Cetak 

TANGGAPAN UNTUK DJOKO SUSILO

AMIEN RAIS, MUHAMAMDIYAH DAN WNI KETURUNAN

Oleh : A. Syaukanie Ong (Pengurus DPW PITI Jatim)

 

Menarik sekali membaca angan-angan Amien Rais tentang susunan kabinet bayangan yang ia rencanakan bila menjadi presiden. Bukan hanya persyaratan yang ketat yang menurut dia, harus terdiri atas orang-orang punya komitmen kuat akan pemerintahan yang bersih. Tetapi ia akan memasukkan WNI keturunan Tionghoa sebagai bagian dari kabinet tersebut.

Selaku contoh intelektual muslim, pucuk pimpinan ormas Islam Muhamamdiyah, ajakan atau rencana seperti itu memang merupakan sesuatu yang langka serta sikap yang simpati, khususnya ajakan terbuka kepada WNI keturunan Tionghoa.

Sebelumnya, beberapa bulan lalu, pada 1997, ketika heboh akan kedudukan Amien Rais di Dewan Pakar ICMI, secara pribadi, penulis sebagai muslim WNI Keturunan sempat kaget mendengar pernyataan Amien Rais dalam ceramahnya yang berbau diskriminatif di Gedung Pusat Pengembangan Islam (d.h. Islamic Center) Surabaya di hadapan warga Muhammadiyah. Saat  itu Amien mengatakan, hasil pembangunan selama ini hanya dinikmati orang-orang bermata “sipit”.

Tetapi, wawancara terbuka Amien Rais dengan Djoko Susilo menghapus kesan diskriminatif, membuka lebar kesempatan bagi WNI keturunan yang berjiwa “merah putih”, anti korupsi, kolusi dan tindakan tidak terpuji lainnya (Jawa Pos, 15/2). Dalam hal ini, Amien Rais menampakkan kenegaraanya, ulas Djoko Susilo (ajakan Amien Rais kepada WNI keturunan, (Jawa Pos, 18/2).

Saya sependapat dengan Dahlan Iskan dalam analisis bisnisnya bahwa masyarakat WNI keturunan Tionghoa itu terbagi dua. Ada yang ingin untung dan selamat sendiri. Akibatnya dirasakan buruk pada kelompok masyarakat WNI keturunan lainnya (Jawa Pos, 09/2).

Pernyataan Amien Rais akan memasukkan WNI keturunan dalam kabinetnya bukan sekedar ajakan “politis” kepada WNI keturunan. Namun, itu sekaligus meluruskan “kesalahpahaman” WNI keturunan  terhadap Islam  dan umat Islamnya. Sebagai “bukti” bahwa Islam itu anti diskriminatif dan tidak rasialisme. Seperti yang Nabi Muhammad SAW contohkan ketika memimpin umat, melindungi kepentingan-kepentingan hidup non muslim atau mereka yang berbeda warna kulit (ras). Beliau tegaskan bahwa bukanlah orang Arab itu lebih baik dari orang asing (bukan Arab). “Ketakwaan” lah yang membedakan predikat manusia di hadapan Tuhannya.

Amien Rais dalam wawancaranya tidak menyalahkan WNI keturunan Tionghoa yang sebagian menguasai ekonomi negeri ini atau menikmati hasil pembangunan selama ini dibanding penduduk asli negeri ini (pribumi). Keadaan ini, menurut dia adalah akibat kesalahan sistem yang selama ini dirasakan tidak adil, hingga membuka peluang kesempatan berkolusi dan berkorupsi serta penyuapan untuk memperlancar usaha, praktik yang seperti inilah yang tidak bisa ditoleransi dan seharusnya dibersihkan secara tuntas.

Pernyataan Amien Rais sebagai ketua atau pimpinan ormas sekaliber Muhammadiyah dirasakan sebagai “kejutan” baik secara pribadi  Amien Rais maupun Muhammadiyah. Sekalipun menurut Djoko Susilo, bukan hal baru bagi Muhammadiyah menjalin hubungan dengan WNI keturunan atau sebaliknya.

Karena, hubungan yang terjadi belum meluas dan tersosialisasi kepada semua WNI keturunan. Dan kenyataannya, Amien Rais serta tokoh Muhammadiyah lainnya tidak lebih akrab dengan WNI keturunan bila dibandingkan dengan Gus Dur serta tokoh NU lainnya.
Keadaan semacam ini bisa dimahlumi karena tokoh-tokoh Muhammadiyah dan aktivisnya lebih banyak disibukkan dengan kedinasan, bila dibandingkan dengan tokoh dan aktivis NU yang lebih terkonsentrasi secara khusus dalam organisasi serta lembaga-lembaga yang dipimpinnya.

Seperti penulis amati, kedekatan tokoh NU dan aktivis dengan PITI (Pembina Iman Tauhid Islam)  Jatim misalnya HMY Bambang Sujanto, lebih kenal dan dekat dengan Gus Dur serta tokoh-tokoh NU Jatim. Tidak begitu dekat dengan Amien Rais atau tokoh-tokoh Muhammadiyah Jatim.

Padahal, bila kedua ormas Islam NU dan Muhammadiyah serta ormas-ormas Islam lainnya bisa lebih dekat dengan warna WNI seperti tawaran dan ajakan Amien Rais, atau seperti yang pernah dilakukan Gus Dur, niscaya akan membuka lebar jalan kebersamaan dalam berbangsa dan bernegara, sekaligus menetralkan kesalahpahaman WNI keturunan non muslim terhadap Islam dan umat islam selama ini.

