Cetak 

BEBERAPA CATATAN DALAM RANGKA MERUMUSKAN MODEL PENDEKATAN BAGI PERENCANAAN  DAKWAH

UNTUK KELOMPOK ETNIK TIONGHOA

Oleh : Ahmad Watik Pratiknya

 

1.    Pendahuluan

Dakwah adalah aktualisasi sala satu fungsi kodrati seorang muslim, fungsi kerisalahan yaitu berupa proses pengkondisian agara seseorang atau masyarakat mengetahui, memahami, mengimani dan mengamalkan Islam sebagai ajaran dan pandangan hidup. Dengan ungkapan, hakekat dakwah adalah suatu upaya untuk merubah suatu keadaan menjadi keadaan lain yang lebih baik menurut tolok ukur ajaran Islam. Pengkondisian dalam kaitan perubahan tersebut, berarti upaya menumbuhkan kesadaran dan kekuatan pada diri obyek, maka dakwah juga harus mempunyai makna pemecahan masalah kehidupannya, pemenuhan kebutuhannya.

Terminologi (a) proses pengkondisian, (b) perubahan yang menumbuhkan kesadaran internal dan (c) pemecahan masalah atau pemenuhan kebutuhan, merupakan tiga istilah kunci dalam rangka memahami dan menganalisis dinamika kegiatan dakwah. Dan tiga istilah ini juga yang dijadikan dasar bagi penulis untuk mengkaji permasalahan aspek pendekatan dakwah untuk kelompok etnik Tionghoa ini.

 

2.    Dakwah suatu Kegiatan Multi Dialog

Dengan menggunakan pengertian seperti tersebut diatas, maka dakwah dapat dipandang sebagai proses komunikasi dan proses perubahan sosial. Dakwah sebagai proses komunikasi, karena pada tingkat (objek) individual, kegiatan dakwah tidak lain adalah suatu kegiatan komunikasi, yaitu kegiatan penyampaian pesan dari kumunikator (da’i) kepada komunikan (objek dakwah ) dengan melalui media tertentu agar terjadi perubahan pada diri komunikan. Perubahan-perubahan yang dimaksud akan meliputi pemahaman (pengetahuan), sikap dan perilaku individu. Dengan demikian, dalam terminologi agama perubahan yang terjadi akan menyangkut aspek akidah (iman), akhlak, ibadah dan mungkin amalah (amalan). Perubahan tersebut dimungkinkan oleh karena terjadinya perubahan ‘ nilai’ yang secara aktual dianut oleh seseorang.

Dakwah juga merupakan suatu proses perubahan sosial, oleh karena perubahan nilai diatas juga terjadi pada tingkat masyarakat. Pada tingkat komunitas ini, proses perubahan nilai dimungkinkan akibat interaksi sosial antar individu anggota masyarakat baik sebagai objek maupun subjek dakwah.

Dengan melihat dakwah sebagai proses komunikasi dan proses perubahan sosial, maka penggambaran dakwah hanya sebagai ‘dialog lisan’ menjadi tidak adekuat lagi. Untuk dapat terjadinya proses perubahan-perubahan diatas, disamping dialog lisan dibutuhkan dialog-dialog lain, seperti ‘ dialog amal’ (karya), ‘ dialog seni, ‘ dialog intelektual’ (filsafati) dan ‘ dialog budaya’ (nilai). Dengan demikian, disamping sebagai dialog lisan (dakwah bil lisan), dakwah mestinya juga merupakan dialog-dialog : amal, seni intelektual dan budaya.

3.    Efektivitas Dakwah

Diatas dikemukakan bahwa kegiatan dakwah pada hakekatnya adalah kegiatan komunikasi  yang spesifik. Spesifik dalam : pesan-pesannya (ajaran Islam), komunikatornya (da’I, subjek dakwah), komunikannya (objek dakwah), tujuannya (kondisi yang lebih Islam). Dengan demikian, salah satu ukuran efektivitas dakwah dapat dicerminkan dari sejauh mana proses komunikasi dalam kegiatan dakwah tersebut berlangsung secara efektif.

Suatu proses komunikasi dikatakan efektif apabila pesan-pesan yang disampaikan komunikator dapat sampai dan diterima komunikan, sehingga mengakibatkan perubahan perilaku komunikan. Perubahan perilaku tersebut meliputi aspek-aspek pengetahuan, sikap dan perbuatan komunikan, yang mengarah atau mendekati tujuan yang ingin dicapai proses kom tersebut. Dalam kaitan dakwah, maka efektivitas tercermin pada sejauh mana objek dakwah (individu dan masyarakat) mengalami perubahan, dalam hal makin benar dan lengkapnya akidah, akhlak dan mu’amalahnya.

