Cetak 

AWAL MASUKNYA ISLAM KE CINA : DARI VERSI KE VERSI

Dr. Muhammad Syafii Antonio, MEc

 

Tidak ada yang tahu pasti perihal kapan dan siapa tokoh muslim yang pertama kali menyiarkan ajaran Islam ke Cina. Tetapi, dari berbagai sumber yang berhasil dihimpun terdapat sejumlah versi, yang salah satu diantaranya cukup untuk dipercayai kebenarannya.

Versi pertama, ajaran Islam sampai di negeri Cina dibawa oleh para sahabat Nabi Muhammad SAW yang hijrah ke Habasyah (Etiopia). Mereka hijrah untuk menghindari kekejaman kaum musyrikin Quraisy Makkah.

Para sahabat yang hijrah ke negeri tersebut mendapat perlindungan dari Raja Atsmaha Negus di Kota Axum. Sejumlah sahabat yang tidak kembali ke Makkah, kemudian berlayar dan tiba di daratan Cina pada saat Dinasti Sui berkuasa (581-618 M).

 

Catatan  lain menyebutkan bahwa Islam pertama kali tiba di Cina pada tahun 616 M. Sahabat Nabi Muhammad SAW yang bernama Sa’ad bin Abi Waqqas dan tiga sahabatnya berlayar dari Etiopua menuju Cina. Setelah beberapa saat di Cina, Sa’ad kembali ke tanah Arab (Makkah atau Madinah) dan 21 tahun kemudian kembali lagi ke Guangzhou (Cina) dengan membawa Kitab  Susi Al Qur’an.

Versi kedua, Nabi Muhamad SAW mengantar dan melepas beberapa orang sahabat untuk pergi berdakwah ke Cina. Mereka antara lain Sa’ad bin Abi Waqqas, Qais bin Abu Hudzafah, ‘Urwah bin Abi Uttan, dan Abu Qais bin al-Harits. Peristiwa ini terjadi sebelum beliau berhijrah ke Madinah.

Berdasarkan sumber ini, tampaknya penyebaran Islam ke negeri Cina sengaja dilakukan dengan mengutus dai dari Makkah, dan utusan itu pun dilepas langsung oleh Rasulullah SAW. Versi ini memiliki kesamaan dengan versi sebelumnya dalam hal salah seorang nama sahabat yang diutus ke Cina serta waktu dimulainya pernyebaran Islam ke Cina, yakni pada masa dakwah periode Makkah.

Versi ketiga, agama Islam pertama kali tiba di Cina pada tahun 615 M atau sekitar 20 tahun lebih setelah wafatnya Rasulullah SAW. Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan menugaskan Sa’ad bin Abi Waqqas untuk menyampaikan ajaran Allah SWT ke daratan Cina. Misi utama delegasi ini adalah mengajak kaisar Cina untuk memeluh Islam.

Terlepas dari adanya perbedaan catatan, ketiga versi tersebut sama-sama menyebutkan bahwa sahabat yang bernama Sa’ad bi Abi Waqqas adalah orang pertama atau pimpinan delegasi pertama yang diutus untuk menyiarkan Islam di negeri Tirai Bambu itu. Beliau mengetuai kelompok dakwah sebanyak 15 orang.

Disebutkan pula bahwa Sa’ad meninggal dunia di Cina pada tahun 635 M. Kuburannya di Kota Hami dan dikenal sebagai Geys’ Mazaes. Sumber lain menyebutkan bahwa kuburan tersebut merupakan tempat salah seorang sahabat lainnya dimakamkan, bukan makam Sa’ad bin Abi Waqqas. Sumber lainnya menyebutkan makam Sa’ad di Guangzhou.

Dari catatan Dinasti Tang (618-906 M), diketahui bahwa Cina telah menjalin hubungan diplomatic dengan Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan yang berpusat di Madinah. Pada tahun 651 M, utusan Khalifah ‘Utsman, Sa’ad bin Abi Waqqas mengunjungi Cina dan diterima baik oleh Kaisar Yung Wei dari Dinasti Tang. Kemudian atas perintah Kaisar, dibangunlah sebuah masjid yang diberi nama Masjid Huaisheng atau Masjid Memorial di Kanton, Provinsi Guangzhou. Inilah masjid pertama yang di daratan Cina.

