ETNISITAS DAN INTEGRITAS SISTEM NASIONAL PANDANGAN PSIKOLOGIS**)

Oleh : Arif Wibisono Adi

It needs a new approach to solve the problem of ethnic conflict between the Indonesian Chinese and the rest of the population. The Chinese are not really homogeneous. A process of assimilation is going on from the “totok” Chinese to the “mixed”, and finally to the native. The process will run well so long as no social upheavals accur.

PENDAHULUAN

Walaupun terdiri dari bermacam-macam kelompok etnis, suatu negara selalu mendambakan tetap tegaknya integritas bangsa dan negaranya. Tapi  akhir-akhir ini kita lihat masalah etnis telah menghangat dimana-mana dan menimbulkan bahaya disintegritas di negara-negara tertentu. Contohnya : di Sri Langka masalah etnis Tamil dan Sinhala telah menimbulkan berbagai konflik dan pertentangan yang berlarut-ralut. Di Uni Sovyet yang sudah lama tenang dan stabil, pada era Gorbachev dengan Glasnot dan Perestroikanya tiba-tiba terjadi ledakan masalah etnis di Azerbaijan, Armenia, Taddzikiztan, Lithuania, Estonia yang mengancam integritas negara tersebut. Juga di Eropa timur seperti di Yugoslavia, Cekoslovakia dan Bulgaria tiba-tiba masalah etnis Albania dan Turki muncul ke permukaan.

Di Indonesia setelah orde baru kita lihat suku-suku bangsa di daerah-daerah telah reda  menjadi masalah dan seolah persatuan dan kesatuan bangsa telah betul-telur terbina, sesuai dengan Sumpah Pemuda, Pancasila ( Persatuan Indonesia) dan UUD 1945. Hanya kadang-kadang masih terjadi riak-riak kecil sekitar masalah etnis Melanesia sejalan dengan pasang naiknya semangat nasionalisme Melanesia di bagian timur Indonesia. Di samping itu seperti api dalam sekam, masalah etnis Tionghoa masih punya potensi untuk menimbulkan ledakan dan guncangan, karena sampai saat ini orang-orang keturunan Tionghoa di Indonesia masih belum dapat terintegrasikan secara sepenuhnya ke dalam tubuh bangsa Indonesia, tapi secara psikologis masih ada jurang-jurang yang membatasi antara mayoritas penduduk pribumi dengan mereka dengan mereka sebagai minoritas. Hal ini dapat mengguncangkan integritas bangsa, menimbulkan masalah “SARA” yang dapat mengacaukan stabilitas nasional. Maka Rudini mengingatkan (Kompas, 9 Januari 1990, h :I).

Selengkapnya: ETNISITAS DAN INTEGRITAS...

ISLAM, ETNIS TIONGHOA DAN INTEGRASI BANGSA; HAMBATAN DAN SOLUSINYA *)

DPP PITI PUSAT JAKARTA

Oleh : Prof. H. Usman Effendy, Ph.D

Latar Belakang

Islam sebenarnya secara historis bukanlah sesuatu yang baru bagi masyarakat Tionghoa. Di mainland Cung-guo (Tiongkok), Islam bahkan dipercayai telah berkembang sejak abad pertama hijriah atau abad ketujuh, dibawa pertama kali oleh Sahabat Rasul Sa’ad Ibnu Lubaid, yang sering diidentikkan dengan Sa’ad Ibn Abi Waqqas. Sedangkan identitas Sa’ad Ibnu Lubaid al-Habsyi sendiri tidak diketahui pasti. Terlepas dari kesulitan identitas tentang Sa’ad ini, kontak antara dunia Muslim, khususnya Arabia dengan Tiongkok berjalan cukup lancar  dan berkesinambung. Selama 90 tahun masa Dinasti Umaiyah, tak kurang dari 17 Duta Muslim muncul di istana Tiongkok, mereka diikuti sekitar 18 Duta yang dikirim penguasa Dinasti Abbasiyah dalam periode 750-798.

Kunjungan-kungjungan ini mendorong perkembangan Islam sehingga terbentuklah “koloni Ta Shih” di Guandong. Selain itu, terdapat koloni Muslim yang cukup besar sejak pertengahan abad ke 8 di Pulau Hainan dan Zhuang-ciu. Pada jalur daratan berkembang pula koloni dan komunitas Muslim yang sangat besar di kawasan Asia Tengah, yang mencakup Suku Uighurs dan Suku Hui di kawasan di Xin Jiang (Turkistan Timur). Mereka sampai sekarang merupakan komunitas Muslim terbesar di wilayah Tiongkok. Khusus Beijing saja ada sekitar 300.000 umatnya.

Selengkapnya: ISLAM, ETNIS TIONGHOA DAN...

DAKWAH ISLAM DI KALANGAN ETNIS TIONGHOA UNTUK MENGOKOHKAH INTEGRASI BANGSA*)

DPD PITI 

Oleh : H. Budi Setyagraha
(Ketua Umum PITI Wilayah DIY)

A. PENDAHULUAN

Sudah beratus tahun kami orang-orang keturunan Tionghoa berdomisili di Indonesia. Sebagian besar dari kami lahir dan dibesarkan di Indonesia. Bagi kami yang berumur 60 tahun ke bawah boleh dikatakan hampir semuanya lahir dan dibesarkan di Indonesia. Walaupun dari kami dilahirkan dan dibesarkan di Indonesia, namun kami  merasa belum memperoleh hak-hak yang sama  sebagaimana yang dicantumkan dalam Undang-undang Dasar 1945 pasal 27. Sementara di kalangan penduduk yang bukan etnis Tionghoa masih ada kesan bahwa kami kurang memiliki patriotik terhadap bangsa dan negara.

Secara kuantitatif, golongan keturunan asing yang paling banyak jumlahnya sampai sekarang adalah golongan kami. Kami telah menyebar dari negeri asal Tiongkok ke kawasan Asia Tenggara, khususnya ke bumi Indonesia sejak abad ke enam belas hingga sekarang. Sebagaimana diketahui, kehadiran kami sejak mula pertama dipandang telah menimbulkan berbagai masalah; antara lain tentang identitas kami sebagai imigran dari luar kelompok etnis Indonesia dan wilayah Indonesia. Keadaan ini berlangsung hingga Indonesia merdeka, bahkan hingga era reformasi sekarang ini.

Selengkapnya: DAKWAH ISLAM DI KALANGAN...