CHENG HOO DAN INDONESIA

Oleh : Prof. Dr. Kong Yuanzhi, Universitas Peking

Tahun 2005 ini adalah ulang tahun ke-600 keberangkatan pelayaran Cheng Hoo. Cheng Hoo (1371-1435) lahir di Propinsi Yunnan, Tiongkok barat daya. Beliau seorang muslim yang taat. Ayah dan kakeknya adalah haji.

Cheng Hoo telah berhasil tujuh kali memimpin rombongan melakukan pelayaran ke Asia Tenggara, Asia Selatan, Asia Tengah dan Afrika Timur sejak 1405 hingga 1433.

1. Cheng Hoo seorang bahariawan besar

Cheng Hoo berlayar ke Samudera Hindia dan Afrika Timur jauh lebih awal daripada bahariawan Eropa seperti Christopher Colombus (1451-1506), Vasco da Gama (1460-1524) dan Ferdinand Magellan (1480-1521).

Pelayaran pertama dilakukan oleh Cheng Hoo pada tahun 1405, dilakukan berturut-turut 7 kali selama 28 tahun lamanya.

Apa gerangan maksud Kaisar Ming (Zhu Di) mengutus Cheng Hoo untuk berlayar jauh?

 

Pertama, untuk melaksanakan kebijakan kerukunan dan persahabatan dengan negara-negara lain.

“Diusahakan agar segenap rakyat di kolong langit dapat menikmati kehidupan damai, “ kata Kaisar Ming (Zhu Di) yang mengutus Cheng Hoo sebagai utusan muhibah kepuluhan negara.

Kedua, mendorong perniagaan antara Tiongkok dengan negara lain.

Ternyata pelayaran Cheng Hoo, bukan bermaksud untuk ekspansi atau regresi, rombongan Cheng Hoo tidak pernah menduduki sejengkal tanahpun dari negara lain.

2. Cheng Hoo utusan muhibah dan perdamaian dari Tiongkok

Cheng Hoo melakukan pelayaran sudah 7 kali berkunjung ke kepulauan Indonesia antara lain semarang, Tuban, Gresik, Surabaya, Mojokerto dan lain-lain di Jawa, Samudera Pasai (Aceh), Aru, Lide, Lambri, Palembang, Bangka, Belitung di Sumatera.

Pelayaran Cheng Hoo telah memberi sumbangsih besar dalam mendorong maju hubungan Tiongkok-Indonesia pada abad ke 15.

  1. Kelenteng Sam Po Kong di Semarang (kelenteng yang tertua yang memperingati Cheng Hoo di dunia) yang dibangun selama 1450-1475.
  2. Kelenteng Ancol (Kelenteng Ronggeng) di Jakarta dimana terdapat makam juru masak Cheng Hoo dan istrinya Sitiwati, penari ronggeng.
  3. Kelenteng Welas Asih di Cirebon, dimana tampak gambar armada Cheng Hoo.
  4. Kelenteng Mbah Ratu di Surabaya, dimana terdapat miniatur armada Cheng Hoo.
  5. Masjid Muhammad Cheng Hoo, yang selesai dibangun pada tahun 2003, yang merupakan masjid pertama yang diberi nama Cheng Hoo di seluruh dunia.
  6. Kelenteng Batur, yang memperingati juru masak Cheng Hoo di gunung Kintamani (Bali)

Demi usaha perdamaian dan keselamatan kawasan-kawasan yang dikunjungi, Cheng Hoo antara lain telah berhasil membasmi perompak Chen Zhuyi (Tan Tjo Gi) dan konco-konconya di Palembang.

Menurut Ming Shi Lu (catatan sejarah Dinasti Ming), dalam pertempuran melawan serangan mendadak dari Chen, Cheng Hoo berhasil membasmi anak buah Chen lebih dari 5.000 orang, menghancurkan 10 kapal dan menawan 7 kapalnya. Akhirnya Chen Zhuyi digoring ke Tiongkok dan dihukum mati. Dengan demikian jalur laut sekitar Palembang menjadi lancar dan aman.

3. Cheng Hoo berhasil memajukan perniagaan antara Tiongkok dengan berbagai kawasan, termasuk kepulauan Indonesia

Dalam pertukaran cenderamata dan perdagangan, Tiongkok memperoleh dari kerajaan-kerajaan kepulauan Indonesia hasil bumi setempat, antara lain minyak tanah, kapuk, belerang, rempah-rempah (seperti cengkeh, merica, kepulaga).

Sedangkan kerajaan-kerajaan dari Indonesia mendapat dari Tiongkok antara lain sutera dewangga, kain, porselin, alat bercat, alat emas dan perak, alat besi, alat pertanian, kertas, teh, obat-obatan dan berbagai hasil kerajinan tangan lainnya.

“Reputasi Laksamana Cheng Hoo dalam bidang perdagangan yang selalu menekankan kejujuran dan saling menghormati sangat membekas di kalangan penduduk di negeri-negeri yang pernah dikunjunginya”.

