ISLAM : AGAMA TERAPI

Arif Wibisono Adi

I. PENDAHULUAN

Sesungguhnya manusia dilahirkan dalam keadaan fithroh suci atau Islam, tapi orang tua atau lingkunganlah yang menjadikannya kafir atau musyrik. Dalam Asy-Syams: 7-9 dikatakan bahwa manusia diilhami dengan fujur dan taqwa, berarti manusia mempunyai potensi negatif dan potensi positif. Beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya dan rugilah orang yang mengotorinya.

Dalam As-Sajadah: 7-9 dikatakan pula bahwa manusia diciptakan dari tanah, dan turunannya dari air yang hina, tapi kemudian ditiup oleh Ruh Allah. Manusia disamping ditaqdirkan dalam kondisi tertentu, tapi berbeda dengan malaikat dan binatang, manusia diberi kemampuan untuk melakukan pilihan-lilihan dalam menjalani kehidupannya. Dengan itu manusia dapat meningkat derajatnya lebih tinggi dari malaikat, tapi dapat juga jatuh lebih rendah dari binatang At-Tin: 4-6 mengatakan bahwa Allah SWT sudah menciptakan manusia sebaik-baiknya ciptaan, tapi dapat dibalikkan menjadi serendah-rendahnya martabat, kecuali yang beriman dan beramal sholeh. Iman dan amal sholeh merupakan faktor yang paling penting yang membedakan manusia satu dengan manusia lainnya.

Sepanjang sejarah, manusia telah seringkali jatuh dalam keadaan jahiliyah tanpa menyadarinya, selalu mengingkari hidayah Ilahi, hidup dalam kesesatan dan kegelapan, merasa kejahiliyahan itu baik dan nikmat, sedangkan hidayah Allah itu dianggap mengekang dan tidak enek. Akhirnya manusia mengalami penyelewengan, penderitaan dan keguncangan.

 

Tapi Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang ingin menolong manusia dengan mengutus Nabi-Nabi dan mewahyuan Kitab-Kitab Suci, memberikan hidayahNya, sehingga mengeluarkannya dari kegelapan ke arah terang. Nabi Penutup Akhir Zaman adalah Muhammad saw dan Kitab  Suci paling penghabisan adalah Al-Qur’an. Dengan demikian Allah SWT lewat Rasulullah saw dan Al Qur’an memberikan terapi terhadap “penyakit-penyakit” yang diderita manusia.

II. MAKNA TERAPI

Kata “therapy” (bahasa Inggris) atau terapi bermakna pengobatan dan penyembuhan, sedangkan dalam bahasa Arab kata terapi sepadan dengan Al Istisyfa’ yang berasal dari syafii-yasyfii syifa’, yang artinya menyembuhkan.

Surat Yunus : 57 mengatakan : “ Wahai manusia, sesungguhnya telahd atang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh (syifa’u) untuk penyakit yang ada di dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman (percaya dan yakin)”

Sedangkan Al Isra’ 82 mengatakan: “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu (yang dapat menjadi) penyembuh (syifa’u) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman (percaya dan yakin), dan Al-Qur’an itu tidak akan menambah kepada orang yang berbuat aniaya melainkan kerugian”.

Dalam As Sajadah: 44 dikatakan pula: “Katakanlah: Al Qur’an itu bagi orang-orang yang telah beriman merupakan petunjuk dan penyembuh”.
Islam memberikan terapi kepada manusia, baik secara individual (pribadi), maupun secara sosial (kemasyarakatan, komunitas, bangsa).

Sesungguhnya proses penyembuhan setelah manusia mendapat hidayah dari Allah SWT bersifat multi dimensi atau bahkan  dapat dikatakan meliputi segala bidang, tapi dalam makalah ini akan diuraikan sedikit saja mengenai penyembuhan di bidang aqidah, ibadah, muamalah dan akhlak yang sebagian dikaitkan dengan pengalaman penulis sendiri.

