan Tiongkok sebagai kelompok yang terpisah akan hilang”.
3. Yap Thiam Hien, SH, pengacara terkenal di Jakarta: "Hilangkan prasangka dan bela hak azasi manusia"
4. Drs. Junus Jahja, Ketua Umum Yayasan Ukhuwah Islamiyah: "Dengan masuk lslam keturunan Tionghoa diterima sepenuhnya.”
Tanpa mengurangi penghargaan terhadap ketiga tokoh yang lain, nampaknya pendapat Drs. H. Junus Jahja mendapat sambutan yang luar bisa dari banyak keturunan Tiongkok , Pemerintah sampai rakyat "pribumi" sendiri.
Dalam beberapa tahun terakhir ini, puluhan ribu mungkin sudah ratusan ribu keturunan Tiongkok yang sudah memasuki agama Islam. Tampaknya kejadian ini akan terus berlanjut tanpa memperoteh hambatan yang berarti. Mudah-mudahan peristiwa-peristiwa yang penuh keajaiban ini, dapat memberikan peranan besar dalam persatuan bangsa.
Mengenai perkembangan ini, dapat kita kutip pendapat Bapak Menko Kesra H. Alamsjah Ratu Perwiranegara: “lslam berarti damai, yakni damai dengan Allah, Tuhan Yang Maha Esa dan damai dengan insan sesama makhluk Tuhan. Pembauran melalui agama Islam, lnsya Allah merupakan kunci kedamaian abadi lahir dan batin didunia dan di akhirat."
Dan Berita Pers lbukota tanggal 26 -5 -1982: "Mengenai perkembangan lslam di Indonesia dikatakan oleh H. Alamsjah, bahwa presiden Suharto gembira dan terharu sekali dengan mulai banyaknya keturunan Tionghoa di lndonesia masuk memeluk agama lslam. Hal itu berarti bahwa yang bersangkutan otamatis membaur dengan rakyat banyak.
Pada saat Islam mulai diperkenalkan oteh Nabi Besar Muhammad saw, orang-orang Arab masih terpecah dalam suku-suku sangat fanatik yang disebut kabilah-kabilah.
Dalam waktu beberapa tahun (± 21 tahun )seluruh jasirah Arab telah dipersatukan melalui ajaran lslam dan kemudian persatuan ini meluas terus dari tanah Andalusia Spanyol sampai ke Asia (lndonesia).
Kekuatan persatuan yang diajarkan oleh lslam tidak mengenal warna kulit, ras dan diskriminasi sesuai dengan firman Ailah dalam kitab suci Al-Qur'an surat 49 ayat 13: "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorarg perempruan dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal (berbaik-baik). Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."


Surabaya,28 Mei 1985
Jl. Perak Barat 237 TelP. 293285

ttd.

dr. Saleh Aldjufri


Islam Sudah Masuk Ke Tiongkok
Semenjak 1300 Tahun Yang lalu

Dulu di Indonesia tidak banyak orang keturunan Tiongkok yang masuk Islam. Sekarang kian banyak yang masuk Islam. Tapi tidak banyak yang tahu, kalau Islam Sudah Masuk Ke Tiongkok semenjak 1300 tahun yang lalu. Tulisan ini berdasarkan keterangan seorang wartawan Australia yang telah bertugas 15 tahun di Tiongkok. Kemudian ditambah bahan-hahan lain yang mengungkapkan segi-segi unik & menarik, dari para suku bangsa minoritas beragama lslam di negeri dengan satu milyar penduduk itu.

Di Tiongkok daratan jumlah penduduknya mencapai sekitar seperempat dari jumlah penduduk seluruh muka bumi ini. Dari jumlah tersebut sekitar 94% merupakan bangsa Han dan sisanya adalah 50 suku bangsa lain. Agama, kepercayaan dan adat istiadat mereka sangat berberda satu sama lain. namun mereka telah menjadi satu kesatuan bangsa.

