BETULKAH ISLAM CARA UTAMA PEMBAURAN?

Suatu Kajian Etno-Psikologi Terhadap Masalah Pembauran di Kalangan Islam Tionghoa.*


Oleh  Djamaludin Ancok

Pengantar

Sudah beratus tahun  orang-orang keturunan Tionghoa berada di Indonesia. Sebagian besar dari mereka lahir dan dibesarkan di Indonesia. Kini mereka yang berusia 60 tahun ke bawah boleh dikatakan hampir semuanya lahir dan dibesarkan di Indonesia. Walaupun mereka dilahirkan dan dibesarkan di Indonesia yang seharusnya tiada lain tanah airnya kecuali Republik Indonesia dan Undang-undang Dasar mengatakan bahwa hak dan kewajiban mereka sebagai warganegara adalah sama, namun masih ada kesan yang cukup kuat di kalangan orang Tionghoa bahwa mereka belum memperoleh hak-hak yang sama seperti yang dicantumkan dalam id dasar 1945 pasal 27 :

(1) Segala Warga Negara bersamaan kedudukannya di dalam  Hukum dan Pemerintahan dan wajib menjunjung Hukum dan Pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.

Sebaliknya di kalangan penduduk yang bukan Tionghoa masih ada kesan bahwa orang-orang Tionghoa kurang memiliki rasa patriotik terhadap Negara (hasil penelitian Noer Abijono dikutip dari Hutajulu, 1984).

 Apakah sebabnya keadaan seperti diatas masih terjadi dan kiranya apakah Islam dapat menjadi jalan untuk mengurangi perasaan-perasaan seperti itu adalah beberapa pertanyaan yang ingin dibahas dalam makalah ini.

Orang Tionghoa Sebagai Golongan Minoritas

Dalam buku Racial and Cultural Minorities Simpson and Singer (1965, hal 17) menulis tentang ciri-ciri kelompok minoritas seperti berikut :

  1. Kelompok minoritas adalah bagian (subordinate) dari suatu masyarakat/ negara yang lebih kompleks
  2. Kelompok minoritas memiliki ciri-ciri fisik maupun kebudayaan yang dianggap sebagai ciri yang melemahkan angapan terhadap diri sendiri (self-esteem)
  3. Kelompok minoritas adalah kelompok yang memiliki kesadaran kelompok-kelompok yang tinggi. Kesadaran ini tumbuh karena masing-masing anggota memiliki ciri khusus yang sama, baik ciri-ciri yang menguntungkan maupun yang merugikan
  4. Keanggotaan dalam kelompok minoritas merupakan sesuatu yang diturunkan melalui garis keturunan yang dapat mengikat generasi selanjutnya walaupun tidak ada lagi ciri-ciri fisik maupun budaya yang menonjol
  5. Anggota kelompok minoritas baik karena pilihan sendiri atau kebutuhan, berkecenderungan untuk kawin dengan orang dari kelompok sendiri

Kalau tidak melihat ciri-ciri di atas dan membandingkannya dengan kelompok Tionghoa di Indonesia, hampir semua ciri-ciri diatas sesuai dengan ciri kelompok Tionghoa sebagai kelompok minoritas. Tentu saja ada ciri yang masih bisa dipertanyakan kesesuaiannya misalnya ciri nomor dua yang mengatakan ciri fisik dan ciri budaya yang membuat orang Tionghoa merasa rendah jika dibandingkan dengan penduduk asli yang bukan Tionghoa. Ada anggapan justru sebagian orang Tionghoa menganggap dirinya lebih tinggi derajadnya daripada penduduk asli yang bukan Tionghoa.

Ciri-ciri yang dikemukakan diatas akan membuat orang dari kelompok minoritas menjadi  mudah dibedakan dengan orang-orang kelompok mayoritas, yang dalam hal ini adalah antara kelompok Tionghoa dengan kelompok penduduk asli yang bukan Tionghoa.

Ciri-ciri yang melekat pada kelompok minoritas tersebut akan semakin menonjol bila disertai dengan ciri-ciri lain yang menonjol.

