Mengenang Haji Abdulkarim Oei Tjeng Hien Sesepuh "Saudara Baru" yang Wafat

Oleh H. Junus Jahja

Di Malaysia orang yang baru memeluk Islam, disapa dengan "Saudara baru". Kebiasaan "ini sebenarnya juga ada di tanah air  walaupun belum begitu melembaga. Dan pada 14 Oktober dikebumikan seorang "Saudara Baru" yang sudah lama masuk Islam padaahun 1928an. Beliau adalah Haji Abdulkarim Oei Tjeng Hien yang wafat dalam usia 83 tahun. Siapakah beliau yang namanya tidak asing lagi kedengarannya

 

Riwayat Hidup Singkat.

Haji Abdulkarim dilahirkan pada tahun 1905 di Padang sebagai Oei Tjeng Hien dan setelah lulus SD mengikuri kursus-kursus. Untuk kemudian menjadi pandai emas dan pedagang hasil bumi, Ialu hijrah ke Bengkulu. Ketika usia 20-an Oei masuk lsiam setelah mengadakan perbandingan agama.

Ia aktif di Muhammadiyah hingga pada tahun 1932 berkenalan dengan Bung Karno di Bandung. Perkenalan ini berkembang menjadi persahabatan yang cukup akrab setelah BK pada tahun 1938 dibuang ke Bengkulu. Atas usul BK, Oei bahkan menjadi Konsul Muhammadiyah setempat. Kegiatannya di Muhammadiyah menjadikan Oei akrab pula dengan Buya Hamka.
 Pada zaman Repubiik beliau anggota Komite Nasional lndonesia Bengkulu dan seterusnya aktif dimacam-macam badan legislatif dan lain-lain. Setelah Indonesia merdeka beliau memimpin beberapa perusahaan, antara lain pabrik kaos Asli 777, PT Mega milik bersama Hasan Din, ayahanda Ibu Fatmawati) yang mengimpor cengkeh dan lain-lain. Di bidang keagamaan dia tetap aktif di Muhammadiyah dan pada tahun 1961 membentuk PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) sebagai gabungan 2 organisasi sejenis yang ada sebelumnya, pada tahun 1972 organisasi Dakwah di kalangan etnis Tionghoa ini diganti menjadi Pembina Iman Tauhid lslam dan singkatannya tetap PITI.

Kapitalisme.

Pada suatu hari dalam bulan puasa saya, dengan Budiatna (Drs. Tjia Bing Hen, dosen di UI) yang juga baru saja Muslim, berkunjung ke pak Oei di rumahnya Tomang Raya. Beliau sedang berkonsentrasi menghitung-hitung. Apa yang dihitung, pak? tanya kami. "Zakat saya'", jawabnya. Sebab  ini harus cermat, 2 ½ dari pendapatan ini, sekian persen dari aset itu dan seterusnya. Ini harus dilakukan secara jujur, sebab kalau tidak, harta dan milik kita belum disucikan. Baru kalau betul-betul suci, itu hak mutlak kita sebagai makhluk di bumi ini. Yang tidak boleh diganggu gugat oleh siapa pun.juga. Dan bila seorang Muslim mati membela "kapitalnya" yang sudah disucikan ini, maka ia mati sahid. inilah antara lain bedanya  kapitalisme di Barat dengan kapitalismenya Islam. Jadi, agama baru saya memperbolehkan orang mempunyai hak milik bahkan menjadi kaya raya. Akan tetapi syaratnya harus disucikan dulu melalui zakat setahun sekali. Jadi ada unsur sosial yang “built-in

Saya waktu itu memperkirakan zakat pak Oei beberapa puluh juta. Ini dibagi-bagikan kepada mereka yang berhak. Dan saya mencuri dengar bahwa pak Oei banyak menyumbang pada masjid-masjid. Kini mulai banyak etnik Tiongkok pedagang sukses seperti pak Karim yang memeluk lslam. Apakah mereka sama taatnya menghitung zakat masing-masing?

Tiga Sahabat : Haji Karim Oei (duduk), Buya Hamka dan Bung Karno (Bengkulu 1938)

Mengenang Haji Abdulkarim Oei Tjeng Hien Sesepuh "Saudara Baru" yang Wafat

Oleh H. Junus Jahja

Di Malaysia orang yang baru memeluk Islam, disapa dengan "Saudara baru". Kebiasaan "ini sebenarnya juga ada di tanah air  walaupun belum begitu melembaga. Dan pada 14 Oktober dikebumikan seorang "Saudara Baru" yang sudah lama masuk Islam padaahun 1928an. Beliau adalah Haji Abdulkarim Oei Tjeng Hien yang wafat dalam usia 83 tahun. Siapakah beliau yang namanya tidak asing lagi kedengarannya

 

Riwayat Hidup Singkat.

