PERANAN  PITI DALAM MEMBINA KESATUAN BANGSA*

Oleh: Rektor UGM 2002 -2007

Salah satu ciri utama bangsa Indonesia yang sering menjadi pokok pembahasan dalam berbagai tulisan dan pada berbagai forum akademik adalah kemajemukan etnis. Perhatian yang besar tersebut dapat dipahami karena penduduk yang berdiam di wilayah kepulauan yang tersebar disepanjang khatulistiwa tersebut memang memiliki etnis, ragam budaya serta agama yang amat beragam. Karena itu pula pembinaan kesatuan  bangsa akan selalu menjadi masalah nasional yang amat penting bagi bangsa Indonesia, karenanya  keanekaragaman dalam latar belakang  etnis, budaya, serta agama tersebut perlu dipupuk dan dipelihara agar tumbuh subur menjadi pohon yang berakar kuat yang kita namakan bangsa Indonesia.

 

Golongan etbnis Tionghoa merupakan unsur yang penting dari pohon bangsa tersebut. Walaupun secara kuantitatif masyarakat Tionghoa di Indonesia adalah minoritas karena jumlahnya hanya sekitar 7,2 juta orang atau 3 persen dari total penduduk, tetapi golongan Tionghoa, dalam pandangan sosiolog senior Mely G. Tan adalah golongan etnis yang berarti. (Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 1979). Keberartian etnis Tionghoa menjadi besar karena golongan ini menguasai ekonomi Indonesia, dan melalui kekuasaan ekonominya mampu memainkan peranan social politik yang semakin besar dalam Indonesia yang multi etnis.

Namun, kekuasaan ekonomi dan sosial politik yang besar tersebut sering kali menempatkan kelompok etnis dalam posisi rumit karena menjadi sumber kecemburuan dari kelompok etnis lain, terutama dari golongan pribumi yang memandang diri mereka adalah penduduk asli Indonesia. Kecemburuan social tersebut akan bertambah besar dan dapat berkembang menjadi konflik antar etnis apabila tidak dilakukan upaya-upaya untuk membina kesatuan bangsa.

Dalam suatu bangsa yang memiliki karekter multi etnis, integrasi social menuju kesatuan bangsa akan terbangun dengan baik apabila antar golongan etnis terdapat “sentuhan-sentuhan” ekonomi, social, dan budaya. Integrasi social yang kokoh akan lebih mudah terbangun kalau terdapat kesamaan cirri ekonomis, cirri social dan cirri budaya antar golongan-golongan etnis yang tinggal pada suatu lingkungan geografis. Itulah salah satu sebab mengapa jarang terjadi konflik antara golongan pribumi dan golongan etnis Tionghoa di Tangerang, Jawa Barat, Kepulauan Banga Belitung, dan Kalimantan Barat. Konflik antar etnis juga jarang terjadi di daerah yang kesenjangan sosialnya tidak terlalu lebar. Integrasi social juga dapat terbangun dengan kuat antara golongan pribumi dan golongan etnis Tionghoa apabila tidak ada jurang cultural, yang dimanifestasikan oleh kesamaan agama, antara kedua kelompok tersebut.

PITI jelas telah memainkan peranan yang amat penting dalam upaya membangun jembatan integrasi social melalui jalur agama. Kalau kita tanyakan kepada para aktivis dan anggota apa manfaat paling utama yang diperoleh dari organisasi tersebut, selain alasan keimanan, alasan yang paling mengemuka adalah perasaan diterima secara tulus sebagai warga banga Indonesia.

Buku kecil berjudul “ Integrasi Sosial Musilm Tionghoa : Studi atas partisipasi PITI DIY dalam  Gerakan Perbauran” karya sosiolog mudah  Fahmi Rafika Perdana awalnya adalah sebuah skripsi yang diajukannya untuk mendapatkan gelar Sarjana Sosial dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada. Melalui penelitian tersebut, Fahmi telah membuktikan secara empiris bahwa agama Islam telah mampu menumpahkan pembauran etnis yang lebih mantap antara pribumi dan golongan etnis Tionghoa. Penelitiannya juga menunjukkan bahwa PITI DIY sebagai wadah organisasi warga golongan etnis Tionghoa yang memeluk agama Islam telah memainkan peranan yang sangat penting dalam pembinaan kesatuan bangsa.

Saya menyambut gembira terbitnya buku ini dan menganjurkan kepada setiap warga bangsa membacanya untuk menghayati salah satu masalah besar yang dihadapi oleh bangsa Indonesia yaitu mendorong integrasi social dengan berbagai cara untuk membina kesatuan bangsa.

 

*Fahmi Rafika Perdana “ Integrasi Sosial Muslim Tionghoa. Studi atas Partisipasi PITI DIY dalam Gerakan Pembauran, cetakan I, 2008, CV. Datamedia, Yogyakarta.