Semasa Dinasti Tang, negeri Cina tengah berada di masa keemasan dan menjadi cosmopolitan budaya sehingga Islam tersebar dan dikenal masyarakat Tiongkok.
Disebutkan bahwa kaisar Dinasti Tang sendiri tampaknya memiliki pengetahuan mengenai nabi-nabi Islam dan Kristen, sebagaimana yang dituturkan oleh penjelajah Arab yang bernama Ibnu Wahhab dari Basrah kepada Abu Zaid, sekembalinya ia ke Irak.

“Ketika diterima oleh Kaisar (Yizong)”, demikian dikatakan Ibnu Wahhab, “Kaisar memerintahkan seorang penerjemah untuk bertanya kepada saya, "Dapatkah anda mengenali nabi-nabi anda bila melihat gambarnya?”. “Saya akan mencobanya jawab saya. Kemudian Kaisar memerintahkan untuk mengeluarkan sebuah kotak berisikan gulungan yang dibentangkan di hadapannya, serta berpaling pada penerjemahnya, seraya berkata, ‘Persilahkan ia melihat gambar nabi-nabinya. ‘Saya mengenali gambar nabi-nabi itu, dan kuucapkan salam. “Mengapa engkau menggerakkan bibirmu?“ Tanya sang Kaisar. ‘Saya mengucapkan salam untuk mereka,’ jawab saya. ‘Bagaimana anda mengenali mereka?’ Tanya Kaisar. ‘Dengan atribut mereka. Sebagai contoh ini adalah Nuh as dengan perahunya yang menyelamatkan ia dan keluarganya ketika Tuhan  menenggelamkan dunia ini dengan air bah. Kaisar tersenyum mendengar hal ini dan berkata, ‘Anda pastilah mengenali Nuh as…’..’ Ini Musa as dengan tongkatnya; kata saya. ‘Betul', jawab Kaisar…Saya berkata lagi, ‘Ini adalah Yesus (Nabi Isa) yang menunggang keledai dengan diiringi murid-muridnya.’…Di atas tiap-tiap gambar itu terdapat catatan riwayat mereka. Saya melihat pula gambar-gambar lain yang tidak saya kenali. Penerjemah mengatakan bahwa itu adalah nabi-nabi Cina dan India’.

Catatan tersebut memperkuat pendapat bahwa Islam masuk ke Cina pertama kali secara resmi bukan pada masa Rasulullah SAW masih hidup. Tetapi, secara tidak resmi, mungkin saja agama Islam sudah masuk ke daratan Cina ketika Rasulullah SAW masih hidup, yang dilakukan oleh para pedagang muslim dari Negara Arab.
Disebutkan bahwa para pedagang Arab memainkan peran yang sangat strategis dalam penyebaran Islam. Mereka kemudian membentuk suatu komunitas yang cukup penting di Kanton. Mereka sangat patuh terhadap pemimpin yang dipilihnya. Keberadaan para pedagang Arab  di Kanton menyebabkan wilayah ini menjadi pusat perdagangan penting, sekaligus merupakan pusat penyebaran Islam.

Sebenarnya hubungan bangsa Cina dengan bangsa Arab telah terjalin sebelum perkembangan agama Islam. Kemunculan Islam memperkuat kembali hubungan tersebut. Umat Islam tidak dianggap sebagai saingan dan ancaman bagi dinasti-dinasti yang ada di Cina. Secara umum, mereka mendapat sambutan yang baik dari pemerintah di sana.

Berdasarkan ketiga versi diatas, dapat disimpulkan bahwa Islam memasuki Cina pada awal abab ke 7 M. Dari catatan sejarah yang paling kuat, tampaknya Sa’ad bin Abi Waqqas adalah orang atau delegasi muslim pertama yang memperkenalkan Islam ke Cina, pada mas Dinasti Tang.

Kehidupan masyarakat Cina di zaman Dinasti Tang berada dalam kemakmuran. Banyak pelabuhan dibuka di kawasan Cina tenggara pesisir laut dan berangsur-angsur menjadi  pusat perdagangan antara bangsa pada masa itu. Kaisar Dinasti Tang membuat kebijakan yang menjadikan perdagangan lebih terbuka dan bebas bagi pedagang Cina maupun pedagang dari luar negeri.

Di masa tersebut terdapat dua jalur perdagangan yang sangat terkenal. Kedua jalur ini dikenal dengan sebutan “ Jalur Sutra” dan “ Jalur Lada”. Jalur Sutra berada di daerah Cina barat laut, sedangkan Jalur Lada di daerah Cina tenggara pesisir laut. Waktu itu,  kedua jalur ini melambangkan kemakmuran ekonomi dan perdagangan, sekaligus meningkatkan hubungan antara kerajaan Cina dengan kerajaan lain di dunia, terutama di kawasan Arab.

