BETULKAH ISLAM CARA UTAMA PEMBAURAN?

Suatu Kajian Etno-Psikologi Terhadap Masalah Pembauran di Kalangan Islam Tionghoa.*


Oleh  Djamaludin Ancok

Pengantar

Sudah beratus tahun  orang-orang keturunan Tionghoa berada di Indonesia. Sebagian besar dari mereka lahir dan dibesarkan di Indonesia. Kini mereka yang berusia 60 tahun ke bawah boleh dikatakan hampir semuanya lahir dan dibesarkan di Indonesia. Walaupun mereka dilahirkan dan dibesarkan di Indonesia yang seharusnya tiada lain tanah airnya kecuali Republik Indonesia dan Undang-undang Dasar mengatakan bahwa hak dan kewajiban mereka sebagai warganegara adalah sama, namun masih ada kesan yang cukup kuat di kalangan orang Tionghoa bahwa mereka belum memperoleh hak-hak yang sama seperti yang dicantumkan dalam id dasar 1945 pasal 27 :

(1) Segala Warga Negara bersamaan kedudukannya di dalam  Hukum dan Pemerintahan dan wajib menjunjung Hukum dan Pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.

Sebaliknya di kalangan penduduk yang bukan Tionghoa masih ada kesan bahwa orang-orang Tionghoa kurang memiliki rasa patriotik terhadap Negara (hasil penelitian Noer Abijono dikutip dari Hutajulu, 1984).

Selengkapnya: BETULKAH ISLAM CARA UTAMA...

HARUSKAH KITA MEMUSUHI TIONGHOA

Oleh: Zaim Uchrowi

 

Kerusuhan anti Tionghoa terjadi lagi. Dalam waktu dua bulan terakhir, telah terjadi tiga peristiwa kekerasan memusuhi orang-orang Tionghoa berturut-turut. Yang pertama terjadi di Kediri, Jawa Timur akhir September lalu. Setelah itu kerusuhan serupa pecah di Purwakarta, Jawa Barat. Jawa Tengah tak mau ketinggalan dengan ‘insiden Pekalongan’ pekan lalu.

Rangkaian kerusuhan itu makin membuat saya tidak mengerti. “Mangapa kita (orang-orang pribumi) memusuhi Tonghoa? Mengapa pula setelah 50 tahun merdeka, kita masih memelihara sikap semacam itu?"

Saya dapat mengerti kemarahan para guru di Kediri, setelah seorang Tionghoa menempeleng guru anaknya (karena tidak rela atas perlakuan guru itu). Saya juga geram atas sikap pemilik dan satpam toko Nusantara Purwakarta yang ‘menghargai’ kejujuran siswi Tsanawiyah untuk mengembalikan coklat yang dibelinya (setelah ia menyadari tak membawa uang) dengan memaki, menyuruh membersihkan WC –kabarnya juga menempeleng dan memaksa membuka jilbab— dan membawanya ke kantor polisi untuk diinterogasi. Saya dapat merasakan ketersinggungan warga Pekalongan atas berita penyobekan Alquran (walaupun peristiwa itu belum dapat dipastikan dan tersangka pelakunya diketahui punya kelainan jiwa). Tetapi haruskah kemarahan itu diledakkan dalam bentuk kerusuhan?

Selengkapnya: HARUSKAH KITA MEMUSUHI...

RANGKULLAH ORANG TIONGHOA ITU

Oleh : Prof. Dr. M. Dawam Rahardjo

Kepada Yudi Pramuko SPI dari Salam, Dawam mengatakan, “jika kita ingin mengangkat golongan pribumi hendaknya mereka diberi peluang dalam mengembangkan profesi di berbagai perusahaan besar. Sebaliknya, golongan pribumi harus menyadari, jika hendak mengembangkan kemampuan ekonomi, janganlah memakai manuver-manuver politik seperti mengeksploitasi isu “rasialisme”, tegasnya.

Dalam kerangka ini. M. Dawam Rahardjo, Direktur Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF) menawarkan resep pembauran Tionghoa di Indonesia, dari tataran ekonomi. Kepada Yudi Pramuko SPI dari SALAM, Dawam mengatakan, jika kita ingin mengangkat golongan pribumi hendaknya mereka diberi peluang dalam mengembangkan profesi di berbagai perusahaan besar. Sebaliknya, golongan pribumi harus menyadari, jika hendak mengembangkan kemampuan ekonomi, janganlah memakai manuver-manuver politik seperti mengeksploitasi isu “rasialisme”, tegasnya.

Memang ada sesuatu yang salah dalam perkembangan perekonomian kita. Itu saya akui. Titik tekan saya adalah supaya kesalahan itu bisa disadarilah, ingat Dawam.

Selengkapnya: RANGKULLAH ORANG TIONGHOA ITU