MUSLIM DI CINA PART 3

SORGA YANG DIKETEMUKAN KEMBALI


Banyak diantara kita yang belum tahu, kalau di negeri Tiongkok terdapat pula banyak orang-orang Islam seperti di Tanah Air kita Indonesia. Islam memasuki negeri ini tersebut, bahkan jauh lebih dulu dari pada memasuki negeri kita.
Anehnya, kaum Muslimin dan Muslimat Tiongkok kebanyakan bermukim di wilayah Barat dan Tengah daratan Tiongkok. Atau jelasnya di Propinsi Gansu dan Daerah Otonom Sinciang (Xinjiang). Namun lslam tersebar pula di bagian lain negeri Tiongkok yang luas itu. Hanya jumlah mereka yang di luar wilayah tersebut di atas, jauh lebih sedikit.
Karenanya, mereka seolah-olah membentuk daerah sendiri. Istimewanya daerah dimana kaum Muslimin tinggal, mirip keadaan Arab atau Timur Tengah. Hanya di daerah lebih subur dan pemandangan lebih indah.
Ya, Xinjiang mempunyai Gurun Gobi yang dapat diibaratkan Gurun Sahara dan lebih besar daripada gurun-gurun lain di sebagian besar negara-negara Arab atau Timur Tengah.
Lucunya, orang-orang Muslim Bangsa Tiongkok ini tidak sebagaimana umumnya Bangsa Tiongkok. Seyogyanya memang tidak sama, mereka tidak bermata sipit. Kulit juga tidak selalu harus kuning atau berambut hitam kelam.
Mereka ini mirip orang-orang keturunan Eropah atau orang-orang Kaukasia (Asia Tengah). Matanya biru, kehijauan atau abu-abu. Rambut sebagian berwarna pirang, hidung banyak yang mancung ala turunan Spanyol. Jadi benar-benar perpaduan orang-orang cakep yang mempunyai ciri-ciri khas nan interesan.

Selengkapnya: MUSLIM DI CINA PART 3

MUSLIM DI CINA PART 1    

 

 


Bersama. Pada hari raya yang dihormati Ummat Islam sedunia (Idul Fitri, Idul Adha, dst-Red) Ummat Islam Tiongkok juga lazim mengadakan sholat bersama. Sehabis acara sembahyang, mereka mengadakan pentas seni. Misalnya mengadakan tari dan nyanyi. Dari nyanyian tradisional ; tarian rakyat sampai tari-tarian ritual keagamaan yang dinamakan “Sa’ Ma” atau Hadrah sebagaimana di Indonesia.
Allahu Akbar! Allahu Akbar ! – Tampak Pak Adin (Abidin) sedang beradzan pada saat menjelang sholat Jum’at di masjid kota Qimou

Selengkapnya: MUSLIM DI CINA PART 1

MUSLIM TIONGHOA BERIMLEK

Pada November 2002 pengajian bulanan PITI dilaksanakan di kediaman Prof. Dr. HA. Mukti Ali. Sekitar 60 orang warga PITI hadir termasuk beliau KH. Atabik Ali.
Pada saat sarasehan disepakati PITI akan mengadakan pengajian Imlek di Masjid Syuhada dengan ketentuan pengurus supaya konsultasi dulu dengan MUI DIY.

Adapun yang menjadi latar belakang rencana itu adalah : Wali Songo mengislamkan Wayang dan arsitektur Candi Menara Kudus.
Dan langkah-langkah seperti itu ternyata membuat dakwah Wali Songo berhasil.
Begitu juga suku-suku yang terkenal kuat agamanya di Nusantara bisa melestarikan budaya mereka misalnya : Aceh dengan tari Sedatinya.
Lalu apakah tidak mungkin budaya Tionghoa pun ada yang bisa di Islamkan. Dengan kata lain PITI ingin meningkatkan kegiatannya dengan berdakwah kultural.

Dalam pertemuan di kantor MUI Alun-alun Utara yang dihadiri 4 orang dari PITI, 2 orang dari komunitas Tionghoa, dan 2 orang dari MUI DIY.
PITI dan komunitas Tionghoa memberikan informasi panjang lebar tentang imlek bahwa imlek adalah sekedar budaya dan tidak ada hubungan dengan sesuatu agama apapun. dan dikesempatan itu PITI dan komunitas Tionghoa menyerahkan buku literatur kepada MUI DIY.

Sesudah mendapat informasi seperti itu MUI memberikan keterangan bahwa kalau memang imlek itu adalah sekedar budaya dan tidak ada hubungan dengan agama tertentu maka orang Tionghoa muslim boleh saja memperingati tahun baru Imlek di Masjid Syuhada, kemudian dikatakan bahwa secara kebetulan MUI pusat sedang Raker di Kaliurang,maka masalah Imlek ini akan ikut dibicarakan pada raker itu. Setelah Rencana pengajian Imlek di Syuhada ini diberitakan media, soal ini benar-benar menjadi berita besar bahkan koran, TV Jakarta lebih-lebih lagi setelah satu ormas Islam menyatakan mereka tidak setuju rencana itu dilaksanakan di masjid Syuhada.

Sebaliknya satu ormas Islam lain membela rencana ini bahkan mereka siap ketempatan, kalau dirasakan itu kurang aman di Masjid Syuhada.

Akhirnya Pengajian Imlek tersebut tetap terlaksana dimulai pukul 16.30 dan berlangsung khidmat, aman dan sederhana dengan acara :

  1. Tinjauan budaya oleh Prof. Safri Sairin dari UGM.
  2. Tinjauan Islam sesudah sholat Magrib dari Ketua MUI DIY yang disampaikan K.H. Toha Abdul Rahman.
  3. Sholat Isya, sholat Hajat, dan sujud syukur
  4. Pensyahadatan 7 orang warga Tionghoa
  5. Penyerahan Al Qur’an bahasa Tiong Hoa  kepada PITI DIY

  

Harapan dan keinginan PITI untuk mendapat pegangan yang lebih kuat maka tahun 2003 kerjasama dengan KMIB UGM melaksanakan seminar nasional tentang Imlek di UC UGM, yang diikuti ulama intelektual dari :

  1. MUI DIY,
  2. DPP PITI Jakarta,
  3. Wakil-wakil dari perguruan tinggi di DIY dan
  4. Wakil-wakil 16 ormas/lembaga Islam (waktu itu ormas lembaga Islam yang terdaftar di Kanwil Depag hanya 16).

 

Selengkapnya: MUSLIM TIONGHOA BERIMLEK