Mewujudkan, pesan Al quran, ta’aruf, saling mengenal diantara sesama manusia yang berbeda jenis kelamin dan suku bangsa (QS. Al Hujarat : 13). Seperti acara yang pernah saya formalkan dalam “ Dakwah Ta’aruf” di PITI Surabaya dari masjid ke masjid.
Berangkat dari ta’aruf itulah dikembangkan dan ditingkatkan menuju “ke-ukhwahan” persaudaraan (QS Al Hujarat : 13) di dalam suka dan duka, kelapangan dan kesempitan. Saling bekerja sama dalam kebajikan dan ketakwaan (QS. Ali Imran : 104) seperti yang dicita-citakan Amien Rais dan Muhammadiyah.

Bila kesempatan ini disadari dan ditindaklanjuti pula oleh WNI keturunan, kita akan bisa mengurangi dan menghilangkan  “kecurigaan” dan “ketegangan” yang tersembunyi akibat adanya jarak yang menghadang dan menghalang, serta akan melahirkan kekuatan yang tergalang.

Betapa suasana kebersamaan dan keakraban tampak ketika penulis memberikan ceramah dalam rangka silaturahmi “ halal bihalal” Idul Fitri 1418 H baru-baru ini di lingkungan PT. Gudang Garam, Surabaya. Bintoro Tanjung, seorang presiden komisaris yang WNI keturunan, beserta sejumlah direks dan manajer duduk “ lesehen” di lantai bersama staf dan karyawan dari beragam kelas, sopir, maupun petugas  kebersihan. Tanpa dibatasi sekat-sekat ras warna kulit. Bahkan tersimak kesan bahwa kita tidak akan bisa menikmati hidup ini tanpa kehadiran dan partisipasi orang-orang yang hidup disekitar kita, baik yang besar maupun yang kecil.

Karena itu, keharmonisan hubungan seluruh warga negeri ini (WNI pribumi dan WNI keturunan) memang harus dipelopori oleh tokoh-tokoh ormas-ormas besar untuk meluruskan kekeliruan selama ini, mengenalkan yang belum kenal, mendekatkan yang berjarak, dan berlanjut hingga ke lapisan paling bawah di masyarakat.

Tidak sedikit pebisnis WNI keturunan yang bersimpati pada Islam, umat Islam, dan tokoh ormas Islam model Amien Rais dan Gus Dur. Maka, pernyataan dan sikap simpati Amien Rais terhadap WNI keturunan akan lebih membuka “mata hati” WNI keturunan terhadap kemiskinan  informasi tentang islam serta meluruskan kesalahpahaman terhadap Islam itu sendiri.

Sambutan WNI keturunan akan membawa dampak positif terhadap keberadaan WNI keturunan itu sendiri agar diterima sepenuhnya di hati masyarakat. Tidak menjadi orang “asing” dan “terasingkan” atau “mengasingkan” diri di tanah kelahiran sendiri, di Indonesia ini.

Jawa Pos, Senin Legi, 2 Maret 1998

SYAUKANI ONG

Nama asli Syaukani Ong, 38 tahun adalah Ong Lie Fu. Pemilik wajah lembut nan ramah ini berasal dari Grogot, Kalimantan Timur. Mengaku belajar Islam sejak masuk SMA di Grogot. Suatu hari, ia pergi ke rumah temannya, Mujiono. Ketika subuh, Mujiono bangun dan menunaikan shalat. Pada saat yang bersamaan, ayam jantan milik Mujiono juga bangun dan berkokok. Ong pun merenung “ Apa bedanya saya dengan ayam, sama-sama tidak shalat. Saya malu “ tutur Ong kepada Saiful Anam dari Gatra.

Tak lama setelah kejadian tersebut, tepatnya 28 Agustus 1978. Ong masuk Islam. Sebelumnya, Ong pernah memeluk Kristen Pantekosta dan Kong Hu Chu. Ong kagum pada Islam karena menurut dia Islam mengatur kehidupan manusia. “ Menyembelih ayam pun ada tata caranya, “ katanya.

Lulus SMA tahun 1979, Ong bertekad memperdalam Islam. Selama dua tahun 1979-1981, ia menimba ilmu agama di Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Lalu ia melanjutkan ke Universitas Muhammadiyah Surabaya, fakultas Ilmu Agama sampai sarjana muda (1985). Gelar S-1 diperolehnya dari Fakultas Ushuludin IAIN Sunan Ampel Surabaya (1987). Sejak mahasiwa, Ong telah tampil sebagai mubalig, baik di podium maupun di media elektronika, seperti radio dan televisi. Jadwal dakwah pegawai Dapertamen Agama  Jawa Timur ini dari hari ke hari makin padat saja.

Menurut Ong, berdakwah di lingkungan masyarakat Tionghoa haruslah serius. Ia menilai, selama ini,” Kita kurang memberi contoh yang simpatik.” Katanya. Selain itu, “ Janganlah mereka itu diejek dengan sebutan keturunan Tionghoa atau singkek. Itu sangat menyinggung perasaan”. Kendala lain, masih kata Ong, “ Dalam bidang informasi, masih ditampilkan kekejaman uma Islam di negara-negara lain. Padahal, berdakwah di lingkungan masyarakat Tionghoa itu memerlukan contoh-contoh kongkret dan keteladanan yang menyejukkan.”

Gatra, 17 Februari 1996