Misalnya adanya anggapan bahwa orang Tionghoa adalah orang-orang kaya yang menguasai ekonomi. Ciri ‘sebagai orang kaya’ ini akan menambahkan sesuatu ciri baru, karena di Indonesia  lebih banyak orang miskin daripada orang kaya. Kelompok orang kaya adalah kelompok minoritas. Tentu saja ciri ‘sebagai orang kaya’ ini akan semakin merugikan kelompok minoritas Tionghoa oleh karena adanya persepsi di kalangan kelompok mayoritas bahwa kesempatan untuk menjadi kaya tersebut dipupuk oleh penjajah Belanda yang memanfaatkan orang Tionghoa dalam perdagangan. Kebencian pada Belanda ini akan ikut mewarnai perasaan terhadap orang Tionghoa, sehingga timbul anggapan bahwa perlakuan yang deskriminatif terhadap kelompok Tionghoa adalah balas dendam terhadap pengistimewaan yang dilakukan oleh Belanda terhadap orang Tionghoa di masa penjajahan.

Dengan adanya ciri-ciri yang berbeda tersebut akan memudahkan timbulnya perasaan ‘in group (kelompok kita)’ dan ‘out groupi (kelompok mereka)’. Perasaan in group dan out group ini akan memberikan dampak psikologis yang sangat menghambat proses pembauran.

Akibat Psikologis In Group dan Out Group
Salah satu akibat dari pemisahan in group dan out group ialah  timbulnya perasaan bahwa kelompok sendiri adalah kelompok yang paling baik. paling benar, dan paling bermoral. Etnocentrism adalah salah satu manifestasi dari perasaan superior kelompok tersebut.

Pemisahan kelompok ini akan menyebabkan timbulnya ‘favoritism’ terhadap kelornpok sendiri dan diskriminasi terhadap kelompok luar (Djamaludin Ancok & JM Chertkoff, 1983; Tajfel 1970). Adanya pengelompokkan tersebut membuat para anggota kelompok lebih banyak berkomukasi dengan anggota kelompok sendiri dan kurang sekali berkomunikasi dengan anggota kelompok luar. Kurangnya komunikasi dengan kelompok luar akan rnenimbulkan kesalahpahaman terhadap kelompok luar. Bentuk kesalah-fahaman tersebut adalah hadirnya “stereotip” dan “ prasangka sosial”. Stereotip adalah anggapan tentang ciri-ciri yang dimiliki oleh anggota kelompok luar. Ciri ini biasanya hanyalah anggapan semata yang belum tentu sesuai dengan hal yang sebenarnya. Prasangka adalah sesuatu yang bersifat emosional, yang akan mudah sekali menjadi motivator timbulnya ledakan sosial. Terjadinya bentrokan antar kelompok  etnik yang beberapa kali  terjadi di Indonesia salah satu penyebabnya adalah hadirnya prasangka buruk terhadap kelompok etnik tertentu.

Dampak psikologis lain dari pemisahan in-group dan out-group ialah hadirnya proses generalisasi pada perbuatan kelompok luar (Djamaludin Ancok. 1982; Quattrone & Jones, 1980). Jika salah seorang anggota kelompok luar berbuat hal-hal yang negatif, maka perbuatan tersebut akan digenetalisasikan pada semua anggota kelompok luar. Semua anggota kelornpok luar dianggap akan berbuat hal yang sama. Jadi bila seorang anggota kelompok Iuar berbuat curang, maka semua anggota lain dianggap berbuat hal yang sama.

Karena nilai setitik rusak susu sebelanga. Keadaan yang serupa tidak terjadi pada perilaku anggota kelompok sendiri. (in-group). Bila seorang anggota kelompok sendiri berbuat curang, kecurangan tersebut tiduk akan digeneralisasikan pada anggota kelompok lain. (Djamaludin Ancok, 1982)

Apa Sebabnya Terjadi Diskriminasi Terhadap Kelompok Minoritas
Para  ahli ilmu sosial telah lama tertarik untuk mencari alasan apa sebabnya orang lebih mengutamakan anggota kelompoknya sendiri dan memperlakukan kelompok luar dengan prilaku diskriminatif. Ada dua polarisasi pendapat di kalangan ahli tentang alasan kenapa terjadinya prilaku tersebut.