Proses penyebaran agama Islam ke negeri Cina terus berlangsung hingga abad ke 13 M, di zaman Dinasti Yuan (1279-1368 M). Pada masa tersebut orang-orang Islam yang berasal dari negeri lain seolah menganggap Cina sebagai tanah air mereka yang kedua. Mereka memperkenalkan ilmu dan ketrampilan lain dari luar Cina, termasuk dari barat. Orang-orang muslim pendatang dan yang menetap di Cina ketika itu memberikan sumbangan besar bagi pembangunan Cina namun mereka pun turut menhkaji ilmu dan kebudayaan Cina untuk lebih mendekatkan hubungan dengan masyarakat setempat.

Hubungan orang-orang Islam dengan penguasa Cina mulai memburuk sejak Dinasti  Qing (1644-1911 M) berkuasa. Tak cuma dengan penguasa, hubungan muslim dengan masyarakat Cina lainnya juga menjadi makin sulit. Dinasti Qing melarang berbagai kegiatan keislaman.

RUTE PERDAGANGAN DAN PENYEBARAN ISLAM KE CINA

Pada awal Islam tersiar dari Timur Tengah ke Cina melalui dua jalur yang sangat jauh. Kedua jalur tersebut adalah jalur yang kemudian dikenal sebagai Jalur Sutra dan jalur lain yang disebut Jalur Lada.

Disamping pengiriman para pendakwah yang dikirim langsung oleh pemerintah Islam di Jazirah Arab, penyebaran Islam ke Cina juga terjadi berkat jasa pada pedagang muslim di masa tersebut. Berdakwah sambil berdagang membuat banyak orang Arab muslim tiba di Cina. Kemakmuran dalam bidang ekonomi serta stabilitas keamanan dan politik di Cina waktu itu sangat mempengaruhi terjadinya proses migrasi dan penyebaran Islam. Apalagi, hubungan persahabatan antara “ The Middle Kingdom” julukan bagi Cina, dengan dunia Arab terjalin dengan baik.

Pada zaman Dinasti Tang, pedagang muslim sudah mulai ramai di Cina. Mereka tersebar di Chang An, ibukota Dinasti Tang. Orang-orang Arab dan Persia laut mengelola pertokoan di Bandar-banda besar. Barang-barang yang dijual, antara lain ialah gading gajah, cula badak, bumbu, rempah-rempah, dan barang-barang lain yang berasal dari kawasan Asia barat dan Afrika. Sementara barang-barang produksi Cina, seperti kain sutra tembikar, dan daun teh, dibawa dan dijual di kawasan timur tengah.

Jalur Sutra

Jalur Sutra adalah sebuah jalur perdagangan yang melalui Asia selatan dan menghubungkan Chang An dengan Antiokia, Suriah dan beberapa kota lainnya. Pengaruhnya mencapai Korea dan Jepang.

Jalur Sutra terbagi menjadi jalur utara dan selatan, meluas dari pusat perdagangan Cina utara dan Cina selatan. Rute utara melewati Bulgar-Kypchak ke Eropa timur dan Semenanjung Crimea, dan dari sana menuju Laut Hitam, Laut Marmara, dan Balkan ke Venezia. Rute selatan melewati Ryekistan-Khurasan menuju Mesopotamia dan Anatolia menuju laut tengah atau melalui Levant ke Mesir dan Afrika Selatan.

Para sahabat penyebar Islam yang menggunakan Jalur Sutra tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berdakwah disepanjang perjalanan. Di setiap wilayah yang mereka singgahi, muncul pusat-pusat penempatan umat Islam sehingga pengaruh Islam di kawasan barat Cina berkembang lebih cepat ketimbang di kawasan timur,. Bahkan, makam para sahabat penyeru Islam bisa ditemui di kawasan barat Cina.

Jalur yang pernah digunakan pelaut Marco Polo dalam pengembaraannya ke negeri Cina di masa pemerintah Kubilai Khan dari Dinasti Yuan (1279-1368) itu, juga telah digunakan oleh para saudagar dari timur tengah untuk menjual barang dagangan mereka. Para pedagang Arab membeli bahan-bahan mentah dari masyarakat setempat untuk dijual kembali kepada para pedagang dari Eropa dan India.

