DAKWAH ISLAM DI KALANGAN ETNIS TIONGHOA UNTUK MENGOKOHKAH INTEGRASI BANGSA*)

DPD PITI 

Oleh : H. Budi Setyagraha
(Ketua Umum PITI Wilayah DIY)

A. PENDAHULUAN

Sudah beratus tahun kami orang-orang keturunan Tionghoa berdomisili di Indonesia. Sebagian besar dari kami lahir dan dibesarkan di Indonesia. Bagi kami yang berumur 60 tahun ke bawah boleh dikatakan hampir semuanya lahir dan dibesarkan di Indonesia. Walaupun dari kami dilahirkan dan dibesarkan di Indonesia, namun kami  merasa belum memperoleh hak-hak yang sama  sebagaimana yang dicantumkan dalam Undang-undang Dasar 1945 pasal 27. Sementara di kalangan penduduk yang bukan etnis Tionghoa masih ada kesan bahwa kami kurang memiliki patriotik terhadap bangsa dan negara.

Secara kuantitatif, golongan keturunan asing yang paling banyak jumlahnya sampai sekarang adalah golongan kami. Kami telah menyebar dari negeri asal Tiongkok ke kawasan Asia Tenggara, khususnya ke bumi Indonesia sejak abad ke enam belas hingga sekarang. Sebagaimana diketahui, kehadiran kami sejak mula pertama dipandang telah menimbulkan berbagai masalah; antara lain tentang identitas kami sebagai imigran dari luar kelompok etnis Indonesia dan wilayah Indonesia. Keadaan ini berlangsung hingga Indonesia merdeka, bahkan hingga era reformasi sekarang ini.

Memang dalam kenyataan sehari-hari kami telah bergaul secara luas dan intensif dengan suku bangsa Indonesia, baik di sekolah/ kampus, tempat ibadah dan tempat kami bekerja. Akan tetapi hal ini barulah sebatas pada tingkat penyesuaian perorangan dan belum sampai terjadi proses integrasi. Meskipun kami sudah berabad-abad hidup di Indonesia, kami dipandang belum mampu mengintegrasikan kehidupan kami dengan cara atau kebudayaan Indonesia, sehingga masih tampak adanya garis pemisah dalam bentuk kehidupan kami dengan warga negara yang lain.

B. Masuk Agama Islam Sebagai Alternatif Terbaik Kami

Secara historis, Tionghoa muslim di Indonesia (khususnya di Jawa) sesunguhnya bukan merupakan fenomena baru. Bahkan menurut Dr. Onghokham, istilah "peranakan" pada awalnya berati "Tionghoa yang menjadi Islam". Belakangan barulah berubah arti yakni, kami yang "lahir di sini" untuk membedakannya dengan "singkek” atau “totok", yakni pendatang baru.

Kesultanan Demak Bintoro menurut Prof. Slamet Mulyana, didirikan oleh sebut saja Djien Soen (Adipati Yunus/Pati Unus), Toeng Kha Lo (Sultan Trenggana), Moek Ming (Sunan Prawoto). Mereka ini segenerasi dengan Laksamana Sam Po Khong alias Tjeng Hoo, yang terdampar dan mendirikan sebuah masjid di Semarang.

Tentang kedekatan Tionghoa dengan Islam sudah nampak zaman Nabi Muhammad SAW masih hidup. Beliau pernah mengajari umatnya agar belajarlah semaksimaI mungkin walau sampai ke negeri Cina (“uthlubul ‘ilmaa walau bish-shiin”). Sementara di daratan Cina sendiri kaum muslim diperkirakan antara 50 sampai 100 juta orang.

Dalam sejarahnya, etnis Tionghoa yang masuk agama Islam pada mulanya lebih merupakan suatu proses asimilasi, kemudian mendapatkan penafsiran baru sebagai pembauran dan terakhir benar-benar karena dorongan iman. Karena sesama muslim adalah bersaudara, maka dengan etnis Tionghoa masuk agama mayoritas (Islam) diharapkan jurang pemisah/sekat-sekat yang ada antara pri dan nonpri (khususnya etnis Tionghoa) akan semakin memudar atau hilang sama sekali.

Dari dimensi ilmiah masuknya kami ke dalam agama Islam akan mengurangi terjadinya perasaan berbeda antara kami dengan kelompok non-Tionghoa yang kebetulan mayoritas beragama Islam. Kesamaan dalam agama akan merupakan pengikat yang sangat kuat antara kami dengan masyarakat di sekitar kami. Dengan adanya kesamaan ini akan mendekatkan orang yang satu dengan yang lain. Kesamaan dalam iman adalah kesamaan yang paling dalam yang akan merupakan pengikat yang sangat kuat, karena dimensi iman adalah sangat dalam tidak hanya di dunia saja, tetapi juga di akherat. Adanya kesamaan pegangan norma otomatis akan melahirkan integrasi yang lebih baik.