III. TERAPI AQIDAH

Pokok pangkal dari proses penyembuhan Islam terhadap manusia adalah penyembuhan di bidang aqidah atau keyakinan. Allah SWT telah mengutus Nabi dan Rasul pada tiap umat adalah untuk mengesakan Tuhan dan menjauhi thaghut. Baca: An Nahl 36. Sering manusia tersesat justru mempertahankan makhluk dan menjauhi Allah. Allah SWT tidak menyukai kesesatan, kemusyrikan dan kekufuran. Rasulullah saw sebagai Nabi Penutup diutusa untuk meluruskan aqidah tauhid dan menyempurnakan agama, diwahyukan Al Quran untuk memberikan terapi kepada manusia.

Dulu penulis pun seorang yang mempersekutukan Allah atau musyrik. Alhamdulillah di suatu pagi bulan Ramadhan penulis telah tersadarkan ketika mendengar kuliah subuh yang mengutip Al Baqarah 256: “Tiada paksaan dalam agama, karena sudah jelas yang benar dan yang salah. Maka barangsiapa yang meninggalkan thaghut, dan beriman kepada Allah, akan seperti pegangan tali yang kuat sekali dan tidak dapat putus-putus. “Kalau pagitu itu penulis tidak lapang hatinya untuk mengikuti orang-orang yang berbondong-bondong untuk shalat subuh jama’ah dan mendengarkan kuliah subuh, tentulah sampai sekarang masih musyrik. Tanda-tanda akan datangnya hidayah adalah lapang hatinya kepada Islam (Al An’am : 125).

Begitu dahsyatnya kalimat syahadat “Laa ilaha illaallaah, Muhammadar rasulullah” (Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad Rasulullah). Seolah-olah kita mendapat celupan Allah (Shibghotallah- Al Baqarah: 138), dan timbulah titik perubahan dan pertumbuhan. Prinsip Tauhid inilah pegangan hidup yang paling kokoh, seperti tali kuat yang tak dapat putus.

IV. TERAPI IBADAH

Dengan keyakinan tauhid itulah, akhirnya penulis menjalankan ibadah khusus kepada Allah SWT saja, tak berani lagi mempersekutukanNya. Al Baqarah: 21 mengatakan: “Hai manusia, ibadahlah kepada Tuhanmu yang menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.”Dan dalam Al Fatihah  ditegaskan: “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” (Hanya kepadaMulah kami beribadah, dan hanya kepadaMulah kami memohon pertolongan). Dengan ini Islam memberikan terapi terhadap cara-cara ibadah manusia yang penuh kesesatan, kemusyrikan dan kesia-siaan.

Setelah masuk Islam, penulis berusaha untuk meninggalkan macam-macam ritual ibadah kepada thaghut, dan menjauhi tahayul-tahayul, bi’dah dan churofat (t.b.c).

Ternyata ibadah-ibadah dalam Islam yang diperintahkan Allah SWT dan dituntunkan oleh Rasulullah saw seperti shalat, puasa, zakat dan haji, mengandung banyak hikmah dan mengandung pula unsur terapi, baik untuk “penyakit-penyakit” fisik, mental dan spiritual bagi individu maupun sosial.

Setelah masuk Islam, karena terkesan oleh hadits Nabi : “Carilah ilmu dari buaian sampai ke liang lahad”, maka penulis melanjutkan kuliah lagi di Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta, mengulang dari tingkat IV, dulu dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) Jakarta sudah sampai tingkat V tapi belum selesai. Skripsi penulis “Hubungan antara Keteraturan Menjalankan Shalat dan Tingkat Kecemasan”. Ternyata shalat yang khusyu’ dan hadir hati yang dijalankan secara teratur dapat mengurangi tingkat kecemasan (anxiety), yang menjadi sumber penyakit jasmani maupun rohani.

