NILAI-NILAI FILSAFAT DAN BUDAYA TIONGHOA

 Prof. Dr Lasiyo M.A., M.M

 

A.    PENGANTAR

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam peradaban manusia dewasa telah membawa berbagai perubahan dalam perikehidupan manusia dan memberikan tantangan baru, sehingga manusia dirangsang untuk mencari alternatif solusi dari setiap permasalahan yang muncul. Manusia pada umumnya mendambakan kehidupan yang damai dan sejahtera diantara sesama bangsa dan negara, walaupun terdapat perbedaan sistem sosial dan politik, kebudayaan, peradaban, dan pandangan hidup serta sistem filsafat.

Filsafat merupakan bidang yang menyangkut hampir semua bidang kehidupan manusia. Filsafat sering diartikan sebagai ilmu pengetahuan dan sebagai pandangan hidup yang dimiliki oleh setiap individu, masyarakat, dan bangsa. Pandangan hidup merupakan asas atau prinsip yang kebenarannya telah diakui kemudian dijadikan dasar arah dan tujuan hidup agar hidup ini dapat dipahami dan menjadi lebih bermakna.

Pemikiran filsafat merupakan pemikiran reflektif yang dapat berubah dari waktu ke waktu, suatu konsep yang terbuka dalam arti selalu berkembang sesuai dengan keadaan, dan dalam mencari pemecahan problematika tergantung pada bidang yang dihadapi maupun cabang filsafat yang dipakai sebagai objek formalnya (Lao Sze-Kwang, 1995. 272).  Pemikiran filsafat bersifat runtut (memperhatikan kaidah-kaidah logika), menyeluruh (mencakup seluruh aspek kehidupan), mendasar (sampai ke hal-hal yang fundamental), dan spekulatif (dapat dijadikan titik tolak bagi pemikiran berikutnya).

 

Kata budaya merupakan perkembangan dari kata majemuk budi dan daya, yang berupa kemampuan cipta, rasa, dan karsa. Selain itu juga dikenal dengan istilah kebudayaan. Pengertian kebudayaan menurut A.L. Kroeber dan Kluckhon adalah keseluruhan perbuatan manusia yang bersumber dari kemauan, pemikiran, dan perasaannya. Filsafat dan kebudayaan berkembang bersama-sama masyarakat pendukungnya, yang akan  menunjukkan tingkat peradaban masyarakat tertentu, termasuk ilmu pengetahuan  seperti yang pernah diungkapkan oleh Northrop bahwa : “A culture which admits only  concepts by intuition is authomatically prevented from developing science of the Western type beyond the most elementary, inductive, natural hostory stage”(Hu Shih dalam Moore, 1977 : 105).

Salah satu kelompok masyarakat dan bangsa yang filsafat dan budayanya masih dijunjung tinggi dan hidup di tengah-tengah pergaulan global dewasa ini adalah budaya dan filsafat Tionghoa, yang dapat ditemui hampir di seluruh penjuru dunia, walaupun mereka mungkin telah menganut agama dan kepercayaan yang berbeda dengan yang dianut oleh nenek moyangnya.

B.    FILSAFAT DAN BUDAYA TIONGHOA

Antara filsafat,  budaya, agama dan kepercayaan Tionghoa memiliki kaitan sangat erat, sehingga memerlukan kecermatan untuk memahaminya agar diperoleh kejelasan satu dengan lainnya. Hal-hal tersebut berkembang bersama-sama dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari secara simultan.

Filsafat dan budaya Tionghoa ditujukan untuk memperbaiki dan menyeimbangkan hubungan antar-sesama manusia, khususnya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa. dan bernegara. Adapun pemikirannya bersifat antara lain: antroposentris. this worldly, demokratis, pragmatis, hormat terhadap orang tua, dan harmoni.

Manusia sebagai titik sentral segala-galanya, kemampuan manusia dikembangkan sedemikian rupa sehingga melalui daya kreatifnya yang rasional, ia selalu berusaha menghasilkan hal-hal yang bermanfaat untuk meningkatkan kualitas hidup mansuia,  seperti adanya konsep-konsep dalam upaya memenuhi kebutuhan manusia, terutama kebutuhan akan kebahagiaan, misalnya dengan menganjurkan agar manusia selalu dapat mengembangkan sifat-sifat kemanusiaan yang luhur serta memiliki sikap setia kawan yang tulus antar sesama manusia.