Dari segi lainnya, adanya kesamaan agama akan mempermudah terjadinya kontak-kontak interpersonal dalam bentuk yang diwarnai oleh rasa senang. Kontak yang terjadi tidak semata-mata bersifat dangkal seperti kontrak bisnis dan sejenisnya, tetapi juga sudah memiliki sifat intens karena adanya kesamaan yang mendalam daIam haI agama. Perjumpaan berulangkali di masjid, pengajian dan di upacara-upacara keagamaan antara kelompok mayoritas yang beragama Islam dengan kami yang dianggap minoritas akan menghilangkan sedikit demi sedikit prasangka sosial yang mungkin dimiliki oleh masing-masing kelompok.

Suatu hal lain yang dapat disumbangkan Islam untuk kelancaran proses pembauran kami ialah Islam akan mengurangi (atau mungkin juga menghilangkan) status minonitas yang dimiliki oleh kami. Hal ini akan mengurangi terjadinya “stereotip” negatif terhadap kami. Teori “illusory correlation” yang dikemukakan oleh David L. Hamilton (1976) menekankan bahwa adanya keminoritasan pada kelompok luar akan membuat orang dari kelompok dalam mudah keliru melihat perilaku yang ada pada kelompok luar. Kekeliruan tersebut terjadi karena adanya asosiasi antara dua hal yang sama-sama minoritas, yaitu kami yang minoritas dan perilaku negatif.
Ditinjau dari dimensi agama, tentu saja Islam adalah cara untuk menghapuskan segala macam bentuk perbedaan kelompok dan perlakuan diskriminatif lainnya. Dikatakan dalam Al-Qur'an Surat Al-Hujurat, ayat 13:

Hai manusia,sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-Iaki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya oranq-orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Untuk melengkapi pemahaman kita tentang agama Islam yang sangat mencela kepada mereka yang berprasangka jelek kepada orang lain, apakah itu terhadap orang-orang dari kelompoknya sendiri ataupun terhadap kelompok-kelompok lain, marilah kita lihat firman AIlah :
Hai orang-orang yang beriman, jauhkanlah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain  dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang Iain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang telah mati ? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya, Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha  Penyayang (QS Al Hujurat : 12).

Dari kedua ayat di atas, dapatlah ditemui terapi untuk menghilangkan hal-hal yang merupakan sumber masalah yang menghambat proses pembauran, yaitu dengan masuk agama Islam.

C. Dakwah di Kalangan Etnis Tionghoa

1. Beberapa Kendala Etnis Tionghoa untuk Ber-Islam

Untuk ber-Islam secara baik, ada beberapa masalah yang dihadapi oleh orang-orang Tionghoa, baik berbagai faktor yang sifatnya intern dari orang-orang Tionghoa sendiri maupun faktor ekstern di luar ke-Tionghoa-an orang Tionghoa. Adapun faktor-faktor intern itu antara lain:

a. Kendala Psikologis

Orang Tionghoa jika masuk agama Islam mengalami ketidakseimbangan/kegoncangan psikologis. Banyak haI yang biasanya, dikerjakan dan sudah membudaya, setelah ber-Islam tidak boleh dikerjakan lagi.  Sebagai contoh misalnya, orang Tionghoa ketika ziarah kubur bertujuan hendak meminta sesuatu kepada para leluhur, tetapi dalam Islam justru akan memberikan sesuatu kepada leluhur, yaitu mendoakan mereka yang sudah meninggal agar diampuni dosa dan kesalahannya dan dihindarkan dari siksa api neraka.

b. Kendala Sosiologis

Kendala sosiologis datang dari masyarakat Tionghoa sendiri maupun masyarakat Indonesia pada umumnya. Mayoritas orang Tionghoa yang tidak senang dengan agama Islam cenderung mengasingkan orang Tionghoa yang beragama Islam, termasuk yang masih keluarga. Dan segala pertemuan Tionghoa selalu menghidangkan makanan yang mengandung babi. Ini artinya, Islam Tionghoa akan segan untuk menghadiri perjamuan yang diadakan. Dengan demikian, sangat terasa hubungan famili dan kekeluargaan dirasakan semakin merenggang  dengan anggota keluarga lain yang tidak seagama.