Ahli yang menggunakan pendekatan struktural (sherif et.al, 1961) beranggapan bahwa adanya kelompok luar akan merupakan saingan bagi kelompok sendiri untuk memperoleh resources. Contoh  resources tersebut misalnya kesempatan dibidang ekonomi, kesempatan pendidikan, kesempatan dibidang politik, kesempatan kerja dan lain-lain. Kehadiran orang dari kelompok lain tentu saja akan mempersempit peluang untuk memperoleh kesempatan tersebut. Ketidak-senangan terhadap orang Tionghoa jika ditinjau dari teori struktural ini dikarenakan oleh karena orang Tionghoa mengurangi kesempatan untuk mendapatkan resources tersebut.

Kesempatan ekonomi yang didominir oleh kelompok Tionghoa akan merupakan sumber ketidaksenangan terhadap kelompok orang Tionghoa.

Pendekatan lain yang merupakan polarisasi pendapat yang kedua disebut dengan teori kognitif (Tajfel. 1980). Menurut pendekatan ini adanya favoritisme terhadap kelompok sendiri dan diskriminasi terhadap kelompok luar dikarenakan oleh proses pengamatan (proses kognitif) yang menghasilkan perasaanl berbeda. Orang dari kelompok A tidak menyukai orang dari kelonpok B dikarenakan karena adanya perbedaan keanggotaan kelompok tersebut. Jika diterapkan dengan kondisi orang Tionghoa apa sebabnya timbul perasaan kurang akrab terhadap kelompok ini, dikarenakan adanya perasaan  berbeda dengan kelompok Tionghoa. Perbedaan tersebut berbagai macm sumbernya. Mulai dari segi fisik (mata yang sipit), perbedaan bahasa. latar belakang budaya dan agama. Menurut teori-teori kognitif tanda adanya persaingan untuk memperebutkan resources, perbedaan itu sendiri sudah cukup untuk menimbulkan prilaku yang kurang simpatik.

Jika ditinjau dari teori kognitif makin banyak kesamaan-kesamaan yang dimiliki oleh anggota kelompok yang berbeda maka akan timbul rasa senang terhadap kelompok tersebut. Penelitian - penelitian yang melihat pengaruh adanya kesamaan sikap antar individu terhadap rasa senang satu dengan lain (atrraction) menemukan makin banyak kesamaan-kesamaan sikap, maka makin senanglah orang yang satu pada orang yang lain (Byrne, 1971). Dalam kehidupan sehari-hari biasanya  kita sering  berkumpul dengan orang lain yang memiliki kesamaan dengan kita, apakah kesamaan tersebut berupa kesamaan asal daerah, kesamaan suku, agama dan lain-lain.

Islam dan Pembauran

Apakah yang dapat ditawarkan Islam untuk pembauran? Jawaban terhadap pertanyaan ini dapat dilihat dari dua dimensi. Dimensi pertama dari segi dimensi ilmiah, yang kedua dari dimensi agama.

Dari dimensi ilmiah masuknya Tionghoa dalam agama Islam akan mengurangi terjadinya perasaan berbeda antara kelompok Tionghoa dan kelompok non Tionghoa yang kebetulan adalah mayoritas yang beragama Islam. Kesamaan dalam agama akan merupakan pengikat yang sangat kuat antar orang Tionghoa dan non Tionghoa. Ditinjau dari teori kognisi yang dikemukakan diatas atas adanya kesamaan tersebut akan menedkatkan orang yang satu dengan yang lain. Kesamaan dalam iman adalah kesamaan yang paling dalam yang akan merupakan pengikat yang sangat kuat, karena dimensi iman adalah sangat dalam tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat.

Hal ini sejalan dengan pendapat beberapa ahli bahwa integrasi antar kelompok manusia dari latar belakang budaya yang berbeda baru akan terwujud sepenuhnya bila integrasi tersebut didasari oleh kesamaan norma (New Comb et al, 1978, hal 247). Iman selalu diikuti oleh norma yang mengatur. Yang dalam hal ini adalah Quran dan Hadis. Adanya kesamaan pegangan norma tersebut otomatis akan menimbulkan integrasi yang lebih baik. Tentu saja hal yang demikian ini baru terjadi apabila orang-orang memahami lslarn secara mendalam.

