HARUSKAH KITA MEMUSUHI TIONGHOA

Oleh: Zaim Uchrowi

 

Kerusuhan anti Tionghoa terjadi lagi. Dalam waktu dua bulan terakhir, telah terjadi tiga peristiwa kekerasan memusuhi orang-orang Tionghoa berturut-turut. Yang pertama terjadi di Kediri, Jawa Timur akhir September lalu. Setelah itu kerusuhan serupa pecah di Purwakarta, Jawa Barat. Jawa Tengah tak mau ketinggalan dengan ‘insiden Pekalongan’ pekan lalu.

Rangkaian kerusuhan itu makin membuat saya tidak mengerti. “Mangapa kita (orang-orang pribumi) memusuhi Tonghoa? Mengapa pula setelah 50 tahun merdeka, kita masih memelihara sikap semacam itu?"

Saya dapat mengerti kemarahan para guru di Kediri, setelah seorang Tionghoa menempeleng guru anaknya (karena tidak rela atas perlakuan guru itu). Saya juga geram atas sikap pemilik dan satpam toko Nusantara Purwakarta yang ‘menghargai’ kejujuran siswi Tsanawiyah untuk mengembalikan coklat yang dibelinya (setelah ia menyadari tak membawa uang) dengan memaki, menyuruh membersihkan WC –kabarnya juga menempeleng dan memaksa membuka jilbab— dan membawanya ke kantor polisi untuk diinterogasi. Saya dapat merasakan ketersinggungan warga Pekalongan atas berita penyobekan Alquran (walaupun peristiwa itu belum dapat dipastikan dan tersangka pelakunya diketahui punya kelainan jiwa). Tetapi haruskah kemarahan itu diledakkan dalam bentuk kerusuhan?

 

Pengalaman mengajarkan bahwa kerusuhan demikian bukan saja tidak perlu, namun juga merugikan kita semua. Pri maupun nonpri. Kerusuhan yang terjadi di Medan April 1994 lalu, bukan saja menelan korban jiwa. Kerusuhan itu telah mebuat kita melangkah mundur dalam membangun ekonomi. Belum lagi gelombang anti-Tionghoa yang meledak di Solo yang keudian merembet ke hampir seluruh wilayah Jawa Tengah tahun 1991.

Kita memang harus bersyukur. Tiga kerusuhan terakhir tidak berkembang menjadi sangat liar seperti yang pernah terjadi pada masa-masa terdahulu. Itu pertanda masyarakat kita kian matang untuk tidak terjebak pada sentimen rasial membuta. Namun, semestinya, kerusuhan terakhir itu pun tidak terjadi. Apalagi di lingkungan masyarakat Islam.

Alasannya: Islam bukan hanya mengajarkan agar umatnya tidak mempunyai sentimen rasial, melainkan malah menyeru agar ‘dekat’ dengan Tionghoa. Ajaran agar ‘dekat’ dengan Tionghoa itu berlandaskan pada Hadis “Carilah ilmu walaupun sampai ke Cina”.

Pada masa lampau, kata ‘sampai ke Cina’ dalam hadis tersebut ditafsirkan sebagai ‘jauh’. Padahal, bukan tidak mungkin Nabi Muhammad memang memaksudkannya sebagai ‘negeri Tiongkok’ yang kalau pengertiannya diperluas dapat berarti ‘Asia Timur’. Apalagi sekarang Asia Timur menjadi kawasan yang paling sukses dalam pembangunan pada saat Barat sedang menuju sekarat dan Timur Tengah –tempat turunnya para nabi—centang perenang.

Masihkah kita akan memusuhi Tionghoa?

Lihat pula Saad bin Abi Waqash. Sikap keislamannyalah yang membuat sahabat dekat Rasulullah ini rela berjalan kaki dan berunta menempuh ribuan kilometer gurun maut yang dikenal dengan sebutan “jalan sutera” untuk sampai ke Tiongkok. Tak cukup sekali, iapun datang lagi sampai wafat dan dimakamkan di Guangzhou.

Masihkah kita memusuhi Tionghoa?

Simak sejarah Tiongkok. Hampir sepanjang sejarah, dinasti-dinasti Tiongkok memberi tempat terhormat pada Islam. Hanya dinasti terakhir, Dinasti Qing, yang memusuhi Islam. Sedangkan dinasti ini bukan “asli Tiongkok” melainkan dari Manchuria.

Masihkah kita akan memusuhi Tionghoa?

Simak sejarah kita. Penyebar Islam di tanah Jawa pun orang-orang Tionghoa. Sebutlah, misalnya Sunan Gunungjati di daerah Cirebon. Atau Kiai Telingsing (The Ling Sing) di sekitar Kudus.

Haruskah kita memusuhi Tionghoa?

RUBRIK RESONANSI, HARIAN REPUBLIKA, JUMAT 1 DESEMBER 1995