V. TERAPI MUAMALAH

“Allah  SWT menciptakan manusia dari seorang laki dan seorang perempuan, kemudian menjadikannya bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling taqwa diantara kamu”. Surat Al Hujurat : 13 ini merupakan terapi yang tepat bag manusia, yang karena berbeda-beda suku dan bangsa, beda warna kulit dan keturunan, kamudian banyak yang tersesat dan terkena penyakit “chauvinism” yaitu mengagungkan dan menyombongkan etnik, keturunan, ras atau warna kulitnya sendiri, dan akhirnya timbulah “racial discrimination” atau rasisme yaitu membenci, memusuhi dan membeda-bedakan perlakuan dengan penuh prasangka negatif terhadap orang lain atau kelompok lain yang berbeda etnik, keturunan, ras atau warna kulitnya.

Dengan ajaran Islam yang mengutamakan persaudaraan dan persamaan sesama manusia, yang paling mulia adalah yang paling taqwa dan bukan karena warna kulit, keturunan, etnik, ras, suku  atau bangsa, maka penulis pun menjadi tentram. Kita dilahirkan bukan kemauan kita sendiri menjadi suku atau bangsa tertentu.

Islam menentang kedholiman dan menganjurkan keadilan, bahkan menghargai kebajikan terhadap sesama manusia (ada tiga tingkatan muamalah atau hubungan antar manusia : dholim, adil dan ihsan). Jadi Islam memberikan terapi di bidang muamalah yang keliru.

VI. TERAPI AKHLAK

Sesungguhnya Allah SWT telah mendesain jiwa manusia secara sempurna dengan menganugerahi kapasitas tertentu, berfitroh suci dan bias ditingkatkan kesuciannya, tetapi bisa juga menjadi kotor jika dikotori.

Sering manusia tidak kuat menahan godaan dari luar atau tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya sendiri, sehingga terjerumus kepada kemaksiatan dan kerusakan akhlak.

Zaman modern ini terkenal dengan timbulnya dekadensi moral di mana-mana, karena manusia mengutamakan kenikmatan inderawi, kelezatan duniawi, hedonism, liberalism dan materialism. Normal-norma agama dilanggar dengan enaknya dan hidayah Allah SWT  ditolak mentah-mentah. Akhirnya manusia jatuh ke dalam situasi jahiliyah modern. Maka Islam diperlukan lagi untuk dijadikan terapi bagi akhlak yang rusak ini, seperti dulu pernah mengobati di zaman jahiliyah. Rasulullah saw mengatakan: “Innama bu’itstu li utammima makarimal akhlaq” (Aku tidak diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia).

Sesungguhnya jahiliyah modern ini sudah sedemikian parah. Apakah di dalam kejahiliyahan modern masih ada sesuatu yang tidak terkena penyelewengan? Kita telah mengikuti semua bidang kehidupan jahiliyah, bidang kehidupan jahiliyah, bidang individu dan masyarakat, bidang politik, ekonomi dan social, bidang moral dan seni budaya,bidang pemikiran dan perilaku manusia. Apakah masih ada segi kehidupan lainnya yang tidak  terkena kerusakan?

Hukum Allah yang telah memastikan keruntuhan jahiliyah karena kejahatannya sendiri, akan tetapi tidak memastikan akan terjadinya kebaikan secara otomatis sebagai pengganti kejahiliyahan setelah keruntuhannya. Hanya manusia sendirilah yang menentukan pilihan mengenai apa yang baik baginya setelah keruntuhan thaghut. Apakah manusia memilih hidayah Ilahi, ataukah ia mau tunduk kepada thaghut lain yang siap mencaplok orang-orang yang lari meninggalkan kejahiliyahan tetapi masih menjauhkan diri dair tuntunan Ilahi. “ Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Al Ra’du : 11).

“Sunnatullah (hukum Allah) yang berlaku atas orang-orang terdahulu, dan engkau (hai Muhammad) tidak akan menemukan perubahan pada sunnatullah” (Al –Ahzab : 62).

