Cetak 

Wong  Chong (Budi Setyagraha) :
Islam adalah Nikmat Allah SWT

Nama aslinya adalah Wong Chong, ia lahir di Solo (JawaTengah) pada tanggal 20 Nopember 1943, setelah memeluk Islam namanya diganti menjadi Budi Setyagraha. Ia anak kedua dari pasangan Wong Kim Khay dan Pho Fu Lan, yang beragama Budha.  Lucunya, justru sejak kecil ia merasa hidup tanpa agama, ia  hanya mengikuti filosofi Tionghoa, konsep tanpa Tuhan. Seperti kebanyakan Tionghoa lainnya, yang mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari dengan berdagang, ia melakuan aktivitas perdagangan.

Ia termasuk pedagang yang sukses.  Usaha toko besi ABC di jalan Kyai Moio Yogyakarta, berkembang pesat. Tanpa Tuhan di puncak kesuksesannya, terbersit keinginannya untuk bersyukur atas  keberhasilannya, akan tetapi ia bingung harus bersyukur kepada siapa? Sedang ia merasa tidak punya agama dan tidak tahu siapa Tuhannya. Namun ia yakin,  kesuksesannya tidak datang begitu saja, pasti ada yang memberi. Tetapi, siapa yang memberi? Apakah   kesuksesannya ini turun dari langit? Inilah pertanyaan yang selalu membuat jiwanya gundah dan gelisah.  Sekaligus  menjadi pertanyaan dasar, saat menuju puncak hidayah.

Selain diganggu pertanyaan,  setiap sore telinganya selalu terusik azan Maghrib, sebagai pertanda panggilan sholat bagi umat Islam. Sekian lama mendengar suara azan. Muncul bisikan yang mengesankan jiwanya. “Mungkin, inilah yang memberi rezeki saya selama ini’’, katanya dalam hati, terutama kesuksesannya. Mungkinkah usaha yang dibangun sejak tahun 1978 dan berkembang pesat berkat Tuhan-nya umat Islam?

Itu juga pertanyaan yang amat menganggu dan selalu muncul dibenaknya. Saya sibuk mencari Tuhan itulah saya kenal dengan Drs. Ma’ruf Siregar, guru agama Islam di SMU Negeri 4 Yogyakarta,” ujar Budi.

Mendengar Ceramah

Setelah mendengar curahan hatinya, lalu guru agama itu menganjurkan dan mengatakan kepada Budi, untuk membaca buku-buku tentang agama Islam dan sering mendengar ceramah.

"Setelah  saya tahu lebih banyak tentang Islam, saya mengucapkan dua kalimat syahadat dan disaksikan Maruf Siregar,  pada Juni 1983," katanya. Keluarganya pun mengetahui ia memeluk Islam, termasuk istrinya, Lie Sioe Fen. Awalnya keluarganya tidak menerima ia memeluk Islam, karena persepsi mereka yang salah tentang Islam. Ia berusaha menunjukkan Islam, dengan pengetahuan yang ia miliki lewat buku, dan ceramah agama Buya Hamka (almarhum).

“Saya katakan pada istri dan keluarga, kesuksesan saya berdagang dari Allah SWT,’’ jelas Budi. Di samping memberikan penjelasan banyak tentang Islam, Ia juga sering mengajak istrinya mengikuti pengajian di majelis taklim, sampai akhirnya ia mengerti tentang Islam.

Ibadah Haji

Lima   bulan setelah memeluk Islam, istrinya memeluk Islam pula, diikuti oleh kedua anaknya dan keluarga yang lain. “Saya semakin bersyukur kepada Alah SWT”, karena setelah memeluk Islam, saya mampu memenuhi undangan-Nya untuk menunaikan ibadah haji pada tahun 1984, yang membuat hati kami semakin tenang, mantap hidup dibawah naungan Islam, tambahnya.

Pengalamannya memeluk Islam diberitahukan kepada saudara yang keturunan Tionghoa, banyak yang mengikuti jejaknya. Ia pun mendapat amanah menjadi ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Yogyakarta, sampai menjadi anggota DPRD.