Dari segi lainnya adanya kesamaan agama ini akan mempermudah terjadinya kontak interpersonal dalam bentuk yang diwarnai oleh rasa senang. Kontak yang terjadi tidak semata-mata bersifat dangkal seperti kontak bisnis, tetapi juga sudah memiliki sifat intens karena adanya kesamaan yang menjdalam dalam hal agama. Perjumpaan berulangkali di masjid, di pengajian, di upacara keagamaan antara kelompok mayoritas yang umumnya beragama Islam dengan kelompok Tionghoa yang dianggap minoritas akan menghilangkan sedikit demi sedikit prasangka sosial yang mungkin dimiliki oleh masing-masing anggota kelompok. Agama memiliki daya ikat yang lebih kuat jika dibandingkan dengan ideologi ciptaan manusia, oleh karena keyakinan akan kebenaran agama berdimensi ganda, yakni dunia dan akherat.  Bukti akan adanya daya ikat yang kuat ini dapat dilihat bagaimana kekuatan agama untyuk mendekatkan si miskin dan si kaya. Orang-orang kaya yang beriman mau mengorbankan harta bendanya untuk si miskin, karena mereka yakin bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan yang menyenangkan Allah, yang akan mendapatkan balasan di hari kemudian.

Bukti-bukti dari kuatnya pengaruh kesamaan agama terhadap integrasi nasional dapat dilihat contoh di negara Thailand. Di negeri tersebut orang keturunan Tionghoa boleh dikata tidak memiliki masalah dalam hubungannya dengan orang Thai. Hal tersebut disebabkan antara lain  oleh karena orang Tionghoa di Thailand mempunyai agama yang sama dengan orang Thai penduduk asli. Di Indonesia pun keadaan yang demikian dijumpai di kalangan orang keturunan Arab. Orang-orang keturunan Arab boleh dikata tidak memiliki masalah serius dalam hubungannya dengan kelompok penduduk asli. Jika ditinjau dari segi bentuk fisik orang keturunan Arab sangat berbeda fisiknya dengan penduduk asli. Tapi karena adanya kesamaan agama, perbedaan fisik tersebut menjadi tidak berarti.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis tentang pengaruh adanya kesamaan antara orang Tionghoa dengan kelompok mayoritas menunjang kebenaran teori kognitif. Orang-orang Tionghoa yang menggunakan nama-nama yang umumnya dipakai oleh orang suku Jawa ternyata lebih disenangi daripada orang-orang Tionghoa yang menggunakan nama yang kurang umum dipakai di kalangan orang Jawa. Hal yang lebih menarik lagi bila nama jawa tersebut dikombinasikan dengan nama-nama yang biasanya dipakai oleh orang Islam, akan membuat orang Tionghoa yang memiliki nama tersebut lebih disenangi daripada dia memakai nama yang merupakan indikasi nama non Islam (Djamaludin Ancok, 1984). Nama seperti Imam Sutrisno, Ahmad Sutanto, Yusuf Wibisono adalah contoh nama-nama yang berbau Islam yang dipakai dalam penelitian.

Suatu hal yang dapat disumbangkan oleh Islam untuk kelancaran pembauran ialah Islam akan mengurangi (mungkin juga menghilangkan) status minoritas yang dimiliki orang-orang Tionghoa. Hal ini akan mengurangi terjadinya ‘stereotip’ negatif terhadap orang Tionghoa. Teori  ‘illusory correlation’ yang dikemukakan oleh David L. Hamilton (1976) menekankan bahwa adanya keminoritasan pada kelompok luar akan membuat orang dari kelompok dalam mudah keliru melihat perilaku yang ada pada kelompok luar. Misalnya di Amerika Serikat orang kulit hitam sering dikatakan kriminal, pemalas dan pemabuk. Persepsi yang demikian sebenarnya hanyakan karena kekeliruan dalam mengasosiasikan sesuatu gejala (illusory correlation). Kekeliruan tersebut terjadi karena adanya asosiasi antara dua hal yang sama-sama ‘minoritas’, yaitu orang kulit hitam sebagai minoritas dan perilaku negatif. Orang kulit hitam statusnya sebagai minoritas sangat kentara oleh karena warna kulit yang hitam di antara orang kulit putih yang mayoritas. Perilaku negatif seperti perbuatan kriminal, pembunuhan dan mabuk-mabukan juga adalah perilaku yang  tergolong minoritas, yang relatif frekuensinya lebih kecil daripada perbuatan lainnya yang sesuai dengan norma. Oleh karena sama-sama memiliki unsur minoritas, maka akan mudah berasosiasi secara keliru. Satu orang hitam berbuat kriminal, maka orang hitam lainnya akan terkena. Seakan-akan perbuatan kriminal tersebut adalah ciri kelompok, tetapi kalau sekiranya kelompok mayoritas yang berbuat kriminal, ciri tersebut tidak akan melekat pada kelompok mayoritas, oleh karena mayoritas dengan minoritas tidak berkorelasi secara menyesatkan