Sifat manusia yang ingin mengetahui segala sesuatu merupakan fenomena pemikiran filsalat bagi manusia yang berbudaya, begitu pula dalam filsafat dan budaya Tionghoa. Confucius sebagai seorang filsuf, budayawan, dan pendidik selalu menekankan kepada murid-muridnya agar selalu mencari hal-hal baru yang belum pernah diketahui, yaitu dengan jalan mendengar banyak tentang semua perkara, kemudian menyisihkan hal yang baik kemudian diikutinya. melihat yang banyak dan mengingat-ingatnya. Dalam melakukan penelitian terhadap hal-hal yang belum diketahui itu dilakukan melalui pendekatan empiris dan kritis analitis. Kebenaran harus dapat diterima oleh akal manusia, oleh sebab itu maka Confucius selalu menekankan pada kemampuan akal manusia dan selalu menolak mistik dan pencerahan secara mendadak. Sifat ingin mengetahui segala sesuatu atau segala perkara ini merupakan langkah awal dalam mencapai kebahagiaan umat manusia yang kemudian hendaknya diikuti oleh tindakan-tindakan berikutnya yaitu perluasan pengetahuan, ketulusan kehendak, penertiban batin, pengembangan hidup pribadi, pengaturan hidup keluarga, pengaturan hidup bermasyarakat, ketertiban bangsa, dan perdamaian dunia. Manusia yang dicita-citakan adalah menjadi manusia sempurna yaitu manusia yang arif dan bijaksana, bermanfaat bagi kehidupan konkret. Bahkan sering dinyatakan bahwa manusia yang diidealkan adalah menyatunya diri pribadi dengan alam semesta atau identification of the individual with the Universe.

Kehidupan saat ini merupakan suatu kebahagiaan tersendiri, sehingga perlu mendapat perhatian yang khusus, oleh karena itu bersifat kekinian (this worldly) dan toleran, baik terhadap filsafat serta kepercayaan lain. Filsafat dan budaya Tionghoa menekankan pada kehidupan kini dan saat ini, tidak mengenai kehidupan nanti atau dunia lain (other worldly) yang bersifat idealistik. Sifat this worldly ini menimbulkan persoalan dalam sejarah filsafat maupun budaya Tionghoa, seperti pada mulanya memiliki kecenderungan other worldly (dalam kenantian) dalam perkembangannya sedikit banyak berpengaruh oleh sifat kekinian (this worldly), seperti yang tercermin dalam ajaran bodhisattva dan meditasi dari Ch'an Buddhisme. Bodhisattva  menunjukkan kepedulian terhadap problem nyata dalam masyarakat, meditasi yang biasanya dilakukan pada tempat-tempat khusus, kemudian dapat dilakukan ditengah-tengah kehidupan dan kegiatan manusia sehari-hari dalam masyarakat. Manusia ideal menutur Ch'an Buddhisme adalah manusia yang mampu membantu sesama manusia dalam mencapai kebahagiaan. Aspek positif sifat this  worldly dapat mempengaruhi proses berpikir manusia untuk bertindak secara konkret, serta memanfaatkan waktu dan keadaan secara efektif dan efisien. Manusia modern pada umumnya memandang bahwa waktu itu amat berharga, sehingga sering ditemui adanya orang-orang yang bekerja tanpa mengenal waktu karena banyaknya tugas dan pekerjaan yang harus diselesaikan dengan cepat dan tepat. Begitu pula manusia harus dapat memanfaatkan setiap peluang dan kesempatan yang ada demi pemenenuhan kebutuhan dan kemajuan. Adapun aspek negatifnya, apabila silat this worldly  ini terlalu menonjol maka orang akan memiliki kecenderungan yang materialistis dan hanya mementingkan hal-hal yang bersifat duniawi, dalam arti kurang atau tidak mementingkan lagi nilai-nilai spiritual, padahal nilai ini sangat diperlukan untuk memberikan arti dan makna bagi manusia itu sendiri.

