Cetak 

AMIEN RAIS, WARGA TIONGHOA DAN KERUSUHAN

Oleh Eki Syachrudin

Diundangnya Amien Rais oleh Dewan Gereja Amerika untuk berbicara di depan Konggres mereka mengingatkan saya kepada seorang sahabat. Sahabat saya yang keturunan Tionghoa ini berkunjung ke rumah saya tiga bulan yang lalu. Selain sahabat saya, ia juga sahabat Pak Nur, mantan Gubernur jawa Timur yang kharismatik itu.

Sahabat saya ini sebut saja Pak Hartono punya adik bernama Handoyo. Melalui sang adik inilah persahabatan saya dengan Hartono bermula; dan kemudian berkembang menjadi persahabatan saya dengan banyak warga Tionghoa lainnya di Surabaya, Malang, Banyuwangi, bahkan terus merentang ke ujung timur di kota-kota Pulau Sumbawa dan di sebelah barat sampai di Solo dan Bandung.

Dalam pertemuan tiga bulan yang lalu itu, sahabat saya menceritakan bahwa ia dan teman-teman Tionghoanya mendukung pak Amien Rais. Dengan terheran-heran saya bertanya, sejak kapan ia berorientasi politik, apalagi politik yang belum tentu sejalan dengan pemerintah.

“Biasanya teman-teman anda hanya memikirkan dan mengelola uang saja; dan kalaupun berpolitik pastilah politik yang mendukung pemerintah? “tanya saya keheranan. Sebenarnya keheranan saya bukan dalam soal itu saja. Tapi juga karena si Hartono ini pun menjelaskan niatnya untuk “mengalihkan” dukungan dan doa mereka kepada  Amien Rais.

Suatu dukungan dan doa yang disebutnya selama ini secara loyal diberikan kepada Gus Dur.

Mendengar hal yang terakhir ini pun saya menjadi terheran-heran. Ketika saya menanyakan alasan-alasannya, ia menjelaskan bahwa situasi eksternal menyebabkan terjadinya perubahan kejiwaan ia dan kawan-kawannya secara internal. Soal eksternal yang ia sebut-sebut adalah soal pembakaran toko-toko dan tempat-tempat ibadah keturunan Tionghoa oleh massa, yang ia anggap adalah massa Islam.

“ Kalau betul mereka itu massa Islam, mengapa anda mendukung Amien Rais, yang ini ada “keterkaitan” yaitu sebagai sesama kaum pedagang. Alasan kedua bagi Hartono, massa Islam yang bergerak itu adalah massa Nahdatul Ulama (NU), sebab katanya di Jawa Timur bahkan seorang pemimpin Islam? “ tanya saya.
Ada dua alasan, katanya. Pertama karena massa atau warga Muhammadiyah tak turut dalam pembakaran dan penjarahan tokok-toko mereka. Bahkan walaupun sudah dipasangi tulisan “Milik Warga Muslim”, toko-toko  milik warga Muhammadiyah itupun masih terbakar juga.

Jadi saya menyimpulkan bahwa diantara warga Muhammadiyah dengan warga Tionghoa warga Islam pinggiran atau pedesaan sudah dipastikan adalah warga nahdiyin.

Pandangan Hartono yang demikian itu saya luruskan, sebab yang terliba dalam penyerobotan isi toko di kota-kota kecamatan dan kabupaten-kabupaten di seantero wilayah Jawa Timur bisa saja dilakukan oleh oknum-oknum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) atau oknum Partai Nasional Indonesia (PNI), bisa juga oleh oknum organisasi masyarakat pemuda, dan bahkan bisa saja oknum Muhammadiyah yang bukan pemilik toko.

Pak Hartono sahabat saya ini mulai bimbang kepada kesimpulannya sendiri. Untuk mendudukkan perkaranya secara proporsional, saya bertanya kepadanya: “Seandainya pak Amien Rais yang saudara dukung itu menjadi ketua PB NU, apakah dia bisa menyetop umatnya untuk tidak mengganggu anda? Begitu juga seandainya Gus Dur yang akan saudara “tinggalkan” itu menjadi Ketua PP Muhammadiyah, apakah warga Muhammadiyah yang kelas menengah itu akan turut membakar toko-toko warga keturunan?”

Dia jawab, “Tidak,” Sebab, katanya warga Muhammadiyah adalah warga pedagang. Oleh karena itu kalau Gus Dur menjadi Ketua PP Muhammadiyah, dia akan senang, karena dalam pandangan warga Muhammadiyah ini tak akan mengganggu harta benda mereka. Dan sebaliknya, biarpun pak Amien Rais yang akan dia dukung itu memimpin PB NU, dalam pikiran pak Hartono setelah tukar pikiran itu, mustahil juga ia mampu “menyetop” warga NU di wilayah pinggiran itu untuk tidak menjarah isi toko warga keturunan Tionghoa.

Jadi soalnya, bukan siapa yang menjadi ketua, tapi apakah warga atau massa Islam di pedesaan itu miskin atau tidak. Selama mereka miskin dan tak mampu lagi mencari jalan keluar sementara tetangganya waga keturunan Tionghoa begitu berkelimpahan, mau tak mau mereka akan “menjarah” yang terdekat dengan mereka. “Jadi program kita,” saya menekankan, bagaimana caranya agar semua warga miskin, baik di pedesaan atau di perkotaan bisa semakin hari semakin makmur oleh proses pembangunan dan bukan semakin hari semakin melarat.

Saya tamsilkan bagaimana warga Tionghoa dengan warga Bumi Putera, bahkan dengan warga India yang keling itu, bisa hidup rukun, aman dan damai.

“Tapi pak“, kata Hartono, “saya tetap mendukung pak Amien, karena saya yakin omongan dan perbuatan pak Amien itu lurus dan benar, Dia bilang, “teman-teman saya pada umumnya mendukung pak Amien Rais.

Itulah pandangan seorang warga bangsa kita yang keturunan Tionghoa itu terhadap Amien Rais.
Saya pikir Amien Rais memang sudah melekat di hati masyarakat, dan karena itu saya yakin akan berbicara secara adil. Selamat Pak Amien Rais.

Republika, Jumat 1 Mei 1998