Haji Abdulkarim dilahirkan pada tahun 1905 di Padang sebagai Oei Tjeng Hien dan setelah lulus SD mengikuri kursus-kursus. Untuk kemudian menjadi pandai emas dan pedagang hasil bumi, Ialu hijrah ke Bengkulu. Ketika usia 20-an Oei masuk lsiam setelah mengadakan perbandingan agama.

Ia aktif di Muhammadiyah hingga pada tahun 1932 berkenalan dengan Bung Karno di Bandung. Perkenalan ini berkembang menjadi persahabatan yang cukup akrab setelah BK pada tahun 1938 dibuang ke Bengkulu. Atas usul BK, Oei bahkan menjadi Konsul Muhammadiyah setempat. Kegiatannya di Muhammadiyah menjadikan Oei akrab pula dengan Buya Hamka.
 Pada zaman Repubiik beliau anggota Komite Nasional lndonesia Bengkulu dan seterusnya aktif dimacam-macam badan legislatif dan lain-lain. Setelah Indonesia merdeka beliau memimpin beberapa perusahaan, antara lain pabrik kaos Asli 777, PT Mega milik bersama Hasan Din, ayahanda Ibu Fatmawati) yang mengimpor cengkeh dan lain-lain. Di bidang keagamaan dia tetap aktif di Muhammadiyah dan pada tahun 1961 membentuk PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) sebagai gabungan 2 organisasi sejenis yang ada sebelumnya, pada tahun 1972 organisasi Dakwah di kalangan etnis Tionghoa ini diganti menjadi Pembina Iman Tauhid lslam dan singkatannya tetap PITI.

Kapitalisme.

Pada suatu hari dalam bulan puasa saya, dengan Budiatna (Drs. Tjia Bing Hen, dosen di UI) yang juga baru saja Muslim, berkunjung ke pak Oei di rumahnya Tomang Raya. Beliau sedang berkonsentrasi menghitung-hitung. Apa yang dihitung, pak? tanya kami. "Zakat saya'", jawabnya. Sebab  ini harus cermat, 2 ½ dari pendapatan ini, sekian persen dari aset itu dan seterusnya. Ini harus dilakukan secara jujur, sebab kalau tidak, harta dan milik kita belum disucikan. Baru kalau betul-betul suci, itu hak mutlak kita sebagai makhluk di bumi ini. Yang tidak boleh diganggu gugat oleh siapa pun.juga. Dan bila seorang Muslim mati membela "kapitalnya" yang sudah disucikan ini, maka ia mati sahid. inilah antara lain bedanya  kapitalisme di Barat dengan kapitalismenya Islam. Jadi, agama baru saya memperbolehkan orang mempunyai hak milik bahkan menjadi kaya raya. Akan tetapi syaratnya harus disucikan dulu melalui zakat setahun sekali. Jadi ada unsur sosial yang “built-in

Saya waktu itu memperkirakan zakat pak Oei beberapa puluh juta. Ini dibagi-bagikan kepada mereka yang berhak. Dan saya mencuri dengar bahwa pak Oei banyak menyumbang pada masjid-masjid. Kini mulai banyak etnik Tiongkok pedagang sukses seperti pak Karim yang memeluk lslam. Apakah mereka sama taatnya menghitung zakat masing-masing?

Tiga Sahabat : Haji Karim Oei (duduk), Buya Hamka dan Bung Karno (Bengkulu 1938)

Halaman 2

 

Karim Oei dan Bung Karno.

Banyak anekdot mengenai pak Oei. si Baba (atau Babadek nenurut orang Bengkulu) yang Islam ini dan akrab dengan Bung Karno. Pada suatu hari, di Bengkulu pak Oei, akan ke luar kota melakukan kunjungan ke cabang-cabang Muhammadiyah dengan kendaraan mobil yang dikemudikan supirnya. Mobil jalan perlahan-lahan sebab BK mengikuti di sampingnya menggenjot sepeda sambil terus kongkow dengan pak Oei. Baru di perbatasan kota, kedua sahabat karib berpisah dan BK mendayung sepedanya kembali ke kota lagi. Mana ada adegan semacam ini pada zaman sekarang?

Ada lagi ceritera yang melukiskan betapa akrabnya mereka ini satu sama lain. Kalau tidak salah dalam salah satu biografi mengenai BK, disinggung bahwa BK mengaku masih mempunyai hutang 80 gulden pada Karim Oei. Beberapa waktu yang lalu saya check pada pak Oey apa ini benar?
"Delapan-puluh?" jawab pak Oei
“Yah, yang si bung masih ingat, tentunya!” 
Hutang ini semua sudah lunas, sebab dalam biografi pak Karim berjudul "mengabdi agama, Nusa dan bangsa" kita baca bahwa BK ditahun 1952 memberikan kepada pak Oei 2500 uang logam gulden yang nilainya sangat besar waktu itu. Dan juga berkat bantuan moril BK, pak Karim dan kawan akrabnya  bernama Hasan Din (ayahanda Ibu Fatmawati) kemudian berdagang cengkeh dan lain-lain hingga menjadi pengusaha sukses. Mengapa BK yang berpendidikan tinggi, berselera “canggih” dan sebagainya bisa cocok dan akrab dengan Oei Tjeng Hien yang kemudian jadi Haji Abdulkarim? Mungkin ini semacam “pelengkap” bagi BK. Sebab pak Karim orangnya “apa adanya”, polos dan setia sekali. Kawan bicara dan teman demikianlah yang pada waktu itu dibutuhkan BK dalam pengasingan.