Faktor-faktor dan kondisi-kondisi apa yang harus dipenuhi agar proses komunikasi tersebut berjalan dengan efektif? Apa analogifaktor dan kondisi tersebut dalam kegiatan dakwah, bagaimana optimasi pemenuhannya?

Setidak-tidaknya ada dua hal yang amat menentukan efektivitas suatu proses komunikasi, yaitu (a) apakah pesan yang disampaikan kemonukator sampai pada komunikan, dan (b) kalau sampai apakah pesan tersebut diterima, sehingga menimbulkan perubahan pada diri komunikan? Dari uraian ini akan diketahui bahwa kondisi atau faktor yang mempengaruhi sampai dan diterimanya pesan oleh komunikan akan amat menentukan efektivitas komunikasi. Hal-hal yang menentukan sampai tidaknya pesan pada umumnya berkaitan dengan masalah strategi (model komunikasi apa, metode yang mana, media apa yang digunakan, dan sebagainya), sementara hal-hal yang menentukan diterima atau tidaknya pesan pada umumnya berkaitan dengan isi atau subtansi pesan.

Masalah strategi (sampainya pesan) ditentukan oleh kondisi objektif komunikan dan keadaan lingkungan pada saat komunikasi tersebut berlangsung. Dikaitkan dengan kegiatan dakwah khusus di kalangan kelompok etnik Tionghoa, maka hal-hal yang mempengaruhi sampainya pesan dakwah ditentukan oleh kondisi objektif dakwah tersebut dan kondisi lingkungannya. Dengan demikian, maka strategi dakwah apa yang tepat untuk kelompok etnik diatas, ditentukan oleh dua faktor tadi. Berkaitan dengan pemikiran tersebut, maka perlu diingatkan bahwa dalam kerangka strategi ini tidak boleh terlepas dari dua esensi pertama makna kegiatan dakwah seperti tersebut pada pendahuluan, yaitu sebagai kegiatan yang merupakan ‘proses pengkondisian’ yang diharapkan menimbulkan ‘ perubahan dari dalam’ diri objek dakwah.

Masalah isi atau subtansi pesan (diterimanya pesan) ditentukan oleh seberapa  jauh ketergayutan (relevansi) isi pesan tersebut dengan kondisi subjektif komunikan, yaitu kebutuhan atau ‘needs’ mereka. Hal ini berarti, untuk dakwah di kalangan Tionghoa, perlu diketahui kebutuhan apa yang mereka rasakan, dan seberapa jauh pesan dakwah dapat menyantuni kebutuhan tersebut. Hal yang terakhir inilah yang mencerminkan esensi ketiga makna kegiatan dakwah, yaitu pendekatan pemecahan masalah. Ketergayutan antara isi pesan dakwah dengan kebutuhan tersebut hendaknya diartikan sebagai ketergantungan yang proporsional artinya pemecahan masalah atau pemenuhan kebutuhan yang dapat mengarahkan atau lebih mendekatkan objek dakwah pada tujuan dakwah itu sendiri, dan bukan sebaliknya. Untuk ini, maka pengolahan pesan dakwah dari sumbernya (ajaran Islam) akan sangat menentukan.

Dari uraian tersebut diketahui  bahwa hal-hal yang menentukan model pendekatan dakwah untuk kelompok etnik Tionghoa ialah yang menyangkut kondisi objektif (ciri-ciri) objek dakwah tersebut dan kondisi subjektif (kebutuhan, persoalan yang mereka hadapi). Sementara  faktor lingkungan dakwah tidak bersifat spesifik, karena akan berpengaruh juga pada lingkungan dakwah non Tionghoa, atau dakwah pada umumnya. Kedua macam kondisi objek dakwah ini akan ditinjau secara lebih mendalam dalam kajian ini.

4.    Identifikasi Objek Dakwah

Objek dakwah dapat dibedakan dalam umat dakwah dan umat ijabah. Umat dakwah ialah masyarakat luas non muslim, dalam kaitan judul kajian ini berarti kelompok etnik Tionghoa non muslim. Umat ijabah ialah kaum muslimin sendiri, dalam kaitan ini ialah kelompok etnik Tionghoa yang sudah masuk Islam. Terhadap objek pertama, dakwah bertujuan mengenalkan Islam kepada  mereka (dengan bentuk dialog apapun) agar dengan kesadaran sendiri mereka menjadikan Islam pilihan agamanya. Terhadap umat ijabah, dakwah bertujuan untuk lebih meningkatkan lagi penghayatan dan pengamalan mereka, sehingga (makin) menjadi muslim yang benar-benar ‘kaafah’, muslim yang Islami.