Sifat demokratis dalam filsafat dan budaya Tionghoa dapat ditemukan dalam penempatan harkat dan martabat manusia. Manusia dipandang memiliki kedudukan yang sama termasuk pula dalam pengembangan inteleklualnya, yang dikenal dengan istilah intelectual democracy. Confucius memberikan kesempatan seluas-seluasnya bagi para peserta didik untuk mengadakan penelitian dan percobaan sendiri. Ia selalu menganjurkan murid-muridnya menyelidiki segala sesuatu secara empiris, yaitu berdasarkan penampakan praktis dan berdasarkan pengalaman.  Dianjurkan pula bahwa seorang pendidik yang baik tidak boleh mendektekan kebenaran sesuatu hal kepada peserta didiknya, bahkan mereka harus diberi kesempatan untuk mengembangkan daya kreativitas dan pemikirannya sendiri dan mencari penemuan-penemuan dan terobosan-terobosan baru. Apabila kebenaran yang diperoleh berbeda atau bertentangan dengan yang disampaikan gurunya, mereka boleh mendebat dan mendiskusikannya, berargumentasi untuk mempertajam penalaran perlu selalu dikembangkan. Oleh karena itu diperlukan kedewasan dalam sikap dan berpikir.

Kecenderungan untuk mengukur segala sesuatu dengan nilai kegunaan praktis, sehingga bersifat pragmatis juga mewarnai pemikiran filsafat Cina, sehingga sedikit banyak juga berpengaruh dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang ada. Sifat  ini dapat ditemukan seperti dalam pemikiran filsafat Confucius maupun Mo Tzu yang mengarahkan ajaran-ajarannya kepada perbaikan masyarakat dan negara.  Pragmatisme sendiri, dewasa ini merupakan tantangan kehidupan modern telah melanda sebagian besar umat manusia, sehingga pengkajian ulang mendesak untuk dilakukan. Hal ini dapat ditemukan dalam etos kerja masyarakat Tionghoa dimanapun mereka berada, yang secara umum terdiri atas orang-orang yang ulet dalam bekerja dan tidak mengenal lelah maupun waktu. Ditinjau dari aspek positif, sifat pragmatis akan menjadikan manusia itu hemat dan bertindak hati-hati. Namun, ditinjau dari aspek negatifnya, manusia hanya akan mau melakukan sesuatu perbuatan jika tindakannya akan mendatangkan keuntungan khususnya bagi dirinya sendiri, dan ada juga kecenderungan untuk mengelak terhadap tugas-tugas dan kewajiban-kewajiban yang memerlukan pengorbanan khususnya pengorbanan materi. Sifat  pragmatis ini akan menjadi baik dan bermanfaat jika selalu dikaitkan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Sifat  hormat terhadap orang tua, cukup dominan dalam filsafat maupun budaya Tionghoa yang dilandasi oleh konsep loyatty (kesetiaan). Filial piety (bakti anak terhadap orang tua) merupakan landasan utama dalam sistem kekeluargaan dan kekerabatan Tionghoa, sedangkan loyalty  merupakan dasar dalam konsep etika kemasyarakatan. Filial piety telah menempatkan fungsi dan kedudukan manusia untuk saling menyayangi antara satu dengan yang lain sepertiui halnya dalam kehidupan keluarga, yang harus dikembangkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Harmoni atau keseimbangan dari berbagai aspek kehidupan perlu dijaga sebaik-baiknya agar dapat diwujudkan ketertiban dan kedamaian hidup. Perbedaan-perbedaan yang muncul dalam perspektif filsafat dan budaya Tionghoa perlu ditempatkan secara proporsional, karena pada hakikatnya perbedaan itulah yang mendukung adanya persatuan atau unity in diversity.

Filsafat dan budaya Tionghoa juga menekankan peranan intuisi dan pengalaman individu, sebagai curahan isi hati dan perasaan yang kemudian diekspresikan dalam bentuk simbol-simbol sebagai manifestasi hal-hal konkret.

Lebih lanjut bertolak dari beberapa kecenderungan dalam filsafat dan budaya Tionghoa tersebut maka dalam perspektif kajian ilmiah dapat dikemukakan tiga dimensi meliputi dimensi metafisis, epitemologis, dan aksiologis.