Orang Islam kebanyakan akan sangat senang kalau ada orang Tionghoa yang masuk agama Islam, tetapi mereka sangat sulit untuk menghilangkan prasangka jelek dengan orang Tionghoa. Hal ini sesuai dengan teori  "iIlusory correlation" yeng dikemukakan oleh David L. Hamilton (1976) yang menekankan bahwa adanya keminoritasan pada kelompok luar ( etnis Tionghoa ) akan membuat orang dari kelompok dalam (etnis mayoritas) mudah keliru melihat periIaku yanq ada pada kelompok luar.

c. Kendala Fisik

Apabila orang Tionghoa masuk agama Islam niscaya akan dibebani dengan aturan-aturan yang sulit untuk  dikerjakan oleh mereka. Misalnya  tidak boleh makan babi yang sangat disukai, harus disunat yang digambarkan sangat sakit (apalagi kalau haI itu dikerjakan setelah mereka dewasa), harus shalat lima kali sehari yang cukup merepotkan, puasa yang berat, apalagi kalau mereka sedang berpuasa digoda oleh orang-orang Tionghoa/keluarga lainnya yang tidak beragama lslam dengan makan-makan di hadapannya, sehingga puasa itu dirasskan lebih berat lagi. Orang Tionghoa sulit meyakini bahwa uang zakat tidak sebagai uang yang hilang begitu saja.

d. Kendala Ekonomis

Stereotip etnis Tionghoa sebagai kelompok yang kaya raya dan "business animal " ini akan semakin merugikan etnis Tionghoa karena adanya persepsi di kalangan kelompok mayoritsa bahwa kesempatan untuk menjadi  "business animal" ini dipupuk dan dibina sejak masa penjajah Belanda yang memanfaatkan minoritas etnis Tionghoa dalam perdagangan dan monopoli. Kebencian kepada Belanda sebagai negara bekas penjajah akan ikut mewarnai perasaan terhadap etnis Tionghoa, sehingga timbul anggapan bahwa perlakuan yang diskriminatif terhadap etnis Tionghoa adalah balas dendam terhadap pengistimewaan yang dilakukan Belanda terhadap etnis Tionghoa di masa penjajahan.

Sedangkan kendala dari faktor eksternal, karena sebagai minoritas, akan senantiasa dipandang tetap eksklusif dan isolatif. Menurut Simpson and Singer sebagaimana dikutip Djamaludin Ancok, ciri-ciri kelompok minoritas sebagai berikut :

  1. Kelompok minoritas adalah bagian ("subordinate") dari suatu masyarakat/negara yang Iebih Iuas dan sangat kompleks
  2. Kelompok minoritas memiliki ciri-ciri fisik maupun kebudayaan yang dianggap sebagai ciri yang melemahkan anggapan terhadap diri sendiri ( "self-esteem")
  3. Kelompok minoritas adalah kelompok yang memiIiki kesadaran kelompok yang tinggi. Kesadaran ini tumbuh karena masing-masing anggota memiliki ciri khusus yang sama, baik ciri-ciri yang menguntungkan maupun yang merugikan
  4. Keanggotaan dalam kelompok minoritas merupakan sesuatu yang diturunkan melalui garis keturunan yang dapat mengikat generasi selanjutnya walaupun tidak ada lagi ciri-ciri fisik ataupun budaya yang menonjol
  5. Anggota kelompok minoritas, baik karena pilihan sendiri atau karena kebutuhan, berkecenderungan untuk kawin dengan orang dari keIompok sendiri

Kalau dilihat ciri-ciri minoritas di atas dan kemudian dibandingkan dengan etnis Tionghoa di Indonesia, hampir semua ciri-ciri di atas sesuai dengan ciri etnis Tionghoa sebagai kelompok minoritas menurut pandangan pihak ekstern. Ciri-ciri khas di atas akan membuat orang-orang dari kelompok minoritas menjadi mudah dibedakan dengan orang kelompok mayoritas, yang dalam hal ini antara etnis Tionghoa dengan penduduk asli yang bukan Tionghoa.

2. PITI sebagai Organisasi Dakwah

PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) adalah organisasi dakwah yang mengarahkan pandangannya kepada masyarakat Tionghoa, berdiri di Jakarta  tahun 1963 yang merupakan fusi antara PMT (Persatuan Muslim Tionghoa) dan PIT (Persatuan Islam Tionghoa). PITI dibantu dan didukung perkembangannya oleh umat Islam dari segenap komponen masyarakat Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari kepengurusannya, baik di tingkat pusat maupun daerah.