Dalam rangka mengembangkan model pendekatan (baik yang menyangkut strategi, model komunikasi, metode dan media, maupun yang menyangkut isi pesan dakwah perlu diidentifikasi ciri-ciri dan permasalahan  yang dihadapi kelompok etnik Tionghoa, yang merupakan kondisi objektif dan kondisi subjektif. Secara umum dapat dikelompokkan dalam tiga hal, yaitu : (a) ciri spiritual, (b) ciri non spiritual, dan (c) permasalahan yang dihadapi (kondisi subjektif).

Berikut ini akan dikemukakan secara garis besar, ciri-ciri umat dakwah Tionghoa serta permasalahan yang dihadapi baik umat dakwah maupun umat ijabah Tionghoa. Ungkapan disuguhkan secara umum dan digambarkan secara ‘ekstrem’ agar diperoleh bahan analisis yang tajam.

4.1    Ciri Spiritual

Alam spiritual umat dakwah pada umumnya lebih mengarah pada pandangan-pandangan  filsafati dan model daripada suatu pandangan agama. Yang dimaksud ialah, pandangan keagamaan mereka lebih merupakan pandangan etik dan ‘miskin’ alan konsep ketuhanan yang lebih transendental agama, suatu konsep keagamaan yang lebih kosmosentrik. Disamping itu mereka juga cenderung bersifat sinkretis. Hal ini dapat dilihat misalnya, sebagai mereka masih memeluk ‘trias gama’ sekaligus, yaitu Konghucu, Tao dan Budha. Sifat sikretis muncul pada kemampuan mereka memadukan ketiga pandangan hidup tersebut menjadi satu. Pandangan religi kosmosentrik tersebut dapat  dipahami karena ketiga agama yang mereka anut (baik sendiri-sendiri maupun yang ‘memadukan’) lebih mementingkan aspek filsafati dan moral, yaitu bagaimana berlaku baik dan berusaha menjadi orang baik di dunia.

Disamping sifat pandangan, keagamaan sinkreitik dan kosmosentrik tersebut, kelompok etnik Tionghoa juga diwarnai ole pemujaan pada arwah leluhur atau nenek moyang. Hal ini terlihat misalnya dari dijumpainya abu leluhur pada alter pemujaan di rumah keturunan lelaki tertua, yang selalu dipuja oleh semua anggota keluarga besarnya. Nenek moyang mereka diyakini mempunyai semacam kekuatan yang dapat memberikan perlindungan pada mereka. Lebih dari itu, bahkan mampu memberikan ‘berkah’ agar masa depan mereka baik.

Kelompok etnik Tionghoa senang juga pada kehidupan  mistik, perdukunan. Hal ini sebenarnya agak bertentangan dengan semangat ajaran Taosime yang menumbuhkan ‘etos inteletual’ yang tinggi. Namun kenyataannya tidak sedikit diantara mereka yang mencari jalan hidup kegaiban dan mistik.

4.2    Ciri non spiritual

Yang dimaksud ciri non spiritual ialah kondisi objektif umat dakwah, baik yang menyangkut aspek adat, budaya, sosial, ekonomi, dan sebagainya. Secara garis besar ciri non spiritual kelompok etnik Tionghoa adalah sebagai berikut:

4.3    Kondisi subjektif (needs dan permasalahan)

Beberapa masalah atau kebutuhan yang menonjol yang dialami oleh umat dakwah antara lain:

  1. Masalah identitas
  2. Masalah sekuritas
  3. Rasa curiga terus menerus, sebagai akibat pandangan stereotip kelompok ‘pri’
  4. Rasa keterasingan dan pengucilan

Pada umat ijabah Tionghoa, mungkin permasalahan tersebut sudah amat berkurang, namun demikian mereka menghadapi persoalan lain, yaitu:

  1. Pengucilan dari keluarga atau kelompok etniknya yang non muslim baik bersifat fisik psikologik maupun ekonomi dan
  2. Kesulitan dalam adaptasi kebiasaan dan perilaku, terurama bagian mereka yang baru masuk Islam

Disamping ciri dan permasalahan diatas, hal ini yang perlu dipertimbangkan ialah adanya semacam ‘jarak’ antara kelompok etnik Tionghoa dengan Islam dan kaum muslimin. Jarak ini umumnya dianggap sebagai warisan sejarah kolonial. Namun, faktor-faktor perbedaan tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi juga mempunyai kontribusi yang bermakna pada timbulnya jarak tersebut. Jarak yang dimaksud dapat meliputi jarak psikologik, jarak sosiologik, maupun jarak kultural. Adanya jarak ini akan menyulitkan penyampaian dakwah islamiyag pada mereka. Keadaan ini bertolak belakang dengan kemudahan mereka memasuki agama nasrani, karena faktor historis (pengkelasan sosial), pendidikan dan budaya mereka berdekatan dengan masyarakat dan budaya Eropa yang kristiani.