Dalam filsafat dan budaya Tionghoa terdapat kepercayaan terhadap asal mula atau sumber dari alam semesta ini, sedangkan proses dan gerak yang terjadi dalam alam semesta menganut prinsip yin yang, yang berdimensi metafisis antara lain (Cheng 1995: l7l):

  1. Segala sesuatu yang berubah ini pada prinsipnya berasal dari satu sumber dan merupakan asal mula dari realitas yang sebenarnya tidak terpisah dengan semua yang berubah (the principle of the cosmo-ontological unity of things).
  2. Kekuatan untuk menyatu dan menyeluruh dari segala sesuatu terdapat dalam setiap hal (the principle of the onto-cosmological unity of things).
  3. Seluruh perbedaan-perbedaan berasal dari perubahan yang diturunkan  dari integrasi dan penyatuan hal-hal yang berlawanan (the principle of the relative unities of polarities).
  4. Segala penyatuan dari segala sesuatu itu ditemukan dalam kesatuan yin dan yang, dalam hubungan vang berbeda (the principle of reality as yin yang polarity).
  5. Kesatuan menyebabkan adanya perubahan dalam yin yang, jadi terdapat bentuk dinamis dari seluruh proses yin dan yang (the principle of creativity as a yin yang polrazation)
  6. Terdapat realitas tertinggi yang menyatukan seluruh realitas dan proses yin yang yang menimbulkan seluruh polaritas. (the principle of ultimate unity).

Pengalaman eksistensial manusia menempatkan manusia dalam posisi di dunia ini yang menyebabkan manusia merasa stabil dan tidak stabil, bebas dan terikat, yakin dan ragu-ragu.

Manusia dapat merasa stabil, bebas, dan yakin sebab mereka dapat mengidentifikasikan dirinya ke dalam jaringan (network) dari hubungan dengan orang lain dan benda-benda yang sangat esensial dalam pertumbuhan, kepuasan, dan pemenuhan kebutuhan. Sebaliknya manusia merasa tidak stabil, terikat, selalu ragu-ragu jika dalam hubungan dengan lainnya tidak memiliki kemampuan, pengetahuan dan tindakan yang memadai. Jadi, jika seseorang dapat memiliki pengetahuan yang memadai dan dapat mengoreksi tingkah lakunya maka ia akan dapat menghilangkan aspek negatif dalam hubungan yang tidak stabil, keterikatan, maupun perasaan tidak menentu.

Oleh karena itu hendaknya dapat memahami fungsi dan kedudukan di dunia ini baik dalam hubungan dengan alam semesta maupun dengan Sang Pencipta, sehingga manusia akan tahu tugas dan kewajibannya serta dapat menempatkan diri dalam hidup ini.

Dimensi metafisis (ontologis) filsafat cina menunjukkan adanya kepercayaan kepada T’ien (Konfusianisme), Tao (Taoisme), Wu (dalam Ch'an Buddhisme, Li atau Tao (Neo-Konfusianisme) sebagai asal mula dari alam semesta beserta isinya yang kemudian diikuti dengan prinsip yin yang dalam proses perubahannya. Sedangkan dimensi metafisis antropologis ditunjukkan dari pendapat bahwa kodrat manusia itu baik (Mensius) dan kodrat manusia itu jahat (Hsun Tzu) yang keduanya sependapat bahwa manusia untuk menjadi baik melalui pendidikan terutama pendidikan tentang etika.

Bertolak dari penekanan pemikiran filsafat dan budaya Tionghoa pada pembahasan mengenai manusia, maka dimensi epistemologisnya dapat dijabarkan sebagai berikut:

  1. Pengetahuan manusia itu didasarkan pada aspek-aspek yanga praktis, dan kurang dipelajari bagaimana proses dari pengetahuan itu sendiri. Hal ini selalu dikaitkan dengan relevansi praktis yang mewakili minat praktis dari manusia (the principle of knowledge of practicality).
  2. Pengetahuan manusia selalu berakar pada eksistensi dan pemahaman manusia yang diarahkan pada tujuan dari dunia untuk menunjukkan eksistensi manusia (the principle of knowledge of subjectivity)
  3. Pengetahuan manusia itu diderivasikan dari interaksi antara refleksi manusia itu sendiri dengan observasi tentang dunia dan esensi dari kosmologi baik dalam arti keseluruhan maupun dinamis. Bagaimana sebagai pemahaman kosmologls pada individu-individu baik secara imaginasi maupun tujuan dari prosedur pengambilan keputusan (the principle of knowledge of interactive balance) (Cheng, 1995 : 17l)

Pemikiran filsafat Tionghoa disatu sisi memandang perlu dan penting pengetahuan bagi manusia seperti yang diajarkan confusianisme dan Neoconfusianisme, yaitu dengan penekanan untuk selalu mencari dan menemukan pengetahuan baru yang kemudian dimanfaatkan untuk kehidupan masyarakat. Taoisme dan Legalisme nampaknya kurang menaruh perhatian kepada pengetahuan bahkan kalau perlu manusia memiliki pengetahuan sesedikit mungkin agar dapat hidup sejahtera dan dapat diatur dengan mudah.

