YUNNAN, PUSAT MUSLIM DI TIONGKOK SELATAN

Hikmatul Akbar*

Salah satu catatan sejarah yang terkenal tentang asal-usul atau nenek moyang bangsa Indonesia adalah kedatangan orang Yunnan ke pulau-pulau di Nusantara. Yunnan adalah salah satu Provinsi di Tiongkok yang pada abad 21 ini perkembangannya sangat pesat. Keistimewaan Provinsi Yunnan ini terletak pada pelestarian budaya Islam yang sekarang ini digalakkan lagi oleh pemerintah Tiongkok. Banyak orang Indonesia merasa tertarik lagi untuk melihat dan menghubungkan kedekatan dengan daerah tempat asal-usulnya tersebut.

 

Meskipun sulit untuk melihat keterkaitan antara Islam di Indonesia dan Islam di Yunnan, tetapi Yunnan memang pernah menjadi salah satu pusat perkembangan Islam di Tiongkok. Dengan melihat kedekatan geografisnya dengan kawasan Asia Tenggara, Yunnan juga dapat dikatakan sebagai salah satu pusat penting kegiatan Islam di Asia Tenggara, baik pada masa lampau maupun pada masa kini. Pada saat ini Yunnan terhubung dengan negara-negara Asia Tenggara melalui proyek GMS (Great Mekong Sub region) yang diprakarsai oleh Tiongkok. GMS merupakan kerjasama pembangunan ekonomi di sepanjang Sungai Mekong, yang melintasi Yunnan, kemudian berlanjut ke Negara Myanmar, Laos, Thailand, Kamboja dan Vietnam.

Kunming, ibu kota Yunnan, menjadi pusat kegiatan di provinsi itu. Perkembangan zaman dan reformasi Tiongkok telah mengakibatkan masuknya budaya barat di Kunming. Poster-poster berbagai industri asing dan gaya hidup baru dapat dengan mudah ditemui di Kunming. Jalan-jalan dan dinding dari bangunan tinggi di sana penuh dengan iklan Christian Dior, Calvin Clein, bioskop Imax, Gerai penjual HP, atau Restoran cepat saji McDonald. Mereka berhasil menggusur toko-toko dan pedagang Roti, Warung Kopi dan juga Kebab yang sebelumnya mendominasi. Suara-suara musik barat juga mulai menggantikan suara adzan yang tergusur ke pinggiran kota. Perkembangan zaman ini pula yang membuat Li Yong Chun, Imam Masjid Shuncheng di Kunming mempertanyakan perkembangan masyarakat di Kunming. Ia berpendapat bahwa peradaban barat yang masuk di abad 21 ini membuat budaya asli Kunming yang dipenuhi nuansa Islam perlahan-lahan menghilang. Tetapi ia juga menyatakan bahwa mungkin perkembangan itu adalah hukuman dari Allah, karena penduduk Kunming melupakan agama sebagai dasar perkembangan moral dan budaya. Ia menjadi cukup senang karena beberapa tahun belakangan ini masyarakat menjadi sadar akan menghilangnya budaya asli, dan kemudian mencoba untuk memunculkannya kembali.

Islam masuk ke Yunnan sejak masa Dinasti Tang, tetapi kemudian berkembang pesat ketika Kubilai Khan berkuasa di Tiongkok.  Setelah penaklukkannya ke Asia Tengah, Kubilai Khan melancarkan serangan ke Kerajaan Dali yang berkuasa di Tiongkok bagian selatan. Setelah Kerajaan Dali dikalahkan Kubilai Khan menunjuk Sàidiǎnchì Zhānsīdīng (Sayyid Ajjal Syamsuddin Umar)  sebagai Gubernur yang berkuasa di sana dan menjadikan wilayah itu sebagai Provinsi Yunnan. Sejak saat itu Yunnan menjadi pusat perkembangan Islam di Tiongkok Selatan.

Selain menurunkan Zhenghe (Cheng Ho) yang menjadi Laksamana terkenal di Tiongkok dan seluruh dunia, Zhanshiding juga mempunyai anak yang bernama Nasulading (Nasruddin). Nasulading dianggap sebagai nenek moyang dari 4 marga Tiongkok yang tersebar di Asia Timur dan Asia Tenggara, yaitu Na, Su, La dan Ding (Ting). Hingga saat ini, banyak marga Ding tesebar di Provinsi Fujian, Taiwan, dan juga di negara Malaysia dan Filipina. Sebagian besar dari mereka masih mempertahankan identitas Etnis Hui dan Islam secara budaya, meski ada juga yang sudah tidak lagi menjalankan kewajiban-kewajiban syariat dalam agama Islam.

Dalam proses pergantian dinasti di Tiongkok, Yunnan beberapa kali berhadapan dengan pemerintah pusat. Masa pergantian Dinasti Yuan ke Dinasti Ming menyisakan pergantian elit politik di Provinsi Yunnan, tetapi karena pergantiannya mengikuti pola masyarakat yang beragama Islam, maka tidak banyak pergolakan politik yang terjadi. Pemerintah Dinasti Ming juga sangat menghormati ajaran agama Islam, sehingga Islam juga berkembang pesat pada masa itu di Yunnan. Pergolakan yang cukup besar terjadi ketika Dinasti Qing berkuasa di Tiongkok. Pada awalnya penolakan terjadi cukup kuat, sehingga Yunnan dibumihanguskan oleh tentara Dinasti Qing. Hal yang sama terjadi juga ketika terjadi pemberontakan Panthay yang dipimpin oleh Du Wenxiu (Tu Wen Hsiu), seorang Pemimpin Muslim di Yunnan yang juga disebut sebagai Sultan Dali.