Dalam perniagaan Tiongkok-Indonesia, porselin dapat dijadikan contoh yang menarik, di museum Jakarta telah banyak dipamerkan tembikar China (khasnya alat porselin Dinasti Ming) seperti piring, mangkok, cangkir, teko dan lain-lain.

Menurut catatan Ma Huan pada tahun 1451, “ Orang Jawa paling menyenangi barang-barang Tiongkok dari porselin putih yang berkembang biru, jebat, kain sutera yang berbenang emas, vermilyun dan sebagainya. Dan peningkatan mutu porselin Tiongkok yang bagus itu tidak terpisahkan dari bahan porselin yang bernama “ Bo Qing”d an “ Su Ni” yang masing-masing dibeli dan dibawa ke Tiongkok oleh Cheng Hoo dari  pulau Kalimantan dan Sumatera.

4. Cheng Hoo turut menyebarkan agama Islam di kepulauan Indonesia

Penyebaran agama Islam di Indonesia dan tanah kepulauan Melayu oleh Cheng Hoo dibenarkan oleh Buya Hamka dengan kata-kata sebagai berikut :

“Suatu nama Muslim dari China yang amat erat sangkut pautnya dengan kemajuan Islam di Indonesia dan tanah Melayu adalah Laksamana Cheng Hoo.”

Selain itu menurut H. Max Mulyadi Supangkat, “pelayaran-pelayaran Cheng Hoo merupakan suatu  halaman cemerlang di sepanjang sejarah bahari dunia. Cheng Hoo bukan saja suatu kebanggaan bangsa Tiongkok, tetapi juga suatu kebanggaan dan suri teladan bagi umat Islam dari berbagai bangsa di dunia.”

Buku Xiao Fang Hu Zai Yu Di Cong  Chao (Catatan Ilmu Bumi) yang diedit oleh Wang Xiqi (1897) mencatat : Diantara pulau-pulau nusantara, Jawalah yang paling makmur. Penduduk pribumi di situ kehitam-hitaman warna kulitnya. Mereka tadinya menganut agama Budha dari Hindu. Pada tahun ke 3 (1405) seorang Muslim Tiongkok berkunjung kesitu dengan membawa banyak anak kapalnya, beliau berusaha agar pribumi Jawa beralih dari agama Budha ke agama Islam, yang disebut seorang muslim Tiongkok itu adalah Cheng Hoo.

5. Meningkatkan pertukaran kebudayaan Tiongkok-Indonesia

Dikutip dari Tempo, 14 September 1985; salah satu hasil penting dari seluruh perjalanan Cheng Hoo adalah 24 peta navigasi, yang dicetak dengan nama Zheng He’s Navigation Map. Pokok-pokok mengenai arah pelayaran, jarak di lautan, berbagai bandar dan beting-beting, semua dijelaskan secara rinci. Peta ini mengenai geografi lautan buatan China yang pertama yang akurasinya tidak kalah dibanding pata-peta buatan alat canggih dimasa kini.

Yang lebih menarik lagi adalah Ma Huan membandingkan wayang beber Jawa dengan pertunjukan Ping Hua (sejenis pertunjukan) di Tiongkok, dan Ma Huan memperkenalkan  wayang ini dalam bukunya “ Ying Ya Sheng Lan” (artinya Pemandangan Indah di Seberang Samudera). Ma Huan berpendapat bahwa wayang beber sangat bagus, si dalang mampu membawakan kisahnya dengan sangat baik sehingga penontonpun benar-benar terhanyut dalam alur ceritanya. Beberapa saa mereka tertawa geli, sesaat kemudian mereka menangis harus melihat kisah tokoh-tokoh dalam wayang tersebut.

Amat tepatlah yang diuraikan oleh Bapak Sunaryo, wakil Kepala Perwakilan Republik Indonesia untuk Rakyat Tiongkok : “ Hasil studi mengenai Cheng Hoo bukan hanya akan memajukan pelaksanaan kebijakan China kini, yaitu reformasi dan pembukaan pintu ke dunia luar, barangkali juga akan memberikan contoh disepanjang sejarah bahwa China yang berwilayah luas, berpenduduk banyak dan sedang membangun negerinya menjadi kuat itu takkan menjadi ancaman bagi negara-negara  lain.”

Dari fakta-fakta diatas, ternyata rakyat Indonesia menghargai Cheng Hoo dan membenci penjajah.

Berhubung tahun 2005 ini bertepatan dengan peringatan ke 600 pelayaran Cheng Hoo, perayaan tersebut dilakukan besar-besaran baik di Tiongkok maupun di luar Tiongkok.

Yang patut dicatat ialah, di Semarang pada awal Agustus lalu telah diselenggarakan perayaan yang luar biasa ramainya. Banyak tamu dari berbagai negara diundang menyemarakkan perayaan itu. Baik gaya arsitektur kelentengnya, maupun atraksi perayaan di Semarang telah memperlihatkan betapa Indonesia menghargai dan mengutamakan multikultur. Pasti akan lebih berbobot dan berwarna warnilah kebudayaan Indonesia yang terdiri dari berbagai kultur suku dan etnik di Nusantara.
Sumber : Komunitas, Edisi Khusus Lebaran 2005