Dimensi epistemologis filsafat dan budaya ditunjukkan adanya pendapat yang menyatakan bahwa pengetahuan itu bersumber pada realitas konkret yang harus diteliti dan diuji secara terus menerus, namun ada juga yang berpendapat bahwa sumber pengetahuan itu adalah manusia itu sendiri yang sekaligus sebagai subjek sehingga pengetahuan intuitif lah yang dapat diterima kebenarannya (Mensius) dan pengetahuan rasional yang utama (Konfusius). Selain itu dalam pengetahuan perlu disertai kejujuran dan manfaat yang besar bagi masyarakat. Seperti yang diajarkan dalam konsep chun tzu  maupun boddhisattva.

Dalam filsafat dan budayaTionghoa, dimensi aksiologis dapat dijabarkan dalam ajaran etika, yang dapat dikemukakan sebagai berikut :

  1. Manusia pada dasarnya selalu berada dalam kaitan erat antara perasaan, pengalaman untuk berhubungan antara dirinva dengan yang lain, yang kemudian memunculkan kewajiban dan kebebasan (the principle of ethical ordering)
  2. Manusia dapat memiliki pengalaman dalam bentuk peradaban pada saat mereka bertindak dalam memenuhi kebutuhannya sebagai individu maupun debagai anggota masyarakat (the principle of ethical fulfillment)
  3. Nilai adalah sesuatu yang potensial dari eksistensi dalam arti hubungan yang harmonis dan perubahan yang kreatif (the principle of universal value) (Cheng, 1995.173)

Etika cukup berperanan pada Confisianisme, Ch'an Buddhisme, maupun Neo Confusianisme, dengan menekankan pada tingkah laku yang wajar dan tidak dibuat-buat, bahkan dengan melalui etika sebenarnya manusia akan dapat menemukan kebahagian. Ukuran etika dapat dikatakan masih bersifat relatif karena selalu dikembalikan kepada manusia itu sendiri, sehingga perlu dirumuskan ukuran baik buruk tingkah laku manusia. Hubungan antar sesama manusia masyarakat, bangsa, dan negara yang akhir-akhir ini makin erat perru dirandasi sikap saring menghargai dan bekerja sama yang saling mengurungkan agar hubungan itu tetap terbina guna mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan bersama.

Dimensi aksiologis-pemikiran firsafat dan budaya ditekankan pada nilai kebaikan, kebenaran dan keindahan itu cenderung untuk dikembalikan kepada manusia itu sendiri dengan prinsip chung dan shu. Tujuan utama dalam pemikiran filsafat dan budaya untuk menjadi orang yang bijaksana dan bahagia, dalam arti hidup ini penuh dengan ketenteraman dan keselamatan dengan menyesuaikan diri kehidupan sosial sebagai anggota masyarakat maupun alam semesta. Orang  yang bijaksana adalah orang yang memiliki pengetahuan luas dan dapat memanfaatkannya bagi kehidupan umat manusia. Begitu etika memegang peranan penting dalam kehidupan maupun pengembangan ilmu pengetahuan.

Pemikiran firsafat dan budaya juga telah menawarkan konsep-konsep dalam mewujudkan pemerintahan dan masyarakat yang tertib dan aman baik melalui peraturan perundang-undangan dengan sistem pahala dan hukuman (Legalisme), kebijaksanaan dan demokrasi (Konfusianisme), menjadi orang yang mampu membantu orang lain mencapai pencerahan (Ch'an Buddhisme), dengan kembali kepada alam (Taoisme), dan manusia yang bermanfaat hidup di tengah-tengah lingkungannya (Neo-Konfusianisme). Pemikiran filsafat dan budaya kiranya lebih banyak sumbangannya dalam pengembangan ilmu sosial dan humaniora daripada ilmu-ilmu kealaman (natural science).

