ISLAM DI BEIJING

Hikmatul Akbar1

Beijing adalah ibu kota Tiongkok, negara dengan jumlah penduduk mencapai 1,3 miliar jiwa. Tiongkok yang mempunyai nama asli Republik Rakyat Tiongkok atau Zhonghua Renmin Gongheguo merupakan negara dengan sistem politik sosialis-komunis, yang tentu saja mengajarkan atheisme kepada rakyatnya. Di balik itu, sesuai dengan reformasi Tiongkok yang mulai digagas Deng Xiaoping pada tahun 1982, telah terjadi perubahan besar pada negeri tersebut. Sistem ekonominya tidak lagi menggunakan sistem sosialis murni, melainkan sistem sosialis pasar. Sistem politiknya mulai mengenalkan adanya pemilu, meskipun hanya dilakukan pada tingkat lokal. Sistem kepercayaan dan agamanya kembali ke masa sebelum komunis, di mana semua agama mulai diberi kebebasan untuk berkembang. Penganut berbagai kepercayaan boleh menjalankan berbagai ajarannya, dan juga mendirikan rumah-rumah ibadah. Meskipun Agama Budha dan Kong Hu Cu tetap menjadi agama mayoritas di Tiongkok, tetapi agama lain juga berkembang termasuk Islam, yang sebenarnya sudah masuk ke Tiongkok sejak abad ke 6 M. Islam pernah menjadi agama penting di Tiongkok pada masa pemerintah Dinasti Yuan dan Dinasti Ming, hingga kita bisa mendapati beberapa pembesar di Beijing pada masa  itu juga beragama Islam. Bukti lain pentingnya agama Islam di Tiongkok adalah berdirinya Masjid Niujie di Beijing yang sudah ada sejak masa pemerintahan Dinasti Liao. Masjid ini pertama kali didirikan tahun 996 M.

 

 

Beijing adalah kota metropolitan dengan penduduk mencapai 21,7 juta jiwa. Penduduk Muslimnya sendiri berkisar pada angka 250.000 hingga 400.000 jiwa. Dengan kondisi masyarakat maju dan modern, Beijing semestinya mempunyai masyarakat yang konsumtif dan berjiwa bebas. Hal ini tidak berlaku bagi masyarakat Muslim yang hidup di sana, kebanyakan dari mereka berusaha untuk menjalankan agamanya dengan baik.

Dukungan untuk menjalankan Agama Islam terlihat dengan banyaknya Masjid yang ada di Beijing dan juga jumlah restoran halalnya. Restoran halal yang terkenal adalah Hóng Bīn Lou yang telah berdiri sejak tahun 1853. Restoran ini terkenal dengan hidangan kepala kambing dan buntut sapi nya. Selain itu juga disediakan masakan sirip ikan hiu, berbagai jenis masakan ayam dan juga menu lain dari bahan daging kambing. Selain Hóng Bīn Lou juga terdapat Restoran halal lain di Beijing seperti Restoran Chái Shì Fēng Wèi Zhāi, Restoran Dōng Lái Shun, Restoran Huá Tiān Yòu Yī Shùn, Restoran Jù Bǎo Yuán, Restoran Nán Lái Shùn, Restoran Qīng Zhēn Měi Shí Yuàn, Restoran Wàng Dé Lóu Qīng Zhēn Cān Tīng, Restoran Xī Lái Shùn, dan Restoran  Xīn Jiāng. Biasanya restoran-restoran itu menyediakan hidangan sapi dan kambing, selain tentunya ikan dan ayam. Sekarang mereka melengkapinya dengan menu Kebab dan juga nasi yang dimakan dengan menggunakan tangan, bukan sendok.

 

 

Masyarakat Muslim di Beijing juga bisa menjalankan ibadahnya sehari-hari karena sudah tidak ada pelarangan lagi dalam urusan agama. Mereka bisa mendirikan Masjid dan beribadah di dalamnya dengan bebas. Tercatat ada lebih dari 50 masjid terdapat di Beijing. Beberapa yang terkenal adalah Masjid Niujie, Masjid Dongsi, Masjid Nandouya, Masjid Madian, Masjid Fayuan, Masjid Dongzhimen, Masjid Haidian, Masjid Huashi, Masjid Pushou, Masjid Nanxiapo, Masjid Changying dan Masjid Changping. Tuanya umur masjid-masjid ini juga menceminkan masyarakat Muslim di Beijing yang sudah sangat relijius sejak berabad-abad yang lampau.
 Selain Masjid Niujie yang dibangun pada masa Dinasti Liao, Masjid Dongzhimen juga berumur cukup tua, karena dibangun pada masa Dinasti Yuan (1271-1368). Sementara Masjid Haidian, Masjid Huashi, Masjid Pushou, Masjid Changying dan Masjid Changping dibangun pada masa Dinasti Ming (1368-1644). Masjid yang lain seperti Masjid Nandouya, Masjid Madian, Masjid Fayuan dan Masjid Nangxiapo, dibangun pada masa Dinasti Qing (1644-1911).