Karim Oei dan Buya Hamka.

Juga dengan Buya Hamka almarhum, pak Oei akrab. Tulis Buya dalam brosur "Da'wah dan Asimilasi" (1979) :
"Saya pada tahun 1929 mulai berkenalan dekat dengan seorang Muslim yang membaurkan dirinya kedalam gerakan Muhammadiyah, langsung diangkat oleh masyarakat Muhammadiyah di tempat tinggalnya, yaitu Bengkulu, menjadi Konsul Muhammadiyah daerah tersebut. Sekarang namanya lebih terkenal dengan sebutan Bapak Haji Abdulkarim Oey, telah 50 tahun kami berkenalan, berjfaham sama, berpendirian sama dan sama-sama bersahabat karib dengan Bung Karno. Persahabatan saudara H. Abdulkarim dengan Bung Karno itu itu sangatlah menguntungkan bagi jiwa saudara H. Abdulkarim sendiri. Di samping dia menjadi seorang Muslim yang taat, dia pun dipupuk, diasuh dan menjadi orang nasionalis Indonesia sejati. Itulah kesan mendalam yang didapatnya sejak Bung Karno menjadi orang buangan di Bengkulu sampai beliau menjadi Presiden Republik Indonesia. Oleh sebab itu, saya berani mengatakan bahwa saudara H. Abdulkarim Oey adalah salah teorang perintis dikalangan bangsa Indonesia keturunan Tionghoa. Biar pada masa itu dia akan ditertawakan orang, namun sebagai seorang anak Indonesia yang mempunyai cita-cita, dia telah menang dalam cita-citanya. Dia Muslim dan dia anak Indonesia".

Halaman 3

 

Pak Karim dan Gerakan Pembauran.

Pak Karim Oei yang saya kenal di Badan Pembina Kestuan Bangsa DKI tahun 1974, mempunyai sikap jelas terhadap apa yang harus dilakukan etnis Tionghoa di Indonesia. Setelah menjadi WNl mereka harus keluar dari hidup menyendiri di lingkungan etniknya dan terjun di kalangan rakyat. Ke-Islamannya  membawa Karim Oei otomatis pada pola hidup baru ini. Dan ketika ditanyakan oleh seorang wartawan mengenai pri dan nonpri. jawabannya “tok-cer", 'Orang yang benar-benar Muslim harus cinta tanah air dan  cinta pribumi (Tempo 3-2-1973). Politik pembauran ini juga diterapkan secara konsekuen dalam keluarga. Bahkan 2 putrinya yang sarjana menikah dengan Ir. Machyar Helmy Nasution (putra mubaligh terkenal Yunan Helmy Nasution) dan yang lainnya dengan orang Indonesia asli pula dr. Jos Soejoso.

Adapun Ali Karim SH, putra  tunggalnya menikah dengan sesama etnik Tiongkok, sehingga katanya  “bertambah umat lslam dengan minimal 1 orang lagi” Dan siapa tahu keluarga si istri akan menyusul kemudian.
Dengan demikian dalam dibuktikan bahwa asimilasi atau pembauran yang digalakkan pak Karim juga dipraktikkan secara konkret

Harapan-Harapan Baru.

Saya lalu teringat pada sambutan Mr. Moh, Roem tanggal 20 Januari 1932 ketika menyambut otobiografi "Mengabdi agama, nusa dan  bangsa," tentang pak Karim Oei sebagai berikut.

"Golongan Tiongkok berada di Indonesia sejak lama, sebelum Indonesia merdeka. Hubungan mereka dengan kita, sebagaimana sifat tiap hubungan, mengalami pasang surut. Rasa-rasanya belum diketemukan Iandasan atau dengan bahasa asing suatu "'pattern" yang memuaskan. Ini harus menjadi pemikiran yang sungguh-sungguh dan terus-menerus dari tiap orang yang menjunjung tinggi kebenaran. Saya yakin dalam hal ini Oei Tjeng Hien atau Haji A. Karim dengan PITI-nya, biarpun memakan waktu lama, akan memainkan peranan yang konstruktif.

Harapan ini rasanya sukup realisitis dan PITI atau para “Saudara baru” (yang dirintis H. Idris Abdulkarim Oei Hien) makin berkembang baik. Oleh karena keislamannya otomatis dekat dengan rakyat dan Insya Allah siap meneruskan karya almarhum seperti dipaparkan di atas. Semoga beliau diterima di sisi Allah swt, sesuai amal ibadahnya. Amin


*Pelita, 24 Oktober 1988