GUS DUR IMBAU ETNIS TIONGHOA PULANG

Ketua Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU), KH Abdurrahman Wahid dan mantan bos Astra, Wiliam Suryadjaya, menghimbau agar etnis Tionghoa Indonesia yang ke luar negeri kembali ke tanah air.

“Belum lama ini saya diberi tahu Edward (anak Wiliam) bahwa etnis Tionghoa yang keluar negeri itu susah diajak balik. Makanya, saya ajak Om Wiliam untuk bicara. Sebab, untuk mengajak balik mereka tidak bisa orang sembarangan,“ papar Gus Dur panggilan Abdurrahman Wahid di kediamannya di Ciganjur Jakarta, kemarin.

Menurut Gus Dur, yang didampingi Wiliam, kepulangan warga keturunan itu akan dapat membantu pemulihan ekonomi negeri ini. Mereka, kata keduanya, paling potensial untuk memutar kembali roda perekonomian nasional. “Jadilah orang Indonesia yang baik dan bekerjalah sebagai orang Indonesia. Tolonglah kembali ke sini, imbaunya.

Mereka berdua mengakui bahwa etnis Tionghoa banyak yang mash trauma dengan peristiwa 13-14 Mei lalu. Kejadian itu sangat menakutkan. “Saudara bisa bayangkan sendiri, bila orang-orang yang mereka cintai ditelanjangi, diperkosa di depan mata. Itu bukan sifat bangsa Indonesia“, ungkap Wiliam.

 

Dia yakin tindak anarkis itu bukanlah bagian dari gerakan reformasi yang dimotori oleh mahasiswa. Meski tak tahu kelompok mana, tapi ia yakin bahwa tindak anarkis itu ada yang mendalangi. Dan yang jelas, kata Wiliam, tindakan itu memberi citra jelek pada gerakan reformasi.

Baik Gus Dur maupun Wiliam menyambut baik pernyataan Presiden Habibie dan Menhankam/Pangab Wiranto beberapa waktu lalu yang memberikan jaminan bagi etnis Tionghoa yang kembali ke tanah air. “Tapi kan tak cukup hanya dengan pernyataan saja. Tapi harus terud ditindaklanjuti,“ kata Gus Dur. Pasalnya, pembauran etnis Tionghoa ini butuh waktu, setidaknya satu generasi lagi.

Dijelaskan, selain untuk segera menghidupkan roda perekonomian, paling tidak warga keturunan itu bisa berperan untuk mencegah penguasaan aset ekonomi nasional oleh pihak asing.

Seperti diketahui, Wiliam adalah pendiri Astra Internasional dan menjadi backup pendirian Bank Summa. Ketika Summa runtuh, Wiliam tak mendapat pertolongan dari pemerintah. Bahkan, saham mayoritasnya di Astra pun dilepas. Dan, iapun terdepak dari Astra. Diduga Wiliam terdepak karena rekayasa dari kelompok bisnis tertentu.

Wiliam optimistis rekan-rekannya sesama warga keturunan mau kembali ke Indonesia. “Namun, mereka memerlukan kepastian hukum dan keamanan di negeri ini“, kata Wiliam.

Dia lantas mencontohkan hal yang mirip terjadi di Hongkong. Ketika negeri koloni itu akan kembali ke pangkuan RRC, banyak warga Hong Kong yang lari ke Kanada. Tapi setelah mereka melihat ada jaminan di Hong Kong, mereka pun balik lagi. Ia yakin, apa yang terjadi di Hong Kong juga bisa terjadi di Indonesia. Hanya memang butuh waktu dan usaha yang tak gampang.

Gus Dur juga mengakui, untuk memanggil mereka tidaklah mudah. Apalagi sekedar melalui imbauan. “Tapi rasanya sulit untuk melakukan usaha lain,selain melalui imbauan, “ kata Gus Dur.

Di sisi lain, untuk memberi kepastian jaminan terhadap etnis Tionghoa, Gus Dur dan Wiliam memandang perlu adanya Undang-Undang. Keduanya juga menilai perlunya ketegasan dari pemerintah, bahwa seluruh komponen bangsa, tanpa membedakan SARA, perlu menyadari satu hal: memperbaiki kondisi ekonomi negeri sendiri dengan mengerahkan seluruh komponen bangsa. Pada gilirannya hal itu akan memperbaiki kondisi sosial politik bangsa ini.

Bagi Gus Dur ketegasan pemerintah dipandang dapat berdampak positif terhadap citra Indonesia di mata asing. Dan menurut Wiliam, ketegasan itu secara positif akan mendorong kemauan luar negeri untuk segera melaksanakan partisipasi mereka dalam rangka penyehatan dan pertumbuhan ekonomi kita.

Wiliam mengakui bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini memang sulit. Tapi, lelaki yang menolak di sebut Tionghoa ini mengharapkan masyarakat tidak kecil hati. Ia mengibaratkan kondisi saat ini sama dengan ketika Indonesia baru merdeka, yakni ketika pembangunan pun dimulai dari nol. Pada kondisi begitu, sektor agrobisnis harus menjadi prioritas. Pasalnya, negeri ini punya sumber daya alam dan manusia bagus di bidang ini.

Sementara itu, dalam rapat koordinasi politik dan keamanan (Rakor Polkam), kemarin pemerintah mengatakan akan memberikan jaminan keamanan kepada investor dalam negeri dan asing dan tak perlu ragu untuk berusaha di Indonesia.

Pernyataan itu merupakan hasil rapat koordinasi bidang Polkam di Jakarta, kemarin yang dibacakan Sesmenko Polkam Suakadirul.

Republika, Selasa, 23 Juni 1998