PITI bersifat independen dan  tidak berafiliasi kepada kelompok politik manapun. Berdasarkan anggaran dasarnya, PITI berasaskan pancasila dan bertujuan :

  1. Membina terwujudnya manusia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT
  2. Membina persatuan  dan kesatuan bangsa Indonesia.
  3. Membina kesejahteraan dan kebahagiaan hidup lahir batin yang diridhoi Allah SWT

Untuk mencapai tujuan itu, dilaksanakanlah usaha-usaha berikut ini :

  1. Memperluas Islam kepada setiap WNI ( khususnya dari keturunan etnis Tionghoa) yang secara sukarela ingin masuk Islam.
  2. Memperdalam pengertian tentang agama Islam kepada anggota
  3. Memberikan didikan, pengajaran tentang persoalan-persoalan agama Islam sesuai dengan urgensinya
  4. Membimbing anggota dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban daIam berisIam
  5. Menyelenggarakan tabligh-tabIigh, pengajian-pengajian, kursus-kursus, pertemuan-pertemuan dan kunjungan-kunjungan keluarga
  6. Membantu Pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan mental spiritual
  7. Mengadakan kerjasama dengan organisasi dakwah lain dalam rangka pelaksanaan dakwah dan pendidikan
  8. Menyelenggarakan atau membantu usaha-usaha bagi kesejahteraan umum seperti Balai-balai pengobatan, Rumah sakit  dan usaha-usaha lain yang dapat membantu anggota pada khususnya dan masyarakat luas pada umumnya.

D. Kesimpulan dan Saran

  1. Orang-orang Tionghoa sudah sejak lama dipengaruhi oleh suasana alam pikiran orang Tionghoa di Tiongkok. Oleh karena itu, dakwah kepada mereka juga harus mendasarkan diri pada alam pikiran yang berkembang itu.
  2. Karena ke-Tionghoa-annya itu, mereka dalam memahami dan mengamalkan hukum Islam mengalami beberapa kesulitan baik secara psikologis, sosiologis, ekonomis dan fisik. Hal ini lebih disebabkan karena pengetahuan mereka tentang Islam lebih banyak diterima dari musuh Islam, bukan dari orang Islam sendiri.
  3. Hubungan yang baik antara orang-orang Islam di luar Tionghoa dengan etnis Islam Tionghoa maupun Tionghoa yang belum Islam perlu ditingkatkan dengan cara menghilangkan kesan-kesan negatif ( "stereotip”) tentang mereka. Dalam hal ini umat Islam dari mana saja demi kepentingan dakwah kepada etnis Tionghoa hendaklah berbuat baik terlebih dahulu untuk menghilangkan kesan-kesan negatif itu. Segala  penilaian tentang etnis Tionghoa hendaklah dari kacamata dakwah Islamiah, sehingga akan memberikan hasil yang maksimal.
  4. Apabila sementara ini dakwah Islam  lebih menekankan masalah-masalah fiqiyyah dan syari'ah,  maka dakwah di kalangan etnis Tionghoa lebih tepat dimulai dari masalah akhlaq mahmudah yang sangat dekat dengan ajaran Kong Hu cu tentang moral yang tinggi.  Setelah  itu barulah ilmu-ilmu yang lain

*)Makalah ini disampaikan pada acara Seminar Nasional yang diadakan oleh Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bekerjasama dengan PITI DIY, tanggal 12 September 2000 di Yogyakarta

DAFTAR PUSTAKA:

  1. Abdul Baqir Zein; Etnis Cina dalam Potret Pembauran di Indonesia; Prestasi Insan Indonesia, Jakarta. 2000
  2. Al-Qur’an dan Terjemahannya; Departemen Agama Republik Indonesia; 1999.
  3. Djamaludin Ancok; Penerimaan Sosial terhadap Orang Tionghoa sebagai Akibat Nama yang dipakai; Jurnal Psikologi, Nomor 1, Agustus 1985.
  4. Koentjaraningrat; Masalah Kesukubangsaan dan Integrasi Nasional ; UI Press, Jakarta, 1993.
  5. Ma’ruf Siregar, Beberapa Kesulitan Orang Tionghoa Islam, Skripsi di Fakultas Syar’ah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 1972.
  6. Maya Taurina, Peranan PITI DIY dalam Pengendalian Konflik Sosial Budaya di Kotamadya Yogyakarta Kurun Waktu 1996-1998, Skripsi di Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 2000.
  7. M. Bambang Pranowo, dkk ; Stereotip Etnik, Asimilasi, Integrasi Sosial ; Pustaka Grafika Kita, Jakarta, 1988.
  8. Onghokham; Masyarakat Peranakan di Indonesia (Jawa); Makalah yang disampaikan pada Seminar Nasional dan Pembauran Nasional yang diselenggarakan oleh Litbang UMY, 7 Mei 1986.
  9. Yunus Yahya; Catatan Seorang WNI, Kenangan, Renungan dan Harapan, Yayasan Tunas Bangsa, Jakarta, 1988.
  10. _________; Muslim Tionghoa; Yayasan Ukhuwah Islamiyah, Jakarta, 1985.