Pada bulan Ramadhan, umat Islam di Beijing bisa dengan bebas berpuasa. Biasanya mereka makan sahur dengan menu Mie dan Mantou. Mantou adalah sejenis Bakpao yang lebih padat, tetapi rasanya tawar. Sebagian dari mereka juga makan nasi, menu yang sebenarnya lebih dikenal di kota-kota di Cina bagian selatan. Setelah berpuasa seharian, mereka berkumpul di masjid untuk buka puasa bersama. Umumnya terdapat hidangan kue-kue yang serupa dengan kue bulan, yang biasanya dihidangkan pada masa perayaan Zhong Qiu. Tetapi ada juga beberapa masjid yang menghidangkan makanan yang lebih modern, termasuk rollcake yang merupakan kue dari Eropa.

Sayangnya sebagian generasi muda Muslim di Beijing tidak mengikuti ritual keagamaan ini. Mereka sudah sibuk dengan pekerjaan kantor dan larut dalam modernisasi. Terkadang mereka tidak berpuasa dengan alasan terlalu capek dengan pekerjaan, tetapi sebagian besar masih mau datang ke masjid untuk beribadah dan berkumpul dengan Muslim yang lain. Hal yang sama dilakukan oleh Muslim yang sudah tua. Karena alasan umur dan kesehatan, mereka tidak berpuasa lagi, tetapi mereka menggantinya dengan memperbanyak sedekah.

 

 

Ma Zhijun, pengurus Masjid Niujie yang sudah berumur 62 tahun mengatakan bahwa banyak sekali Muslim di Beijing yang datang ke masjid itu pada saat berbuka puasa. Masjid Niujie selalu menyediakan sajian makanan dalam kotak yang jelas sudah berlabel halal. Makanan ini biasanya dikirim dari perusahaan catering milik Muslim untuk mereka yang beribadah Sholat Maghrib, Isya dan Sholat Tarawih di masjid. Bagi Ma Zhijun suasana itu sangat harmonis dan nyaman, sekaligus memperlihatkan bahwa orang Islam pada dasarnya adalah bersaudara.

Kawasan Masjid Niujie sebagai pusat aktivitas Islam di Beijing terlihat bisa mempertahankan ciri-ciri keislamannya. Di kawasan Niujie ini juga para penduduk Muslim bisa tetap menjalankan perkerjaannya sebagai penyedia daging sapi dan kambing, sebagai pemilik restoran halal, pengrajin batu mulia, dan berbagai pekerjaan lain yang mencirikan kelestarian budaya Islam. Meskipun banyak jenis pekerjaan dan usaha lain yang muncul, perekonomian Niujie tetap bersandar pada keislaman tersebut. Apalagi sekarang didukung oleh perkembangan usaha wisata halal yang pengunjungnya tidak hanya berasal dari seluruh Tiongkok, tetapi juga dari berbagai negara di seluruh dunia. Hal ini agak berbeda dengan yang terjadi di kawasan Masjid Madian, di mana para penduduk Muslim sudah mulai pindah dan kawasan itu  kehilangan ciri-ciri keislamannya. Daerah sekitar Madian kemudian berkembang seperti halnya kawasan perkotaan lain, penuh dengan bangunan modern dan kantor-kantor yang tidak lagi bernafaskan Islam. Sementara para pedagang di daerah Niujie bisa menjual hingga total 6.000 kg daging sapi dan kambing setiap hari, kawasan Madian sudah kehilangan pedagangan seperti itu dan para peminat daging sapi dan kambing kemudian lebih suka datang ke kawasan Niujie. Selain itu, pemerintah Kota Beijing juga memberikan dukungan bagi kawasan Niujie untuk menjadi pusat ekonomi bagi industri pariwisata internasional.

Muslim di Beijing umumnya berasal dari Etnis Hui, berbeda dengan Muslim di Provinsi Xinjiang yang merupakan Etnis Uighur. Ketika Muslim di Beijing boleh menjalankan agamanya dengan tenang, hal sebaliknya terjadi di Urumqi ibukota Xinjiang. Muslim di sana harus berhadapan dengan pemerintah untuk bisa menjalankan agamanya. Hal ini terjadi karena mereka dikaitkan dengan terorisme dan upaya memberontak terhadap pemerintah Tiongkok. Belajar dari hal tersebut, bagaimanapun, dengan kebebasan yang diberikan pemerintah kepada Masyarakat Islam di Beijing, umat Islam harus bisa memanfaatkannya dengan baik. Tetapi selain itu juga tetap dibutuhkan upaya untuk berbaur dan berdamai dengan pemerintah, sehingga Umat Islam bisa mempertahankan budaya, identitas dan kesatuan kelompok Islam di Kota Beijing.

1. Dosen Senior pada Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, UPN “Veteran” Yogyakarta. Pengampu Mata Kuliah Politik Luar Negeri Tiongkok.