CHENG HO MENEMBUS SEKAT AGAMA

Ketokohan  Laksamana Cheng Hoo telah melampaui batas-batas agama. Hal itu terlihat dari para pengunjung yang datang ke petilasan Cheng Hoo di Kelenteng Sam Po Kong, yang tidak hanya berasal dari satu etnis atau agama tertentu. Tidak hanya umat Tridharma (Tao, Budha, Konghucu) yang beribadat di kelenteng terbesar di Semarang tersebut, tetapi banyak pula umat Islam yang berziarah ke peningalan tokoh muslim itu.

Demikian disampaikan Rektor IAIN Walisongo Prof. Dr. H. Abdul Djamil MA, terkait dengan ketokohan Laksamana Cheng Hoo. Kamis (2/6), Djamil baru saja menjadi pembicara  diskusi “ Menyambut 6-00 tahun Pendaratan Laksanaman Cheng Hoo” di Hotel Graha Santika. Selain beliau, diskusi yang digelar Kompas Jateng itu menghadirkan Gubernur H. Mardiyanto, pemerhati budaya Tionghoa R. Soenarto dan Ketua Umum Panitia Peringatan 600 Tahun Cheng Hoo Sindu Dharmali.

Satu-satunya peninggalan bercorak Islam adalah makam Kyai Jurumudi, orang kedua Cheng Hoo. Tapi justru karena itu, ketokohan dia telah menjadi milik publik yang tak lagi dibatasi sekat agama, “ kata Djamil.

Selengkapnya: CHENG HO MENEMBUS SEKAT AGAMA

CHENG HOO DAN INDONESIA

Oleh : Prof. Dr. Kong Yuanzhi, Universitas Peking

Tahun 2005 ini adalah ulang tahun ke-600 keberangkatan pelayaran Cheng Hoo. Cheng Hoo (1371-1435) lahir di Propinsi Yunnan, Tiongkok barat daya. Beliau seorang muslim yang taat. Ayah dan kakeknya adalah haji.

Cheng Hoo telah berhasil tujuh kali memimpin rombongan melakukan pelayaran ke Asia Tenggara, Asia Selatan, Asia Tengah dan Afrika Timur sejak 1405 hingga 1433.

1. Cheng Hoo seorang bahariawan besar

Cheng Hoo berlayar ke Samudera Hindia dan Afrika Timur jauh lebih awal daripada bahariawan Eropa seperti Christopher Colombus (1451-1506), Vasco da Gama (1460-1524) dan Ferdinand Magellan (1480-1521).

Pelayaran pertama dilakukan oleh Cheng Hoo pada tahun 1405, dilakukan berturut-turut 7 kali selama 28 tahun lamanya.

Apa gerangan maksud Kaisar Ming (Zhu Di) mengutus Cheng Hoo untuk berlayar jauh?

 

Selengkapnya: Ceng Hoo dan Indonesia

AL QUR'AN KULIT SAPI TULISAN TANGAN TERTUA DI TIONGKOK

Dinas Peninggalan Budaya Negara Tiongkok mengeluarkan dana sebesar RMB 440.000 Yuan untuk memperbaiki Kitab Al Qur'an tulisan tangan tertua milik Masjid Jie Zie, Kabupaten Otonomi Suku Salak Xun Hoa, Propinsi Qing Hai. Al Qur'an 30 Juz ditulis di atas lembaran kulit sapi dan bergambar. Perbaikan Al Qur'an tertua tersebut mulai dikerjakan pada tahun 2006  oleh para ahli dari Museum Nanjing, dengan menggabungkan dua teknik tradisional dan modern. Proses  secara teknik, lembar demi lembar Al Qur'an yang terbuat dari kulit sapi tersebut dicuci dengan bahan tertentu untuk mematikan kumannya. Sedangkan semua halaman yang rusak maupun sobek disambung kembali. Setelah itu ditata satu persatu. Ketelitian, ketelatenan, keterampilan dan kesabaran para ahli dalam memperbaiki Al Qur'an kuno tersebut, kini dapat dilihat duplikatnya di Masjid Jie Zi. Sedangkan aslinya disimpan di Museum Suku Bangsa Nasional Beijing.

 

Kondisi Al Qur'an peninggalan Suku Salak ketika pertama kali ditemukan

Selengkapnya: AL QURAN KULIT SAPI TULISAN...