5.    Strategi Umum

Bertolak dari hal-hal tersebut dalam butir (1)  sampai (40 sebagai gagasan awal diajukan rumusan strategi umum dakwah kelompok etnik Tionghoa sebagai berikut:

  1. Peninjauan kembali pendekatan dakwah dengan upaya sentral perencanaan dakwah yang lebih berorientasi pada permasalahan masalah yang dihadapi umat dakwah dan umat ijabah Tionghoa
  2. Pergeseran medan dakwah (model komunikasi dakwah) konvensional, yaitu tabligh dalam makna sempit menjadi dakwah yang ‘ multi dialog’ (dialog agama , dialog seni, dialog intelektual, dialog budaya)
  3. Pergeseran dari dakwah berskala ‘ massa’ menjadi dakwah ‘ personal’ dan atau dakwah keluarga
  4. Melakukan upaya konstruktif dalam rangka menghilangkan ‘ jarak’ antara Tionghoa dengan Islam dan umat Islam secara keseluruhan
  5. Perlunya pendekatan, perencanaan dan pengelolaan yang berbeda antara dakwah untuk umat ijabah dan umat dakwah Tionghoa
  6. Perlu dilakukan pengkajian yang mendalam mengenai ciri-ciri dan permasalahan yang dihadapi kelompok etnik Tionghoa di berbagai daerah dalam rangka mengembangkan strategi yang tetap bagi daerah tersebut
  7. Perlu dikembangkannya mekanisme pengorganisasian yang lebih profesional, dengan pemilihan tugas yang jelas antar subjek d (d’ai, perencana dan pengelola kegiatan dakwah )
  8. Untuk umat dakwah, pengenalan Islam terutama lebih ditekankan pada aspek-aspek akhlak, aspek kemasyarakatan, filosofik dan aspek spiritual Islam, dan jangan terlalu menekankan dulu pada aspek fiqhiyah dan syariatnya
  9. Perlunya dikembangkan institusi keluarga dan kontak ekonomi (bisnis) sebagai ‘nukleus’ kegiatan dakwah
  10. Perlunya dikembangkan model pendekatan dan metode dakwah yang dapat menumbuhkan identitas kemusliman dan kenasionalan mereka, sehingga menumbuhkan rasa mana, berkurangnya rasa  keterasingan dan ketercurigaan
  11. Mengembangkan forum-forum dialog terencana antara umat ijabah Tionghoa dengan umat ijabah lainnya, serta dikembangkannya metode ‘anak asuh’ dalam menyantuni warga muslim baru yang terkucil
  12. Perlu keterlibatan kalangan intelektual untuk  mengembangkan dan melaksanakan kegiatan dakwah di kalangan Tionghoa
    Sebagai penutup untuk kesekian kalinya perlu ditegaskan, bahwa tanggung jawab dakwah baik untuk umat dakwah maupun umat ijabah Tionghoa terletak pada seluruh umat dan lembaga-lembaga dakwah Islam.

    DAFTAR BACAAN
    Arifin, M, Psikologi Dakwah, Bulan Bintang, Jakarta. 1977
    Astrid S. Susanto, Komunikasi Kontemporer, Bina Cipta, Bandung, 1977
    Chris Hartono, Ketionghoaan dan Kekristenan, BPK Gunung Muria, Jakarta, 1974
    Gerungan, WA, Psikologi Sosial, Eresco, Jakarta, 1977
    Kincaid D, dan Schramm, W. Azaz-azaz Komunikasi Antar Manusia (terjemahan), Proyek NKK, Depdikbud, Jakarta, 1979
    Ma’ruf Siregar. Kesulitan Orang-orang Tionghoa dalam Memahami dan Mengamalkan Hukum Islam di DIY dan Jawa Tengah, Thesis IAIN Suka, Yogyakarta, 1977
    Onghokham, sekitar Heboh Soal Non Pribumi, Sinar Harapan, 4 Mei 1981
    Rogers, E. Communication Strategies for Family Planning, Colier Macmillan Publ., London, 1973
    ______, Communicational Develepment, Critical Perspektive, Sage Publ. London, 1976