 

 

 



Pandangan dari atas pada kompleks Masjid Huajue di Xian atau Chang an, Ibukota Kekaisaran Tiongkok Kuno

Yang menarik bagi kita, adalah sepuluh suku bangsa Tiongkok yang beragama Islam. Jumlah muslim Tiongkok ini; sampai sekarang belum ada catatan yang pasti. Menurut perkiraan jumlah mereka sekitar 13 juta orang. Namun menurut “North China Daily News” yang terbit tahun 1935-1936, jumlah muslim Tiongkok adalah sekitar 20 juta jiwa. Sedangkan pers komersial mencatat sekitar 48 juta jiwa.
Data akhir dari “Times Atlas of the World” 1972 menyebutkan jumlah 115.000.000 Muslim di Negeri Tiongkok . Mereka ini terdiri dari suku bangsa: Hui, Uighur. Kazakh, Dong Chang, Khirghiz, Sa'la,Tajik, Uzbek, Pao An dan Tartar. Jumlah yang terbesar dari 10 suku bangsa tersebut di atas adalah Hui, Uighur dan Kazakh.
Umumnya, para suku bangsa Tiongkok yang beragama Islam itu tersebar di propinsi-propinsi: Xin jiang, Gansu, Ninxia dan sedikit di Zhinghai. Adat istiadat mereka, kostum dan gaya hidup mereka amatlah khas dan menarik untuk disimak lebih lanjut.
Misalnya orang Uighur dan Kazakh' profil mereka umumnya seperti orang Barat atau minimum seperti peranakan Eropa-Asia. Rambut juga pirang atau semu plrang. Hidung mancung, kulit tidak cenderung ke kuning tapi putih. Mata mereka umumnya juga lebar, bahkan agak kebiruan atau abu-abu.
Tinggal di kawasan gurun, pegunungan yang tandus tapi bersifat riang, suka menari, menyanyi dan makan buah semangka. Irama nyanylan mereka ini, banyak yang mirip lagu-lagu lndia dengan gaya ‘dangdut' -nya. Tak dapat disangkal, mereka mempunyai rebana atau genderang kecil untuk mengiringi gerak, tari dan lagu mereka.
Tionghoa-tionghoa yang Muslim tersebut, lebih akrab dengan huruf Arab, ketimbang huruf Kanji apalagi huruf Latin! Kebiasaan mereka yang selalu mengenakan kopiah di kepala, merupakan ciri khas sukubangsa yang Muslim ini.
Adat pernikahan Yang unik
Menurut penulisan A.M.Kheir seorang koresponden Ausiralia yang pernah 15 tahun bertugas di Tiongkok : adat istiadat pernikahan sukubangsa Hui dan Uighur hampir tak berbeda jauh. Umumnya, sangat unik.
Dikisahkan lebih lanjut oleh Kheir, bahwa dua insan remaja yang saling jatuh cinta, biasanya memberitahukan kepada orang tua mcreka masing-masing. Lazimnya mereka tidak banyak mengalami kesulitan dalam memilih jodoh mereka. lni amat berbeda dengan yang bertempat tinggal di desa-desa di mana pemikiran modern sudah masuk. Di daerah yang modern, mereka yang cenderung lari karena cinta, terjadi pula.
Pertama kali yang dilakukan oleh mereka yang mau menikah, adalah mencatatkan diri di Kantor Catatan Sipil. Kemudian mendapatkan surat nikah yang sah.
Tahap kedua adalah mengadakan pesta antar keluarga. Pada menjelang pesta bersama diselenggarakan, seorang Imam diundang untuk membacakan ayat-ayat suci Al Qur'an. Kemudian penyelenggaraan Akad Nikah-pun dilakukan sang lmam itu. Maka merekapun diberkati secara hukum Islam.
Pestapun kemudian dimulai. Mereka makan-makan, minum dan menari sesuka hati. Sekalipun demikian mereka sangat ketat dengan ajaran agamanya, sehingga jangan diharapkan tamu berbeda agama dapat menemukan minuman keras atau alkhohol, disamping tentunya dagig babi juga diharamkan sebagaimana lazimnya ummat Islam.
Dalam suku bangsa Kazakh, pada masa lampau; pernikahan dipengaruhi unsur asal-usul status sosial. Emas kawin (Maskawin) tidak dalam bentuk uang kontan, tapi dalam bentuk ternak. Biasanya kuda, domba. Jumlahnya berpuluh ekor sesuai dengan kekayaan pihak calon suami. Kadang pula sang mempelai lelaki memberikan hadiah tertentu kepada calon mertua.

Barter cewek


Kazakh di daerah yang miskin (maklum luasnya Negeri Tiongkok ; maka sukubangsa-sukubangsa ini hidup terpencar -Red), acapkali melakukan sistem "barter” gadis-gadis yang sudah dalam usia menikah. Misalnya keluarga-keluarga dari kelompok satu mau menikahkan anak prianya melamar tanpa 'Emas kawin' . Sebaliknya dari keluarga kelompok yang punya anak gadis tersebut, juga diberi keleluasaan untuk memilih gadis di kelompok yang pertama tanpa'Emas Kawin' pula untuk dinikahkan dengan jejaka di kelompoknya itu.
Kebiasaan demikian, menurut tulisan Kheir disebut "Chi Fu Wei Hun" yang berarti menutup pernikahan sambil menunjuk ke...perut. "Suatu praktek yang digunakan rakyat dengan tujuan mempererat persahabatan dan hubungan abadi antara keluarga-keluarga. "
Sama juga dengan keadaan di Indonesia, apabila seorang pria menaruh hati dan sudah seia-sekata dengan seorang wanita, maka ia lalu melaporkan kepada orang-tuanya. Kemudian peranan beralih ke comblang. Mak Comblang ini ke keluarga pria dan wanita versi-versa untuk monitor segala sesuatu tentang calon pengantin itu. Dari postur tubuh, wajah sampai sikap melayani tamu dan sebagainya; semua direkam dalam benak Mak Comblang ini.
Setelah ada persetujuan dua belah pihak, mereka memilih hari. Tiba saatnya mereka ke Kantor Catatan Sipil tertebih dahulu.Kemudian mempelai pria berkunjung ke pihak mempelai wanita. Setelah menyampaikan hadiah dan basa-basi ramah tamah; mempelai pria-pun menghilang di balik tirai sebelah kiri tenda (Sukubangsa tersebut umumnya hidup di tenda-tenda -Red). Sang mempelai pria dapat berbincang-bincang lama dengan mempelai wanita di tenda tersebut.
Suatu masakan khusus dari dada kambing yang memperlambangkan kasih abadi, dihidangkan kepada sepasang merpati itu. Mereka dibiarkan tetap berdua sampai larut Petang
Menjelang malam, tirai-tirai disingkirkan dari tenda dan sebuah lampu minyak dinyalakan serta digantungkan pada jalan masuk. Ini pertanda pesta nyanyi sudah akan dimulai. Gadis-gadis berkumpul dalam tenda bersama mempelai wanita, sedangkan para pemudanya berkumpul dengan mempelai pria.
Mereka lalu menyanyikan lagu-lagu asmara hingga bulan menghilang di balik puncak pegunungan Tiensan. Keesokan harinya, mempelai wanita bangun amat pagi. Ia mengenakan gaun warna-warni, warna menyolok dengan sehelai baju beludru hitam yang dihiasi ornamen-ornamen perak berkilauan. Mempelai wanita ini juga mengenakan cadar putih yang amat menerawang terbuat dari bulu-bulu burung nana mat halus. Sepasang kakinya mengenakan sepatu bot kulit warna hitam mengkilat.
Sang mempelai wanita mendatangi teman-temannya yang sudah menunggu di hamparan permadani di atas rerumputan hijau. Tidak berapa lama, mempelai pria muncul dengan menunggang kuda diiringi kawan-kawannya. mempelai pria mengenakan pakaian terbagus sambil berteriak-teriak memacu kudanya dengan gaya yang gagah.
Derap kuda semakin perlahan sehingga mereka sampai di kumpulan gadis-gadis dengan mempelai wanita itu. Dengan serta merta para gadis itupun mulai menyanyikan lagu pernikahan. Dan mempelai wanita pun mendapat giliran menyanyikan lagu perpisahan pada teman-temannya. “Masa gadis” akan berakhir pada malam berikutnya. ….
Kemudian mempelai pria dan wanita meninggalkan tempat tersebut dengan diiringi teman-teman di bagian belakang dan bagian belakang lagi para penghantar dari pihak keluarga mempelai wanita. Mereka menunggang kuda sampai ke kediaman mempelai pria. Mempelai wanita yang mengiringi dibelakang mempelai pria tersebut, kemudian didampingi kedua teman wanita untuk memasuki rumah calon suami.
Seorang pemuda mengenakan sehelai pita pada lengannya menyambut mempelai wanita. Kemudian menyanyikan lagu. "Membuka cadar yang menutupi wajah mempelai wanita". Sambil bernyanyi. Upacara membuka cadarpun berlangsung dengan tertib dan hikmat. Iapun menyanyikan lagu puli-puji kecantikan mempelai wanita dan kegagahan mempelai pria serta doa kebahagiaan bagi sang pengantin baru itu.
Mempelai wanita di samping bersujud kepada sepasang mertuanya, juga melempar sesendok mentega ke api unggun di sebelahnya. Apabila api unggun berkobar tinggi, suatu pertanda hidup mereka akan sukses dan bahagia. Sementara makanan dan minuman dihidangkan kepada para tamu. Dan aneka pertunjukan diadakan, dari tarik tambang sarnpai ketangkasan menunggang kuda.

Bersambung …