Kawasan Cina yang berada di sepanjang Jalur Sutra, seperti Xinjiang, Qinghai, Gansu dan Ninxia, mendapat pengaruh Arab dan Persia, sebagaimana bisa dilihat pada kebudayaan masyarakatnya. Penduduk yang mendiami wilayah-wilayah tersebut terdiri atas beragam etnis, seperti Hui, Uighur, Kazakh, Dongxiang, Kirgiz, Salar, Tajik, Usbek, Baoan, dan Tartar. Meskipun setiap etnis memiliki budaya yang berlainan, tetapi mereka terikat oleh agama yang sama, yaitu Islam.

Perkawinan orang-orang muslim dari Timur Tengah dengan kaum wanita setempa yang menyertai proses penyebaran Islam di sana telah meninggalkan jejak genitas secara turun temurun. Hal ini tampak dari raut wajah orang-orang Cina muslim di daerah-daerah tersebut yang mempunyai kemiripan dengan wajah-wajah orang Arab, Persia, Turki, Uzbekistan, Afghanistan dan Pakistan, yang berkulit putih kemerahan dan hidung mancung. Perkawinan campuran ini telah melahirkan pula orang-orang Cina keturunan yang tidak bermata sipit, bahkan banyak pula yang seperti “bukan orang Cina”.

Perkawinan memang merupakan bagian dari sejarah proses penyebaran Islam di Cina, disamping melalui dakwah dan perdagangan. Melalui perkawinan lahir anak-anak muslim yang akan menjadi generasi penerus Islam. Tidak hanya di Cina, di tanah Arab, tempat awal mula agama ini diturunkan, proses perkawinan menjadi hal yang biasa dan baik dalam mengislamkan seseorang selama dilakukan melalui cara yang baik dan kehidupan rumah tangga dijalani dengan tanggung jawab.

Rasulullah SAW menikahi sejumlah wanita yang sebelumnya bukan pemelih Islam. Sebut saja, misalnya Juwairiyyah binti al-Harits al Khuzaiyyah dan Safiyyah binti Huyai Akhtab (keduanya pemeluk Yahudi) serta Maria al-Qibtiyyah (perempuan Mesir pemeluk Kristen).

Pernikahan antar bangsa ini membantu mempercepat perkembangan dan penerimaan Islam di kalangan masyarakat Cina. Apalagi ajaran Islam relatif mudah dipahami dan dapat diterima akal sehat. Mereka yang mau dan bersungguh-sungguh memikirkan atau mempelajari kebenaran agama ini, pasti akan tersinari oleh cahaya hidayahNya.

Jalur Lada

Rute lain bagi masuknya Islam dari Arab ke Cina adalah Jalur Lada. Jalur tersebut digunakan oleh para saudagar Arab yang melakukan perjalanan dagang melalui laut. Daerah utama penyebaran Islam melalui jalur ini adalah Guangzhou, termasuk pula daerah Yunnan, yang merupakan tempat kelahiran tokoh Islam Cina terkenal, Laksamana Cheng Ho.

Para pedagang dari Negara lain, seperti India, juga menggunakan jalur ini untuk sampai di Cina. Mereka menjual barang dagangannya di pelabuhan-pelabuhan yang terletak di kawasan selatan Cina terutama di Bandar Kanton.

Pada abad ke 12 M, Bandar Kanton menjadi pusat perdagangan penting dari pusat penyebaran Islam utama ke Negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Orang-orang muslim Cina pun turut berkontribusi terhadap penyebaran Islam di Indonesia.

Keberadaan sejumlah masjid lama di Guangzou merupakan di antara bukti peninggalan dari kedatangan para pedagang Arab muslim dan tersiarnya Islam di masa tersebut. Bukti lainnya berupa peninggalan sejarah dan keberadaan makam-makam yang dilengkapi ukiran-ukiran tulisan Arab. Jalur Ladapernah digunakan oleh Laksamana Cheng Ho untuk melancarkan ekspedisinya ke Negara-negara lain.

Para pendakwah yang datang menggunakan Jalur Lada kebanyakan bermazhab Maliki. Sedangkan yang datang melalui Jalur Sutra bermazhab Hanafi.

Kedatangan Islam ke Cina dari dua rute yang berbeda tersebut telah mendukung tersebarnya Islam secara meluas di bagian barat dan selatan Cina. Jejak kejayaan Islam di kedua kawasan ini masih dapat dilihat hingga sekarang.