Di akhir masa Dinasti Qing, Yunnan kembali menjadi pusat Muslim, hingga runtuhnya Dinasti ini dan berdirinya Republik Tiongkok. Tetapi pada masa kekuasaan Republik Rakyat Tiongkok yang dipimpin oleh Mao Zedong, Islam di Yunnan kembali ditindas dan banyak Masjid dihancurkan atau dibuat menjadi pabrik. Program Revolusi Kebudayaan dari Mao tahun 1960an memang membawa banyak korban. Islam kemudian kembali bangkit sejak masa reformasi Deng Xiaoping, hingga masa Presiden Hu Jintao dan Xi Jinping.

Pada tahun 2007 Masjid Yongning di Kunming ibu kota Yunnan dibangun kembali. Nuansa Arab mewarnai bangunan yang baru ini, lengkap dengan menara tinggi dan kubah hijaunya. Hal ini berbeda dengan Masjid Shuncheng, yang terletak lebih di tengah kota. Masjid Shuncheng mempunyai desain gaya Tiongkok, yang lebih mirip dengan kuil tradisional. Masjid  Yongning yang baru dibangun terkesan lebih baru indah dan modern, lengkap dengan kaligrafi Arab di sepanjang dindingnya. Masjid ini juga mencerminkan ikatan yang lebih kuat dari Muslim Tiongkok di Yunnan, dengan masyarakat Muslim di dunia secara keseluruhan. Pelancong Muslim yang datang ke Yunnan pun kemudian menjadi meningkat tajam, karena mereka merasa seperti di rumah sendiri. Selanjutnya, hal ini akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Yunnan. Selain Masjid Shuncheng dan Yongning, di kota Kunming juga terdapat Masjid Nancheng yang juga sangat terkenal yang dibangun sejak masa Dinasti Tang. Masjid Nancheng dipugar tahun 1996 dan kini berupa gedung bertingkat dengan menara setinggi 9 meter.


Foto Masjid Yongning
(sumber foto: www.travelscapeengineer.com/2015/08/day-3-menanti-maghrib-di-mesjid.html)

Secara keseluruhan Provinsi Yunnan memiliki lebih dari 820 masjid. Di luar kota Kunming sendiri terdapat Masjid yang juga terkenal yaitu Masjid Shadian yang terletak di kota Gejiu. Masjid Shadian dibuat mengikuti arsitektur Masjid Nabawi di Madinah. Masjid itu mempunyai 4 menara, dengan satu kubah hijau besar dan 2 kubah kecil di sampingnya. Masjid Shadian dibangun dengan dana yang berasal dari sumbangan masyarakat, zakat, dan bantuan internasional. Pemerintah Tiongkok tidak memberikan sumbangan dana, meskipun akhirnya membantu mendirikan madrasah di sisi Masjid. Madrasah yang sedang dibangun itu diperkirakan akan menelan biaya 50 juta yuan, dengan Pemerintah Tiongkok menyumbang 8,9 juta di antaranya. Sementara Masjid Shadian sendiri dalam pembangunannya menelan biaya 40 juta yuan.

Shadian bukan hanya terkenal karena masjidnya yang mempunyai kapasitas mencapai 10.000 jamaah, Shadian juga terkenal karena pendahulunya sudah banyak yang menunaikan ibadah haji ke Mekkah dan juga belajar di Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir. Karena keislamannya itu, Shadian mendapat julukan Mekkah kecil di selatan Yunnan.

Berdasarkan sensus tahun 2010, Yunnan memiliki 698.265 penduduk muslim. Mereka tersebar di seluruh distrik dan desa-desa di Yunnan. Seperti warisan budaya yang mereka miliki, pekerjaan utama dari penduduk muslim Yunnan adalah bidang kuliner dan transportasi. Meskipun rata-rata orang Tiongkok non Muslim suka menikmati daging babi, tetapi ketika mereka ingin menyantap hidangan dari daging sapi, mereka akan mendatangi restoran islam. Muslim di Yunnan terkenal karena masakan daging sapinya sangat lezat. Demikian juga dengan hidangan halal lainnya. Selain bisnis kuliner, muslim Yunnan adalah sopir yang tangguh. Sebagian besar supir taksi di Yunnan adalah orang Islam, begitu juga dengan bis antar kota, mobil travel dan angkutan barang. Umumnya mereka akan memasang stiker ayat-ayat Al Qur’an di pojok kaca depan supir.

Sebagian muslim Yunnan yang lain sekarang ini juga beralih ke pekerjaan yang lebih modern. Mereka berkecimpung di dunia pariwisata untuk melayani pelancong yang datang dari seluruh penjuru dunia. Selain itu mereka juga menjadi penerjemah baik untuk Bahasa Arab maupun Bahasa Inggris.  Untuk menjaga kelestaraian budaya Islam banyak dari mereka yang menjadi guru, baik di madrasah maupun di sekolah umum. Dan orang selalu ingat akan seorang Muslim Yunnan yang  menerjemahakan Al Qur’an ke dalam Bahasa Mandarin, yaitu Ma Jian.

Perkembangan kembali Islam di Yunnan menunjukkan bahwa provinsi itu dapat disebut sebagai salah satu pusat Islam di Tiongkok. Revitalisasi budaya, catatan perkembangan sejarah, pembangunan Masjid, penguatan sumber daya manusia, perkembangan wisata, peningkatan ekonomi, dan keterkaitan dengan dunia internasional menyebabkan Yunnan menjadi daerah yang harus diperhitungkan sebagai provinsi yang kuat di Tiongkok maupun sebagai salah satu daerah pusat muslim bagi dunia internasional.

* Dosen Jurusan Hubungan Internasional, FISIP, UPN "Veteran" Yogyakarta. Pengajar dan Peneliti Kajian Tiongkok. Mantan Wakil Dekan 1 FISIP