C.    PENANGGALAN IMLEK DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT DAN BUDAYA

Dalam perkembangan peradaban umat manusia dikenal tiga macam sistem penanggalan yaitu: lunar, solar, dan lunisolar. Sistem  solar didasarkan pada peredaraan bulan mengelilingi bumi seperti sistem penanggalan Hijriah. Sistem solar didasarkan pada peredaran bumi mengelilingi matahari seperti dalam sistem penanggalan Masehi. Adapun sistem lunisolar merupakan perpaduan antara sistem lunar dan solar.

Penanggalan Imlek yang  mendasarkan sistem lunisolar memiliki konsekuensi setiap 19 tahun dilakukan 7 kali penambahan atau penyisipan satu bulan pada tahun tertentu. Agar jumlah hari pertahun dalam kurun tertensu sama dengan sistem solar.

Sistem penanggalan Imlek sebenarnya sudah digunakan ribuan tahun sebelum Masehi, namun penentuan tahun baru sering diubah dari waktu ke waktu oleh setiap Dinasti yang berkuasa di Tiongkok, misalnya pada masa Dinasti Xia disesuaikan dengan datangnva musim semi dari sebelah utara. Pada masa Dinasti Han tepatnya pada masa pemerintahan Kaisar Han Wu Ti pada tahun 84 Sebelum Masehi perhitungan awal tahun baru Imlek dimulai sejak kelahiran confucius atau K'ung Fu Tze, yang lahir pada tahun 551 sebelum Masehi. Apabila tahun itu ditambahkan dengan tahun Masehi menjadi 551 + 2003 : 2554. Hal ini merupakan penghormatan kepada orang yang telah berjasa meletakkan landasan bagi kehidupan masyarakat Tiongkok yang sampai sekarang masih dilestarikan dalam kehidupan sehari-hari.

Jika dikaji lebih lanjut penanggalan Imlek merupakan karya besar masyarakat Tionghoa sebagai pendukung kebudayaan dan sekaligus pencerminan filsafat hidup masyarakat pada masyarakat.

Tionghoa pada masa pemerintahan Dinasti Han yang sampai sekarang masih dipakai dan dilestarikan terutama dalam kehidupan budaya.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Anh, To Thi, 1985, Nilai Budaya Timur dan Barat: Konflik atau Harmony?, Gramedia. Jakarta.
  2. Baskin, Wade. 1974, Classic  in Chinese philosophy, Adam & Co, New. Jersey.
  3. Chan, Wing-tsit, 1973- A Source Book in Chinese Philosophy, Princeton University press, New Jersey.
  4. Cheng, Chung-ying, 1995, Chinese Metaphysics as Non-Metaphysics Confician and Taoist Insight into the Nature of Reality” dalam Allinson, Robert, E., Understanding the Chinese Mind : The Philosophical Roots, Oxford University Press, Oxford.
  5. Creel, H.G., 1954, Chinese Thought from Mencius to Mau Tse-tung,  Eyre & Spottiswoode, London
  6. de Bary, W.T., 1972, The Buddhist Tradition in India, China and Japan, Random House, New York
  7. Fung Yu-lan, 1952, A Hostory of Chinese Philosophy, Vol, Princeton University Press, Princeton.
  8. Fung Yu-lan, 1960, A Short History of Chinese Philosophy, The Macmillan Co, New York.
  9. Hughes, ER., 1954, Chinese Philosophy in Classical Times, J.M., Dent & Sons Ltd, London.
  10. Jochim, C, 1986, Chinese Religious : Cultural Perspective,  Prentice Hall Inc, New Jersey.
  11. Lancashire, Dauglas, 1981, Chinese Essays on Religion and Faith, Chinese Material Centre, San Fransisco.
  12. Lao Sze-Kwang, 1995, “On Understanding Chinese Philosophy : an Inquiry and a Proposal” dalam Allinson, ., E., Understanding the Chinese Mind: The Philosophical Roots. Oxford University Press, Oxford.
  13. Moore, Charles, A, 1977, The Chinese Mind : Essentials of Chinese Philosophy and Culture, The University Press of Hawaii, Honolulu.
  14. Moore, Charles, A, 1964 , A Philosophy East and West , Princeton University Press, Princeton.
  15. Sih, Paul Kt.T. (ed), 1965, Chinese Humanism and Christian Spirituality, St John’s University Press, New York.

Yogyakarta, 15 Oktober 20013