IMLEK DALAM PERSPEKTIF SYARI’AT ISLAM

(Sebuah Catatan Kecil)

Oleh: Dr. KH,.Malik Madani
Dosen Fakultas Syariah, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

 

Islam sebagai Agama Rahmatan lil – ‘Alamin

Sejalan dengan penegasan Allah dalam Al-Qur’an (Q.S 21 Al-Anbiya’ 107), diutusnya Nabi Muhammad saw ke dunia ini adalah untuk menjadi rahmat (kasih sayang) bagi alam semesta. Konsekuensi dari kedudukan Islam yang sedemikian ini ialah bahwa Islam bersikap ramah terhadap apa dan siapapun, sepanjang tidak mengancam eksistensi agama Islam. Hal ini sesuai dengan karakteristik Islam yang lain, yakni Islam sebagai dimus-salam (the religion of peace). Oleh karena itu, Islam bersikap toleran (tasamuh) terhadap adanya hal-hal yang berbeda dengan apa yang dibawakan oleh dirinya, dalam arti memahami hal itu sebagai suatu perbedaan yang tidak boleh dipaksakan untuk sama. Allah sendiri dalam Al-Qur’an (Q.S 10/ Yunus : 99) meningkatkan nabi Nya bahwa jika Tuhan menghendaki, niscaya semua orang yang ada di muka bumi beriman seluruhnya. Dengan demikian, tidak boleh ada pemaksaan kepada manusia untuk beriman.

Apabila perbedaan dalam keyakinan harus diterima sebagai suatu kenyataan, maka terlebih lagi perbedaan dalam budaya dan adat kebiasaan. Untuk yang terakhir ini, Islam sungguh sangat toleran dan akomodatif. Dalam hukum Islam dikenal adanya lembaga ‘urf (adat kebiasaan), dimana adat kebiasaan yang benar (‘urf shahih) diakui sebagai bagian dari rujukan hukum Islam. Dalam kaitan ini, terkenal suatu kaedah hukum Islam : al-‘adah muhakkamah (adat kebiasaan itu ditempatkan sebagai hukum).

 

Sejalan dengan semangat ini pula, para wali penyebar Islam di Jawa bersikap sangat toleran dan akomodatif terhadap warisan budaya lokal pra Islam. Yang mereka lakukan bukan memusuhi dan menghancurkan warisan budaya itu, melainkan merangkul dan mengisinya dengan ruh nilai-nilai keislaman. Maka terjadilah proses Islamisasi secara sejuk dan damai.

Imlek sebagai Warisan Budaya Etnis Thionghoa

Salah satu warisan budaya masyarakat Thionghoa adalah kalender Imlek. Seperti dinyatakan oleh Prof. Dr. H. Lasiyo, sistem kalender Imlek ini telah digunakan sejak ribuan tahun sebelum Masehi, walaupun penentuan tahun barunya sering diubah dari waktu ke waktu oleh setiap dinasti yang berkuasa di Tiongkok. Terakhir, adalah keputusan Dinasti Han yang menetapkan tahun kelahiran Conficius (557 sebelum Masehi) sebagai awal tahun Imlek, sehingga sekarang kita berada pada tahun 2254.

Seperti ditulis oleh Th. Sumartana, belum ada kesepakatan di kalangan para ahli tentang keberadaan Konfusianisme sebagai agama ataukah hanya sebagai filsafat etika belaka. Apabila Konfusianisme merupakan filsafat etika semata, maka perayaan tahun baru Imlek jelas merupakan warisan budaya etnis. Sedangkan apabila Konfusianisme merupakan agama, maka Imlek tidak dengan sendirinya dapat disebut sebagai bagian ritual agama, sebab kalender Imlek telah berlaku sejak ribuan tahun sebelum lahirnya Conficius. Yang perlu diwaspadai ialah apakah penetapan tahun kelahiran Conficius sebagai awal tahun baru Imlek itu kemudian diikuti dengan upacar ritual keagamaan Kong Hu Cu atau tidak. Jika memang terbukti ada unsur-unsur ritual semacam itu, kewajiban setiap Thionghoa Muslim untuk menghindarinya dan mengembalikannya kepada bentuk aslinya sebagai warisan budaya etnis Thionghoa. Setelah itu menjadi tugas mereka pula untuk mengisi budaya etnis itu dengan nilai-nilai Islam yang mereka yakni. Sebagai contoh, pergantian tahun dalam sistem kalender apapun bermakna pertambahan usia, sesuau yang sangat layak untuk disyukuri. Maka bagi umat Islam keturunan Thionghoa tidak ada halangan untuk mensyukuri datangnya tahun baru Imlek dengan melakukan sujud syukur dan memanjatkan doa menurut agama Islam. Bahkan hal ini dapat dianggap pula sebagai salah satu media dakwah Islam di kalangan masyarakat Thionghoa. Demikian  pula tidak ada halangan bagi masyarakat Thionghoa Muslim untuk menjadikan masjid atau musholla sebagai tempat mengungkapkan rasa syukur dan memanjatkan do’a secara Islam atas datangnya tahun baru Imlek, karena masjid menjadi milik seluruh umat Islam, tanpa membedakan latar belakang etnis mereka.  Menurut beberapa buku, perayaan tahun baru Imlek di Tiongkok dilakukan oleh semua pemeluk agama di masing-masing tempat ibadahnya, termasuk oleh kaum Muslimin di masjid-masjid mereka.

Wallahu a’alamu bish-shawab

Yogyakarta, 14 Oktober 2003