IKE MESE JENDERAL BERAGAMA ISLAM

ANTON MEDAN ….. PASTI BANYAK MUSLIMNYA

Bangsa Mongol menghancurkan negeri-negri Muslim dengan puncaknya menghancurkan Bagdad tahun 1258 dan kaum Muslimin dengan habis-habisan mengadakan perlawanan,  ditambah lagi penghancuran negeri-negeri Muslim oleh Timur Leng, maka sangat tertanam dalam benak kaum Muslimin bahwa bangsa Mongol adalah musuh Islam.

 

Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, HAMKA ulama penulis sejarah soal Mongol ini mengatakan : adalah fenomena ajaib tidak bisa dijelaskan oleh pengetahuan, sesudah bangsa Mongol membantai orang-orang Islam dan menghancurkan negeri-negeri Muslim akhirnya mereka ramai-ramai masuk Islam dan ramai-ramai mendirikan kesultanan Islam yaitu keturunan anak Jengis Khan, Juchi mendirikan kesultanan di Wolga selatan Rusia, keturunan anak Jengis Khan, Cagatai  mendirikan kesultanan di India dan Turkistan Timur (Singkiang), keturunan anak Jengis Khan, Tului mendirikan kesultanan di Irak dan Iran.

Kubilai Khan anak dari Tului, Kaisar keempat bangsa Mongol yang memilih Peking sebagai pusat pemerintahannya memilih beragama Budha. Kubilai Khan kurang mempercayai bangsa China (yang ditaklukannya) maka dia menggunakan orang-orang Islam dari Asia Tengah untuk membantunya di bidang militer dan administrasi pemerintahan. Cukup menarik : bangsa Mongol (Jengis Khan) menggunakan bangsa Tiongkok dengan tokohnya Ye Liu Chutsai1 untuk menguasai negeri-negeri Muslim dan sebaliknya bangsa Mongol (Kubilai Khan) menggunakan bangsa-bangsa Muslim dari Asia Tengah untuk menguasai bangsa Tiongkok . 

Say Dian Chih2, yang dibesarkan Jengis Khan dan Kubilai Khan mengangkatnya jadi menteri muda wilayah Yunnan, berhasil mengembangkan agama Islam hingga sampai kepada dewasa ini jumlah terbesar penduduk Yunnan masih menganut Islam. Apalagi Gubernur-Gubernur berikutnya tetap ditunjuk seorang Muslim.

Ah Nanda3 seorang jenderal Mongol berhasil menyiarkan agama Islam, sedemikian rupa hingga Propinsi Ning Sia menjadi mayoritas Muslim dan bahkan sampai sekarang pun masih menjadi propinsi otonom karena keislamanannya

Anton Medan4, sesuai   studi Jitsuo K. beberapa elit muslim memegang peran cukup penting pada masa kekaisaran Dinasti Yuan di Tiongkok yang merupakan rezim Mongol Tiongkok tersebut. Bahkan wakil panglima perang Dinasti Yuan pada saat itu adalah Muslim. Dengan gambaran seperti diatas menjadi lebih mudah diterima akal (khususnya bagi yang tadinya terlanjur mengatakan bangsa Mongol adalah musuh Islam) kalau Tutur Tinular5 menjelaskan Jenderal Ike Mese adalah beragama Islam. Kalau Ike Mese (salah satu dari tiga jenderal yang dikirim Khubilai Khan) beragama Islam dari suku bangsa Uigur/Muslim selanjutnaya dapat diperkirakan bahwa banyak dari 20.000 tentara yang dikirim Khubilau Khan itu adalah beragama beragama islam.6 selanjutnya Anton Medan (Ketua Umum PITI) mengatakan banyak yang tewas dan banyak pula yang sengaja memilih tinggal di Jawa untuk menghindari kemungkinan hukuman yang akan diterimanya karena kegagalan misi mereka. Hal yang perlu digarisbawahi dalam hal ini adalah dipastikan banyak diantara mereka adalah orang-orang Cina yang beragama Islam. 

Kalau pendapat Anton Medan itu dapat diterima; keterangan H Ma Huan7 :“ banyak orang Thionghoa beragama Islam di Jawa Timur yang pelarian dari kerusuhan masa akhir Dinasti Tang”. Harus dipahami sebagian mereka (Tionghoa Islam di Jawa Timur) adalah anak buah Ike Mese (1293) artinya bukan hanya pelarian kerusuhan akhir Dinasti Tang (874M).  

Disusun PITI DIY

1) Harold Lam, Jengis Khan, hal 148, PT. Pembangunan Jakarta

2) Hikmatul Akbar, S.IP, M.Si & Ratnawati, S.Sos, M.Si, Integrasi Etnis Muslim Hui di China, hal 31. Graha Ilmu; Ibrahim Tien Ying Ma, Perkembangan Islam di Tiongkok, alih bahasa Yoesoef Souyb, hal. 73

3) Ibid. hal. 67

4) Anton Medan, sambutan Muktamar PITI 2012 di Pontianak

5) https:id.id.fashbook.com (idm.wikipedia.org)

6) Perekrutan Tentara Mongol sejak jaman Jengis Khan sering berdasarkan komunitas bahkan cara ini ditiru oleh Dinasti Manchu lihat Nio Yulan, Tiongkok Sepanjang Abad, Balai Pustaka 1952, hal 144 dan Harold Lam, ibid, hal 136.

7) Amen Budiman. Masyarakat Thionghoa di Indonesia. Tanjungsari Semarang. 1979, hal 9