Bila teori illusory correlation tersebut diterapkan untuk menerangkan apa sebab orang Tionghoa sering disebut penyelundup, dan manipulator. Hal itu dikarenakan pekerjaan penyelundupan dan manipulasi adalah pekerjaan yang relaif lebih jarang dilakukan jika dibandingkan dengan pekerjaan yang dilakukan secara jujur. Bila pekerjaan tersebut dilakukan oleh orang Tionghoa (minoritas), maka satu orang Tionghoa yang berbuat maka seluruh orang Tionghoa akan dicap sebagai memiliki sifat yang sama. Tapi kalau pekerjaan yang sama dilakukan oleh penduduk asli maka ciri negatif tersebut tidak akan melekat. Dengan masuknya orang Tionghoa ke dalam agama Islam secara teoritis ‘keminoritasan’  mereka akan berkurang, oleh karena mereka telah memiliki ciri-ciri mayoritas. Hal yang demikian akan mengurangi kemungkinan terjadinya stereotip yang negatif terhadap orang Tionghoa.

Ditinjau dari dimensi agama tentu saja Islam adalah cara untuk menghapuskan segala macam bentuk perbedaan kelompok dan perlakuan diskriminatif. Dikatakan di dalam Al quran :

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (Al Hujurat, 13).

Untuk lebih melengkapi pengetahuan  kita tentang betapa tidak senangnya Allah kepada mereka yang berprasangka buruk terhadap orang lain, apakah itu terhadap orang-orang dari kelompok sendiri ataupun terhadap orang-orang dari kelompok lain marilah kita lihat ayat Al Qur’an berikut ini :

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagia dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu mengunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudara-saudara yang sudah mati ? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang (Al Hujurat. 12)

Dari kedua ayat diatas dapatlah ditemui terapi untuk menghilangkan hal-hal yang merupakan sumber masalah yang mengambat proses pembauran, yaitu Islam.

Penutup

Tulisan diatas hanyalah berisi sekelumit kecil kajian tentang Islam dan pembauran. Dapatlah ditarik kesimpulan bahwa Islam baik dari dimensi ilmiah maupun dari dimensi agama adalah jalan yang ampuh untuk menghilangkan perasaan-perasaan yang menyulitkan integrasi antara kelompok Tionghoa dengan kelompok yang bukan Tionghoa.

Semoga tulisan ini berguna bagi kita semua. Amin.

DAFTAR PUSTAKA
Dr. H. Djamaludin Ancok. Dosen Fakultas Psikologi Gadjah Mada Yogyakarta
Al-Quran, Departemen Agama Republik Indonesia, 1983
Byrne, D. The Attraction Paradigm. New York : Academic Press, 1971
Djamaludin Ancok. Generalization of Retaliation Against Ingroup versus Outgroup Member. Disertasi, Indiana University, Bloomington, USA, 1982
Djamaludin Ancok. Penerimaan Sosial terhadap Orang Tionghoa sebagai Akibat dari Nama yang dipakai. Jurnal Psikologi, no. 1, Agustus 1985, 24-31
Djamaludin Ancok dan J.M. Chertkoff. Effects of Group Membership, Relative Performance, and Self Interest on the Division of Outcome. Jurnal of Personality and Social Psycology, 1983, 45, 1256-1262
Hatajulu, I.P. Memahami Masalah Pembauran Secara Konseptual. Analisa, no. 9, September 1984, 671-687
New Comb, et al. psikologi Sosial. Terj. Ny. Yoesouf Noesjirwan, Bandung : Diponegoro, 1978
Quatrrone, G.A & Jones, E.E. The  Perception of Variability within ingroups and outgroup  : Implications for the law of small number. Jurnal of Personality and Social Psycology, 1980, 38, 141-142
Sherif,et al. Intergroup Conflict amd Cooperation : The Robbers Cave Experiments. Norman : Univ of Oklahoma Book, 1961
Simpson, G.E & Singer. J.M Racial and Cultural Minorities. New York : Harper & Row, 1965
Tajfel, H. Experiments in intergroup discrimination. Scientific American, 223, 96-102