Semua jenis kejahiliyahan masih akan bertahan hidup selagi di dalamnya terdapat beberapa keping kebaikan, hingga saat kejahatannya telah menelan habis sisa-sisa kebaikan yang tinggal. Pada saat itulah kebaikan sudah tercekik seluruhnya dan tak dapat bernafas lagi. Pada saat persoalan telah mencapai titik itu, terjadilah campur tangan kehendak Ilahi dan terjadi pulalah perubahan. Namun kehendak Ilahi itu mengubah keadaan lewat usaha dan gerak manusia sendiri.
Manusia boleh memilih dalam menentukan nasibnya sendiri : kehancuran total-manakala  mereka tetap menjauhkan diri dari tuntunan Ilahi, atau, mengikuti jalan hidayah dan kembali kepada Allah, agar eksistensi mereka tetap mantap, kukuh dan tentram.

Maka tugas kita adalah berda'wah secara ikhlas, menyebarkan risalah, selalu amar ma’ruf nahi munkar, mudah-mudahan Allah SWT memberikan hidayah bagi orang-orang yang lapang hatinya kepada Islam, hanya Allahlah yang dapat memberikan hidayah (Al Qashash : 56).

Kalau kita diam, yang ditakutkan adalah bencana yang akan menimpa bukan hanya kepada orang-orang yang melakukan kejahatan.

VII. PENUTUP

Demikian uraian mengenai Islam sebagai terapi, terapi aqidah, terapi ibadah, terapi muamalah, terapi akhlak dan sesungguhnya terapi terhadap segala bidang kehidupan manusia.

Dalam zaman modern ini yang penuh kesesatan, kerusakan dan “penyakit”, bahkan sering dikategorikan sebagai kejahiliyahan modern, maka satu-satunya obat adalah Islam.

Tak ada apapun yang dapat melepaskan manusia dari kejahiliyahan dan kesesatan mereka, dari penderitaan dan kebingungan mereka, dari kecemasan dan kegelisahan mereka, dari kerusakan pikiran, perasaan dan kehidupan mereka, selain Islam. Sepanjang sejarah belum pernah ada sesuatu yang dapat melepaskan umat manusia dari kejahiliyahan, kecuali Islam dalam maknanya yang luas dan menyeluruh, yaitu agama Islam yang diturunkan oleh Allah kepada umat manusia melalui para Nabi dan rasul : Nabi Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad  - shalawatullah’alaihim.

DAFTAR PUSTAKA

Adi, Arif Wibisono. 1985. “Hubungan antara Keteraturan Menjalankan Shalat dan Tingkat Kecemasan”. Skripsi Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
______. 2002. “Psikologi Transpersonal: Kasus Shalat”. Dalam Jurnal Ilmiah Berskala Psikologi, “ Indigenous”, volume 6 Nomor 1, Mei 2002, Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.
Adz-Dzaky, M. Hamdani Bakran. 2002 (cetakan II)” Konseling dan Psikoterapi Islam”. Terj.: Muhammad Tohir dan Abu Leila. Penerbit Fakar Pustaka Baru, Yogyakarta.
Qutb, Muhammad. 1985. “Jahiliyah Abad Dua Puluh”. Penerbit Mizan, Bandung.
Hawari, Dadang. 1995, “Al Qur’an : Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa”. Penerbit PT Dana Bhakti Prima Yasa, Yogyakarta.
Najati, Muhammad Usman. 2002 (cetakan II). “Al Qur’an dan Psikologi”. Terj : Tb. Ade Asnawi Syihabuddin. Penerbit Aras Pustaka, Jakarta.
Seligman, Martin E.P. 2005.  Authentic Happines-Menciptakan Kebahagiaan dengan Psikologi Positif. Terj : Eva Yulia Nukman. Penerbit Mizan, Bandung.
Shariati, Ali. 1984. “Tugas Cendekiawan Muslim.“ Terj : M. Amien Rais. Penerbit Shalahudin Press, Yogyakarta.
Sholeh, Moh. & Musbikin, Imam. 2005. “Agama sebagai Terapi”. Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta.