CHENG HO MENEMBUS SEKAT AGAMA

Ketokohan  Laksamana Cheng Hoo telah melampaui batas-batas agama. Hal itu terlihat dari para pengunjung yang datang ke petilasan Cheng Hoo di Kelenteng Sam Po Kong, yang tidak hanya berasal dari satu etnis atau agama tertentu. Tidak hanya umat Tridharma (Tao, Budha, Konghucu) yang beribadat di kelenteng terbesar di Semarang tersebut, tetapi banyak pula umat Islam yang berziarah ke peningalan tokoh muslim itu.

Demikian disampaikan Rektor IAIN Walisongo Prof. Dr. H. Abdul Djamil MA, terkait dengan ketokohan Laksamana Cheng Hoo. Kamis (2/6), Djamil baru saja menjadi pembicara  diskusi “ Menyambut 6-00 tahun Pendaratan Laksanaman Cheng Hoo” di Hotel Graha Santika. Selain beliau, diskusi yang digelar Kompas Jateng itu menghadirkan Gubernur H. Mardiyanto, pemerhati budaya Tionghoa R. Soenarto dan Ketua Umum Panitia Peringatan 600 Tahun Cheng Hoo Sindu Dharmali.

Satu-satunya peninggalan bercorak Islam adalah makam Kyai Jurumudi, orang kedua Cheng Hoo. Tapi justru karena itu, ketokohan dia telah menjadi milik publik yang tak lagi dibatasi sekat agama, “ kata Djamil.

 

Menurutnya, jejak-jejak ke Islaman Laksamana Cheng Hoo tak terlampau terlihat jelas pada peninggalannya di Kelenteng Sam Po Kong. Yang lebih dominan, adalah corak budaya Tionghoa yang menjadi latar belakang kultural Laksamana dari Dinasti Ming itu.

Djamil menambahkan,dalam catatan sejarah, ekspedisi yang dipimpin Cheng Hoo juga tidak hanya diawaki kaum muslimin. Muhibah itu membawa serta awak kapal dari berbagai agama, mulai Tao, Konghucu, hingga Budha. “ Yang penting, tidak ada upaya mengaburkan sejarah bahwa Cheng Hoo sejatinya seorang Muslim. “ Di sisi lain, R. Soenarto lebih banyak berbicara tentang riwayat hidup Cheng Hoo, sejak lahir, kedatangannya di Semarang, hingga Kelenteng Gedung Batu berdiri. Cheng Hoo atau Sam Po lahir sebagai muslim di Kun Yang, Propinsi Yunnan, pada 1371. Dia adalah utusan Kaisar Tiongkok masa Dinasti Ming, yakni Kaisar Zhu Di dan Zhu Zhanji yang hidup pada abad ke 15. Cheng Hoo ditugaskan melakukan misi muhibah ke negeri negeri seberang lautan. Selain untuk meragakan kekuatan armada militer Tiongkok, juga menjalin persahabatan.

Kepada wartawan, seusai diskusi, Gubernur Mardiyanto menegaskan, Jateng siap menyambut 600 tahun Pendaratan Cheng Hoo di Semarang. Cheng Hoo adalah seorang muslim yang sholeh, sangat toleran kepada semua agama, dan menghormati semua nabi. Cheng Hoo adalah ahli pelayaran, ahli management, ahli politik, biarpun Cheng Hoo bawa banyak psaukan, meriam dan alat perang, dan lain-lain, tapi dia tidak pernah menjajah daerah yang disinggahi, tetapi apabila daerah yang dikunjungi mendapat masalah, ia selalu membantu menyelesaikan masalah.
Cheng Hoo adalah seorang muslim, dia sangat dihargai oelh Raja. Raja selalu mengajak Cheng Hoo kemanapun raja pergi termasuk saat raja ibadah ke kelenteng Budha, dan lain lain selalu dengan Cheng Hoo, maka Cheng Hoo sangat paham dengan ajaran Budha.

Pada suatu hari Cheng Hoo ditugasi untuk kunjungan ke kuil, dia pernah menulis sumbangan kata-kata yang ditulis dengan sutra, maka oleh Ketua kuil dberi julukan kehormatan “fu shan”, dan oleh rakyat Ming dia diberi julukan lagi FO FA ZENG (Julukan setingkat nabi) dan ia mendapat julukan lagi  menjadi “Sanbao Da Ren” oleh rakyat. Karena jaman dahulu penganut Budha sangat banyak, maka ketika di Fujian pelabuhan kota (ketia mempersiapkan  berangkat berlabuh) disana terdapat banyak orang Budha. Maka itu ketiak Cheng Hoo akan berangkat berlayar, sanak familinya menangis dan tidak mengijinkan Cheng Hoo berlayar bila Ma Zu tidak naik kapal. Cheng Hoo sebagai muslim yang toleran dia mengijinkan Ma Zu naik kapa l demi kelancaran tugasnya. Sanak saudaranya minta Cheng Hoo pimpin sembahyangan. Sekali lagi demi kelancaran tugasnya Cheng Hoo mau pimpin sembayangan.

Di Semarang banyak orang Budha yang sakit, dan Cheng Hoo mengajari mereka berpuasa, dan saat Maghrib mereka boleh makan, orang-orang Budhapun bertanya mengapa kok boleh makan saat maghrib, maka Cheng Hoo pun menjelaskan tata cara puasa dan manfaatnya.

Cheng Hoo adalah seorang muslim yang taat dan toleransi terhadap agamanya. Seperti Firman Allah dalam Al Quran surah Al-Kafirun (109) ayat 4,5 dan 6; “Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kami sembah. Bagimu agamamu, dan untukku agamaku”
Apa yang dapat kita simpulkan dan diambil hikmah sebagai contoh tauladan untuk kita semua adalah:

  • Cheng Hoo adalah Duta Perdamaian
  • Cheng Hoo adalah Ahli Politik dan Dagang
  • Cheng Hoo Ahli dalam Management
  • Cheng Hoo Adli dalam Pelayaran

Oleh sebab itu patut dihormati oleh segala bangsa, budaya, agama di seluruh dunia.

Selain Cheng Hoo dimiliki oleh agama Islam, dia juga dimiliki dan dihormati oleh seluruh bangsa.

Sumber : Komunitas, Edisi Khusus Lebaran 2005